Jadi, ceritanya, awal tahun ini saya balik lagi ke Singapura. Karena sudah kesekian kalinya, saya tidak punya itinerary pasti. Tidak ada planning, dan janjian ketemuan teman pun spontan semuanya. Ketika pulang, saya scrolling foto-foto untuk dijadikan bahan tulisan blog challenge, dan menyadari bahwa trip ini adalah salah satu yang paling berkesan buat saya.
Kok bisa?
Singapura adalah kota yang membiarkan saya nggak ngapa-ngapain, dan itu ternyata adalah sesuatu yang luxurious.
Singapura bagi banyak orang adalah tentang itinerary yang padat dan daftar belanja yang panjang. Namun bagi saya, Singapura adalah kota yang mengizinkan saya untuk "tidak ngapa-ngapain" dan ketika dijalani, hal itu adalah kemewahan yang luar biasa.
Ada kenyamanan tersendiri saat saya menyadari bahwa tidak punya rencana itu tidak apa-apa. Di liburan kali ini, saya baru sempat mengecek jadwal eksibisi museum dan galeri setelah beberapa hari menapakkan kaki di Singapura. Sayangnya, di minggu saya berkunjung, tidak ada exhibition yang menarik perhatian. Yah, namanya juga jalan-jalan spontan. Namun, saya masih sempat mencicipi hiruk-pikuk opening day Light To Night Festival di Civic Center.
Light to Night Festival adalah sebuah perayaan visual yang memadukan teknologi dan seni. Festival ini menghidupkan fasad megah gedung-gedung ikonik di Singapura seperti National Gallery Singapore dan Victoria Theatre dengan instalasi art projection mapping. Begitu matahari terbenam, Singapura berubah jadi pertunjukan lampu yang fantastis. Itu pun agenda-agenda yang menarik sebenarnya ada di akhir bulan.
Namun, datang ke festival itu kan hanya satu malam, lalu bagaimana dengan sisa harinya?
Di sinilah letak serunya. Di Singapura, saya merasa bisa datang hanya untuk berjalan kaki atau makan, lalu pulang. Saya tidak harus memaksakan diri menjadi turis. Saya cukup menjadi manusia biasa.
Kejutan di Balik Fitur "Nearby"
Tanpa rencana, strategi saya sebenarnya sederhana: berjalan ke satu titik, lalu membuka fitur nearby di Google Maps untuk melihat apa yang ditawarkan lingkungan sekitar saya. Hasilnya? Saya menemukan beberapa hidden gem yang kayaknya bakal terlewat jika saya sudah punya itinerary.
Di kawasan Clarke Quay, maps saya menunjukkan POUT Rooftop Cafe. Penemuan ini benar-benar tidak disengaja. Seusai gereja di hari Minggu, saya sedang mencari tempat makan siang dan iseng menyalakan fitur Google Maps nearby dan melihat ada apa di sekeliling. Sayangnya, POUT tutup di hari Minggu. Jadi, saya memutuskan kembali lagi di hari Selasa, dan ternyata tempatnya memang sesuai ekspektasi.
Kejutan lain muncul saat saya menyusuri Chinatown. Di sana, saya menemukan Witchcraft Cafe. Sayangnya, saat itu saya baru saja keluar dari cafe lain. Saya hanya bisa memandang dari lantai bawah, sambil memasukkannya ke rencana berikutnya kalau ke Singapore lagi.
Pada akhirnya, momen-momen "asal berhenti" atau "sekadar lewat" inilah yang membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan. Ternyata, membiarkan kaki melangkah tanpa kompas adalah cara terbaik untuk benar-benar menemukan jati diri sebuah kota.
Di sini, logistik bukan beban pikiran, melainkan bagian dari kenyamanan. Bus jalan sesuai jadwal, MRT datang tepat waktu, dan trotoar dibuat rata tanpa celah. Kedengarannya sepele, tapi detail inilah yang membuat saya tidak perlu pusing memikirkan "besok naik apa" atau membayangkan drama macet di jalanan.
Pada akhirnya, momen-momen "asal berhenti" atau "sekadar lewat" inilah yang membuat perjalanan terasa lebih menyenangkan. Ternyata, membiarkan kaki melangkah tanpa kompas adalah cara terbaik untuk benar-benar menemukan jati diri sebuah kota.
Singapura adalah kota di mana semua hal kecil bekerja dan berfungsi sebagaimana mestinya.
Di sini, logistik bukan beban pikiran, melainkan bagian dari kenyamanan. Bus jalan sesuai jadwal, MRT datang tepat waktu, dan trotoar dibuat rata tanpa celah. Kedengarannya sepele, tapi detail inilah yang membuat saya tidak perlu pusing memikirkan "besok naik apa" atau membayangkan drama macet di jalanan.
Keajaiban transportasi publiknya paling terasa saat saya naik bus selama satu jam dari daerah Sembawang menuju Orchard. Sepanjang perjalanan, saya bisa melihat pemandangan bertransformasi secara perlahan: dari ketenangan area perumahan, deretan ruko pinggir kota yang klasik, hingga akhirnya disambut hutan beton di tengah kota yang padat. Atau ketika keluar masuk MRT, pemandangan exit MRT Stadium yang sepi, terasa contrast dengan exit MRT Chinatown yang crowded.
Petualangan di Balik Exit MRT
Ngomong-ngomong soal Exit MRT, kadang, saya sengaja berputar sedikit hanya untuk masuk dari pintu keluar MRT yang berbeda demi melihat sisi Singapura yang lain. Salah satu favorit saya adalah mencoba masuk ke Stasiun MRT Marina Bay melalui exit yang terletak di tanah kosong seberang W Residences.Rasanya sangat surealis dan seperti petualangan kecil. Di belakang saya, berdiri megah Marina Bay Sands yang ikonik, sementara di depan mata hanya ada hamparan tanah kosong yang luas. Kontras yang menarik, seolah kita berada di ambang batas antara masa depan dan masa lalu kota ini.
Menelusuri Jejak Urban di Upper Thomson
Menjelajahi Singapura memang paling asyik dengan cara tersesat secara terencana, entah jalan kaki atau naik bus dari satu titik lalu tiba di tempat yang benar-benar baru. Area yang sering saya lalui saat menuju Civic Center dari north area adalah Upper Thomson.Dulu, sebelum jalur MRT cokelat (Thomson-East Coast Line) beroperasi, daerah ini terasa lebih eksklusif karena hanya bisa dijangkau dengan bus atau mobil. Upper Thomson terasa seperti suburb kecil yang terjepit di antara rimbunnya hutan dan barak militer. Atmosfernya adalah perpaduan antara area perkantoran dengan deretan cafe kekinian dan tempat makan legendaris. Duduk di bus sambil memandang ke luar jendela area Upper Thomson ini memberikan perspektif bahwa Singapura bukan sekadar gedung tinggi, tapi juga tentang harmoni antara ruang hijau dan kehidupan urban modern.
Pada akhirnya, pergi ke Singapura tanpa rencana adalah cara terbaik untuk mengubah destinasi yang tampak fungsional ini menjadi ruang penuh kejutan. Dan setiap perjalanan jadi personal, karena yang dijalani adalah preferensi sendiri. Bergantung pada banyak hal misalnya tempat tinggal atau jenis kegiatan yang disukai.
Mau coba juga?
Pada akhirnya, pergi ke Singapura tanpa rencana adalah cara terbaik untuk mengubah destinasi yang tampak fungsional ini menjadi ruang penuh kejutan. Dan setiap perjalanan jadi personal, karena yang dijalani adalah preferensi sendiri. Bergantung pada banyak hal misalnya tempat tinggal atau jenis kegiatan yang disukai.
Mau coba juga?








No comments:
Post a Comment
Thanks for stopping by. Please do leave your thoughts or questions, but we appreciate if you don't spam :)