Apa syaratnya tempat yang enak buat duduk dan kerja? Tempat yang bikin mood jadi bagus dan menulis jadi lancar? Well, sejak jadi freelancer, saya jadi suka mencoba beberapa tempat untuk bekerja seharian. Setidaknya, saya akan stay 4-5 jam di satu lokasi. Karena akhir-akhir ini jalanan macet, jadi ya saya WFC-nya tidak jauh-jauh dari TB Simatupang. Salah satu area yang bisa saya kunjungi tanpa memusingkan ganjil genap adalah Pondok Indah.
Pondok Indah Mall (PIM) memiliki banyak cafe dan coffee shop yang sangat WFC-friendly. Mulai dari Tous Les Jours dan Paris Baguette hingga Starbucks dan Joe & Dough, semuanya lengkap di sini. Bahkan sebenarnya di foodcourt PIM 3 pun bisa WFC karena wi-fi gratis yang ada di mallnya. Ada kalanya ke mall bukan solusi, jadi saya mencari cafe rumahan, atau yang setidaknya bukan bagian dari mall, tapi tetap WFC-friendly. Di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan, ada tiga coffee shop yang sering saya kunjungi, yaitu Common Grounds - Pondok Indah Plaza, Little Contrast Pondok Indah, dan Kopi Ketjil - Pondok Indah.
Common Grounds - Pondok Indah Plaza
Pondok Indah Plaza 2 No. 23, Duta Niaga Sektor II, Blok BA, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12310 Harga: Americano/Long Black: Rp45,000; Latte Rp 50,000
Cafe chain yang modern-cozy. Ada 2 lantai. Di bawah lebih casual dengan meja persegi & display pastry. Banyakan orang ngumpul, ngobrol, hangout di sini. Di atas lebih luas buat kelompok atau kerja. Spesialis kopi roasted fresh. Coffee shop ini punya all-day breakfast & Western food (pizza, pasta, burger, eggs benedict). Karena lokasinya di dalam komplek Pondok Indah Plaza, cafe ini mudah diakses baik dengan kendaraan pribadi maupun ojek online. Tempat parkir juga banyak dan busway stop pun relatif dekat.
Dari sudut pandang WFC, Common Grounds punya keunggulan besar di ambience yang inviting dan clean. Yah sama sih, seperti cafe-cafe di mall atau yang sudah punya nama besar. Makanan berat yang tersedia menjadi nilai plus karena saya bisa stay lama tanpa kelaparan, atau bisa bekerja melewati jam makan siang. Tapi, siap-siap mengeluarkan biaya lebih ya.
Kelemahan cafe ini ada di kursinya yang kalau sudah beberapa jam duduk, terasa tidak nyaman. Lalu, potensi keramaian yang ada. Cafe ini cukup populer, jadi kadang banyak ibu-ibu pulang antar anak sekolah, bapak-bapak financial freedom yang terlihat ngomongin business. Common Grounds cocok untuk sesi WFC 2-4 jam di mana saya butuh kombinasi kopi enak dan makanan lengkap, tapi kurang ideal untuk full day work yang butuh ketenangan total dan koneksi super stabil.
Satu dekade yang lalu, saya dan Dudu nekat adu nyali di Halloween Horror Night, Universal Studios Singapura. Event tahunan ini dikenal sebagai salah satu perayaan Halloween paling seram di Asia Tenggara. Begitu matahari terbenam, taman hiburan yang biasanya ceria berubah menjadi dunia penuh kabut, suara jeritan, dan kejutan di setiap sudutnya.
Saya sebenarnya bukan penggemar jumpscare dan tidak suka film gory yang banyak darah muncrat. Lalu, ngapain saya di sana? Waktu itu sih karena diajakin sepupu, sekaligus kepo. Apa serunya sih ke theme park malam-malam? Apa bedanya sih dengan suasana siang hari? Akhirnya ajakan itu nekat kami berdua iyakan, walau endingnya adalah tidak naik wahana apa-apa karena ketakutan duluan.
Yang membuat Halloween Horror Nights begitu menarik adalah transformasi Universal Studios Singapore menjadi taman hiburan bernuansa horor. Bukan hanya suasananya yang berubah drastis, tapi juga pengalaman yang terasa jauh berbeda dari kunjungan siang hari. Jujur saja, yang bikin horror bukan cuma hantunya, tapi juga harga tiket masuk theme park dan panjang antrian masuk rumah hantunya. Hahaha.
Konsep Halloween Horror Nights di Universal Studios Singapore
Secara umum, konsep Halloween Horror Nights biasanya menggabungkan cerita original dengan inspirasi budaya Asia maupun franchise populer. Theme park dibagi menjadi beberapa area utama, yaitu:
Haunted House (rumah hantu)
Scare Zone
Live Show
Pertama kali diadakan pada tahun 2011, Halloween Horror Nights di USS awalnya hanya memiliki satu haunted house dan berlangsung selama tujuh malam. Ketika saya datang di 2016, sudah ada lima rumah hantu, dua scare zone, dan suasana Sentosa malam hari yang langsung berubah jadi dunia lain. Saat itu, Halloween Horror Nights sudah berlangsung hampir satu bulan penuh. Ada pertunjukkan live dan pengalaman interaktif yang membuat setiap tahun jadi layak buat dikunjungi kembali. Kalau nggak trauma haha. Saya sih belum balik lagi ke sana meskipun ingin.
Pada tahun 2016, rumah hantunya ada:
Bodies of Work
Old Changi Hospital
Hu Li’s Inn
Salem Witch House
Hawker Center Massacre
Di setiap rumah hantu ada bosnya. Mereka semua muncul di area utama ketika theme park dibuka, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk foto (atau lari). Di antara para hantu yang muncul, ada satu yang terlihat sangat familiar, namanya Pontianak. Habis itu saya protes, karena ternyata itu Mbak Kunti yang imigrasi ke Malaysia. Ya ampun, di Singapura Mbak Kunti naik pangkat jadi bos rumah hantu. Saya tidak ingat, Mbak Kunti ada di rumah hantu yang mana.
Yang jelas, saya dan Dudu hanya masuk ke Hawker Center Massacre karena antriannya paling pendek. Setelah itu? Kapok. Kami akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di scare zone, yaitu area terbuka dengan aktor berkostum menyeramkan yang siap mengejutkan pengunjung kapan saja.
Pada 2025 misalnya, Halloween Horror Nights edisi 13 menghadirkan kolaborasi dengan serial Stranger Things yang membawa pengunjung masuk ke dunia Upside Down lengkap dengan monster dan suasana mencekam. Tahun lalu, Halloween Horror Nights diadakan mulai jam 7 malam, setiap Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu malam, mulai 26 September hingga 1 November 2025.
Harga tiket mulai dari:
SGD 68 untuk non-peak days
SGD 78 untuk peak days
Sebagai pembanding, harga tiket reguler Universal Studio Singapura untuk dewasa adalah antara SGD 76 dan SGD 83.
Halloween Horror Nights memang seru, tapi bukan buat semua orang.