Kenapa Mengunjungi Perpustakaan?
Pada awalnya, saya hanya memandang perpustakaan ini dari depan pintu.
Saya pertama kali mengetahui keberadaan perpustakaan ini ketika sedang mengikuti kursus bahasa Korea. Namun perpustakaannya selalu tutup, karena les saya setelah jam kerja.

Ironisnya, saya baru bisa berkunjung ke sini setelah saya tidak lagi mengikuti kursus bahasa di sana. Itu pun perlu keberanian memasuki perpustakaan yang satu ini, karena penuh buku-buku berbahasa asing. Terasa ada beban berat ketika saya sebenarnya belum fasih-fasih amat dan hanya bisa memahami cerita di buku anak-anak saja.
Sejak saat itu, cara saya memandang perpustakaan di Indonesia ini berubah. Di dunia serba digital ini, mengunjungi perpustakaan menjadi sebuah tujuan traveling. Baik di kota sendiri maupun di kota tujuan. Banyak perpustakaan yang berlokasi di gedung bersejarah atau gedung modern dengan arsitektur unik. Sebagian perpustakaan juga lokasinya tersembunyi, jadi kalau mau berkunjung ke sana ya memang harus menjadikannya bagian dari itinerary.
Untuk saya, perpustakaan ini menjadi sanctuary, alias tempat untuk istirahat sejenak ketika traveling menjadi overwhelming. Perpustakaan menyatukan buku, budaya dan bahasa dalam satu ruang. Saya bisa menjelajahi rak-rak buku, menemukan buku-buku asing, dan mengikuti rasa ingin tahu ke mana pun dia pergi. Saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan ditemukan. Jadi kayak adventure sendiri.
Perpustakaan yang saya ceritakan tadi di awal adanya di dalam pusat kebudayaan Korea. Terletak di Korean Culture Center, Equity Tower, Jakarta, perpustakaan pusat kebudayaan Korea ini memiliki koleksi yang cukup lengkap. Dari novel, buku sejarah, buku anak hingga manhwa alias komik Korea. Masuk ke perpustakaan ini buat saya seperti pindah negara haha. Kalo ingin jalan-jalan ke Korea, ya mampir ke sini saja. Meskipun kecil, tapi tempatnya nyaman. Di satu sudutnya ada meja tempat membaca (atau buka laptop), dengan jendela besar menghadap ke hiruk pikuk kawasan SCBD.
“Di Washington, D.C. banyak museum gratis?”
“Iya, satu deret sepanjang jalan.”
“Kalau mau ke sana, mulai dari museum yang mana?”

Pertanyaan ini sulit dijawab karena kawasan National Mall dipenuhi museum dengan tema yang sangat beragam. “Mau ke museum apa dulu” sangat bergantung pada interest dan waktu yang dimiliki. Apakah sejarah atau seni? Atau justru sains? Saya sendiri sudah dua kali berkunjung ke sini: pertama kali bersama teman-teman kuliah pada winter 2007, sekalian mampir saat perjalanan tahun baru ke New York City. Lalu, saya kembali lagi di summer 2023 bersama Dudu.
Supaya tidak bingung menentukan rute, yuk kita telusuri satu per satu museumnya. Di blogpost ini, saya fokus pada area utama National Mall, yaitu mulai dari Washington Monument hingga United States Capitol. Panjangnya sekitar 3 km; jika ditempuh berjalan kaki tanpa berhenti, butuh sekitar 45 menit hingga 1 jam. Biasanya, kunjungan ke National Mall ini diakhiri dengan perhentian di Lincoln Memorial, yang jaraknya sekitar 1,5 km dari Washington Monument, atau sekitar 20 menit berjalan kaki.
Kompleks museum ini adalah rumah bagi 17 museum, galeri, dan kebun binatang. Jadi, mau mulai dari mana dulu nih? Nulisnya aja bingung, apalagi harus berkunjung haha. Ada tiga museum yang menurut saya wajib kudu harus dikunjungi.
National Museum of Natural History
Museum ini adalah yang terfavorit sepanjang masa. Dari kerangka dinosaurus hingga berlian legendaris, kamu bisa “keliling dunia” tanpa keluar gedung. Eh, kayaknya familiar ya? Well, buat yang pernah nonton film Night at the Museum, vibes-nya mirip sama yang di film tersebut. Sama-sama Museum of Natural History yang punya Dinosaur dan Fossil Halls, tapi beda lokasi.
Museum ini cocok untuk semua umur. Ada aquarium, fosil ikan hiu, insect zoo dan berbagai pengalaman interaktif sekaligus edukatif. Kalau bawa anak bisa seharian sih haha.
Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.
National Air and Space Museum
Ini museum favorit Dudu karena isinya teknologi dan luar angkasa. Kita bisa melihat langsung pesawat asli milik Wright Brothers hingga Apollo 11 command module. Museum ini juga luas, setidaknya membutuhkan waktu setengah hari lebih untuk menjelajahi semuanya. Museum ini memiliki ketentuan untuk booking, bahkan untuk pengunjung individual. Lalu, antrian ini bisa jadi panjang dan mengular di luar museum. Kalau National Air and Space Museum ada di dalam daftar kunjungan, sebaiknya prioritaskan museum ini dan booking tiketnya dulu.
Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.
National Museum of American History
Museum ini menarik bagi yang penasaran akan potret lengkap perjalanan Amerika Serikat, baik dari sisi politik maupun popular culture. Ada bendera asli Star-Spangled Banner dan benda bersejarah lainnya. Ada juga section khusus tentang para Presiden dan First Ladies. Bagian favorit saya dan Dudu di museum ini adalah section berjudul “Entertainment Nation.” Di sini, kita bisa melihat Dorothy’s ruby slippers dari Wizard of Oz, Star Wars R2-D2 and C-3PO costumes, serta artifact lain yang membangun culture entertainment di Amerika.
Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.
Selain tiga museum di atas, yang menurut saya wajib dikunjungi, ada beberapa museum lain yang bisa jadi alternatif.
National Museum of African American History and Culture dan National Museum of the American Indian masing-masing mengangkat sejarah, budaya, kontribusi dan perspektif dari dua suku yang identik dengan Amerika saat ini. Sama seperti National Museum of Natural History, National Museum of the American Indian juga punya cabang di New York. Lokasi museum ini berdekatan dengan National Air and Space Museum jadi bisa direncanakan di satu hari yang sama. Sementara National Museum of African American History and Culture sudah menarik perhatian saya dari bentuk bangunannya. Untuk ke museum ini, kita perlu reserve pass juga.
National Museum of African American History and Culture
Buka Senin (12:00 - 17:30), Selasa hingga Minggu (10:00 - 17:30).
National Museum of the American Indian
Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.