Showing posts with label Experience. Show all posts
Showing posts with label Experience. Show all posts

Sunday, March 1, 2026

Menjelajah Museum Tanpa Keluar Rumah (Part 2): Channel Youtube Favorit

Kalau di part 1 kita bicara soal Virtual Reality Tour atau VR Exhibition, di postingan yang ini kita ngobrolin traveling virtual lewat video YouTube.

Jujur saya, saya bukan tipe penonton video. Namun, di tahun 2023, penyanyi kesukaan saya launching Youtube channel berisi jalan-jalan keliling museum dengan dia sebagai guide yang memberi narasi. Eh, kok seru!

Narasi Personal Melalui YouTube Influencer

Nonton Youtube keliling sebuah kota atau objek wisata memberikan pengalaman berbeda, mainly karena ada teman jalannya. Ada dua jenis channel yang biasanya saya tonton. Yang pertama adalah channel milik orang pribadi. Seperti Yessay dari Super Junior Yesung (https://www.youtube.com/@yessay_). Channel Youtube ini berbeda karena memiliki vibes yang tenang, jalan santai, serta temanya seputar sejarah dan budaya. Yessay bukan vlog perjalanan yang terburu-buru atau yang merangkum tempat-tempat viral seperti video pendek di media sosial pada umumnya. Menontonnya terasa seperti sedang diajak melakukan perjalanan kontemplatif, bersama si pemilik channel.


Yessay mengajak saya blusukan ke museum-museum seni anti-mainstream yang jarang terjamah turis, hingga menelusuri sudut-sudut situs warisan budaya di Korea dengan perspektif yang berbeda. Kadang-kadang, kita berhenti sejenak untuk "mengobrol" dengan Yesung, tentang art, tenang hidup atau tentang hal-hal random yang membuat nonton video seperti jalan-jalan bareng seorang teman. This is the kind of travel I wish I was doing. Saking senangnya sama channel ini, saya bahkan membuat itinerary untuk suatu hari ke Korea dan mengunjungi tempat-tempat yang jadi tujuan di channel ini.

Ada banyak kreator konten yang mengkhususkan diri pada vlog perjalanan atau sejarah budaya. Menonton mereka memberikan perspektif yang berbeda pada sebuah tujuan. Selain Yessay, ada beberapa channel yang bisa jadi alternatif tontonan kalau kita sedang stuck di rumah, merencanakan itinerary trip berikutnya:

  • Allan Su (https://www.youtube.com/@allansu) adalah seorang traveller yang vlognya berbentuk diary. Meskipun menurut saya, pace-nya agak terlalu cepat dan konsepnya lebih ke itinerary, tapi isi vlognya berguna buat yang planning mau jalan-jalan karena isinya lumayan detail.
  • Art Insider (www.youtube.com/@theartinsidershow) mengajak kita keliling museum yang ada di UK dan Perancis. Ada beberapa yang di New York juga. Gaya ceritanya terlalu gen-z buat saya, tapi insightful dan bahasanya mudah dimengerti. Videonya belum banyak, jadi saya berharap dia bisa konsisten update.
  • Mary Lynn Buchanan (https://www.youtube.com/@MaryLynn_Buchanan) adalah pilihan yang sangat tepat bagi yang menyukai konten eksplorasi contemporary art dengan penyajian yang tenang dan mendalam. Art Gallery yang dikunjungi ada di berbagai belahan dunia, dengan fokus di New York, Jepang, U.K. dan Perancis.

Di Instagram, saya follow The Urbanist Singapore, yang sering punya Reels tentang urban planning dan heritage. Sedikit berbeda dengan Youtube karena media sosial yang digunakan kebanyakan video pendek, tapi cerita-cerita yang ada tidak kalah menarik karena menghadirkan sisi lain kota Singapura dan biasanya fokus pada satu titik. Bisa tentang eskalator, tentang kucing, tentang sebuah bangunan lama, atau hal-hal unik yang akan terlewatkan mata jika kita jalan begitu saja di negara tetangga.

Kelebihan utama mengikuti tur adalah terselipnya fakta-fakta unik atau opini pribadi yang membuat sejarah tidak terasa kaku. Bagi saya yang lebih menyukai gaya storytelling, channel seperti ini adalah tempat yang pas untuk memahami konteks budaya sebuah koleksi museum.

Bagaimana dengan Channel YouTube Resmi Dari Museumnya?


Berbeda dengan influencer, kanal YouTube resmi museum biasanya menyajikan konten yang lebih artistik dan sinematik. Channel Yessay kerap bekerja sama dengan Korean Heritage Channel (https://www.youtube.com/@koreanheritage) yang menghadirkan konten sejarah, budaya dan traveling di Korea. Sebenarnya, nonton Youtube channel ini lebih cocok buat cari hidden gem daripada tempat yang viral atau instagrammable. Videonya juga cenderung pendek, jadi kita bisa “berkunjung” ke beberapa tempat sekaligus. Seri “Heritage Walk with SUPER JUNIOR's Yesung” yang ada di sini mengajak kita berkeliling dengan sang artis sebagai guide-nya.


Banyak museum punya Youtube Channel sendiri. Selain menghadirkan virtual tur, channel Youtube resmi museum atau art gallery seringkali mendokumentasikan pameran temporer yang mungkin sudah berakhir secara fisik namun tetap "hidup" secara digital.
  • National Museum of Korea (https://www.youtube.com/@nationalmuseumofkorea) punya channel Youtube yang lumayan aktif. Selain update mengenai koleksi yang sedang tayang, channel ini juga punya NMK Immersive Digital Gallery, NMK lectures, NMK Kids, NMK Masterpieces dan sebagainya. Bagian “What’s on” adalah yang paling pas kalau ingin jalan-jalan keliling museum dengan laptop. Untungnya mereka punya closed caption bahasa Inggris, jadi saya bisa nonton dengan aman.
  • The Met di New York (https://www.youtube.com/@metmuseum) memiliki lebih dari 2000 video buat kita tonton. Sebagian besar adalah exhibition tour yang mengajak kita menyusuri koleksi-koleksi yang ada, baik yang masih dipajang maupun yang sudah lampau
  • ArtScience Museum Singapore (https://www.youtube.com/@ArtScienceMuseumSG) punya koleksi ArtScience Museum Virtual Tours yang dipandu oleh Museum Ambassadors. Durasinya pendek-pendek (sekitar 6-7 menit) jadi kalau punya waktu 30 menit di pagi hari bisa nonton 2-3 video.


Eksplorasi museum melalui layar YouTube membuktikan bahwa jarak dan waktu bukan lagi penghalang untuk jalan-jalan, menikmati sejarah dan budaya di negara lain. Setiap video menawarkan jendela unik untuk memahami dunia dari perspektif yang berbeda. Namun, perjalanan virtual ini bukan pengganti wisata fisik bagi saya. Soalnya tetap berbeda vibesnya, mendengarkan apa yang orang ceritakan tentang sebuah tempat versus kita sendiri yang ada di sana.



Saturday, February 28, 2026

Menjelajah Museum Tanpa Keluar Rumah (Part 1): VR Exhibition

Kebiasaan ini dimulai dari jaman Covid, ketika tiba-tiba banyak tur guide menawarkan wisata virtual. Ternyata ada banyak museum yang menyediakan fitur 360-degree virtual tour di situs resmi mereka. Lalu, di tahun 2023, member grup idol favorit saya me-launching Youtube channel tentang jalan-jalan ke museum, situs bersejarah, art gallery dan sebagainya. Beberapa acara di Korean Culture Center yang saya datangi juga merupakan virtual tur ke museum-museum yang ada di Seoul. Saya jadi berpikir, mungkin jalan-jalan virtual ini, ada serunya juga.

Eh, tapi ini termasuk travelling nggak ya?

Berkat kemajuan teknologi digital, jalan-jalan mengunjungi suatu tempat tidak lagi berarti terbang ke sana, Bisa dari fitur 360-degree virtual tour atau dari Youtube. Saya bahkan kadang “jalan-jalan” sendiri pakai Google Maps. Meskipun hanya di depan layar, dan tidak secara fisik berada di sana, saya tetap menentukan dua peraturan untuk jalan-jalan virtual ini.
  • Mendedikasikan waktu. Sama seperti kalau kita physically present di museum, jalan-jalan virtual juga tidak bisa disambi. Bangun pagi, sempatkan 30 menit untuk browsing, jalan-jalan dan nonton.
  • Riset dulu. Ada tur apa yang ditawarkan. Kalau nonton di Youtube, koleksi apa yang ditampilkan? Jalan-jalannya ke mana? Tetap punya plan “jalan-jalan” yang sesuai. Misal punya itinerary seminggu di Seoul, ya beneran tiap pagi kita keliling museum di Seoul.
Dan kalau biasanya saya traveling sambil bawa kopi di tangan, ya ini juga sama. Siapkan kopi di samping meja. Bedanya cuma kadang-kadang saya browsing sambil dasteran aja.


Cara paling “mudah” untuk memulai tur virtual adalah melalui situs resmi museum. Museum-museum besar di Korea, seperti National Museum of Korea atau The National Folk Museum of Korea, telah mengintegrasikan teknologi High-Resolution 360 View. Kita tinggal masuk ke websitenya lalu memilih bagian digital museum atau virtual tour. Salah satu museum yang lumayan update dengan koleksi virtualnya adalah National Museum of Modern and Contemporary Art, Korea (MMCA). Museum ini memiliki empat cabang dengan empat fokus berbeda. Cabang Seoul yang berfokus pada seni kontemporer global, sementara cabang Gwacheon menonjolkan arsitektur dan alam. Lalu cabang Deoksugung yang terletak di dalam istana bersejarah untuk seni modern klasik, serta cabang Cheongju sebagai pusat penyimpanan dan restorasi. Kalau perginya virtual, ya kita cukup masuk ke websitenya saja.

Mengunjungi Evolusi Kereta Bawah Tanah Seoul dari Laptop

Tuesday, February 3, 2026

T5 In the Making: Melihat Masa Depan Changi Airport

“Eh, apaan nih?” pikir saya, melihat sebuah area pameran yang masih tertutup di ujung Terminal 3 Changi Airport. Pagi itu, sambil menyantap sarapan di McDonald’s, rasa penasaran mulai muncul. Saya langsung googling, karena dari balik pembatas pameran terdengar suara seperti latihan opening ceremony. Ada suara MC yang formal “Ladies and gentlemen…” lengkap dengan intonasi khas acara resmi.

Ada tulisan T5 di sana. Wah, ada terminal baru lagi di Changi! Saya pun bertekad sebelum pulang ke Indonesia, saya harus mampir dan lihat sendiri apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan di sana.

 

T5 In the Making adalah pameran gratis yang digelar di Arrival Hall Terminal 3 Changi Airport, berlangsung dari 6 Januari hingga 31 Maret 2026. Lewat exhibition ini, pengunjung diajak menelusuri perjalanan panjang pengembangan bandara Singapura, sampai akhirnya masuk ke visi besar, desain, dan teknologi yang akan membentuk Terminal 5 (T5) di masa depan.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Ministry of Transport (MOT), Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS), dan Changi Airport Group (CAG). Meski gratis, pengunjung tetap perlu mendaftar terlebih dahulu karena kapasitas ruangannya terbatas. Setelah registrasi, kita akan menerima email konfirmasi yang nantinya bisa ditukar dengan semacam personal boarding pass sebelum masuk ke area pameran. Simple, tapi terasa pas dengan tema bandara yang mau dibuka.

Registrasi di sini: https://t5inthemakingreg.changiairport.com/

Saat saya mendaftar, slot kunjungan masih cukup longgar di hampir setiap jam. Saya registrasi H-1 sebelum kedatangan, dan memilih slot pukul 11 siang. Ketika datang dan berkeliling, suasananya juga tergolong sepi. Tidak ada antrean masuk, dan di dalam, saya hanya berpapasan dengan dua atau tiga pengunjung lain. Kondisi ini bikin saya bisa menikmati pameran dengan santai, berhenti lama di beberapa titik, foto-foto, dan ambil konten tanpa rasa terburu-buru.

Namun, saat saya cek kembali untuk keperluan menulis blog ini, terlihat kalau slot Sabtu–Minggu sudah mulai banyak yang penuh.

Untuk kunjungan, siapkan waktu sekitar 40–50 menit. Saya sendiri hampir menghabiskan satu jam, sebagian besar karena terlalu sering berhenti buat foto. Kalau berencana datang sebelum penerbangan, jangan lupa juga memperhitungkan waktu perjalanan dari dan menuju area pameran.

Ada apa saja di exhibition T5 In the Making ini?

Sunday, May 4, 2025

Navigating Mass Rapid Transits in Overwhelming Cities

Navigating public transportation can be a challenge when it comes to a new city. Especially when we’re not regular public transport users. Singapore used to be the training ground, with only two SMRT lines and integrated buses. Now, the neighboring country has six lines with over 140 stations. My personal favorite stop, Dhoby Ghaut has become so overwhelmingly large and confusing. The busiest station back in the day, City Hall, now shared the crowd with many other interchanges.


Since then, me and Dudu have experienced public transport, subways in particular, around the world. From London’s Underground to New York's infamous MTA Transit. Wandering around Seoul’s Metro, going up and down Bangkok’s BTS and getting lost in Paris’ Métropolitain. Not to mention KL’s Rapid Transit, Metro de Madrid and the Prague Metro. Recently, we added Los Angeles MTA to our list. Our goal is to try the well-known Tokyo Metro.

Every Subway has its own complicated map, plus language barrier if we’re traveling in non-English Speaking countries. Some of them we travelled back to a decade ago when Google Maps wasn't as advanced, and metro cards aren't as easy to get. So we do have to rely on maps and one-time tickets.

Collecting our “Transit” stories, these are things we learnt the hard way. Some of them are so basic and we were warned that when we nostalgically recall them, it becomes an inside joke.


Check the nearest exit.

Saturday, May 3, 2025

Microlibrary Warak Kayu Semarang: Where to Hide Between Books in the City Center

I first encountered this library on social media. A small yet comfortable space that invited me to visit. Even better, it’s a library. Semarang has always been my second hometown. I went back every year when I was a kid and continued to do so even after my father passed away during covid. Recently, I’m running out of places to visit in Semarang. So, I was super happy to find Microlibrary Warak Kayu and include the place in my homecoming itinerary.


Our first visit to Microlibrary Warak Kayu Semarang wasn’t as eventful. The library was unexpectedly closed on the days we’re in Semarang. I was disappointed because it was high on my list, aside from the Dharma Boutique Coffee Roaster near the hotel where I’m staying, and I’m purposefully staying over the weekdays too.

Microlibrary Warak Kayu Semarang nestled near the city center, next to a busy street. It’s a small, oddly shaped wooden structure on the parking lot near Taman Kasmaran, in between kiosks that sell flowers and Dr. Kariadi Hospital.

My first impression upon arriving at the structure is, “why is this so small?” Dudu had the same thought. It was much smaller than we expected. Yes, it’s called a micro library, but still, I expected the building to be bigger. The door was locked, but there was no notice on the outside. So, I checked their social media just to find out they are closed for the day. Too bad.

Sunday, April 27, 2025

Museum Sejarah Jakarta itu Isinya Apa Sih?

Ini adalah pertanyaan saya ketika berada di kota tua, berdiri melihat gedung dengan arsitektur Belanda yang megah di tengahnya.

“Janjian di depan Museum Fatahillah ya,” kata seorang teman kala itu. Lalu, saya kembali memandangi gedung, di depannya ada dua buah meriam yang beralih fungsi jadi tunggangan anak-anak di sekitarnya. Saya jadi was-was. “Museum Fatahillah itu Museum Sejarah Jakarta kan?”


Jawabannya iya, soalnya ini adalah Taman Fatahillah. “Ya pokoknya yang ada meriamnya itu.”

Perjalanan ke Kota Tua kali ini adalah janjian bersama teman-teman-nya Panda. Iya, Panda boneka saya yang kadang suka muncul di blog juga. Dia punya IG dan Tiktok sendiri yang isinya traveling. Follow ya di @pandatravelstory. Haha. Nah, karena ketemuan inilah, dan sudah tau kalau parkir di sana susah plus banyak premannya, maka saya dan Panda pergi ke Kota Tua naik kendaraan umum. Apa aja pilihannya?

  • Naik KRL menuju Stasiun Jakarta Kota. Lalu, jalan menyeberang dari pintu keluar yang menghadap ke Kota Tua, sekitar 5-10 menit tergantung keramaian yang ada. Yes, kalau lagi ramai, jalur pejalan kaki juga bisa “macet”.
  • Naik Busway turun di Halte Kali Besar atau Halte Museum Sejarah Jakarta. Lalu, jalan ke Kota Tua. Kalau turun di Halte Kali Besar bisa sekalian foto-foto di toko Merah yang ada di seberang jalan.

Buat yang bingung, pintu masuk museum bukan yang menghadap ke square, alias lapangan terbuka di Kota Tua, tetapi ada di sampingnya. Pintu masuk Museum ini menghadap ke beberapa cafe yang ada di Kota Tua. Tiketnya Rp. 15000 untuk orang dewasa. Bisa dibayar dengan tunai atau non-tunai. Agak kaget juga sih ternyata lumayan murah.

Anyway, setelah masuk dan berkeliling museum, saya menemukan bahwa meriam yang selalu jadi daya tarik utama Museum Fatahillah itu justru hampir terlewatkan. Kok bisa? Soalnya ternyata ada banyak cerita di dalam museumnya. Museum Sejarah Jakarta menyimpan lebih dari 23.000 koleksi benda bersejarah yang berkaitan erat dengan perkembangan kota Jakarta, mulai dari masa kerajaan hingga era kemerdekaan dan kekinian.



Setelah membeli tiket masuk, di ruangan pertama ada lukisan dan sketsa di tembok-temboknya. Biasanya ini jadi ajang tempat foto-foto bagi pengunjung. Setelah itu, kita akan bertemu ondel-ondel dan taman yang besar. Di ujung taman, dekat mushola dan pintu keluar inilah, ada dua meriam yang menjadi ciri khas museum. Namun, sebelum ke sana, kita bisa berbelok masuk ke gedung museum.

Ada dua bagian dari museum ini, yang pertama adalah ruang bawah tanah, alias penjara, dan kamar tahanan Pangeran Diponegoro. Ruang tahanan bawah tanah yang dingin dan pengap ini sempit, jadi jika museum sedang ramai, harus mengantri masuk bergantian. Kamar Tahanan Pangeran Diponegoro terletak di gedung yang sama, di bagian atas. Satu hal yang harus diperhatikan ketika berada di Museum Sejarah Jakarta adalah tangga kayu yang minim pegangan dan satu tangga yang dipakai bergantian naik turun. Maklum, gedungnya kan bekas Balai Kota Batavia.

Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro ini menghadirkan cerita dengan animasi dan gambar, yang kontras dengan suasana kuno dari interior kamar tersebut. Animasi ditayangkan di layar yang menutupi dipan bercerita tentang kisah penangkapan Pangeran Diponegoro. Animasi-animasi dan bagian interaktif yang ada di Museum Sejarah Jakarta ini patut diapresiasi karena membuat kisah sejarah jadi lebih menarik bagi generasi sekarang.

Di gedung sebelahnya, sejarah Jakarta baru benar-benar dimulai. Diawali dengan Artefak Prasejarah dan Masa Tarumanegara seperti replika prasasti dari Kerajaan Tarumanegara yaitu Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi, jejak kaki Purnawarman yang ada di batu, dan fragmen keramik dari berbagai periode yang ditemukan di sekitar Jakarta pada masa lampau.

Fokus utama koleksi museum ini ada di lantai dua, yaitu Masa Kolonial Belanda (Batavia). Hati-hati naik tangganya ya. Di lantai dua ada koleksi Perabotan Antik seperti meja, kursi, lemari, dan tempat tidur bergaya Eropa dari abad ke-17 hingga ke-19 yang pernah digunakan di gedung-gedung pemerintahan dan rumah-rumah mewah di Batavia. Ada koleksi uang kuno yang dipajang di bagian depan.

Di sini juga ada balkon yang memberikan pemandangan Kota Tua secara keseluruhan.

Kembali lagi ke bawah, kita melanjutkan cerita tentang Batavia. Hati-hati turun tangganya, ya. Di lantai satu ini, kita perlahan-lahan kembali ke masa Jakarta sekarang. Ada permainan interaktif menyusun sebuah rumah daerah dengan layar touchscreen yang warna dan bentuknya bisa kita ganti-ganti sendiri.

Sebagai warga Jakarta, berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta ini memberikan cerita sendiri untuk saya. Apa yang ada di museum ini sebagian sudah saya pelajari di sekolah, tapi melihat sendiri, membaca keterangan, dan mendengar ceritanya memberikan perspektif yang berbeda tentang Jakarta.

Beberapa hal yang patut diperhatikan kalau hendak berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta.
  • Kalau bisa datang pagi-pagi saat masih sepi sehingga bisa menikmati koleksi dengan lebih leluasa. 
  • Kalau membawa anak kecil atau orang tua harap berhati-hati dengan tangga dan beberapa undakan yang ada. 
  • Luangkan waktu lihat satu-satu koleksinya tanpa terburu-buru.

Yuk ke museum.

Our Date is At:
Museum Sejarah Jakarta / Museum Fatahillah

Taman Fatahillah No.1, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110


Friday, April 25, 2025

Dari Masa Ke Masa, di National Videogame Museum

Sebagai (yang katanya) gamer, saya dan Dudu senang ketika menemukan ada National Videogame Museum. Ketika kita berkunjung ke daerah Dallas-Fort Worth area di Texas, kita menyempatkan diri berbelok ke Frisco untuk mampir.




Frisco adalah suburb kota Dallas, letaknya sekitar 30 miles arah utara. Cara paling mudah ke tempat ini adalah dengan menyetir mobil. National Videogame Museum ada di satu komplek yang sama dengan Sci-Tech Discovery Center yaitu museum untuk anak-anak dan Frisco Public Library. Parkirannya luas, tapi sering ada kunjungan anak sekolah. Meskipun termasuk “in the middle of nowhere” untuk saya, National Videogame Museum selalu ramai karena anak-anak ini.

Why a video game museum? Soalnya museum ini menawarkan sejarah video games, mulai dari pajangan konsol dan arcade jadul, hingga sebuah perjalanan interaktif yang akan membawa para pengunjung bernostalgia, sekaligus menambah wawasan tentang evolusi dunia game. Jangan langsung antipati dulu ya haha. Bukan gamer pun bisa kok mendapatkan manfaat dan kesenangan di sini. Buat saya dan Dudu, tempat ini jadi ajang berkenalan dengan dunia game di jaman masing-masing. Ibarat anak Gen Z ketemu disket dan kaset.

Museum ini terlihat sederhana dari luar. Namun, kami berdua betah stay berjam-jam karena ada banyak games yang bisa dimainkan secara gratis. Konon, museum ini adalah satu-satunya museum di Amerika Serikat yang didedikasikan untuk sejarah industri video game dan memiliki koleksi yang sangat besar.

Tuesday, March 4, 2025

Bertualang Bersama Raden Saleh di National Gallery Singapore

Dirancang dengan mempertimbangkan interest anak-anak, Keppel Centre for Art Education hadir sebagai ruang yang dinamis, didedikasikan untuk menumbuhkan kecintaan terhadap seni pada generasi selanjutnya.

Saya dan Dudu pernah ke sini pada tahun 2017 yang lalu. Ketika itu, yang menjadi atraksi utamanya adalah exhibition Yayoi Kusama: Life is the Heart of the Rainbow. Exhibition yang merupakan kerjasama dengan Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art, Brisbane, Australia ada di Level 3, Singtel Special Exhibition Gallery, City Hall Wing, National Gallery Singapore. Exhibition ini terbuka untuk semua umur, jadi saya bisa bawa Dudu yang waktu itu masih SD ke sana.


Setelah itu, saya tidak pernah mampir lagi ke National Gallery Singapore, hingga kemarin, ketika mengantar keponakan yang masih balita untuk bermain di sana. National Gallery Singapore memang jarang jadi tujuan utama saya kalau ke Singapura. Jadi, surprise dong ketika melihat Keppel Centre for Art Education yang sangat edukatif, menarik dan gratis. Dari hands-on workshops hingga instalasi yang interaktif, Keppel Centre for Art Education adalah tempat di mana pikiran dapat berkembang sejak dini untuk apresiasi mendalam terhadap dunia seni.

A Brush With Forest Fire adalah salah satu aktivitas permanen di Keppel Centre for Art Education yang mengenalkan lukisan Boschbrand karya Raden Saleh. Lukisan dari tahun 1849 ini merupakan salah satu koleksi milik National Gallery Singapore. Raden Saleh sendiri adalah pelukis terkenal dari Indonesia, yang sering disebut sebagai Bapak Seni Lukis Modern Indonesia. Raden Saleh lahir di Semarang, dan kemudian melanjutkan edukasi melukisnya di Eropa. Forest Fire adalah salah satu lukisannya yang paling terkenal, merupakan hadiah dari Raden Saleh kepada King Willem III dari Belanda.

Di activity center ini, kita membedah lukisan bersama Raden Saleh. Raden Saleh muncul di depan, di mana kita mengambil kuas ajaib untuk berpetualang masuk lukisan, Dua lukisan Raden Saleh, yang akan “hidup” jika diwarnai, menyambut para art enthusiast cilik yang hadir dan menjelaskan bagaimana cara eksplorasi di sana. 
Petualangan seru dimulai dengan tiga checkpoint yang harus dilalui. Setiap anak akan dibekali 'kuas ajaib', sebuah alat yang akan menemani mereka menjelajahi dunia seni yang menakjubkan. Saya, tentu saja ikut mengambil kuas tersebut haha. Tidak mau ketinggalan petualangan dong.


Di checkpoint pertama, petualangan dimulai, dan setelahnya, anak-anak akan disambut oleh binatang-binatang yang seolah-olah hidup dari lukisan. Dengan 'kuas ajaib', mereka dapat melakukan tracing untuk menghidupkan garis-garis gambar, atau bahkan menyalakan lampu yang menerangi siluet binatang-binatang tersebut. Lebih dari sekadar bermain, di sini anak-anak diajak untuk belajar tentang warna-warna dasar (primary colors) dan warna campuran (secondary colors) dengan cara yang interaktif dan menyenangkan.

Friday, February 21, 2025

Downtown Disney District: Dunia Baru yang Membuat Lupa Waktu

Ke Disneyland, tapi nggak masuk ke theme park-nya. Emang nggak bosan?

Ada yang namanya Downtown Disney District. Downtown atau yang harafiahnya diterjemahkan sebagai pusat kota, adalah bagian tengah kota, yang sering dikaitkan dengan bisnis, perdagangan, dan hiburan. Biasanya merupakan area yang paling padat penduduknya dan pusat transportasi umum.


Sama seperti konsep ‘Downtown’ pada umumnya, di Downtown Disney District juga ada banyak toko retail, restaurant dan tempat untuk jalan-jalan. Bisa beli hotdog dan makan di area outdoor. Bisa window shopping dan belanja. Yang membuat Downtown Disney District spesial ya karena ini adalah gerbang masuk ke area Disneyland. Area Disneyland di Anaheim, California ini cukup comprehensive, dan bisa dibilang sebuah kota sendiri. Makanya punya downtown sendiri yang memberikan pengalaman belanja, makan, dan hiburan yang unik. Di hari-hari tertentu, ada live entertainment, penampilan karakter, dan acara khusus di sana.

Jadi, Downtown Disney ini lokasinya di luar Disneyland Park dan Disney California Adventure. Di ujung Downtown Disney District, kita bisa melihat pintu gerbang ke kedua theme park tersebut.



Downtown Disney District ini gratis. Yang bayar hanya parkirnya, yaitu $10 untuk jam pertama. Kalau stay lebih lama, bisa cari additional parking $20 untuk 3 jam jika belanja di toko, atau 5 jam jika makan di restoran. Saya kemarin menghabiskan waktu sekitar 3 jam untuk lihat-lihat, shopping dan jajan.

Here are some of the things that make Downtown Disney District special:

Friday, February 7, 2025

Chinatown Heritage Center Singapore

Eh, Singapore ada yang baru?

Salah satu negara tujuan wisata yang kalau saya visit, saya bingung mau ke mana lagi adalah Singapura. Too often, too many times. Kalau bukan Marina Bay Sands, Singapore Zoo, Suntec City atau landmark terkenal lainnya, sisanya adalah daerah perumahan dan taman yang mungkin lebih menarik untuk warga lokal.

Saya bahkan pernah secara sengaja stay 8 jam untuk keliling Changi (yang waktu itu belum punya Jewel) dan keluar masuk taman-taman yang ada sampai puas. Saya pernah menginap di hotel airport di Changi. Marina Bay malam hari, siang hari, sudah pernah ditulis semua. Liburan hemat, liburan gratis, liburan berdua maupun liburan ramai-ramai. Nonton konser juga sudah, meski bukan tulisan tersendiri. Malah akhir bulan Februari ini mau nonton lagi. Dulu, sebelum covid, setiap Art & Science Museum ganti exhibition, kita sempatkan mampir ke Singapura. Meski sebagian besar tulisan ini ada di blog yang andrewandme.blogspot.com. Terus apa lagi dong?


Kemarin saya kembali transit super lama di Singapura. Sekitar 8 jam. Mau ke mana lagi? Sepupu yang menjemput saya bertanya, “apa yang ingin saya kunjungi di Singapura?” Saya balik bertanya, “apa yang baru?”

Jadilah kami berdua berdiri di depan Chinatown Heritage Center, yang nyempil di tengah kekacauan Chinatown. Ethnographic museum ini bercerita tentang sejarah dan budaya masyarakat Tionghoa di Singapura. Berlokasi di tiga rumah toko yang telah dipugar di Pagoda Street, di jantung Chinatown Singapura, museum ini agak sulit ditemukan dari luar. Berjalan keluar dari MRT Chinatown, menyusuri Jalan Pagoda, cari tulisan Chinatown Heritage Center di sebelah kiri jalan. Jaraknya sekitar 1 menit berjalan kaki dari MRT.

Sunday, February 2, 2025

Unplanned Hike to Griffith Observatory

Naik-naik ke puncak gunung, tinggi-tinggi sekali. Kiri kanan kulihat, well, semak-semak dan pemandangan kota Los Angeles.


Let's just say that we never intended to go on a hike.

Hari Minggu siang, di musim panas, sepertinya satu kota Los Angeles punya pemikiran yang sama: “Yuk, ke Griffith Observatory.” Tidak ada parkir kosong di sekitar tempat tujuan. Jadilah, kami mencari public parking terdekat, meninggalkan mobil di sana, lalu jalan kaki ke atas.

Sebenarnya ada banyak cara ke sana, selain dengan mobil, jalan kaki atau naik sepeda. Ada bus umum yang bisa digunakan untuk pergi ke Griffith Observatory. Naik DASH dengan tujuan Observatory/Loz Feliz dari Stasiun Metro B Line Vermont/Sunset. Mereka yang tidak mau pusing dengan parkir atau jalan kaki lumayan jauh, bisa mengambil opsi kendaraan umum ini.

Oh ya, sebelum lupa, disclaimer dulu bahwa tulisan ini adalah pengalaman berkunjung, sebelum Griffith Observatory terdampak kebakaran hutan di California, yang terjadi pada awal tahun 2025.

Mari Masuk Ke Griffith Observatory


Griffith Observatory adalah landmark ikonik kota Los Angeles yang terletak di atas Mount Hollywood di area Griffith Park. Temukan pameran menarik tentang astronomi, eksplorasi ruang angkasa, dan sejarah alam semesta. Samuel Oschin planetarium, teleskop, serta Tesla Coil exhibition di sana. Griffith Observatory buka hingga jam 10 malam setiap harinya, sehingga kita bisa menyaksikan bintang-bintang di malam hari. Observatory yang dikunjungi sekitar 125,000 per bulan ini, tutup setiap hari Senin.



Tuesday, January 28, 2025

Temukan Rahasia Jejak Kaki di Dinosaur Valley State Park

Bersiaplah kembali ke jaman purbakala, ketika dinosaurus masih berjalan di muka bumi. Taman Nasional ini memiliki koleksi jejak dinosaurus mengesankan, yang terpelihara di dasar Paluxy River. Telusuri jejak dinosaurus raksasa seperti Acrocanthosaurus dan Sauroposeidon, dan kagumi bukti makhluk prasejarah yang pernah menjelajahi tanah ini.

Honestly, judulnya terdengar fantastis. Namun, kurang lebih ya begitu faktanya. Kami tidak terpikir ada dinosaurus di sebuah State Park di Texas. Random memang. Ketika sekelilingnya lebih akrab dengan cowboy, barbeque dan dataran panas. Tapi ya here we are, di tengah sungai yang dikelilingi hutan rimbun, menatap jejak kaki dinosaurus yang diklaim sebagai asli.

Sparky yang penasaran apakah benar ada jejak kakinya

Nama tempatnya Dinosaur Valley State Park.


Yang ini tidak lebay. Memang namanya juga ‘menjual’ si dinosaurus, yang menurut saya sebenarnya adalah langkah bagus mengingat ketika menulis ini, saya lupa nama Park-nya. Untung langsung muncul ketika di-Google. Dinosaur Valley State Park seluas 1.587 hektar ini dibuka pada tahun 1972 dengan tujuan untuk melestarikan jejak dinosaurus sekaligus memberikan edukasi bagi publik.

Apparently ini bukan taman nasional, tapi State Park. Bedanya apa?

Taman Nasional beroperasi di bawah naungan National Park Services dengan dana dari Federal Government. Biasanya Taman Nasional lebih luas daripada State Park dan fokusnya lebih kepada melindungi sumber daya alam dan budaya yang ada di daerah itu. Contoh Taman Nasional atau National Park adalah Grand Canyon. Sementara itu, State Park fokusnya lebih ke memberikan tempat rekreasi kepada penduduk, dengan kegiatan yang biasanya dilarang di National Park, seperti berburu atau memancing. Namun, banyak juga State Park yang juga berfokus pada konservasi. Dinosaur Valley State Park salah satunya.

Lokasinya ada di Glen Rose, sekitar 90-minute drive dari Dallas, Texas, ke arah Barat Daya. Atau 1 jam lebih sedikit kalau dari Fort Worth. Sepengetahuan saya, tidak ada kendaraan umum menuju ke sana. Jadi harus menyetir sendiri.

Wednesday, January 15, 2025

Harry Potter and the Cursed Child on Broadway

New York City telah lama menjadi pusat pertunjukan teater. Jadi, sudah sewajarnya jika Harry Potter and the Cursed Child menemukan rumahnya di Broadway. Pertunjukan ini bukan sekadar teater biasa. Menyaksikan Harry Potter and the Cursed Child berarti kembali ke dunia sihir, kesempatan untuk bertemu kembali dengan karakter kesayangan, serta menyaksikan babak baru yang terungkap. Soalnya, jalan cerita Harry Potter and the Cursed Child ini khusus dibuat untuk pertunjukan teater.


Penggemar berat Harry Potter dan dunia sihirnya tentu wajib menyaksikan pertunjukan ini. Bagi mereka yang hanya sekedar tahu siapa the boy who lived pun, mampir ke Broadway dan menghabiskan sekitar 3,5 jam di dunia sihir juga bukan hal yang buruk. Produksi teater Broadway yang dibuka di Lyric Theatre pada tahun 2018 ini telah memenangkan enam Penghargaan Tony pada tahun 2018, termasuk Drama Terbaik.

The next time you’re in New York City, sempatkan mampir ke dunia sihir.

Friday, June 28, 2024

Visiting The Traditional Markets Brings A Different Experience

When you travel, try visiting the traditional markets for a different experience. I read that somewhere, or heard it from someone. 

So, when I received the prompt of writing about a traditional or modern market I’ve visited, I scrolled the photos I’ve taken throughout my journey and saw some of the most memorable market visits I’ve done. Unfortunately these market visits were done before the pandemic hit. Needless to say, I would love to visit them again should the opportunity arise.

Inside Jeju Dongmun Public Market

Jeju Dongmun Public Market, Jeju-Do, South Korea
9 Dongmun-ro 4-gil, Jeju-si, Jeju-do, South Korea

Said to be the largest and oldest permanent traditional market in Jeju, the market dates back to the Japanese colonial period. We visited this market as it was on our way to the bus stop from our lunch spot. It was in winter and early afternoon, so most of the fresh items are either gone or just not being sold. We found several street food stalls and decided to snack on our way to the bus stop. It was freezing cold. 

Interestingly, the street food vendors all shooed us away whenever we wanted to take pictures. Even when I’m taking pictures of Dudu. These elderly grandma didn’t want to be in any pictures, so we ended up posing in front of the market gate. Despite their rather rude attitude, the snacks are tasty. I figured, the street vendors might have enough with tourists and content creators. Or it might be my race. I started noticing that they changed their attitude upon seeing Dudu, which is half-white, and upon knowing where I’m from, their attitude changed. 

It was quite an interesting experience. I’m glad I spoke enough Korean then to do basic communications with the grandmas and grandpas in the market. Otherwise, the tasty snacks won’t be on our hands because most vendors don’t speak English.

Back to the snack. Dudu bought Hotteok, a pancake often filled with brown sugar. His friends bought Bungeo-ppang (Fish Bread filled with red bean paste),  which is similar to Japanese Taiyaki. Bungeo-ppang is a popular winter street food.

Wednesday, April 10, 2024

Hotel Review: Quest Hotel Simpang Lima Semarang

Despite the name, this Hotel is closer to Semarang Chinatown than the actual Simpang Lima. The First thing I noticed about this Hotel is how close it is to good restaurants and street food stalls. Across the street, there are Wedang Ronde and Tahu Gimbal stalls. Soto Bokoran, the legendary soto shop is right next door. Within a 5-minute walk, there are Kelengan Pork Satay restaurant and Dharma Boutique Coffee Roastery. 

Famous roads like Gajah Mada, where you can find Krabe Seafood, Rumah Makan Kelapa Gading, and Tahu Pong Gajah Mada is only 10 minutes away by foot through a small road by the river. 

In short, this hotel is a great basecamp for those who are too lazy to drive around, but are craving for delicious food. 


The 3-star hotel itself is still in the affordable range with a price range from Rp. 400,000 per night for a deluxe twin/double room at online travel agents. We stayed in a family room for 3 people, which costs Rp. 750,000 per night. The room has 1 double/queen bed and one single bed, but has no view. Our room is located on the second floor. The family room is slightly larger with 32m2 compared to the regular 26m2, and also includes breakfast. Although breakfast is unnecessary when you're in Semarang and in the Plampitan area. As I mentioned before, delicious food is everywhere at super affordable prices. I'd say choose wisely. 

At first glance, the hotel room is clean and neat. I do appreciate the space and the balcony, despite not being able to open the sliding door as it was locked. Air conditioner worked well and the room was well-lit. The Internet works great and hot water runs smoothly. I had no complaints during my 3-night stays at the hotel. 

Breakfast isn't awesome, but may be useful when you're too lazy to go out in the early hours. They have western fusion selections, bread, omelette, soto and porridge. Some Indonesian / Javanese food is also present. Coffees are poured over, but tea selections are surprisingly plentiful. They even have Butterfly Pea. Restaurant isn't luxurious but the waitresses are helpful and friendly. 

The hotel has a swimming pool which I didn't check out. Waters are on the dispenser, which we filled in the jar placed on the table in the room. This is actually a great idea, because we don't have to ask for bottled water every time. Even though the hotel may be crowded, there is always a parking spot. I didn't have to read about parking, even when I went back to the hotel at night. 

What matters is that Dudu thinks the hotel is okay, and he's able to sleep through the night. The check in and check out process are pretty fast. The only tricky thing about the hotel is how the surrounding roads are mostly one-way streets. When you come by car, there is only one direction to go. 

After trying out different hotels in Semarang, I think this is the one that we will return to. It's not new and definitely far from the ideal cozy luxury accommodation, but it's worth the prize. Its convenient location is definitely the main reason why. 

Check in at:
Quest Hotel Simpang Lima Semarang
Jl. Plampitan No.37-39, Bangunharjo, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50138
(024) 3520808


Saturday, May 27, 2023

Mengajari Anak Mandiri dengan Naik Transportasi Umum

Dulu saya naik transportasi umum hanya di luar negeri saja. Yang namanya negara tetangga, yang terkenal dengan MRT-nya itu adalah negara tujuan favorit. Soalnya bisa naik bus dan kereta ke mana-mana. Rasanya bebas. Tidak usah pusing cari parkir dan kalaupun macet, ya kan saya hanya duduk manis di dalam bus.

Mengajak Dudu juga seru. Selain mengajarkan anak untuk mandiri dan bertanggung jawab (minimal dengan menjaga kartu MRT-nya agar tidak hilang), anak juga bisa belajar inisiatif dengan mencari jalan dan mengingat sendiri apa yang dilihat di peta.

Tebak ini MRT mana

Naik MRT di Singapura

Tingkat Kesulitan: Mudah

Tuesday, May 3, 2022

Cerita Pertama Kali Naik MRT Jakarta dan Nostalgia di Sarinah

Duo anak Jaksel coret ini akhirnya pergi nyobain MRT Jakarta. Cerita #Datewithdudu pergi ke tengah kota. Selama ini MRT cuma sekedar kereta lewat, pemandangan ketika menunggu lampu merah di perempatan RS Fatmawati. Sekarang kita berdua jadi penumpangnya. Gimana rasanya naik MRT Jakarta? 


Kita berdua naik dari Bundaran HI ke Lebak Bulus Grab. Harganya 14rb sekali jalan. Buat masuk keluar stasiun bisa pakai e-money dan sejenisnya. Bisa pakai apps juga tapi menyadari beberapa stasiun ada di underground yang sulit sinyal, sepertinya pakai kartu lebih aman. Jangan lupa scan Peduli Lindungi saat masuk stasiun, pakai masker dan menghindari berbicara di dalam kereta untuk mengurangi penyebaran Covid-19. Keretanya ada setiap 10 menit di hari libur dan setiap 5 menit di hari kerja.


Akhirnya naik MRT berdua (kalo Panda dihitung jadi bertiga)

Keretanya nyaman dan bersih. Jadi senang naiknya. Bisa lihat Jakarta dari sudut pandang berbeda. Oh iya, MRT ini underground sampai Senayan lalu baru bisa liat pemandangan menjelang stasiun ASEAN. Yang jadi masalah kalau naik MRT adalah hujan. Karena kebanyakan dari pintu masuk dan keluar MRT belum tersambung dengan mall atau gedung, jadi bawa payung untuk jaga-jaga kalau disambut hujan deras di pintu keluar.

Wednesday, June 12, 2019

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menginap di Hotel Airport?

Selama 12 tahun jalan-jalan sama Dudu, saya baru 2 kali menginap di airport hotel. Keduanya di Changi Airport. Eh, Changi kan bagus, banyak tempat istirahat dan kegiatan yang bisa dilakukan. Buat apa menginap?

Jam berangkat yang kurang manusiawi. Jam mendarat yang terlalu malam, jadi MRT sudah tutup. Waktu transit yang kurang dari 12 jam. Tiga hal itu yang biasanya menjadi alasan saya untuk menginap di hotel airport. Selain tentunya karena saya bawa balita.

Tapi emang worth it?
 

Monday, December 3, 2018

Where to Stay in Sokcho: James Blue Hostel

“Musim Gugur adalah saat terbaik untuk mengunjungi Korea karena warna daun yang berubah. Pemandangannya indah,” begitu kata James, pemilik James Blue Hostel di Sokcho. Ketika bias Kpop saya, si Yesung, sharing foto daun berguguran di Instagramnya, saya jadi ingat kalau saya belum menulis review penginapan yang satu ini.



Despite what people say, saya masih menemukan kesulitan berkomunikasi dengan orang-orang di Korea, terutama di kota kecil. Termasuk Sokcho, yang satpam bank-nya saja baru menjawab ketika saya nekat bertanya dengan bahasa Korea. Masalahnya karena mau ke Gunung Sorak, kita harus menginap di Sokcho. Terletak di ujung timur Gangwon-do, kota ini terkenal sebagai perbatasan dan karena produk hasil lautnya yang segar. Biasanya orang Korea ke Sokcho untuk menyambut matahari terbit yang pertama di pantainya.

Untung juga kita datang tanggal 1 Januari ketika semua orang sudah checkout.

Menemukan satu penginapan yang nyaman buat anak dan pemilik yang super friendly plus lancar berbahasa Inggris di Sokcho adalah salah satu hal yang paling melegakan. James Blue Guesthouse di Sokcho muncul di urutan teratas website Trip Advisor. Saya memilih stay di sini hanya berdasarkan review orang-orang yang bilang kalo Mr. James bisa berkomunikasi dalam bahasa Inggris.

Ternyata saya mendapatkan lebih dari pemilik penginapan yang lancar Bahasa Inggris.

Saturday, May 20, 2017

The Fun Rides of Legoland Malaysia

We arrived with the assumption that Legoland is for small children and Dudu is too old for the rides. So, we didn’t expect much even after we were there by the gate that morning, especially when we just stopped by Universal Studios the previous day.



But you don’t have to be as cool to be lovable. Universal Studios may be awesome, but Legoland has a different kind of charm. Even for non-Lego enthusiasts like us. We spent half day at the water park and another half at theme park with lunch break in between. It was fun and if Universal Studios is done in a day, this one needs extension. At least one for each.


But before we go into our favorite rides in Legoland, let me share that the theme park online ticketing service is real friendly and helpful. I ordered my tickets through their official website but the e-ticket didn’t arrive in my mailbox. I emailed them and they helped track down my tickets, re-sending them in no time. So we’re able to depart in peace. The price is also competitive. I bought it on the official website because believe it or not, it’s the cheapest I can found after comparing with several travel agents and websites.

According to its official website, 1-day theme park pass is RM156 (or around Rp.480k) if you book 7 days in advance.

The website has also been helpful in providing information regarding how to reach the place from Singapore by bus so I didn’t have to look anywhere else.

Legoland Malaysia is thrilling as well as educational. It’s less crowded than Universal Studios, so we spend more time playing and enjoying the park rather than standing on the line haha. We can play as many times as we want without worrying about the line or the other people.