Sunday, February 22, 2026

Mencoba Jelajah Jakarta Tanpa Mobil: Keluar dari Zona Nyaman Demi Tempat Tujuan

Saya mampir tempat-tempat ini hanya ketika saya tidak naik mobil.

Selama ini, saya lebih sering melihat Jakarta dari dalam mobil. Udara selalu dingin karena AC, suara musik dari radio, dan bau wangi dari gantungan di bawah kaca. Saya lebih sibuk menghindari kendaraan lawan arah, pejalan kaki yang menyebrang sembarangan, dan hal-hal lain yang membuat perjalanan di Jakarta jadi lebih seru.


Karena ini jugalah, ada beberapa tempat yang biasanya hanya saya datangi saat tidak membawa mobil. Biasanya tempat-tempat ini adalah yang lokasinya mudah dijangkau transportasi umum dan tidak punya tempat parkir.

Buat saya, tempat-tempat ini spesial. Soalnya jumlah saya pergi tanpa mobil pribadi tuh bisa dihitung jari.

Kota Tua Jakarta

Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat nostalgia sekaligus wisata sejarah. Biasanya populer di akhir pekan atau musim liburan sekolah. Selain museum, dan gedung bersejarah yang ada di sekitar Lapangan di depan Museum Fatahillah, ada seniman jalanan, sepeda ontel warna-warni, dan aroma kopi yang ikut meramaikan suasana. Kalau ke sini, saya lebih suka naik transport umum lalu jalan kaki berkeliling. Soalnya, parkirannya lumayan sulit ditemukan dan banyak parkir liar yang bikin insecure.


Stasiun KRL terdekat adalah Stasiun Jakarta Kota. Keluar stasiun tinggal nyebrang lalu berjalan lurus sekitar 300 meter sampai ke Lapangan di depan Museum Fatahillah. Dulu, sebelum pembangunan MRT, Halte Kota adalah tempat transit yang paling sering dikunjungi karena rute busway saya adalah koridor 1 ke koridor 12. Sekarang, haltenya tinggal kenangan. Tapi, Halte Busway Kota Tua jadi ada 2, yaitu:
  • Kota (Koridor 1 dan 12) yang letaknya persis di depan Stasiun Jakarta Kota
  • Kali Besar Barat yang letaknya di depan Toko Merah

Museum Gajah (alias Museum Nasional)

Gajahnya masih ada lho. Tapi yang mau diomongin kan bukan itu ya. Museum ini adalah gudangnya harta karun sejarah Indonesia, mulai dari arca-arca kuno yang megah, cerita jaman prasejarah, hingga koleksi kekinian yang berganti. Sejujurnya, saya suka ke museum ini karena tempatnya enak buat WFC. Wifinya tidak sebagus itu, tapi museumnya sepi dan ada bangku-bangku buat duduk di gedung baru lantai bagian atas.

 

Museum Nasional bukannya tidak punya parkir, tapi terbatas dan basementnya lumayan sempit. Lalu, untuk ke sana, ribet ganjil genapnya. Daripada pusing, kan mendingan kita naik transportasi umum lalu jalan kaki saja. Untuk menuju ke sini bisa naik Busway sampai Halte Monas, lalu menyeberang jalan sampai ke Museum Nasional.

Toko Kopi Maru

Cafe yang hidden gem ini tidak punya parkiran. Tempatnya tersembunyi di belakang ruko-ruko Jalan Pintu Air yang ke arah Pasar Baru. Jadi sebaiknya naik KRL atau Busway saja sampai Juanda lalu jalan kaki.
  • Dari Stasiun Juanda jaraknya sekitar 500 meter lewat Jalan Pintu Air 1
  • Dari Halte Busway Juanda, jaraknya lebih jauh sedikit tapi hanya beda menyeberang jalan saja.
Cafe yang buka dari jam 7 pagi ini populer untuk mereka yang suka bersepeda di pagi hari. Tutup jam 6 sore, dan setiap hari Senin. Menempati rumah tua dengan suasana retro jadul yang kental. Karena letaknya yang masuk ke dalam, hiruk pikuk keramaian di luar jadi tidak terdengar. Cocok buat yang mencari ketenangan. Masalahnya, buat masuk ke sini, jalannya agak tricky. Yah, namanya juga hidden gem. Intinya, kalau jalan dari Stasiun Juanda ke Pasar Baru, ada jalan berbentuk lorong masuk di sebelah kiri, dengan tulisan 33C di depannya. Kesannya seperti masuk kampung atau rumah warga, tpai tahu-tahu ada cafe di belakangnya.


Kata Google Maps, begini bagian pintu masuknya.


Warung Nasi Kapau di Kramat

Pernah berpikir kenapa kalau malam belokan seberang terminal Senen ke arah Salemba itu macet? Soalnya ada sederetan warung Nasi Kapau yang buka sampai pagi, yang konon adalah legenda kuliner Jakarta sejak tahun 1970-an, Kata teman saya sih, kalau bulan Ramadan, dia sering sahur ke sana haha. Karena semua warung nasi kapau itu letaknya di pinggir jalan, otomatis tidak ada parkirnya dong. Pernah sih sekali saya ke sana barengan teman-teman dan kita parkir di pinggir jalan. Cuma kan rasanya tidak tenang ya, Belum lagi kalau ada polisi nanti kena tilang karena kita nggak tahu apakah parkiran itu sebenarnya legal.

Jadi, ya mendingan naik kendaraan umum aja lah. Caranya:
  • Naik Busway turun di Halte Pal Putih (500 meter) atau Halte Senen, yang ganti jadi Jaga Jakarta itu (sekitar 200 meter).
  • Naik KRL juga sebenernya bisa, tapi jalan kakinya lumayan jauh. Stasiun Pasar Senen ada di seberang jalan sekitar 700 meter, dan Stasiun Gang Sentiong ada di belakang deretan Nasi Kapau itu, tapi sekitar 1,4 km.

Akhir Kata?

Jalan kaki di Jakarta sebenarnya menyenangkan. Ada banyak hidden gem yang bisa dieksplorasi dan kita tidak perlu pusing memikirkan lokasi maupun biaya parkir. Saya yang senang people watching sebenarnya ingin lebih sering naik transportasi umum dan jalan kaki. Ada banyak hal yang bisa diamati, dilihat dan mungkin jadi tulisan. Sayangnya, banyak tantangan yang harus dilewati kalau mau jalan kaki.

Buat yang tidak terbiasa jalan kaki di Jakarta seperti saya, ada beberapa hal yang perlu disiapkan:
  • Cek prakiraan cuaca, bawa payung dan sandal jepit. Buat jaga-jaga aja.
  • Pastikan tidak salah exit, salah halte dan salah tempat menunggu. Soalnya saya pernah tidak sadar bahwa untuk naik Koridor 1 arah Bundaran HI, saya harus naik di ASEAN bukan di Kejaksaan Agung. Haha.
  • Bawa air minum, soalnya kalau naik MRT dan KRL banyak tangganya yang bukan eskalator, sementara menunggu lift bukan solusi. Kan salah satu niat naik kendaraan umum adalah olahraga.
  • Hati-hati lihat trotoar. Yang ini saya kadang learn the hard way. Soalnya kalau jalan kaki, kan saya senang lihat-lihat ya. Tujuannya juga sambil people watching dan menikmati perjalanan. Yang ada kaki saya pernah luka kesandung trotoar tidak rata di antara stasiun MRT Fatmawati dan Citos. Nasib.
  • Pengguna trotoar bukan hanya pejalan kaki. Ada motor, ada gerobak, ada tukang jualan yang mangkal. Ada kucing liar, ada tikus lewat, ada mobil yang parkir. Jadi dengan berjalan kaki di Jakarta, saya belajar legowo hahaha.
Anyway, jalan kaki dan naik transport umum itu fun kok. Cuma kayaknya, sekarang ini kalau di Jakarta, saya masih akan lebih sering naik mobil.



Our Dates are at

Museum Sejarah Jakarta & Kota Tua
Taman Fatahillah No.1, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110

Museum Nasional
Jl. Medan Merdeka Barat No.12, Gambir, Kecamatan Gambir, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10110

Toko Kopi Maru 
33, Jl. Pintu Air Raya No.33, RT.13/RW.8, Ps. Baru, Kecamatan Sawah Besar, Kota Jakarta Pusat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 10710


No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by. Please do leave your thoughts or questions, but we appreciate if you don't spam :)