Showing posts with label Walking Tour. Show all posts
Showing posts with label Walking Tour. Show all posts

Wednesday, March 4, 2026

Museum Mile New York: Worth It?

Terbentang di sepanjang 5th Avenue dari 82nd sampai 110th Street, jalanan ini kiri-kanannya museum semua. Museum MIle is about experiencing budaya, sejarah dan seni bergabung jadi satu di kota New York yang super sibuk itu.

Buat saya yang senang keluar masuk museum, rasanya seperti menemukan harta karun. Masalahnya, masuk museum ini rata-rata bayar, dan harganya lumayan. Harga tiket masuk museum mulai dari $9 (El Museo del Barrio) hingga $30 (Solomon R. Guggenheim Museum dan The Metropolitan Museum of Art / The Met).


Sebelum lanjut cerita, kita cek dulu ada museum apa saja sih di Museum Mile?


1. The Africa Center (110th St / 1280 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke seni, politik, dan budaya kontemporer Afrika. Tutup hari Senin dan Selasa. Baru-baru ini buka coffee shop yang namanya CUP @ The Africa Center. Masuk ke dalamnya gratis, yang bayar cuma kalau ikutan program dan mau lihat exhibition yang memang ada tiketnya. Kadang ada pementasan, event komunitas dan pemutaran film.


2. El Museo del Barrio (104th St / 1230 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke budaya dan seni warga Puerto Rico dan Amerika Latin, cocok buat yang suka dengan Caribbean dan Latin American art. Buka Kamis hingga Minggu. Tiket masuk dewasa $9, anak-anak di bawah 12 tahun bisa masuk gratis. Tiket masuk ke museum ini bisa juga digunakan untuk masuk ke Museum of the City of New York.

3. Museum of the City of New York (103rd St / 1220 5th Ave, New York, NY 10029)
Dari namanya sudah ketahuan bahwa museum ini bertujuan untuk mengenalkan masa lalu dan masa kini kota New York kepada pengunjung. Buka setiap hari. Tiket masuknya $23 untuk orang dewasa, anak di bawah 18 tahun masuk gratis. Setiap hari Rabu, bisa masuk gratis ke museum ini

4. Jewish Museum (92nd St / 1109 5th Ave &, E 92nd St, New York, 10128)
Isi museum ini adalah koleksi seni dan budaya Yahudi selama ribuan tahun. Tutup di hari Selasa dan Rabu. Tiketnya $24 untuk orang dewasa, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Hari Sabtu juga gratis.



5. Cooper Hewitt, Smithsonian Design Museum (91st St / 2 E 91st St, New York, NY 10128)
Museum ini khusus membahas desain. Lokasinya di bekas mansion Andrew Carnegie dan pintu masuknya ada di samping, jadi jangan tertukar sama rumah penduduk. Ada cafe di bagian depannya. Tiket masuk dewasa adalah $22, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Pay What You Wish ticket bisa didapatkan satu jam sebelum museum tutup

6. Solomon R. Guggenheim Museum (89th St / 1071 5th Ave, New York, NY 10128)
Gedung spiral putih yang legendaris ini adalah ‘rumah’ bagi banyak koleksi seni, mulai dari Picasso sampai Kandinsky. Namun, yang paling ikonik adalah arsitekturnya. Museum buka setiap hari. Tiket masuknya $30 untuk orang dewasa dan gratis untuk anak di bawah 12 tahun. Ada Pay What You Wish setiap Selasa dan Kamis sore, satu jam menjelang museum tutup.

7. Neue Galerie New York (86th St / 1048 5th Ave, New York, NY 10028)
Khusus buat pecinta seni Jerman dan Austria awal abad ke-20. Buka setiap hari kecuali Selasa. Tiket masuk dewasa $28, anak-anak di bawah 12 tahun tidak boleh masuk. Di hari Jumat pertama, masuk gratis mulai jam 5 sore. Di sini ada Café Sabarsky, restoran Austro-Hungarian yang Apple Strudel-nya konon enak banget.

8. The Metropolitan Museum of Art (82nd St / 1000 5th Ave, New York, NY 10028)
Sebuah museum yang megah untuk koleksi seni terbesar di dunia, dari zaman kuno hingga kontemporer. Buka setiap hari selain Rabu. Tiket dewasa $30, anak anak di bawah 12 tahun gratis.


Selain 8 museum di atas, sebenarnya ada beberapa museum lain yang letaknya tidak jauh dari 5th Avenue, tapi secara resmi, museum atau art gallery ini tidak masuk ke Museum Mile.

Sunday, February 22, 2026

Mencoba Jelajah Jakarta Tanpa Mobil: Keluar dari Zona Nyaman Demi Tempat Tujuan

Saya mampir tempat-tempat ini hanya ketika saya tidak naik mobil.

Selama ini, saya lebih sering melihat Jakarta dari dalam mobil. Udara selalu dingin karena AC, suara musik dari radio, dan bau wangi dari gantungan di bawah kaca. Saya lebih sibuk menghindari kendaraan lawan arah, pejalan kaki yang menyebrang sembarangan, dan hal-hal lain yang membuat perjalanan di Jakarta jadi lebih seru.


Karena ini jugalah, ada beberapa tempat yang biasanya hanya saya datangi saat tidak membawa mobil. Biasanya tempat-tempat ini adalah yang lokasinya mudah dijangkau transportasi umum dan tidak punya tempat parkir.

Buat saya, tempat-tempat ini spesial. Soalnya jumlah saya pergi tanpa mobil pribadi tuh bisa dihitung jari.

Kota Tua Jakarta

Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat nostalgia sekaligus wisata sejarah. Biasanya populer di akhir pekan atau musim liburan sekolah. Selain museum, dan gedung bersejarah yang ada di sekitar Lapangan di depan Museum Fatahillah, ada seniman jalanan, sepeda ontel warna-warni, dan aroma kopi yang ikut meramaikan suasana. Kalau ke sini, saya lebih suka naik transport umum lalu jalan kaki berkeliling. Soalnya, parkirannya lumayan sulit ditemukan dan banyak parkir liar yang bikin insecure.


Stasiun KRL terdekat adalah Stasiun Jakarta Kota. Keluar stasiun tinggal nyebrang lalu berjalan lurus sekitar 300 meter sampai ke Lapangan di depan Museum Fatahillah. Dulu, sebelum pembangunan MRT, Halte Kota adalah tempat transit yang paling sering dikunjungi karena rute busway saya adalah koridor 1 ke koridor 12. Sekarang, haltenya tinggal kenangan. Tapi, Halte Busway Kota Tua jadi ada 2, yaitu:
  • Kota (Koridor 1 dan 12) yang letaknya persis di depan Stasiun Jakarta Kota
  • Kali Besar Barat yang letaknya di depan Toko Merah

Tuesday, February 11, 2025

Perjalanan Nostalgia Menemui si Unyil di PFN Jakarta

Apa yang pertama kali terlintas di kepala, saat mendengar kata “Si Unyil”?

Well, kemarin, saya membaca satu postingan instagram tentang tur PFN Heritage sekaligus perayaan ulang tahun kedelapan Wisata Kreatif Jakarta. Ada tur nostalgia si Unyil di sana. Ikut, ah!

Pendaftaran melalui seleksi, menyisakan sekitar 50 orang terpilih mengikuti tur tersebut, yang (untungnya) termasuk saya.

Siapa si Unyil? 

Generasi sekarang, yang memiliki lebih banyak pilihan tontonan dengan akses global yang lebih terintegrasi, mungkin tidak kenal dengan anak laki-laki yang mengenakan peci dan sarung ini. Sebenarnya si Unyil masih tayang di TVRI pada Desember 2024 kemarin, bahkan dengan teknologi Face Recognition yang membuat para boneka tangan ini bisa membuka mulut dan mengedipkan mata. Namun, di tengah gempuran konten dari seluruh dunia, saya bayangkan sulitnya Unyil bersaing dengan mereka.



Yuk, kita kenalan di sini aja, biar semua bisa akrab.

Si Unyil adalah TV seri anak-anak yang mengudara setiap Minggu Pagi dari tanggal 5 April 1981 hingga 21 November 1993. Saya biasanya nonton ini gantian sama Doraemon. Si Unyil bercerita tentang petualangan sehari-hari sekelompok anak SD, yaitu Unyil. Ucrit dan Usro. Mulai dari sekolah, main di pasar, berinteraksi dengan warga desa lainnya seperti Pak Ogah, Pak Raden, dan Bu Bariah. Pencipta Si Unyil bernama Drs. Suyadi, yang dikenal juga sebagai Pak Raden.

Si Unyil bisa ditemukan di PFN, alias Produksi Film Negara. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbentuk Persero ini memiliki hak cipta Si Unyil dan beberapa film sejarah seperti G30SPKI. Berlokasi di Jalan Otto Iskandardinata, tepatnya sebelah GOR Jakarta Timur, sebelum deretan KFC dan McD, PFN ini tidak terlihat jelas dari luar. Namun, begitu masuk, ternyata dalamnya luas. Yang membuat saya happy tentu saja adalah tersedianya coffee shop dan tempat parkir mobil hehe.

Oh iya, tur PFN Heritage sekaligus bernostalgia bertemu si Unyil ini adalah acara spesial dari perayaan ulang tahun Wisata Kreatif Jakarta. Meskipun PFN sendiri terbuka untuk umum, karena memang melakukan penyewaan studio, alat produksi dan lain sebagainya, tetapi sepertinya tempat ini bukan tujuan tur wisata.