Bahan tulisan traveling buat posting minggu ini sudah habis. Terus gimana? Kalau browsing cerita teman-teman atau scrolling IG di sana sini, banyak yang sedang ikutan walking tour. Kayaknya kok seru ya? Karena itulah, ketika diajakin teman staycation (gegara dia book airbnb salah tanggal), saya memutuskan buat mencoba jalan-jalan sendiri menyusuri Jalan Surabaya.
Sabtu pagi itu Jalan Surabaya lumayan ramai karena ada beberapa walking tour yang sedang berlangsung. Udara belum terlalu panas ketika saya mulai berjalan pukul 9 pagi.
Kalau dilihat sejarahnya, Jalan Surabaya ini sebenarnya adalah bagian dari rencana pemerintah Kolonial Belanda untuk mengembangkan tuinstad (kota taman) yang dirancang oleh arsitek P.A.J. Moojen pada awal abad ke-20. Menteng pada saat itu adalah kawasan pemukiman kelas atas untuk pejabat dan warga Eropa. Di tahun 1960an, banyak rumah besar di Menteng yang mulai berganti kepemilikan dan barang-barang mewah yang dimiliki dijual. Para pedagang asongan yang pada awalnya berpindah-pindah mulai menetap atas inisiatif Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, di tahun 1974.
Penataan kios-kios permanen di sepanjang satu sisi Jalan Surabaya ini bertujuan agar para pedagang tidak berjualan di trotoar dan merusak estetika kawasan Menteng.
Jalan Pagi Untuk Ketemu Kopi
Pagi itu, perjalanan saya dimulai dari perempatan Jalan Surabaya dan Pangeran Diponegoro. Saya berhenti di Nwansa Coffee sebuah kedai yang nyempil di pengkolan, di antara toko-toko yang tertutup rolling door. Kedai kopi itu ramai pengunjung di Sabtu pagi, ternyata sedang ada walking tour yang beristirahat di sana. Mau duduk buat people listening dan ngonten jadi gagal.Nwansa Coffee memberikan kesan jadul, dengan koleksi LCD dan DVD, serta telepon kabel yang ada di raknya. Cafe-nya sendiri hanya muat untuk beberapa orang, tapi merupakan tempat perhentian yang populer bagi mereka yang bersepeda atau komunitas lari. Saya memesan Ice Americano, karena merencanakan untuk membawa minuman sambil melanjutkan perjalanan. Untuk Americanonya sendiri, ada dua pilihan beans dan saya memilih yang bukan rekomendasi baristanya, karena saya bukan fans beans yang fruity. Tetap enak kok kopinya, harganya juga terjangkau.
Coffee Shop di Jalan Surabaya ada beberapa. Yang paling terkenal adalah Giyanti. Saya dulu pernah ke Giyanti sebelum tempatnya viral dan terkenal. Giyanti adalah salah satu destinasi kopi artisan terbaik yang menawarkan berbagai pilihan biji kopi berkualitas tinggi. Tempatnya artistik dengan interior vintage yang unik, lengkap dengan perpaduan furnitur kayu, tanaman hijau. Tempat ini cocok buat duduk, brunch dan ngopi bersama teman-teman. Tempat ini sekarang sudah populer, lengkap dengan fasilitas valet parking. Selain kopi, yang membekas di ingatan saya tentang tempat ini adalah pastry-nya.
Yang terbaru di jalanan ini adalah Common Grounds yang ada di ujung jalan berlawanan dengan Nwansa Coffee. Common Grounds adalah salah satu roastery dan cafe yang familiar bagi warga Jakarta, karena seringkali ditemukan di mall. Cafe modern dengan tempat yang nyaman untuk WFC ini memberikan kesan berbeda dengan Giyanti dan Nwansa Coffee yang lebih melokal.
Selain ketiga tempat itu, satu coffee shop yang bikin penasaran untuk dikunjungi adalah IniLoh Kopi. Sebenarnya ini bukan Coffee Shop sih karena bentuknya hanya kios dengan jendela terbuka di mana kita bisa memesan kopi. Hanya bisa to go atau duduk di pinggir jalan. Menunya pun sederhana. Konsep ini sering saya temukan di negara tetangga. Sayangnya hari itu saya sudah pegang kopi.
Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, perjalanan saya menyusuri Jalan Surabaya ini agak terbalik. Seharusnya saya mulai dari ujung Cikini baru ke perempatan jalan Pangeran Diponegoro. Jadi bisa lihat-lihat kanan kiri dulu sebelum berhenti di Nwansa Coffee untuk istirahat dan people listening.
Menyusuri Jalan Surabaya, saya menemukan banyak orang tua berkumpul, ngobrol tentang nostalgia jaman dahulu kaya. Beberapa toko dijaga karyawan yang lebih muda, tapi para orang tua ini tetap ada di sana, berkumpul bersama teman-temannya untuk ngobrolin entah apa. Mau nguping tapi kok ya takut jadi pusat perhatian. Banyak anak muda di sana yang ikut walking tour, dan beberapa turis asing yang berbelanja.
Bagaimana dengan Barang Antiknya?
Pagi itu hanya sebagian toko yang buka di Jalan Surabaya. Yang ramai tentu saja ada di depan Giyanti, dan stretch yang mengarah ke Cikini. Banyak dari tempat-tempat ini menjual lampu kristal (chandelier), porselen, keramik, hiasan rumah dari kuningan, koleksi piringan hitam (vinyl), gramofon, kamera analog dan beragam jenis elektronik jadul yang menggoda untuk nostalgia. Selain itu ada patung kayu ukiran tradisional, wayang golek dan wayang kulit, topeng, serta kain batik yang menarik perhatian para turis.Menyusuri Jalan Surabaya, saya menemukan banyak orang tua berkumpul, ngobrol tentang nostalgia jaman dahulu kaya. Beberapa toko dijaga karyawan yang lebih muda, tapi para orang tua ini tetap ada di sana, berkumpul bersama teman-temannya untuk ngobrolin entah apa. Mau nguping tapi kok ya takut jadi pusat perhatian. Banyak anak muda di sana yang ikut walking tour, dan beberapa turis asing yang berbelanja.
Kontras antara kios barang antik dan koleksi yang dijual di sana, lalu mural yang tergambar di rolling door toko tutup, serta rumah-rumah megah yang modern di seberang jalan, membuat perjalanan ini jadi terasa berbeda. Satu sisi bergerak mengikuti perkembangan jaman, sementara di seberangnya kios-kios barang antik seperti waktu yang membeku di zaman dulu.
Perjalanan satu jaman menyusuri Jalan Surabaya membuat Sabtu pagi saya jadi sedikit berbeda. Baik seorang pemburu harta karun kuno, penikmat kopi artisan, atau sekadar ingin menikmati suasana Sabtu pagi yang tenang sambil melakukan people watching, jalanan ini selalu memiliki cerita tersembunyi yang menarik untuk digali.













No comments:
Post a Comment
Thanks for stopping by. Please do leave your thoughts or questions, but we appreciate if you don't spam :)