Showing posts with label Experience. Show all posts
Showing posts with label Experience. Show all posts

Sunday, April 26, 2026

Aquarium di Tengah Mall itu Adalah SEA LIFE Bangkok Ocean World

Aquarium di tengah kota Bangkok ini tiba-tiba masuk itinerary perjalanan saya dan Dudu karena lokasinya yang mudah diakses. SEA LIFE Bangkok Ocean World berada di bawah Siam Paragon, tempat ini cocok untuk jadi tujuan pertama di pagi hari sebelum menjelajah kota. Apalagi kalau bepergian sama anak.

Well, sebenarnya Dudu sudah masuk usia remaja. Namun, pergi ke aquarium selalu menarik buat kami berdua karena seperti masuk ke dunia lain. Dari hiruk-pikuk mall, kamu seperti masuk ke dunia lain yang lebih gelap, tenang, dan penuh warna. Meskipun saya lebih merasakan kontrasnya suasana, saat keluar dari aquarium di jam makan siang di akhir pekan. Seperti kembali ke dunia nyata setelah menyelam ke basement mall.



Our date is at
SEA LIFE Bangkok Ocean World
Siam Paragon. ชั้น บี1-บี2 สยามพารากอน 991 Rama I Rd, Pathum Wan, Bangkok 10330, Thailand
Jam buka: 10:00 - 20:00 (last entry 19:00)

SEA LIFE Bangkok Ocean World merupakan salah satu akuarium terbesar di Asia Tenggara, dengan luas sekitar 10.000 meter persegi yang terbentang di bawah pusat perbelanjaan Siam Paragon. Sebagai gambaran, luasnya hampir sama dengan Seaworld Ancol (sekitar 9.000 m²), tapi masih jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Jakarta Aquarium (sekitar 7.200 m²) atau Aquaria KLCC di Kuala Lumpur (sekitar 5.600 m²). Pesan saya pada Dudu cuma “Jangan dibandingkan dengan Singapura ya” haha.




SEA LIFE Bangkok Ocean World dibuka pertama kali pada tahun 2005 dengan nama Siam Ocean World. Kemudian, aquarium ini berganti nama menjadi SEA LIFE Bangkok Ocean World pada 2014 setelah dikelola oleh jaringan global SEA LIFE.

Harga Tiket:
  • 1,299 THB untuk dewasa
  • 1,099 THB untuk anak usia 2-11 tahun dan lansia di atas 60 tahun
  • Anak-anak di bawah 2 tahun gratis tapi wajib membawa dokumen pendukung.
Tiket dapat dibeli secara offline di lokasi, online di website resmi maupun online travel agent (OTA).

Ada apa di SEA LIFE Bangkok Ocean World?

Saturday, April 25, 2026

Pengalaman Dinner Cruise di Chao Phraya Bangkok Bareng Anak

“Mama, saya pengen naik cruise!”

Dudu sudah lama mengutarakan mimpinya yang satu ini, dan sampai blog ini ditulis, saya belum mampu mengabulkannya. Selain karena mahal, waktu liburan kita berdua sering tidak cocok. Beberapa tahun lalu, kami berdua mengunjungi Bangkok dan saya menemukan satu alternatif perjalanan cruise yang sepertinya bisa menghibur hati.

Chao Phraya River Cruise adalah perjalanan naik kapal menyusuri sungai yang jadi salah satu daya tarik utama (kalau tidak mau dibilang nyawa) kota Bangkok. Basically, perjalanan ini sama seperti cruise biasa. Bedanya, kalau cruise reguler kita bisa berhari-hari dan melakukan banyak kegiatan, di Chao Phraya River Cruise kita hanya makan buffet all-you-can-eat dan menikmati pemandangan malam kota Bangkok. Di sepanjang tepian sungai Chao Phraya ada kemegahan kuil-kuil bersejarah seperti Wat Arun, deretan gedung pencakar langit modern, dan beragam tujuan kuliner. 

Yang pertama terlintas di kepala adalah “kok Ciliwung ga bisa ya?” Biar kami berdua bisa pergi cruise kapan saja. Haha. Anyway, setelah browsing lebih lanjut, dan dapat approval Dudu, saya memutuskan untuk memasukkan cruise ini dalam itinerary Bangkok kami berdua. 

What You Need to Know about these Chao Phraya River Cruise

Kebanyakan perjalanan kapal pesiar Chao Phraya River Cruise memiliki dua jenis perjalanan yaitu Sunset Cruise dan Dinner Cruise. Sunset cruise biasanya dimulai pukul 16:30 – 17:00 dan memiliki durasi yang lebih singkat, sekitar 90 menit. Sementara Dinner Cruise biasanya dimulai sekitar Pukul 19:00 dan berdurasi sekitar 2 jam karena ada waktu untuk makan all-you-can-eat buffet. Rute yang dilewati kurang lebih sama, tapi dinner cruise biasanya menempuh jarak lebih jauh ke utara melewati Jembatan Rama VIII sebelum berputar balik untuk memberikan waktu dinner yang lebih lama.

Tiket Chao Phraya River Cruise dapat dipesan dengan mudah secara online, baik melalui OTA lokal seperti Traveloka maupun platform internasional seperti Klook atau Booking.com. Kalau sudah mantap ingin mencoba pengalaman ini, sebaiknya pesan tiket jauh-jauh hari. Dinner cruise di sini termasuk aktivitas yang cukup populer, terutama di musim liburan. 

Ada beberapa operator cruise dengan pilihan kapal dan jenis buffet yang berbeda-beda. Titik keberangkatannya pun bervariasi, umumnya dari depan mall Asiatique atau ICONSIAM. Karena itu, ada baiknya meluangkan waktu untuk membandingkan opsi yang tersedia sebelum menentukan pilihan. Saya dan Dudu mengikuti perjalanan Dinner Cruise dengan Chao Phraya Princess Cruise. 

Berdasarkan harga di tahun 2026, Chao Phraya Princess Cruise mematok harga sekitar 1,200 THB untuk dewasa dan 950 THB untuk anak usia 4–12 tahun, sementara anak di bawah 4 tahun bisa ikut gratis. Durasi perjalanan sekitar 2 jam, dimulai pukul 19:30. Menariknya, tersedia dua pilihan menu: International Buffet dan Indian Buffet, dengan dermaga keberangkatan yang berbeda. Karena kami memilih International Buffet, titik keberangkatan kami adalah ICONSIAM.

Sunday, April 19, 2026

New York Transit Museum: Menjelajah Sejarah Subway New York di Bekas Stasiun Bawah Tanah

Salah satu hal yang pertama muncul di kepala ketika mendengar kata New York adalah Subway-nya, yang lebih dikenal dengan MTA. Saat ini, New York Subway punya 472 stasiun di empat wilayah (Manhattan, Brooklyn, Queens, dan Bronx). Dan buat saya, subway New York bukan sekadar sistem transportasi. Ada kenangan personal di dalamnya. Salah satunya adalah momen berlari mengejar kereta terakhir setelah merayakan tahun baru di Times Square bersama teman-teman kuliah dulu.

Well, itu cerita lama. Saat kembali ke New York di tahun 2025, saya jadi melihat subway dengan cara yang berbeda. Kali ini, saya tidak hanya naik, tapi juga “kembali ke masa lalu” lewat kunjungan ke New York Transit Museum.

New York Transit Museum
99 Schermerhorn St, Brooklyn, NY 11201, United States


Berada di Downtown Brooklyn, museum ini menempati bekas stasiun Court Street yang dibuka pada tahun 1936. Museum ini unik karena menawarkan pengalaman menjelajah stasiun bawah tanah asli yang sudah tidak digunakan lagi dan menghadirkan suasana autentik yang sulit ditemukan di museum lain. Begitu memasuki area museum, kita langsung merasakan atmosfer klasik subway New York, termasuk udara dingin khas bawah tanah, yang terasa semakin menusuk karena saya datang di musim dingin. Bahkan di dalam ruangan pun, saya dan Dudu tetap memakai coat.

Jalan masuk ke museum ini cukup tricky untuk ditemukan karena bentuknya tangga menuju stasiun bawah tanah. Lokasinya berada di persimpangan Schermerhorn Street dan Boerum Place. Pintu masuknya ditandai dengan pagar besi khas New York dan papan petunjuk berwarna biru cerah.

Harga tiket museum ini adalah 10 USD untuk dewasa dan 5 USD untuk anak-anak dan Lansia. Museum ini buka hari Rabu hingga Minggu, pk. 10.00 – 16.00. Perlu diingat bahwa lokasi museum yang ada di stasiun bawah tanah, membuat adanya pembatasan entry di waktu-waktu tertentu ketika pengunjung sedang padat. Ada baiknya booking tiket terlebih dahulu jika berencana berkunjung di musim liburan.

Apa yang Bisa Dilihat di Dalam Museum?

Sunday, April 12, 2026

Memulai Trip dengan Mengunjungi Jeju Folklore & Natural History Museum

Perjalanan ke Korea itu termasuk Pulau Jeju. Begitu requestnya. Di Pulau Jeju mau ngapain? Kalau diserahkan ke saya sih, yang ada kita masuk ke museum. Pertanyaannya, museum apa? Ada beberapa museum yang direkomendasikan bagi mereka yang pertama kali berkunjung ke Pulau Jeju. Mulai dari Jeju National Museum, Jeju Museum of Art, dan Jeju Haenyo Museum. Namun, pada akhirnya saya mampir ke Jeju Folklore & Natural History Museum.

Museum yang saya datangi karena random ini memberikan pemahaman tentang mengapa Pulau Jeju terasa begitu berbeda dari daerah lain di Korea Selatan. Museum ini cocok jadi salah satu tempat tujuan pertama di Pulau Jeju karena menghadirkan bagaimana alam dan kehidupan manusia telah saling terkait selama berabad-abad, melalui cerita dan exhibition yang menarik. Sesuatu yang menurut saya tuh Jeju banget.

Jadi, menjelajah Pulau Jeju sebaiknya dimulai dari sini.

Dibuka pada tahun 1984, museum ini didedikasikan untuk melestarikan dan memamerkan lingkungan alam unik serta gaya hidup tradisional masyarakat di Pulau Jeju. Museum ini lumayan interaktif, jadi cocok buat keluarga yang bawa anak usia SD untuk eksplorasi. Kami menghabiskan waktu sekitar 2 hingga 3 jam untuk keliling tempat ini.

Our date is at
Jeju Folklore & Natural History Museum
40 Samseong-ro, Jeju-si, Jeju-do / 제주특별자치도 제주시 삼성로 40
Jam Buka: 09:00-18:00 (tutup di hari Senin dan hari Libur Nasional)
Tiket: Dewasa 2,000 won / Remaja 1,000 won


Ada apa di Jeju Folklore & Natural History Museum?

Pulau Jeju terbentuk dari aktivitas vulkanik jutaan tahun lalu, dan ini adalah bagian awal museum. Di sini, kita langsung disambut dengan replika gunung berapi. Vibe-nya langsung terasa beda dari museum pada umumnya. Kesan pertama museum ini adalah “playground edukatif”. Ada model lava, batuan, dan penjelasan visual yang cukup mudah dicerna. Konsep “pulau ini lahir dari gunung berapi” jadi terasa nyata, bukan sekadar teori di buku pelajaran atau dongeng belaka.

Friday, April 3, 2026

Universal Studio Singapore Halloween Horror Night: Seram Tapi Bikin Penasaran

Satu dekade yang lalu, saya dan Dudu nekat adu nyali di Halloween Horror Night, Universal Studios Singapura. Event tahunan ini dikenal sebagai salah satu perayaan Halloween paling seram di Asia Tenggara. Begitu matahari terbenam, taman hiburan yang biasanya ceria berubah menjadi dunia penuh kabut, suara jeritan, dan kejutan di setiap sudutnya.



Saya sebenarnya bukan penggemar jumpscare dan tidak suka film gory yang banyak darah muncrat. Lalu, ngapain saya di sana? Waktu itu sih karena diajakin sepupu, sekaligus kepo. Apa serunya sih ke theme park malam-malam? Apa bedanya sih dengan suasana siang hari? Akhirnya ajakan itu nekat kami berdua iyakan, walau endingnya adalah tidak naik wahana apa-apa karena ketakutan duluan.

Yang membuat Halloween Horror Nights begitu menarik adalah transformasi Universal Studios Singapore menjadi taman hiburan bernuansa horor. Bukan hanya suasananya yang berubah drastis, tapi juga pengalaman yang terasa jauh berbeda dari kunjungan siang hari. Jujur saja, yang bikin horror bukan cuma hantunya, tapi juga harga tiket masuk theme park dan panjang antrian masuk rumah hantunya. Hahaha.

Konsep Halloween Horror Nights di Universal Studios Singapore




Secara umum, konsep Halloween Horror Nights biasanya menggabungkan cerita original dengan inspirasi budaya Asia maupun franchise populer. Theme park dibagi menjadi beberapa area utama, yaitu:
  • Haunted House (rumah hantu)
  • Scare Zone
  • Live Show
Pertama kali diadakan pada tahun 2011, Halloween Horror Nights di USS awalnya hanya memiliki satu haunted house dan berlangsung selama tujuh malam. Ketika saya datang di 2016, sudah ada lima rumah hantu, dua scare zone, dan suasana Sentosa malam hari yang langsung berubah jadi dunia lain. Saat itu, Halloween Horror Nights sudah berlangsung hampir satu bulan penuh. Ada pertunjukkan live dan pengalaman interaktif yang membuat setiap tahun jadi layak buat dikunjungi kembali. Kalau nggak trauma haha. Saya sih belum balik lagi ke sana meskipun ingin.

Pada tahun 2016, rumah hantunya ada:
  • Bodies of Work
  • Old Changi Hospital
  • Hu Li’s Inn
  • Salem Witch House
  • Hawker Center Massacre
Di setiap rumah hantu ada bosnya. Mereka semua muncul di area utama ketika theme park dibuka, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk foto (atau lari). Di antara para hantu yang muncul, ada satu yang terlihat sangat familiar, namanya Pontianak. Habis itu saya protes, karena ternyata itu Mbak Kunti yang imigrasi ke Malaysia. Ya ampun, di Singapura Mbak Kunti naik pangkat jadi bos rumah hantu. Saya tidak ingat, Mbak Kunti ada di rumah hantu yang mana.

Yang jelas, saya dan Dudu hanya masuk ke Hawker Center Massacre karena antriannya paling pendek. Setelah itu? Kapok. Kami akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di scare zone, yaitu area terbuka dengan aktor berkostum menyeramkan yang siap mengejutkan pengunjung kapan saja.

Pada 2025 misalnya, Halloween Horror Nights edisi 13 menghadirkan kolaborasi dengan serial Stranger Things yang membawa pengunjung masuk ke dunia Upside Down lengkap dengan monster dan suasana mencekam. Tahun lalu, Halloween Horror Nights diadakan mulai jam 7 malam, setiap Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu malam, mulai 26 September hingga 1 November 2025.

Harga tiket mulai dari:
  • SGD 68 untuk non-peak days
  • SGD 78 untuk peak days
Sebagai pembanding, harga tiket reguler Universal Studio Singapura untuk dewasa adalah antara SGD 76 dan SGD 83.




Halloween Horror Nights memang seru, tapi bukan buat semua orang.

Sunday, March 1, 2026

Menjelajah Museum Tanpa Keluar Rumah (Part 2): Channel Youtube Favorit

Kalau di part 1 kita bicara soal Virtual Reality Tour atau VR Exhibition, di postingan yang ini kita ngobrolin traveling virtual lewat video YouTube.

Jujur saya, saya bukan tipe penonton video. Namun, di tahun 2023, penyanyi kesukaan saya launching Youtube channel berisi jalan-jalan keliling museum dengan dia sebagai guide yang memberi narasi. Eh, kok seru!

Narasi Personal Melalui YouTube Influencer

Nonton Youtube keliling sebuah kota atau objek wisata memberikan pengalaman berbeda, mainly karena ada teman jalannya. Ada dua jenis channel yang biasanya saya tonton. Yang pertama adalah channel milik orang pribadi. Seperti Yessay dari Super Junior Yesung (https://www.youtube.com/@yessay_). Channel Youtube ini berbeda karena memiliki vibes yang tenang, jalan santai, serta temanya seputar sejarah dan budaya. Yessay bukan vlog perjalanan yang terburu-buru atau yang merangkum tempat-tempat viral seperti video pendek di media sosial pada umumnya. Menontonnya terasa seperti sedang diajak melakukan perjalanan kontemplatif, bersama si pemilik channel.


Yessay mengajak saya blusukan ke museum-museum seni anti-mainstream yang jarang terjamah turis, hingga menelusuri sudut-sudut situs warisan budaya di Korea dengan perspektif yang berbeda. Kadang-kadang, kita berhenti sejenak untuk "mengobrol" dengan Yesung, tentang art, tenang hidup atau tentang hal-hal random yang membuat nonton video seperti jalan-jalan bareng seorang teman. This is the kind of travel I wish I was doing. Saking senangnya sama channel ini, saya bahkan membuat itinerary untuk suatu hari ke Korea dan mengunjungi tempat-tempat yang jadi tujuan di channel ini.

Ada banyak kreator konten yang mengkhususkan diri pada vlog perjalanan atau sejarah budaya. Menonton mereka memberikan perspektif yang berbeda pada sebuah tujuan. Selain Yessay, ada beberapa channel yang bisa jadi alternatif tontonan kalau kita sedang stuck di rumah, merencanakan itinerary trip berikutnya:

  • Allan Su (https://www.youtube.com/@allansu) adalah seorang traveller yang vlognya berbentuk diary. Meskipun menurut saya, pace-nya agak terlalu cepat dan konsepnya lebih ke itinerary, tapi isi vlognya berguna buat yang planning mau jalan-jalan karena isinya lumayan detail.
  • Art Insider (www.youtube.com/@theartinsidershow) mengajak kita keliling museum yang ada di UK dan Perancis. Ada beberapa yang di New York juga. Gaya ceritanya terlalu gen-z buat saya, tapi insightful dan bahasanya mudah dimengerti. Videonya belum banyak, jadi saya berharap dia bisa konsisten update.
  • Mary Lynn Buchanan (https://www.youtube.com/@MaryLynn_Buchanan) adalah pilihan yang sangat tepat bagi yang menyukai konten eksplorasi contemporary art dengan penyajian yang tenang dan mendalam. Art Gallery yang dikunjungi ada di berbagai belahan dunia, dengan fokus di New York, Jepang, U.K. dan Perancis.

Di Instagram, saya follow The Urbanist Singapore, yang sering punya Reels tentang urban planning dan heritage. Sedikit berbeda dengan Youtube karena media sosial yang digunakan kebanyakan video pendek, tapi cerita-cerita yang ada tidak kalah menarik karena menghadirkan sisi lain kota Singapura dan biasanya fokus pada satu titik. Bisa tentang eskalator, tentang kucing, tentang sebuah bangunan lama, atau hal-hal unik yang akan terlewatkan mata jika kita jalan begitu saja di negara tetangga.

Kelebihan utama mengikuti tur adalah terselipnya fakta-fakta unik atau opini pribadi yang membuat sejarah tidak terasa kaku. Bagi saya yang lebih menyukai gaya storytelling, channel seperti ini adalah tempat yang pas untuk memahami konteks budaya sebuah koleksi museum.

Bagaimana dengan Channel YouTube Resmi Dari Museumnya?


Berbeda dengan influencer, kanal YouTube resmi museum biasanya menyajikan konten yang lebih artistik dan sinematik. Channel Yessay kerap bekerja sama dengan Korean Heritage Channel (https://www.youtube.com/@koreanheritage) yang menghadirkan konten sejarah, budaya dan traveling di Korea. Sebenarnya, nonton Youtube channel ini lebih cocok buat cari hidden gem daripada tempat yang viral atau instagrammable. Videonya juga cenderung pendek, jadi kita bisa “berkunjung” ke beberapa tempat sekaligus. Seri “Heritage Walk with SUPER JUNIOR's Yesung” yang ada di sini mengajak kita berkeliling dengan sang artis sebagai guide-nya.


Banyak museum punya Youtube Channel sendiri. Selain menghadirkan virtual tur, channel Youtube resmi museum atau art gallery seringkali mendokumentasikan pameran temporer yang mungkin sudah berakhir secara fisik namun tetap "hidup" secara digital.
  • National Museum of Korea (https://www.youtube.com/@nationalmuseumofkorea) punya channel Youtube yang lumayan aktif. Selain update mengenai koleksi yang sedang tayang, channel ini juga punya NMK Immersive Digital Gallery, NMK lectures, NMK Kids, NMK Masterpieces dan sebagainya. Bagian “What’s on” adalah yang paling pas kalau ingin jalan-jalan keliling museum dengan laptop. Untungnya mereka punya closed caption bahasa Inggris, jadi saya bisa nonton dengan aman.
  • The Met di New York (https://www.youtube.com/@metmuseum) memiliki lebih dari 2000 video buat kita tonton. Sebagian besar adalah exhibition tour yang mengajak kita menyusuri koleksi-koleksi yang ada, baik yang masih dipajang maupun yang sudah lampau
  • ArtScience Museum Singapore (https://www.youtube.com/@ArtScienceMuseumSG) punya koleksi ArtScience Museum Virtual Tours yang dipandu oleh Museum Ambassadors. Durasinya pendek-pendek (sekitar 6-7 menit) jadi kalau punya waktu 30 menit di pagi hari bisa nonton 2-3 video.


Eksplorasi museum melalui layar YouTube membuktikan bahwa jarak dan waktu bukan lagi penghalang untuk jalan-jalan, menikmati sejarah dan budaya di negara lain. Setiap video menawarkan jendela unik untuk memahami dunia dari perspektif yang berbeda. Namun, perjalanan virtual ini bukan pengganti wisata fisik bagi saya. Soalnya tetap berbeda vibesnya, mendengarkan apa yang orang ceritakan tentang sebuah tempat versus kita sendiri yang ada di sana.



Saturday, February 28, 2026

Menjelajah Museum Tanpa Keluar Rumah (Part 1): VR Exhibition

Kebiasaan ini dimulai dari jaman Covid, ketika tiba-tiba banyak tur guide menawarkan wisata virtual. Ternyata ada banyak museum yang menyediakan fitur 360-degree virtual tour di situs resmi mereka. Lalu, di tahun 2023, member grup idol favorit saya me-launching Youtube channel tentang jalan-jalan ke museum, situs bersejarah, art gallery dan sebagainya. Beberapa acara di Korean Culture Center yang saya datangi juga merupakan virtual tur ke museum-museum yang ada di Seoul. Saya jadi berpikir, mungkin jalan-jalan virtual ini, ada serunya juga.

Eh, tapi ini termasuk travelling nggak ya?

Berkat kemajuan teknologi digital, jalan-jalan mengunjungi suatu tempat tidak lagi berarti terbang ke sana, Bisa dari fitur 360-degree virtual tour atau dari Youtube. Saya bahkan kadang “jalan-jalan” sendiri pakai Google Maps. Meskipun hanya di depan layar, dan tidak secara fisik berada di sana, saya tetap menentukan dua peraturan untuk jalan-jalan virtual ini.
  • Mendedikasikan waktu. Sama seperti kalau kita physically present di museum, jalan-jalan virtual juga tidak bisa disambi. Bangun pagi, sempatkan 30 menit untuk browsing, jalan-jalan dan nonton.
  • Riset dulu. Ada tur apa yang ditawarkan. Kalau nonton di Youtube, koleksi apa yang ditampilkan? Jalan-jalannya ke mana? Tetap punya plan “jalan-jalan” yang sesuai. Misal punya itinerary seminggu di Seoul, ya beneran tiap pagi kita keliling museum di Seoul.
Dan kalau biasanya saya traveling sambil bawa kopi di tangan, ya ini juga sama. Siapkan kopi di samping meja. Bedanya cuma kadang-kadang saya browsing sambil dasteran aja.


Cara paling “mudah” untuk memulai tur virtual adalah melalui situs resmi museum. Museum-museum besar di Korea, seperti National Museum of Korea atau The National Folk Museum of Korea, telah mengintegrasikan teknologi High-Resolution 360 View. Kita tinggal masuk ke websitenya lalu memilih bagian digital museum atau virtual tour. Salah satu museum yang lumayan update dengan koleksi virtualnya adalah National Museum of Modern and Contemporary Art, Korea (MMCA). Museum ini memiliki empat cabang dengan empat fokus berbeda. Cabang Seoul yang berfokus pada seni kontemporer global, sementara cabang Gwacheon menonjolkan arsitektur dan alam. Lalu cabang Deoksugung yang terletak di dalam istana bersejarah untuk seni modern klasik, serta cabang Cheongju sebagai pusat penyimpanan dan restorasi. Kalau perginya virtual, ya kita cukup masuk ke websitenya saja.

Mengunjungi Evolusi Kereta Bawah Tanah Seoul dari Laptop

Tuesday, February 3, 2026

T5 In the Making: Melihat Masa Depan Changi Airport

“Eh, apaan nih?” pikir saya, melihat sebuah area pameran yang masih tertutup di ujung Terminal 3 Changi Airport. Pagi itu, sambil menyantap sarapan di McDonald’s, rasa penasaran mulai muncul. Saya langsung googling, karena dari balik pembatas pameran terdengar suara seperti latihan opening ceremony. Ada suara MC yang formal “Ladies and gentlemen…” lengkap dengan intonasi khas acara resmi.

Ada tulisan T5 di sana. Wah, ada terminal baru lagi di Changi! Saya pun bertekad sebelum pulang ke Indonesia, saya harus mampir dan lihat sendiri apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan di sana.

 

T5 In the Making adalah pameran gratis yang digelar di Arrival Hall Terminal 3 Changi Airport, berlangsung dari 6 Januari hingga 31 Maret 2026. Lewat exhibition ini, pengunjung diajak menelusuri perjalanan panjang pengembangan bandara Singapura, sampai akhirnya masuk ke visi besar, desain, dan teknologi yang akan membentuk Terminal 5 (T5) di masa depan.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Ministry of Transport (MOT), Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS), dan Changi Airport Group (CAG). Meski gratis, pengunjung tetap perlu mendaftar terlebih dahulu karena kapasitas ruangannya terbatas. Setelah registrasi, kita akan menerima email konfirmasi yang nantinya bisa ditukar dengan semacam personal boarding pass sebelum masuk ke area pameran. Simple, tapi terasa pas dengan tema bandara yang mau dibuka.

Registrasi di sini: https://t5inthemakingreg.changiairport.com/

Saat saya mendaftar, slot kunjungan masih cukup longgar di hampir setiap jam. Saya registrasi H-1 sebelum kedatangan, dan memilih slot pukul 11 siang. Ketika datang dan berkeliling, suasananya juga tergolong sepi. Tidak ada antrean masuk, dan di dalam, saya hanya berpapasan dengan dua atau tiga pengunjung lain. Kondisi ini bikin saya bisa menikmati pameran dengan santai, berhenti lama di beberapa titik, foto-foto, dan ambil konten tanpa rasa terburu-buru.

Namun, saat saya cek kembali untuk keperluan menulis blog ini, terlihat kalau slot Sabtu–Minggu sudah mulai banyak yang penuh.

Untuk kunjungan, siapkan waktu sekitar 40–50 menit. Saya sendiri hampir menghabiskan satu jam, sebagian besar karena terlalu sering berhenti buat foto. Kalau berencana datang sebelum penerbangan, jangan lupa juga memperhitungkan waktu perjalanan dari dan menuju area pameran.

Ada apa saja di exhibition T5 In the Making ini?

Sunday, May 4, 2025

Navigating Mass Rapid Transits in Overwhelming Cities

Navigating public transportation can be a challenge when it comes to a new city. Especially when we’re not regular public transport users. Singapore used to be the training ground, with only two SMRT lines and integrated buses. Now, the neighboring country has six lines with over 140 stations. My personal favorite stop, Dhoby Ghaut has become so overwhelmingly large and confusing. The busiest station back in the day, City Hall, now shared the crowd with many other interchanges.


Since then, me and Dudu have experienced public transport, subways in particular, around the world. From London’s Underground to New York's infamous MTA Transit. Wandering around Seoul’s Metro, going up and down Bangkok’s BTS and getting lost in Paris’ Métropolitain. Not to mention KL’s Rapid Transit, Metro de Madrid and the Prague Metro. Recently, we added Los Angeles MTA to our list. Our goal is to try the well-known Tokyo Metro.

Every Subway has its own complicated map, plus language barrier if we’re traveling in non-English Speaking countries. Some of them we travelled back to a decade ago when Google Maps wasn't as advanced, and metro cards aren't as easy to get. So we do have to rely on maps and one-time tickets.

Collecting our “Transit” stories, these are things we learnt the hard way. Some of them are so basic and we were warned that when we nostalgically recall them, it becomes an inside joke.


Check the nearest exit.

Saturday, May 3, 2025

Microlibrary Warak Kayu Semarang: Where to Hide Between Books in the City Center

I first encountered this library on social media. A small yet comfortable space that invited me to visit. Even better, it’s a library. Semarang has always been my second hometown. I went back every year when I was a kid and continued to do so even after my father passed away during covid. Recently, I’m running out of places to visit in Semarang. So, I was super happy to find Microlibrary Warak Kayu and include the place in my homecoming itinerary.


Our first visit to Microlibrary Warak Kayu Semarang wasn’t as eventful. The library was unexpectedly closed on the days we’re in Semarang. I was disappointed because it was high on my list, aside from the Dharma Boutique Coffee Roaster near the hotel where I’m staying, and I’m purposefully staying over the weekdays too.

Microlibrary Warak Kayu Semarang nestled near the city center, next to a busy street. It’s a small, oddly shaped wooden structure on the parking lot near Taman Kasmaran, in between kiosks that sell flowers and Dr. Kariadi Hospital.

My first impression upon arriving at the structure is, “why is this so small?” Dudu had the same thought. It was much smaller than we expected. Yes, it’s called a micro library, but still, I expected the building to be bigger. The door was locked, but there was no notice on the outside. So, I checked their social media just to find out they are closed for the day. Too bad.

Sunday, April 27, 2025

Museum Sejarah Jakarta itu Isinya Apa Sih?

Ini adalah pertanyaan saya ketika berada di kota tua, berdiri melihat gedung dengan arsitektur Belanda yang megah di tengahnya.

“Janjian di depan Museum Fatahillah ya,” kata seorang teman kala itu. Lalu, saya kembali memandangi gedung, di depannya ada dua buah meriam yang beralih fungsi jadi tunggangan anak-anak di sekitarnya. Saya jadi was-was. “Museum Fatahillah itu Museum Sejarah Jakarta kan?”


Jawabannya iya, soalnya ini adalah Taman Fatahillah. “Ya pokoknya yang ada meriamnya itu.”

Perjalanan ke Kota Tua kali ini adalah janjian bersama teman-teman-nya Panda. Iya, Panda boneka saya yang kadang suka muncul di blog juga. Dia punya IG dan Tiktok sendiri yang isinya traveling. Follow ya di @pandatravelstory. Haha. Nah, karena ketemuan inilah, dan sudah tau kalau parkir di sana susah plus banyak premannya, maka saya dan Panda pergi ke Kota Tua naik kendaraan umum. Apa aja pilihannya?

  • Naik KRL menuju Stasiun Jakarta Kota. Lalu, jalan menyeberang dari pintu keluar yang menghadap ke Kota Tua, sekitar 5-10 menit tergantung keramaian yang ada. Yes, kalau lagi ramai, jalur pejalan kaki juga bisa “macet”.
  • Naik Busway turun di Halte Kali Besar atau Halte Museum Sejarah Jakarta. Lalu, jalan ke Kota Tua. Kalau turun di Halte Kali Besar bisa sekalian foto-foto di toko Merah yang ada di seberang jalan.

Buat yang bingung, pintu masuk museum bukan yang menghadap ke square, alias lapangan terbuka di Kota Tua, tetapi ada di sampingnya. Pintu masuk Museum ini menghadap ke beberapa cafe yang ada di Kota Tua. Tiketnya Rp. 15000 untuk orang dewasa. Bisa dibayar dengan tunai atau non-tunai. Agak kaget juga sih ternyata lumayan murah.

Anyway, setelah masuk dan berkeliling museum, saya menemukan bahwa meriam yang selalu jadi daya tarik utama Museum Fatahillah itu justru hampir terlewatkan. Kok bisa? Soalnya ternyata ada banyak cerita di dalam museumnya. Museum Sejarah Jakarta menyimpan lebih dari 23.000 koleksi benda bersejarah yang berkaitan erat dengan perkembangan kota Jakarta, mulai dari masa kerajaan hingga era kemerdekaan dan kekinian.



Setelah membeli tiket masuk, di ruangan pertama ada lukisan dan sketsa di tembok-temboknya. Biasanya ini jadi ajang tempat foto-foto bagi pengunjung. Setelah itu, kita akan bertemu ondel-ondel dan taman yang besar. Di ujung taman, dekat mushola dan pintu keluar inilah, ada dua meriam yang menjadi ciri khas museum. Namun, sebelum ke sana, kita bisa berbelok masuk ke gedung museum.

Ada dua bagian dari museum ini, yang pertama adalah ruang bawah tanah, alias penjara, dan kamar tahanan Pangeran Diponegoro. Ruang tahanan bawah tanah yang dingin dan pengap ini sempit, jadi jika museum sedang ramai, harus mengantri masuk bergantian. Kamar Tahanan Pangeran Diponegoro terletak di gedung yang sama, di bagian atas. Satu hal yang harus diperhatikan ketika berada di Museum Sejarah Jakarta adalah tangga kayu yang minim pegangan dan satu tangga yang dipakai bergantian naik turun. Maklum, gedungnya kan bekas Balai Kota Batavia.

Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro ini menghadirkan cerita dengan animasi dan gambar, yang kontras dengan suasana kuno dari interior kamar tersebut. Animasi ditayangkan di layar yang menutupi dipan bercerita tentang kisah penangkapan Pangeran Diponegoro. Animasi-animasi dan bagian interaktif yang ada di Museum Sejarah Jakarta ini patut diapresiasi karena membuat kisah sejarah jadi lebih menarik bagi generasi sekarang.

Di gedung sebelahnya, sejarah Jakarta baru benar-benar dimulai. Diawali dengan Artefak Prasejarah dan Masa Tarumanegara seperti replika prasasti dari Kerajaan Tarumanegara yaitu Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi, jejak kaki Purnawarman yang ada di batu, dan fragmen keramik dari berbagai periode yang ditemukan di sekitar Jakarta pada masa lampau.

Fokus utama koleksi museum ini ada di lantai dua, yaitu Masa Kolonial Belanda (Batavia). Hati-hati naik tangganya ya. Di lantai dua ada koleksi Perabotan Antik seperti meja, kursi, lemari, dan tempat tidur bergaya Eropa dari abad ke-17 hingga ke-19 yang pernah digunakan di gedung-gedung pemerintahan dan rumah-rumah mewah di Batavia. Ada koleksi uang kuno yang dipajang di bagian depan.

Di sini juga ada balkon yang memberikan pemandangan Kota Tua secara keseluruhan.

Kembali lagi ke bawah, kita melanjutkan cerita tentang Batavia. Hati-hati turun tangganya, ya. Di lantai satu ini, kita perlahan-lahan kembali ke masa Jakarta sekarang. Ada permainan interaktif menyusun sebuah rumah daerah dengan layar touchscreen yang warna dan bentuknya bisa kita ganti-ganti sendiri.

Sebagai warga Jakarta, berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta ini memberikan cerita sendiri untuk saya. Apa yang ada di museum ini sebagian sudah saya pelajari di sekolah, tapi melihat sendiri, membaca keterangan, dan mendengar ceritanya memberikan perspektif yang berbeda tentang Jakarta.

Beberapa hal yang patut diperhatikan kalau hendak berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta.
  • Kalau bisa datang pagi-pagi saat masih sepi sehingga bisa menikmati koleksi dengan lebih leluasa. 
  • Kalau membawa anak kecil atau orang tua harap berhati-hati dengan tangga dan beberapa undakan yang ada. 
  • Luangkan waktu lihat satu-satu koleksinya tanpa terburu-buru.

Yuk ke museum.

Our Date is At:
Museum Sejarah Jakarta / Museum Fatahillah

Taman Fatahillah No.1, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110


Friday, April 25, 2025

Dari Masa Ke Masa, di National Videogame Museum

Sebagai (yang katanya) gamer, saya dan Dudu senang ketika menemukan ada National Videogame Museum. Ketika kita berkunjung ke daerah Dallas-Fort Worth area di Texas, kita menyempatkan diri berbelok ke Frisco untuk mampir.




Frisco adalah suburb kota Dallas, letaknya sekitar 30 miles arah utara. Cara paling mudah ke tempat ini adalah dengan menyetir mobil. National Videogame Museum ada di satu komplek yang sama dengan Sci-Tech Discovery Center yaitu museum untuk anak-anak dan Frisco Public Library. Parkirannya luas, tapi sering ada kunjungan anak sekolah. Meskipun termasuk “in the middle of nowhere” untuk saya, National Videogame Museum selalu ramai karena anak-anak ini.

Why a video game museum? Soalnya museum ini menawarkan sejarah video games, mulai dari pajangan konsol dan arcade jadul, hingga sebuah perjalanan interaktif yang akan membawa para pengunjung bernostalgia, sekaligus menambah wawasan tentang evolusi dunia game. Jangan langsung antipati dulu ya haha. Bukan gamer pun bisa kok mendapatkan manfaat dan kesenangan di sini. Buat saya dan Dudu, tempat ini jadi ajang berkenalan dengan dunia game di jaman masing-masing. Ibarat anak Gen Z ketemu disket dan kaset.

Museum ini terlihat sederhana dari luar. Namun, kami berdua betah stay berjam-jam karena ada banyak games yang bisa dimainkan secara gratis. Konon, museum ini adalah satu-satunya museum di Amerika Serikat yang didedikasikan untuk sejarah industri video game dan memiliki koleksi yang sangat besar.

Tuesday, March 4, 2025

Bertualang Bersama Raden Saleh di National Gallery Singapore

Dirancang dengan mempertimbangkan interest anak-anak, Keppel Centre for Art Education hadir sebagai ruang yang dinamis, didedikasikan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap seni pada generasi selanjutnya.

Saya dan Dudu pernah ke sini pada tahun 2017 yang lalu. Ketika itu, yang menjadi atraksi utamanya adalah exhibition Yayoi Kusama: Life is the Heart of the Rainbow. Exhibition yang merupakan kerjasama dengan Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art, Brisbane, Australia ada di Level 3, Singtel Special Exhibition Gallery, City Hall Wing, National Gallery Singapore. Exhibition ini terbuka untuk semua umur, jadi saya bisa bawa Dudu yang waktu itu masih SD ke sana.


Setelah itu, saya tidak pernah mampir lagi ke National Gallery Singapore, hingga kemarin, ketika mengantar keponakan yang masih balita untuk bermain di sana. National Gallery Singapore memang jarang jadi tujuan utama saya kalau ke Singapura. Jadi, surprise dong ketika melihat Keppel Centre for Art Education yang sangat edukatif, menarik dan gratis. Dari hands-on workshops hingga instalasi yang interaktif, Keppel Centre for Art Education adalah tempat di mana pikiran dapat berkembang sejak dini untuk apresiasi mendalam terhadap dunia seni.

A Brush With Forest Fire adalah salah satu aktivitas permanen di Keppel Centre for Art Education yang mengenalkan lukisan Boschbrand karya Raden Saleh. Lukisan dari tahun 1849 ini merupakan salah satu koleksi milik National Gallery Singapore. Raden Saleh sendiri adalah pelukis terkenal dari Indonesia, yang sering disebut sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia. Raden Saleh lahir di Semarang, dan kemudian melanjutkan edukasi melukisnya di Eropa. Forest Fire adalah salah satu lukisannya yang paling terkenal, merupakan hadiah dari Raden Saleh kepada King Willem III dari Belanda.

Di activity center ini, kita membedah lukisan bersama Raden Saleh. Raden Saleh muncul di depan, di mana kita mengambil kuas ajaib untuk berpetualang masuk lukisan, Dua lukisan Raden Saleh, yang akan “hidup” jika diwarnai, menyambut para art enthusiast cilik yang hadir dan menjelaskan bagaimana cara eksplorasi di sana. 
Petualangan seru dimulai dengan tiga checkpoint yang harus dilalui. Setiap anak akan dibekali 'kuas ajaib', sebuah alat yang akan menemani mereka menjelajahi dunia seni yang menakjubkan. Saya, tentu saja ikut mengambil kuas tersebut haha. Tidak mau ketinggalan petualangan dong.


Di checkpoint pertama, petualangan dimulai, dan setelahnya, anak-anak akan disambut oleh binatang-binatang yang seolah-olah hidup dari lukisan. Dengan 'kuas ajaib', mereka dapat melakukan tracing untuk menghidupkan garis-garis gambar, atau bahkan menyalakan lampu yang menerangi siluet binatang-binatang tersebut. Lebih dari sekadar bermain, di sini anak-anak diajak untuk belajar tentang warna-warna dasar (primary colors) dan warna campuran (secondary colors) dengan cara yang interaktif dan menyenangkan.

Friday, February 21, 2025

Downtown Disney District: Dunia Baru yang Membuat Lupa Waktu

Ke Disneyland, tapi nggak masuk ke theme park-nya. Emang nggak bosan?

Ada yang namanya Downtown Disney District. Downtown atau yang harafiahnya diterjemahkan sebagai pusat kota, adalah bagian tengah kota, yang sering dikaitkan dengan bisnis, perdagangan, dan hiburan. Biasanya merupakan area yang paling padat penduduknya dan pusat transportasi umum.


Sama seperti konsep ‘Downtown’ pada umumnya, di Downtown Disney District juga ada banyak toko retail, restaurant dan tempat untuk jalan-jalan. Bisa beli hotdog dan makan di area outdoor. Bisa window shopping dan belanja. Yang membuat Downtown Disney District spesial ya karena ini adalah gerbang masuk ke area Disneyland. Area Disneyland di Anaheim, California ini cukup comprehensive, dan bisa dibilang sebuah kota sendiri. Makanya punya downtown sendiri yang memberikan pengalaman belanja, makan, dan hiburan yang unik. Di hari-hari tertentu, ada live entertainment, penampilan karakter, dan acara khusus di sana.

Jadi, Downtown Disney ini lokasinya di luar Disneyland Park dan Disney California Adventure. Di ujung Downtown Disney District, kita bisa melihat pintu gerbang ke kedua theme park tersebut.



Downtown Disney District ini gratis. Yang bayar hanya parkirnya, yaitu $10 untuk jam pertama. Kalau stay lebih lama, bisa cari additional parking $20 untuk 3 jam jika belanja di toko, atau 5 jam jika makan di restoran. Saya kemarin menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk lihat-lihat, shopping dan jajan.

Here are some of the things that make Downtown Disney District special:

Friday, February 7, 2025

Chinatown Heritage Center Singapore

Eh, Singapore ada yang baru?

Salah satu negara tujuan wisata yang kalau saya visit, saya bingung mau ke mana lagi adalah Singapura. Too often, too many times. Kalau bukan Marina Bay Sands, Singapore Zoo, Suntec City atau landmark terkenal lainnya, sisanya adalah daerah perumahan dan taman yang mungkin lebih menarik untuk warga lokal.

Saya bahkan pernah secara sengaja stay 8 jam untuk keliling Changi (yang waktu itu belum punya Jewel) dan keluar masuk taman-taman yang ada sampai puas. Saya pernah menginap di hotel airport di Changi. Marina Bay malam hari, siang hari, sudah pernah ditulis semua. Liburan hemat, liburan gratis, liburan berdua maupun liburan ramai-ramai. Nonton konser juga sudah, meski bukan tulisan tersendiri. Malah akhir bulan Februari ini mau nonton lagi. Dulu, sebelum covid, setiap Art & Science Museum ganti exhibition, kita sempatkan mampir ke Singapura. Meski sebagian besar tulisan ini ada di blog yang andrewandme.blogspot.com. Terus apa lagi dong?


Kemarin saya kembali transit super lama di Singapura. Sekitar 8 jam. Mau ke mana lagi? Sepupu yang menjemput saya bertanya, “apa yang ingin saya kunjungi di Singapura?” Saya balik bertanya, “apa yang baru?”

Jadilah kami berdua berdiri di depan Chinatown Heritage Center, yang nyempil di tengah kekacauan Chinatown. Ethnographic museum ini bercerita tentang sejarah dan budaya masyarakat Tionghoa di Singapura. Berlokasi di tiga rumah toko yang telah dipugar di Pagoda Street, di jantung Chinatown Singapura, museum ini agak sulit ditemukan dari luar. Berjalan keluar dari MRT Chinatown, menyusuri Jalan Pagoda, cari tulisan Chinatown Heritage Center di sebelah kiri jalan. Jaraknya sekitar 1 menit berjalan kaki dari MRT.

Sunday, February 2, 2025

Unplanned Hike to Griffith Observatory

Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat, well, semak-semak dan pemandangan kota Los Angeles.


Let's just say that we never intended to go on a hike.

Hari Minggu siang, di musim panas, sepertinya satu kota Los Angeles punya pemikiran yang sama: “Yuk, ke Griffith Observatory.” Tidak ada parkir kosong di sekitar tempat tujuan. Jadilah, kami mencari public parking terdekat, meninggalkan mobil di sana, lalu jalan kaki ke atas.

Sebenarnya ada banyak cara ke sana, selain dengan mobil, jalan kaki atau naik sepeda. Ada bus umum yang bisa digunakan untuk pergi ke Griffith Observatory. Naik DASH dengan tujuan Observatory/Loz Feliz dari Stasiun Metro B Line Vermont/Sunset. Mereka yang tidak mau pusing dengan parkir atau jalan kaki lumayan jauh, bisa mengambil opsi kendaraan umum ini.

Oh ya, sebelum lupa, disclaimer dulu bahwa tulisan ini adalah pengalaman berkunjung, sebelum Griffith Observatory terdampak kebakaran hutan di California, yang terjadi pada awal tahun 2025.

Mari Masuk Ke Griffith Observatory


Griffith Observatory adalah landmark ikonik kota Los Angeles yang terletak di atas Mount Hollywood di area Griffith Park. Temukan pameran menarik tentang astronomi, eksplorasi ruang angkasa, dan sejarah alam semesta. Samuel Oschin planetarium, teleskop, serta Tesla Coil exhibition di sana. Griffith Observatory buka hingga jam 10 malam setiap harinya, sehingga kita bisa menyaksikan bintang-bintang di malam hari. Observatory yang dikunjungi sekitar 125,000 per bulan ini, tutup setiap hari Senin.