Showing posts with label Experience. Show all posts
Showing posts with label Experience. Show all posts

Saturday, June 13, 2026

Wisata Nonton Parade di Amerika Serikat

Waktu kecil, saya pernah terpesona sama parade Disneyland. Kemudian saat saya kuliah, tiap homecoming, alias hari pala alumni kembali ke kampus, ada parade juga. Lalu saya jadi memperhatikan betapa seringnya pawai atau parade megah muncul sebagai bagian penting di berbagai perayaan di Amerika Serikat. Bukan hanya theme park atau taman bermain yang punya parade, tapi perayaan lokal pun ada paradenya. Mulai dari kemeriahan Fourth of July di kota-kota kecil hingga kemegahan balon raksasa Macy’s Thanksgiving Day Parade yang terkenal hingga seluruh dunia. Semua meriah.


Parade, bagi masyarakat Amerika Serikat, dimulai sejak akhir abad ke-18 sebagai medium krusial untuk membangun identitas nasional. Dalam buku “Civic Wars: Democracy and Public Life in the American City during the Nineteenth Century,” sejarawan Mary P. Ryan menceritakan bagaimana kota-kota besar di AS menggunakan ruang publik dan parade sebagai panggung bagi berbagai kelompok etnis, kelas pekerja, dan imigran. Parade adalah sarana untuk unjuk diri, dan sekarang, parade jadi sarana promosi.

Parade akhirnya juga jadi tujuan wisata. Ini adalah beberapa parade terkenal di Amerika Serikat, yang sebagian ada di wishlist saya. Siapa tahu kalau next time berkunjung ke sana bisa pas dengan waktu paradenya.

Macy’s Thanksgiving Day Parade

Macy’s Thanksgiving Day Parade adalah sebuah tradisi di kota New York sejak tahun 1924. Arguably, ini adalah parade paling terkenal di Amerika Serikat. Balon helium raksasa berbentuk karakter-karakter favorit, kendaraan hias, marching band, dan pertunjukan Broadway beriringan melintasi Manhattan pada pagi Hari Thanksgiving. Rute parade membentang dari Upper West Side hingga Herald Square.

Photo by Brittanica

Photo by The Hollywood Reporter

Photo by NBC News

Saya belum pernah menyaksikan parade ini secara langsung, karena parade ini biasanya ditayangkan di televisi, dan media lainnya. Penasaran juga sebenarnya, tapi kalau mau melihat langsung berarti harus menyempatkan ke New York di minggu Thanksgiving, yang adalah salah satu momen paling sibuk di Amerika karena semua orang pulang kampung. Lalu harga tiket dan penginapan jadi melonjak.

Belum lagi di bulan November di NYC bisa sangat dingin, bayangkan suhu 30-40°F (0-5°C) dengan angin dingin yang menusuk. Lalu kita berdiri di tempat terbuka menunggu balon Snoopy lewat. Sebagai orang yang pernah stuck kedinginan di Times Square karena pengen merasakan euphoria Ball Drop New Year’s Eve, kayaknya sekarang saya berpikir dua kali kalau mau kedinginan di New York lagi haha.

Apa pentingnya Macy’s Day Parade sampai Green Day punya lagu berjudul sama? Jangan dianalisa dari sisi ekonomi, politik dan lainnya ya. Jawaban yang saya dapatkan waktu itu, entah dari siapa, adalah bahwa di akhir Macy’s Day Parade ada Sinterklas. Thanksgiving dan Christmas adalah dua hari libur terpenting di Amerika, jadi parade ini menandakan musim liburan sudah tiba. Sinterklas sudah datang dan Natal sudah dimulai.

Tahun ini adalah perayaan ke-100 Macy’s Day Parade, pasti meriah ya. Apakah saya harus ke sana? Hahaha.


Parade 4th of July

Independence Day parade berbeda di setiap kota. Sebenarnya Thanksgiving Parade pun ada di berbagai kota besar lainnya di Amerika, tapi Macy’s Day Parade adalah yang paling terkenal.

Sedikit berbeda dengan Parade 4th of July yang justru, menurut saya, lebih seru menonton yang lokalnya. Karena 4th of July ini masuk di liburan musim panas, jadi saya cukup sering menonton di tempat berbeda. Yang terakhir saya saksikan adalah Parade 4th of July di Arlington, Texas.

Berkebalikan dengan Macy’s Day Parade, menyaksikan 4th of July parade di negara bagian sebelah selatan berarti gosong kepanasan. Meskipun parade biasanya dimulai pagi, karena banyaknya partisipan, biasanya berlangsung hingga tengah hari.

Di Parade 4th of July, yang berpartisipasi di parade biasanya bukan brand komersial besar tapi komunitas lokal, bisnis UMKM setempat, sekolah yang ada di daerah sana dan lembaga pemerintahan. Yang populer dengan anak-anak sudah pasti tim pemadam kebakaran, polisi dan mereka yang mengeluarkan semua amunisi untuk berkeliling kota. Ada yang membuat mobil hias dan pakai kostum, dan ada yang melakukan atraksi. Grup sekolah biasanya diwakili oleh tim marching band dan cheerleader.




Yang membuat parade ini seru adalah suasana perayaannya yang jelas ketara di interaksi antara penonton dan partisipan parade.

Parade lain? Ada Rose Bowl Parade di Los Angeles yang mengiringi pertandingan football Rose Bowl dan Mardi Gras di New Orleans yang terkenal meriah. National Cherry Blossom Festival Parade di Washington DC juga katanya bagus. Kalau diturutin semua, bisa sebulan sekali nonton parade di lokasi berbeda di Amerika.

Nonton parade butuh persiapan, yang menurut saya, sama seperti kalau mau pergi nonton konser.

Sunday, June 7, 2026

Urban Walk di Singapura: Mount Faber dan Henderson Waves

Ke Singapura buat apa? Jalan Kaki. Eh, ini beneran lho. Urban walk adalah salah satu cara terbaik untuk mengenal sebuah kota.

Mengutip dari website Mountaineers.org, Urban Walk atau Jalan-jalan di perkotaan adalah kegiatan rekreasi sejauh dua mil atau lebih, yang dilakukan di jalan-jalan kota atau pinggiran kota, taman, atau jalur hijau, di mana terdapat layanan telepon seluler yang stabil dan titik akses dan keluar darurat di dekatnya.


Aktivitas ini mengajak wisatawan menjelajahi destinasi dengan berjalan kaki, menikmati suasana sekitar secara lebih dekat, sekaligus menemukan sisi kota yang sering terlewat jika hanya berpindah dari satu atraksi ke atraksi lain menggunakan kendaraan. Di Jakarta juga sebenarnya banyak guided walking tour yang bisa diikuti kalau ingin menjelajah dengan berjalan kaki. Namun, jika sedang di Singapura, salah satu rute urban walk yang paling menarik adalah perjalanan dari Mount Faber menuju Henderson Waves.

Perjalanan ke Mount Faber

Mount Faber ini kok terdengar familiar ya? Well, Mount Faber merupakan salah satu stasiun utama Singapore Cable Car. Dulu, jaman MRT belum sampai Harbourfront, masuk ke Sentosa itu paling seru lewat Mount Faber. Perjalanan lewat cable car ini menawarkan pengalaman yang berbeda.

Sekarang, Mount Faber bukan hanya stasiun cable car, tetapi juga tujuan wisata. Terletak di salah satu titik tertinggi di Singapura, Mount Faber menawarkan perpaduan antara pemandangan kota dan ruang hijau. Kalau tidak menyeberang ke Pulau Sentosa, coba mampir menjelang senja untuk menyaksikan perubahan warna langit dan lampu kota yang mulai menyala.




Di Mount Faber Peak ada beberapa restoran yang bisa jadi tempat dinner romantis atau makan malam bersama keluarga seperti Dusk, Arbora dan The Mirabilis Bar. Di akhir pekan, dan pada saat sunset, restoran di sini cenderung ramai, jadi ada baiknya booking dulu sebelum berangkat. Jika ke Mount Faber dengan kendaraan pribadi, harap diperhatikan bahwa di atas sana parkiran mobil sangat terbatas.

Selain Mount Faber Peak, ada beberapa dek observasi dan area terbuka di Mount Faber yang menawarkan pemandangan indah. Salah satunya adalah Mount Faber Top View Garden yang lokasinya sekitar 350m dari Mount Faber Peak. Di sini kita bisa bertemu Mini Merlion yang bersembunyi di pepohonan. Lalu ada banyak penunjuk arah ke berbagai negara tetangga. Pemandangannya juga bagus banget buat foto-foto. Namun kalau berkunjung siang hari, panasnya bisa setengah mati. Jangan lupa bawa topi dan minuman.


Our Date is at
Mount Faber Top View Garden
101 Mount Faber Lp., Singapore 099201
MRT: Harbourfront

Kalau mau melanjutkan perjalanan, jangan lupa ke toilet yang ada di seberang Mount Faber Peak dulu.


Berjalan Menuju Henderson Waves

Perjalanan Urban Walk kita bisa dilanjutkan menuju Henderson Waves melalui jaringan Southern Ridges. Southern Ridges adalah jalur pejalan kaki sepanjang sekitar 10 kilometer yang menghubungkan beberapa taman dan ruang hijau di Singapura. Salah satu bagian paling terkenal dari rute ini adalah Henderson Waves.

Sunday, May 31, 2026

Singgah Sebentar di Singapore Art Museum di Tanjong Pagar Distripark

Bused panas banget.
Padahal hari sebelumnya hujan deras hampir seharian.

Kalau matahari sedang terlalu terik, ada baiknya kita punya rencana cadangan selain keliling kota dengan berjalan kaki. Bisa coffee shop, bisa toko buku, ataupun museum. Di pertengahan Mei kemarin, rencana cadangan saya adalah mampir ke Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark.


Awalnya sederhana. Saya hanya ingin menunggu matahari agak turun sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan sebenarnya, yang lokasinya outdoor. Perhentian di museum ini hanya sekitar 90 menit, namun berkesan seperti sebuah petualangan sendiri.

Our Date is At
39 Keppel Rd, #01-02, Singapore 089065
Buka setiap hari, 10:00 – 19:00


Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark bukan museum biasa. Jangan berharap ketemu bangunan kolonial kuno atau gedung modern yang minimalis. Tanjong Pagar Distripark terasa lebih seperti ruang industri dan area parkir kontainer daripada museum. Kompleksnya berdiri di bekas kawasan logistik dan pergudangan, tapi di tengah itu semua tiba-tiba ada museum nyempil.

Menurut saya, tempat ini cocok buat mereka yang ingin ke museum tapi sering overwhelmed sendiri sama keberadaan bangunan museum. Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark ini terasa lebih santai dan eksploratif. Kita bisa memulai dari mana saja kita mau. Galeri yang bisa dikunjungi ada di dua lantai berbeda. Gedung utama museum, yang jadi satu dengan tempat pembelian tiket dan cafe di museum memiliki exhibition berjudul Learning Gallery.

Memulai Kunjungan dengan Learning Gallery

Meski dirancang untuk mudah diakses berbagai usia, ruang ini justru menyenangkan karena tidak terasa menggurui. Selain interaktif dan tersedianya kegiatan di akhir “perjalanan,” yang menarik perhatian saya adalah adanya dua versi exhibition card. Yang pertama adalah exhibition card standard untuk para orang dewasa. Isinya penjelasan tentang karya seni, siapa senimannya dan informasi lainnya. Ada satu kartu lagi yang ditujukan untuk anak-anak. Isinya informasi dan pertanyaan dengan bahasa lebih sederhana, serta posisi yang lebih rendah sesuai dengan eye-level anak-anak.




Satu bagian yang menarik perhatian saya adalah Animal Roulette karya David Chan. Konsepnya sederhana, bagian kepala dan ekor binatang dipasangkan secara acak. Buat anak-anak mungkin ini adalah hal seru. Buat orang dewasa, maknanya bisa lebih dalam. Misalnya tentang hidup yang penuh ketidakpastian. Worksheet dari The Learning Gallery ini saya bawa pulang untuk dikerjakan bareng keponakan.

Naik ke lantai 3 menggunakan lift, saya menyadari bahwa seluruh bangunan yang mirip gudang ini adalah pengalaman masuk museum seni. Tembok di luar bangunan gedung, koridor penghubung, dan tiga menit di dalam lift. Semuanya adalah karya seni yang bisa dinikmati.

Dua Pameran di Galeri Lantai Tiga

Di Lantai tiga ada dua exhibition di depan mata: Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest di galeri sebelah kanan, serta Talking Object dan The Living Room di galeri sebelah kiri. Saya masuk ke yang kiri duluan.

Talking Object menjadi pameran favorit saya hari itu.



Tuesday, May 26, 2026

Menjelajahi Singapura sebagai Penggemar Seni

“Kalau ke Singapura, lo biasanya pergi ke mana?”
Pertanyaan ini sering sulit saya jawab. Bagi saya, Singapura bukan lagi tempat tujuan wisata. Saya lebih sering datang untuk konser, mengunjungi keluarga, atau sekadar transit sebelum melanjutkan perjalanan lain. Jadi, kalau saya mengunjungi negara tetangga yang sedikit lebih luas dari DKI Jakarta ini, saya punya itinerary tematik yang saya susun ketika berangkat.


Kadang saya datang untuk berburu buku. Kadang untuk cari coffee shop unik. Belakangan ini, saya paling sering kembali untuk melihat pameran seni dan ruang kreatif.

Ke Singapura sebagai penggemar seni sebenarnya menyenangkan. Negara ini seperti titik temu banyak budaya: Chinese, India, Melayu, hingga jejak kolonial Inggris yang masih terasa di beberapa sudut kotanya. Mirip-mirip sama Indonesia yang punya banyak keragaman, Singapura juga lumayan diverse meskipun negaranya jauh lebih kecil.

Lalu, kalau mau ke lokasi tujuan, transportasinya lebih mudah haha.

Anyway, ini adalah museum rekomendasi saya bagi mereka yang ingin mengintip koleksi dan pameran seni di Singapura.



National Gallery Singapore

Tempat ini adalah yang paling wajib dikunjungi. Galeri ini (arguably) menyimpan arsip visual terbesar di dunia untuk seni modern Asia Tenggara, dan sering jadi tuan rumah koleksi keliling atau koleksi pinjaman dari museum-museum lain di seluruh dunia. Jika ada festival, National Gallery Singapore juga sering berpartisipasi dan punya program-program seru.

National Gallery Singapore terletak di tengah kota, menempati dua monumen nasional paling ikonik di Singapura, yaitu bekas Gedung Supreme Court (Mahkamah Agung) dan City Hall (Balai Kota). Ada atap kanopi kaca di bagian tengahnya, yang jadi tempat favorit saya untuk duduk dan bengong. Apalagi kalau hujan turun. National Gallery Singapore adalah rumah lukisan klasik abad ke-19 karya Raden Saleh, pameran interaktif yang ramah anak di Keppel Center, dan ruang-ruang yang memberikan jeda dari sibuknya negara Singapura

Dua hal yang membuat saya selalu berusaha mampir ke National Gallery Singapore adalah koleksinya yang lebih banyak ke seni modern dan kids friendly activities di Keppel Center.

1 St Andrew’s Road, Singapore 178957
Buka setiap hari, 10:00 – 19:00
MRT: City Hall


Wednesday, May 20, 2026

Singapore Maritime Gallery: Wisata Edukatif Gratis di Marina South Pier

Saya mendeskripsikan Singapore Maritime Gallery sebagai gabungan sebuah museum sejarah dan Toko Nintendo di New York. Penasaran?

Kalau menyusuri MRT line yang berwarna merah di Singapura, ada satu stasiun tambahan yang baru muncul, bersamaan dengan jalur baru. Namanya Marina South Pier. Ini tempat apa?

Our Date is At
Singapore Maritime Gallery
31 Marina Coastal Drive
Level 2 Marina South Pier
Singapore 018988


Saya baru kenal Marina South Pier minggu lalu, ketika harus melarung abu jenasah salah satu paman yang meninggal di Singapura. Ternyata tempat ini sedikit banyak mirip Marina Ancol dengan perahu-perahu kecil yang menyeberangkan orang ke pulau-pulau sebelah selatan Singapura. Termasuk layanan melarung abu. Cruise yang lebih besar, seperti Disney Cruise dan penyeberangan ke Batam, mendaratnya di Vivo City atau HarbourFront yang dekat ke pulau Sentosa. Marina South Pier punya Marina Bay Sands (MBS) sebagai latar belakangnya.

Selain itu, tempat ini kosong. Hanya ada kios-kios kecil yang menjual makan dan minum, dan rooftop yang dipakai piknik warga pendatang. Karena hari itu hujan, cuaca jadi cukup sejuk. Downsidenya, jadi tidak bisa ke Pier atau dock di atas untuk melihat kapal yang berangkat.

Saya tidak ikut kapal yang pergi melarung, karena kapasitas yang terbatas. Jadi, sambil menunggu kapal kembali, saya bisa apa? Keluarga lain, yang juga menunggu menyarankan keliling Singapore Maritime Gallery yang ada di lantai dua. Exhibition indoor ini cukup menyenangkan untuk dikunjungi, terutama ketika hari hujan. Sepupu-sepupu yang punya anak kecil langsung setuju.



Mengenal Singapore Maritime Gallery

Singapore Maritime Gallery adalah galeri interaktif yang dikelola oleh Maritime and Port Authority of Singapore (MPA). Galeri yang pertama kali dibuka pada tahun 2012 ini, terus diperbarui dengan teknologi serta zona pameran baru. Pada 2025, tempat ini kembali direvitalisasi dengan tambahan area heritage bernama “Tides of Time” yang menampilkan sejarah maritim Singapura sejak abad ke-3.

Bukan cuma Changi Airports, ternyata pelabuhan dan pelayaran di Singapura pun sibuk. Lewat galeri ini, pengunjung dapat memahami bagaimana negara kecil tanpa sumber daya alam bisa berkembang menjadi salah satu pusat maritim global.




Sejarah kelautan terdengar membosankan, apalagi kalau ini bukan interest kita. Namun, Singapore Maritime Gallery mampu menyajikan informasi dengan gaya yang menarik sehingga saya merasa seperti sedang bertualang kembali ke jaman dahulu kala.

Yang paling bahagia ya anak-anak… dan para bapak. Sepupu saya yang punya anak balita menghabiskan waktu dengan main simple time management games, seperti mengatur kontainer. Anaknya sibuk bikin prakarya origami ikan di ruangan sebelahnya. Wait, sebelum sampai ke area bermain, ada beberapa zona yang perlu kita lalui. Kalau yang bawa toddler sih silahkan langsung saja ke bagian akhir.


Saturday, May 16, 2026

Pengalaman Main Ski Di Mammoth Lakes California

Beberapa waktu lalu, saya dapat cerita main ski dari anak saya, si Dudu. Ski adalah salah satu olahraga yang ingin dia coba. Jadi, ketika keluarga teman-teman saya mengajak, ya saya iyakan saja permintaan Dudu buat pergi main ski. Mereka pergi ke Mammoth Mountain di area Mammoth Lakes, sebuah destinasi wisata yang letaknya sekitar 300 miles di utara Los Angeles.


Mammoth Mountain adalah salah satu destinasi ski paling terkenal di California. Area ini berada di pegunungan Sierra Nevada dan terkenal karena musim saljunya panjang. Rata-rata lebih dari 400 inci salju turun di daerah ini, akibat pola cuaca dari Samudra Pasifik yang terbentuk di atas Sierra. Ketinggiannya yang lebih dari 11.000 kaki dan area ski yang luas, membuat tempat ini jadi favorit banyak pemain ski pemula hingga profesional. Area ski di sini memiliki sekitar 150 jalur ski dengan variasi tingkat kesulitan yang cukup lengkap. Mammoth Mountain memiliki total 28 lift yang terdiri dari berbagai tipe, termasuk dua six-pack lift, sepuluh quad lift, di mana sembilan di antaranya merupakan high-speed detachable lift. Kapasitas angkut mencapai sekitar 50.000 rider per jam, untuk mengakomodasi jumlah pengunjung yang hadir.

Ketika dia kembali, saya bertanya “Apa yang kamu ingat dari perjalanan tersebut?”

Cerita yang dibawa pulang Dudu setelah perjalanannya ke Mammoth Mountain, yang paling membekas justru pengalaman-pengalaman kecil: belajar ski dengan mengamati orang lain, jatuh saat turun dari ski lift, sampai kepanasan karena terlalu banyak memakai layer baju.

Menuju Mammoth Mountain

Perjalanan ke Mammoth Mountain memakan waktu sekitar 4-5 jam dengan mobil sewaan, biasanya melalui Highway 395. Rutenya terkenal cukup indah karena melewati gurun Mojave dan pegunungan Eastern Sierra. Perjalanan menuju Mammoth terasa seperti masuk ke dunia yang berbeda. Suasana kota besar Los Angeles berganti dengan jalan panjang, pegunungan, dan udara yang semakin dingin.



Perjalanan main ski ke Mammoth Lakes dari Los Angeles memang tergolong tidak murah, tetapi masih cukup realistis untuk short winter getaway. Sebaiknya pergi bersama teman agar bisa sharing cost. Estimasi cost yang harus dikeluarkan untuk mencoba pengalaman main ski di Mammoth Lake adalah:

Mammoth Mountain Lift Tickets:
  • Young Adult (usia 13–22) 1-Day Lift Ticket USD 120 (weekend) atau USD 102 (weekdays)
  • Adult (usia 23 - 64) 1-Day Lift Ticket USD 120 (weekend) atau USD 102 (weekdays)
Paket Ski Standar sudah termasuk ski, sepatu bot, dan tongkat ski standar dari toko penyewaan (USD 55). Bagi pemula sebaiknya menyewa peralatan ini karena sudah sepaket semua. Selain itu, jangan lupa membawa jaket, sarung tangan, dan pakaian musim dingin sendiri.

 

Menyeberang ke Singapura Lewat Johor Bahru

“Lewat Johor aja gimana?”

Sebuah saran muncul di grup WA keluarga ketika saya harus berangkat ke Singapura karena ada kerabat yang meninggal mendadak. Harga tiket ke Changi sudah melambung tinggi karena long weekend, dan waktu pemesanan yang sudah sangat mepet.

Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya saya memesan tiket Jakarta - Senai. Ternyata masuk ke Singapura lewat Johor Bahru adalah salah satu rute favorit. Selain lebih hemat dibanding penerbangan langsung, perjalanan darat ini juga menawarkan pengalaman unik melihat aktivitas lintas negara yang sibuk setiap hari. Ini adalah perjalanan pertama saya melintasi kota Johor Bahru.

Sebelumnya cuma ke Legoland dan ke mall dekat perbatasan saja.



Perjalanan ke Singapura Dari Johor Bahru


Senai International Airport mengingatkan saya akan Soekarno-Hatta Terminal 1. Airport-nya kecil tapi banyak toko dan makanan. Melewati imigrasi, saya ditanya tiket pulang. Karena saya pulang lewat Changi, jadi saya jawab kalau pulang lewat Singapura. Kartu imigrasi Malaysia bisa diisi online. Untuk kartu imigrasi, jika hanya melintasi Johor, maka bisa mengisi alamat JB Sentral sebagai alamat di Malaysia.




Mendarat di Senai, kita naik Causeway Link bus ke JB Sentral. Sebenarnya dari Senai ke checkpoint sangat mudah karena banyak bus umum, shuttle, hingga taksi online yang bisa digunakan menuju terminal imigrasi. Tapi karena saya datang di jam setelah rush hour pekerja, antrean panjang yang biasanya terjadi saat jam kerja atau akhir pekan berhasil saya hindari. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 30km atau sekitar 40 menit jika traffic sedang tidak terlalu ramai.

Di JB Sentral, turun dari Causeway Link Bus lalu berjalan menuju imigrasi. Ada papan petunjuk menuju Woodlands, melewati proses cap paspor di imigrasi Malaysia terlebih dahulu. Karena tidak terlalu ramai, saya hanya menunggu 1 orang di depan lalu lewat di imigrasi. Namun, tetap disarankan menyiapkan paspor dan dokumen perjalanan sebelum giliran tiba agar proses lebih lancar.

Setelah melewati pemeriksaan keluar Malaysia, perjalanan dilanjutkan menggunakan bus menuju pos pemeriksaan Singapura di kawasan Woodlands. Kita bisa naik bus Causeway Link nomor berapa saja dan turun di Woodlands Checkpoint. Lalu, selepas masuk imigrasi Singapore, kita bisa lanjut naik Causeway link sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
  • CW 1: JB Custom ke Kranji MRT
  • CW 2: JB Custom ke Queen Street Terminal
  • CW 5: JB Custom ke Newton Circus
Tapi harus tap kartu yang sama. Semua bis bisa dibayar dengan kartu kredit yang bertanda Visa dan Mastercard. Harga Causeway Link dari Senai ke JB Custom adalah RM 8, sementara dari JB Custom ke Singapura antara RM 2 dan RM 4.80.

Kondisi lalu lintas bisa mempengaruhi waktu tempuh. Saat jam sibuk, antrean kendaraan menuju Singapura bisa sangat panjang. Namun di luar jam sibuk, proses menyeberang terasa cukup cepat dan efisien. Kalau sedang tidak diburu-buru waktu, perjalanan lewat Johor Bahru bisa jadi alternative pilihan untuk biaya yang lebih murah. Jangan lupa mengisi kartu kedatangan digital sebelum melewati imigrasi Singapura.

Sunday, May 10, 2026

Sabtu Pagi Nostalgia di Jalan Surabaya

Apa yang pertama terlintas di pikiran saat mendengar kata “Jalan Surabaya?” Barang antik? Coffee shop indie? Mural unik?

Bahan tulisan traveling buat posting minggu ini sudah habis. Terus gimana? Kalau browsing cerita teman-teman atau scrolling IG di sana sini, banyak yang sedang ikutan walking tour. Kayaknya kok seru ya? Karena itulah, ketika diajakin teman staycation (gegara dia book airbnb salah tanggal), saya memutuskan buat mencoba jalan-jalan sendiri menyusuri Jalan Surabaya.

Sabtu pagi itu Jalan Surabaya lumayan ramai karena ada beberapa walking tour yang sedang berlangsung. Udara belum terlalu panas ketika saya mulai berjalan pukul 9 pagi.


Kalau dilihat sejarahnya, Jalan Surabaya ini sebenarnya adalah bagian dari rencana pemerintah Kolonial Belanda untuk mengembangkan tuinstad (kota taman) yang dirancang oleh arsitek P.A.J. Moojen pada awal abad ke-20. Menteng pada saat itu adalah kawasan pemukiman kelas atas untuk pejabat dan warga Eropa. Di tahun 1960an, banyak rumah besar di Menteng yang mulai berganti kepemilikan dan barang-barang mewah yang dimiliki dijual. Para pedagang asongan yang pada awalnya berpindah-pindah mulai menetap atas inisiatif Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, di tahun 1974.

Penataan kios-kios permanen di sepanjang satu sisi Jalan Surabaya ini bertujuan agar para pedagang tidak berjualan di trotoar dan merusak estetika kawasan Menteng.


Jalan Pagi Untuk Ketemu Kopi

Pagi itu, perjalanan saya dimulai dari perempatan Jalan Surabaya dan Pangeran Diponegoro. Saya berhenti di Nwansa Coffee sebuah kedai yang nyempil di pengkolan, di antara toko-toko yang tertutup rolling door. Kedai kopi itu ramai pengunjung di Sabtu pagi, ternyata sedang ada walking tour yang beristirahat di sana. Mau duduk buat people listening dan ngonten jadi gagal.

Nwansa Coffee memberikan kesan jadul, dengan koleksi LCD dan DVD, serta telepon kabel yang ada di raknya. Cafe-nya sendiri hanya muat untuk beberapa orang, tapi merupakan tempat perhentian yang populer bagi mereka yang bersepeda atau komunitas lari. Saya memesan Ice Americano, karena merencanakan untuk membawa minuman sambil melanjutkan perjalanan. Untuk Americanonya sendiri, ada dua pilihan beans dan saya memilih yang bukan rekomendasi baristanya, karena saya bukan fans beans yang fruity. Tetap enak kok kopinya, harganya juga terjangkau.



Coffee Shop di Jalan Surabaya ada beberapa. Yang paling terkenal adalah Giyanti. Saya dulu pernah ke Giyanti sebelum tempatnya viral dan terkenal. Giyanti adalah salah satu destinasi kopi artisan terbaik yang menawarkan berbagai pilihan biji kopi berkualitas tinggi. Tempatnya artistik dengan interior vintage yang unik, lengkap dengan perpaduan furnitur kayu, tanaman hijau. Tempat ini cocok buat duduk, brunch dan ngopi bersama teman-teman. Tempat ini sekarang sudah populer, lengkap dengan fasilitas valet parking. Selain kopi, yang membekas di ingatan saya tentang tempat ini adalah pastry-nya.



Yang terbaru di jalanan ini adalah Common Grounds yang ada di ujung jalan berlawanan dengan Nwansa Coffee. Common Grounds adalah salah satu roastery dan cafe yang familiar bagi warga Jakarta, karena seringkali ditemukan di mall. Cafe modern dengan tempat yang nyaman untuk WFC ini memberikan kesan berbeda dengan Giyanti dan Nwansa Coffee yang lebih melokal.

Selain ketiga tempat itu, satu coffee shop yang bikin penasaran untuk dikunjungi adalah IniLoh Kopi. Sebenarnya ini bukan Coffee Shop sih karena bentuknya hanya kios dengan jendela terbuka di mana kita bisa memesan kopi. Hanya bisa to go atau duduk di pinggir jalan. Menunya pun sederhana. Konsep ini sering saya temukan di negara tetangga. Sayangnya hari itu saya sudah pegang kopi.


Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, perjalanan saya menyusuri Jalan Surabaya ini agak terbalik. Seharusnya saya mulai dari ujung Cikini baru ke perempatan jalan Pangeran Diponegoro. Jadi bisa lihat-lihat kanan kiri dulu sebelum berhenti di Nwansa Coffee untuk istirahat dan people listening.