Showing posts with label Escape. Show all posts
Showing posts with label Escape. Show all posts

Friday, March 13, 2026

Contekan Itinerary New York di Musim Dingin

Ada dua jenis orang yang liburan ke New York City. Yang pertama: santai, satu hari cuma ke satu museum, sisanya ngopi dan people watching. Yang kedua: membuat itinerary seolah-olah New York itu kota kecil yang bisa dijelajahi dalam empat hari. Trip saya ini masuk kategori kedua karena teman seperjalanan saya bilang: “Pokoknya selama di New York kita harus lihat sebanyak mungkin.”

Sementara dia sendiri pake ke Washington DC dulu…

Taksi khas NYC Yang warnanya Kuning.

Buat yang sedang merencanakan trip ke NYC, ini dia itinerary versi saya.

Trip ini dilakukan di musim dingin, jadi selain jalan kaki banyak, juga harus tahan udara dingin Manhattan.


Hari 1: Tiba di NYC - New York Transit Museum - Check In Hotel


Mendarat di Newark Liberty International Airport jam 9 pagi, lalu naik bus ke Port Authority Bus Terminal dan jalan kaki sekitar 10 menit ke hotel. Saya menginap di DoubleTree by Hilton New York Times Square West dan bisa titip koper sebelum check-in.

Destinasi pertama hari itu adalah New York Transit Museum.

Museum ini sedikit unik karena lokasinya berada di stasiun subway lama yang sudah tidak dipakai. Begitu masuk, rasanya seperti masuk ke kapsul waktu sistem transportasi New York .Di dalamnya ada koleksi gerbong subway dari berbagai era. Beberapa bahkan bisa dimasuki langsung, jadi pengunjung bisa melihat bagaimana desain kereta berubah dari tahun ke tahun. Lucunya, beberapa gerbong lama terasa seperti set film New York klasik.

Warning: Museum ini dingin. Bukan karena AC yang terlalu kuat, tapi karena museum ini memang berada di stasiun subway bawah tanah yang sudah tidak dipakai. Jadi temperatur di dalamnya terasa seperti berada di platform subway lama. Saya berkunjung di musim dingin jadi kebayang deh kayak apa suhunya. Di dalam museum pun kita tidak copot coat.


Balik ke hotel sekitar jam 2:30, langsung check-in. Kamarnya cozy, lokasi dekat Times Square tapi nggak terlalu ribut. Istirahat bentar, terus saya lanjut adventure. Dudu tidur karena kita naik pesawat dengan jam red-eye. Sementara saya eksplor sekeliling, dan akhirnya duduk manis di sebuah coffee shop sambil people watching. Ketika hari gelap, saya jalan kaki sendirian ke Times Square. Melihat billboard raksasa di mana-mana, rasanya seperti masuk ke dunia yang penuh lampu LED. Ada berbagai orang kumpul di sini. Ada turis dari berbagai negara, orang lokal New York yang berjalan super cepat, hingga karakter kostum yang mencoba mengajak foto.

New York, bahkan di basian Perayaan Tahun Baru, sebenarnya relatif aman untuk jalan sendirian malam-malam. Tapi saya tetap berusaha nggak lewat jalan gelap sendirian atau keluar exit Subway yang ada homeless duduk-duduk. Karena musim dingin, banyak homeless yang menghangatkan badan di dalam stasiun.

Hari 2: Harry Potter, Broadway, dan Times Square (lagi)

Wednesday, March 4, 2026

Museum Mile New York: Worth It?

Terbentang di sepanjang 5th Avenue dari 82nd sampai 110th Street, jalanan ini kiri-kanannya museum semua. Museum MIle is about experiencing budaya, sejarah dan seni bergabung jadi satu di kota New York yang super sibuk itu.

Buat saya yang senang keluar masuk museum, rasanya seperti menemukan harta karun. Masalahnya, masuk museum ini rata-rata bayar, dan harganya lumayan. Harga tiket masuk museum mulai dari $9 (El Museo del Barrio) hingga $30 (Solomon R. Guggenheim Museum dan The Metropolitan Museum of Art / The Met).


Sebelum lanjut cerita, kita cek dulu ada museum apa saja sih di Museum Mile?


1. The Africa Center (110th St / 1280 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke seni, politik, dan budaya kontemporer Afrika. Tutup hari Senin dan Selasa. Baru-baru ini buka coffee shop yang namanya CUP @ The Africa Center. Masuk ke dalamnya gratis, yang bayar cuma kalau ikutan program dan mau lihat exhibition yang memang ada tiketnya. Kadang ada pementasan, event komunitas dan pemutaran film.


2. El Museo del Barrio (104th St / 1230 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke budaya dan seni warga Puerto Rico dan Amerika Latin, cocok buat yang suka dengan Caribbean dan Latin American art. Buka Kamis hingga Minggu. Tiket masuk dewasa $9, anak-anak di bawah 12 tahun bisa masuk gratis. Tiket masuk ke museum ini bisa juga digunakan untuk masuk ke Museum of the City of New York.

3. Museum of the City of New York (103rd St / 1220 5th Ave, New York, NY 10029)
Dari namanya sudah ketahuan bahwa museum ini bertujuan untuk mengenalkan masa lalu dan masa kini kota New York kepada pengunjung. Buka setiap hari. Tiket masuknya $23 untuk orang dewasa, anak di bawah 18 tahun masuk gratis. Setiap hari Rabu, bisa masuk gratis ke museum ini

4. Jewish Museum (92nd St / 1109 5th Ave &, E 92nd St, New York, 10128)
Isi museum ini adalah koleksi seni dan budaya Yahudi selama ribuan tahun. Tutup di hari Selasa dan Rabu. Tiketnya $24 untuk orang dewasa, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Hari Sabtu juga gratis.



5. Cooper Hewitt, Smithsonian Design Museum (91st St / 2 E 91st St, New York, NY 10128)
Museum ini khusus membahas desain. Lokasinya di bekas mansion Andrew Carnegie dan pintu masuknya ada di samping, jadi jangan tertukar sama rumah penduduk. Ada cafe di bagian depannya. Tiket masuk dewasa adalah $22, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Pay What You Wish ticket bisa didapatkan satu jam sebelum museum tutup

6. Solomon R. Guggenheim Museum (89th St / 1071 5th Ave, New York, NY 10128)
Gedung spiral putih yang legendaris ini adalah ‘rumah’ bagi banyak koleksi seni, mulai dari Picasso sampai Kandinsky. Namun, yang paling ikonik adalah arsitekturnya. Museum buka setiap hari. Tiket masuknya $30 untuk orang dewasa dan gratis untuk anak di bawah 12 tahun. Ada Pay What You Wish setiap Selasa dan Kamis sore, satu jam menjelang museum tutup.

7. Neue Galerie New York (86th St / 1048 5th Ave, New York, NY 10028)
Khusus buat pecinta seni Jerman dan Austria awal abad ke-20. Buka setiap hari kecuali Selasa. Tiket masuk dewasa $28, anak-anak di bawah 12 tahun tidak boleh masuk. Di hari Jumat pertama, masuk gratis mulai jam 5 sore. Di sini ada Café Sabarsky, restoran Austro-Hungarian yang Apple Strudel-nya konon enak banget.

8. The Metropolitan Museum of Art (82nd St / 1000 5th Ave, New York, NY 10028)
Sebuah museum yang megah untuk koleksi seni terbesar di dunia, dari zaman kuno hingga kontemporer. Buka setiap hari selain Rabu. Tiket dewasa $30, anak anak di bawah 12 tahun gratis.


Selain 8 museum di atas, sebenarnya ada beberapa museum lain yang letaknya tidak jauh dari 5th Avenue, tapi secara resmi, museum atau art gallery ini tidak masuk ke Museum Mile.

Sunday, February 22, 2026

Mencoba Jelajah Jakarta Tanpa Mobil: Keluar dari Zona Nyaman Demi Tempat Tujuan

Saya mampir tempat-tempat ini hanya ketika saya tidak naik mobil.

Selama ini, saya lebih sering melihat Jakarta dari dalam mobil. Udara selalu dingin karena AC, suara musik dari radio, dan bau wangi dari gantungan di bawah kaca. Saya lebih sibuk menghindari kendaraan lawan arah, pejalan kaki yang menyebrang sembarangan, dan hal-hal lain yang membuat perjalanan di Jakarta jadi lebih seru.


Karena ini jugalah, ada beberapa tempat yang biasanya hanya saya datangi saat tidak membawa mobil. Biasanya tempat-tempat ini adalah yang lokasinya mudah dijangkau transportasi umum dan tidak punya tempat parkir.

Buat saya, tempat-tempat ini spesial. Soalnya jumlah saya pergi tanpa mobil pribadi tuh bisa dihitung jari.

Kota Tua Jakarta

Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat nostalgia sekaligus wisata sejarah. Biasanya populer di akhir pekan atau musim liburan sekolah. Selain museum, dan gedung bersejarah yang ada di sekitar Lapangan di depan Museum Fatahillah, ada seniman jalanan, sepeda ontel warna-warni, dan aroma kopi yang ikut meramaikan suasana. Kalau ke sini, saya lebih suka naik transport umum lalu jalan kaki berkeliling. Soalnya, parkirannya lumayan sulit ditemukan dan banyak parkir liar yang bikin insecure.


Stasiun KRL terdekat adalah Stasiun Jakarta Kota. Keluar stasiun tinggal nyebrang lalu berjalan lurus sekitar 300 meter sampai ke Lapangan di depan Museum Fatahillah. Dulu, sebelum pembangunan MRT, Halte Kota adalah tempat transit yang paling sering dikunjungi karena rute busway saya adalah koridor 1 ke koridor 12. Sekarang, haltenya tinggal kenangan. Tapi, Halte Busway Kota Tua jadi ada 2, yaitu:
  • Kota (Koridor 1 dan 12) yang letaknya persis di depan Stasiun Jakarta Kota
  • Kali Besar Barat yang letaknya di depan Toko Merah

Sunday, February 8, 2026

Liburan Spontan dan Anti Bosan di Singapura

Singapura itu sering dapat cap “rapi, mahal, dan gitu-gitu aja”. Tapi saya masih balik-balik juga ke negara tetangga itu. Kenapa?

Jadi, ceritanya, awal tahun ini saya balik lagi ke Singapura. Karena sudah kesekian kalinya, saya tidak punya itinerary pasti. Tidak ada planning, dan janjian ketemuan teman pun spontan semuanya. Ketika pulang, saya scrolling foto-foto untuk dijadikan bahan tulisan blog challenge, dan menyadari bahwa trip ini adalah salah satu yang paling berkesan buat saya.

Kok bisa?

Mau Jalan ke mana kita hari ini?

Singapura adalah kota yang membiarkan saya nggak ngapa-ngapain, dan itu ternyata adalah sesuatu yang luxurious.


Singapura bagi banyak orang adalah tentang itinerary yang padat dan daftar belanja yang panjang. Namun bagi saya, Singapura adalah kota yang mengizinkan saya untuk "tidak ngapa-ngapain" dan ketika dijalani, hal itu adalah kemewahan yang luar biasa.

​Ada kenyamanan tersendiri saat saya menyadari bahwa tidak punya rencana itu tidak apa-apa. Di liburan kali ini, saya baru sempat mengecek jadwal eksibisi museum dan galeri setelah beberapa hari menapakkan kaki di Singapura. Sayangnya, di minggu saya berkunjung, tidak ada exhibition yang menarik perhatian. Yah, namanya juga jalan-jalan spontan. Namun, saya masih sempat mencicipi hiruk-pikuk opening day Light To Night Festival di Civic Center.


Light to Night Festival adalah sebuah perayaan visual yang memadukan teknologi dan seni. Festival ini menghidupkan fasad megah gedung-gedung ikonik di Singapura seperti National Gallery Singapore dan Victoria Theatre dengan instalasi art projection mapping. Begitu matahari terbenam, Singapura berubah jadi pertunjukan lampu yang fantastis. Itu pun agenda-agenda yang menarik sebenarnya ada di akhir bulan.

Namun, datang ke festival itu kan hanya satu malam, lalu bagaimana dengan sisa harinya?

​Di sinilah letak serunya. Di Singapura, saya merasa bisa datang hanya untuk berjalan kaki atau makan, lalu pulang. Saya tidak harus memaksakan diri menjadi turis. Saya cukup menjadi manusia biasa.

​Kejutan di Balik Fitur "Nearby"

Sunday, May 11, 2025

Lokasi Wisata Sepanjang Busway Koridor 1

Saya bukan pengguna transportasi umum, tapi saya (akhirnya) naik busway. Yang paling sering saya tumpangi adalah busway koridor 1. Selain main dating apps di bis, saya juga senang memperhatikan jalan. Setelah sekian lama absen, dua bulan terakhir ini saya jadi sering naik busway. Parkir di Blok M Plaza, lalu lanjut dengan busway jalan-jalan keliling Jakarta. Ada rasa nostalgia karena jaman masih jadi pegawai kantoran dulu, saya bisa tiap hari naik koridor 1.

Ini adalah tempat-tempat yang bisa dikunjungi dengan naik busway koridor 1. Bukan daftar yang lengkap, karena ini hanya halte yang benar-benar pernah saya kunjungi. Tapi, setidaknya bisa memberi gambaran.


Halte: Blok M/ ASEAN/ Kejaksaan Agung
Tempat tujuan: M Bloc dan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu

M Bloc Space adalah daerah kekinian yang populer dengan anak muda saat ini. Bertempat di bekas kompleks perumahan pegawai Peruri, lokasi ini adalah perpaduan unik antara ruang terbuka hijau, toko-toko ritel yang menjual produk lokal dan unik, berbagai pilihan kuliner. Biasanya saya ke sini untuk menghadiri event atau acara komunitas. Tempat ini ramai di akhir pekan atau sore hari sepulang kerja.

Di seberangnya, tepat di bawah stasiun MRT Blok M, ada Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Taman ini adalah ruang publik yang mendorong minat baca dan kegiatan literasi bagi berbagai kalangan. Ada banyak event membaca yang diadakan di amfiteater mini taman ini. Namun, buat saya, taman ini adalah lokasi menunggu busway sambungan ke arah Pondok Labu haha.

Halte: Senayan Bank DKI/ Polda Metro Jaya
Tempat tujuan: GBK

Ini dulu halte favorit, alias sering banget disamperin karena saya pernah jadi mbak-mbak SCBD. Jadi kalau pulang kantor selalu naik koridor 1 dari halte Senayan Bank DKI yang kayaknya dulu bukan ini namanya haha. Begitu juga dengan konser-konser dan acara di area GBK yang mengharuskan saya naik transport umum supaya tidak kena macet pada saat bubarannya.


Dari Halte ini kita bisa ke GBK, yang sekarang ada Hutan Kota. Bisa ke fX Sudirman atau ke area SCBD.

Halte: Bundaran HI Astra
Tempat tujuan: Bundaran HI, Grand Indonesia, Plaza Indonesi
a

Selain tentunya kita bisa ke Bundaran HI, halte ini sering jadi tempat wisata karena adanya sky deck dengan pemandangan Sudirman dan Patung Selamat Datang. Kalau di Google Maps namanya Bundaran HI Viewing Platform. Halte ini juga yang terdekat dari pusat perbelanjaan Plaza Indonesia. Bisa jalan kaki juga ke Grand Indonesia, walaupun kalau ke mall yang ini, atau ke underpass jalan Kendal, saya lebih suka turun di Tosari.

Dibandingkan halte Bundaran HI, saya lebih sering berhenti di Halte Sarinah atau yang sekarang namanya MH Thamrin. Jarak kedua halte ini tidak terlalu jauh, sekitar 750 meter dan kurang lebih 10-15 menit jalan kaki di trotoar nyaman. Di halte MH Thamrin ada pusat perbelanjaan Sarinah dan Jalan Sabang yang terkenal dengan kulinernya.

Halte: Monumen Nasional
Tempat tujuan: Monas, Museum Nasional


Dari Halte Monas, Museum Nasional hanya beberapa menit jalan kaki. Namun, museum ini bukanlah tujuan utama saya sering turun di halte Monas. Dulu, ketika masih sering naik busway, saya biasanya tukar ke Koridor 12 di Halte Kota. Masalahnya Koridor 12 ini sering PHP alias memberikan harapan palsu bahwa buswaynya masih ada. Bus mereka terakhir jam 10 malam, namun terkadang, jam 9.30 sudah tidak ada lagi. Jadi, kalau saya pulang di atas jam 9, saya akan turun di Monas dan tukar ke koridor 2 untuk pindah lagi ke koridor 10, karena kedua koridor itu sampai jam 12 malam.

Bulan puasa kemarin, saya kembali naik busway ini karena ada acara komunitas di Museum Nasional dan ternyata menyenangkan. Dari halte, kita hanya perlu menyeberang jalan, lalu masuk ke museum. Begitu juga dengan ke Monas. Halte ini adalah salah satu yang populer di hari libur, jadi kalau naik busway di akhir pekan, siap-siap tidak kebagian tempat duduk.

Halte: Kali Besar / Museum Sejarah Jakarta
Tempat tujuan: Kota Tua


Kalau turun di Halte Kali Besar, kita bisa foto-foto di toko Merah yang ada di seberang jalan. Kalau turun di Halte Museum Sejarah Jakarta, kita akan melewati daerah ramai depan Stasiun Kota dan langsung menemukan museumnya. Jarak kedua halte ini ke area lapangan di tengah Kota Tua kurang lebih sama.


Halte Kali Besar ini juga adalah tempat kita turun kalau mau pergi ke Museum Bahari. Walaupun jalan kakinya sekitar 1 kilometer dan mendaki gunung melewati lembah, serta menerjang panas terik daerah pelabuhan, tapi masih bisa dijalani.

Menjelajahi Jakarta menggunakan busway koridor 1 adalah pengalaman menyenangkan. Hanya saja, hindari jam-jam padat seperti berangkat dan pulang kantor. Atau hari libur siang-siang. Sebagai pengguna transportasi umum pemula, saya senang dengan Koridor 1 karena punya banyak tempat yang bisa digunakan untuk parkir mobil seperti Blok M atau mall-mall dan hotel di seputaran Bundaran HI.

Bisa dicoba kalau sedang malas menembus kemacetan Sudirman-Thamrin dengan mobil pribadi atau terhalang ganjil-genap sampai tempat tujuan.

Friday, April 11, 2025

Bangkok Beyond Shopping

Itinerary ini berawal dari obrolan dengan emak-emak lain soal apa yang harus dilakukan kalau ke Bangkok bersama anak cowok. Yang biasanya terjadi di keluarga teman-teman saya adalah: Mama dan anak cewek shopping, Papa dan anak cowok di hotel atau berenang atau di cafe. Nah, kalau perginya Mama berdua anak cowok doang, mau ngapain ya?

Saya diskusi sama Dudu, soal apa yang dia mau lakukan di Bangkok. Dudu selalu pengen cruise, dan Chao Phraya ada river cruise yang lumayan terjangkau. Dudu juga senang ikut cooking class, bisa dong kita cari di Bangkok. Lupakan sejenak pusat perbelanjaan yang ramai dan pasar malam yang semarak, kita punya rencana lain di ibu kota negara gajah putih ini.

Ini adalah perjalanan kami sebelum pandemic Covid

Saturday, March 22, 2025

Mudik Jakarta - Semarang Berdua Anak Remaja

Ketika Dudu masih balita, saya sering traveling berdua. Makanya blog ini ada. Sekarang, Dudu sudah remaja, tapi ya masih dong kita jalan-jalan berdua meskipun waktunya lebih sulit karena kita sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tapi kita kangen jalan-jalan berdua saja.

Mendahului yang mudik Lebaran, tahun lalu, saya dan Dudu pulang kampung duluan di minggu kedua puasa.


Part 1: JORR - MBZ - Cikampek (Rp. 18,500 + Rp. 27,000 = Rp. 45,500)

Kami berangkat pukul 5:30 subuh dari rumah. Masuk toll JORR di gerbang tol Fatmawati, lalu lanjut sambung masuk ke Sheikh Mohamed Bin Zayed Elevated Toll Road (MBZ) sekitar pukul 6:30. Sebelum memutuskan apakah akan naik ke MBZ, kami memeriksa Google Maps. Soalnya di elevated toll road sepanjang 36.4 km itu tidak ada rest area maupun akses turun ke jalan tol Jakarta - Cikampek. Begitu tidak melihat warna merah di sepanjang, kami memilih naik MBZ. Tantangan pertama adalah hujan badai sepanjang tol Jakarta - Cikampek, yang membuat menyetir dengan kecepatan lumayan tinggi di jalan layang jadi lebih menantang.

Pemandangan Tol Cikampek Palimanan

Part 2: Cikampek - Palimanan (Rp. 119,000) dan Palimanan - Kanci (Rp. 13,500)

Ketika tiba di Cikampek, cuaca malah cerah. Perjalanan jadi lebih menyenangkan dengan jalan tol yang lumayan lenggang, kecuali beberapa bagian yang sedang diperbaiki. Matahari yang terbit akhirnya terlihat setelah tertutup hujan badai di bagian jalan tol sebelumnya. Sekitar pukul 8:30 pagi, kami sampai di Kanci. Kami berhenti di Rest Area 207, untuk meluruskan kaki, refill kopi di Starbucks dan menentukan langkah selanjutnya.

Estimasi biaya tol Jakarta-Semarang adalah sekitar Rp. 432,500 dan kenaikan harga tol ini baru saja berlaku. Jadi saya merasa rugi kalau menjalani tol yang hanya lurus saja tanpa pemandangan apa-apa dan membayar biaya lumayan mahal. Padahal kami tidak buru-buru. Setelah berhitung dan berdiskusi, saya dan Dudu akhirnya sepakat, untuk lewat jalan Pantura biasa agar bisa melintas perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah dengan lebih berkesan. Kami juga berencana untuk berhenti di Tegal untuk brunch dan membeli makan siang.

Friday, March 14, 2025

Daftar Tempat Wisata Gratis di Singapura 2025

Semua mahal di Singapore. Iya memang. Bagaimana mau jalan-jalan hemat, kalau semuanya di luar budget? Jangan sedih, ada kok tempat-tempat yang bisa dikunjungi secara gratis di Singapura, bersama anak dan keluarga tentunya.


Bermain di Taman & Reservoir


Believe it or not, meski terlihat seperti kota besar yang modern dengan segala gedung tingginya, Singapura punya banyak taman. Taman-taman ini biasanya dapat diakses secara gratis, dan populer sebagai tempat tujuan liburan keluarga. Bukan cuma sekedar area hijau dengan rumput, yang namanya taman ini biasanya punya children’s playground yang gratis juga, atau tempat untuk olahraga dan bersepeda.

East Coast Park punya Coastal PlayGrove yang isinya lengkap, mulai dari yang bisa dipanjat, perosotan, kotak pasir, dan area water playground. Meskipun lokasinya tidak di tengah kota, tapi Coastal PlayGrove dekat dengan MRT Tanjung Katong. By the way, East Coast Park ini luas banget, memanjang sampai Changi Airport, dan banyak penduduk lokal yang ke sini untuk bersepeda atau ke pantai.

Yang ini bukan taman, tapi lokasinya sama menyenangkannya. Lower Seletar Reservoir Park punya water play area yang gratis untuk anak-anak. Meskipun Seletar terkenalnya sebagai airport, yang sering saya bandingkan dengan Halim Perdanakusuma, di sini banyak ruang terbuka dan cafe yang ramah anak. Yang sedikit menyulitkan adalah Seletar tidak punya MRT yang dekat. Stasiun MRT Khatib letaknya sekitar 15-20 menit jalan kaki dari Lower Seletar Reservoir Park Water Play Area, yang jelas lumayan kalau Singapore sedang terik. Bus adalah transportasi terbaik untuk sampai di sini.

Marina Barrage adalah salah satu tujuan gratisan terbaru yang populer, dan terletak di tengah kota. Lokasinya tinggal menyeberang dari MRT Gardens by the Bay. Di sini ada Marina Barrage Water Playground. Namun, yang sering jadi lokasi berkunjung saya dan Dudu dahulu adalah Far East Organization Children’s Garden, yang terletak di sebelahnya. Gardens By The Bay juga sebenarnya adalah tujuan wisata yang bisa dinikmati secara gratis walaupun hanya bagian tertentu saja.

Far East Organization Children’s Garden
Jacob Ballas Children’s Garden Maze

Pemenang dari semua taman-taman ini tentu saja Jacob Ballas Children’s Garden yang hanya mengizinkan orang dewasa masuk jika membawa anak berusia di bawah 12 tahun. Jadi setelah Dudu remaja, saya belum pernah ke sini lagi. Area taman ini luas, dan aman untuk anak-anak eksplorasi. Mulai dari jembatan gantung, gua, hingga hutan dan maze. Jaman saya sering ke sini taksi dan nebeng saudara jadi andalan. Sekarang Singapore Botanic Gardens sudah punya MRT sendiri, jadi yang ingin ke taman ini bisa turun di Botanic Gardens Station dan berjalan kaki ke Jacob Ballas Children’s Garden.

Sunday, March 9, 2025

Cerita Satu Hari di Yishun

Yishun, sebuah neighborhood di bagian utara Singapura, adalah tempat yang cukup sering saya lewati. Area ini sebenarnya didominasi oleh perumahan penduduk, dan bukan tempat orang berwisata, tetapi Yishun memiliki tempat-tempat dengan ketenangan alam karena ada banyak taman hijau di sana. Yishun juga memiliki beragam fasilitas modern, termasuk pusat perbelanjaan, restoran, dan tempat hiburan, yang memenuhi kebutuhan penduduk lokal dan pengunjung.

Nama "Yishun" sendiri diambil dari Lim Nee Soon, seorang pengusaha terkemuka yang dikenal sebagai "Raja Karet dan Nanas" pada masa kolonial Singapura. Banyak perkebunannya terletak di tempat yang sekarang dikenal sebagai Yishun dan Sembawang. Jangan heran kalau di daerah ini banyak nama Nee Soon yang ditemukan pada taman, perumahan atau fasilitas umum.

Foto ini diambil ketika mall sudah tutup, dari Yishun MRT Station

Untuk sampai ke Yishun, ada beberapa cara yang bisa diambil. Pertama adalah naik MRT. Meskipun tidak sesibuk Bishan atau City Hall, stasiun MRT Yishun termasuk ramai, dan ada banyak bus yang berhenti di sana. Salah satunya adalah bus nomor 858, yang punya sejuta cerita kalau saya ke Singapura. Selain rutenya yang panjang, bis ini adalah langganan saya untuk ke kota dari Changi Airport. Yang suka bikin kesal adalah bus ini suka tidak sesuai waktu prediksi di app dan Google Maps. Suka muncul tiba-tiba tanpa terdeteksi, datang lebih cepat atau malah tidak muncul-muncul ketika ditunggu.

Kalau naik bus nomor 858, yang memiliki rute Woodlands - Changi Airport, ada satu area di Yishun yang bisa didatangi.


Slow Bakes


Cafe ini mungkin adalah salah satu cafe yang bisa disebut sebagai hidden gem, dikenal dengan roti yang dipanggang sendiri yang lezat dan suasana yang nyaman. Tempat ini sempurna untuk bersantai dan menikmati secangkir kopi O kosong atau minuman khas Singapura lainnya.

Tuesday, February 4, 2025

Daya Tarik Perhentian di Downtown Kota Kecil

Berbelok keluar dari interstate, jalan tol yang menghubungkan antar negara bagian di Amerika Serikat, dan memasuki kota kecil selama road trip menawarkan perubahan suasana yang menarik. Detour yang worth it, melepaskan diri dari monotonnya berkendara di jalan raya, meregangkan kaki dan menemukan petualangan tak terduga. Bisa berupa landmark, restoran, atau hal-hal menarik lainnya seperti toko yang menjual souvenir.

Di Council Bluffs, Iowa. Berhenti di Visitor Center adalah wajib karena ponsel masih Nokia 3310

Ada dua macam Downtown Kota Kecil yang saya senang datangi, dan selalu berusaha menyelipkannya ke dalam itinerary road trip. Pertama adalah kota-kota yang ada di sepanjang Interstate, biasanya terletak 2-3 jam dari ibukota atau kota besar lainnya. Kedua adalah suburb, alias kota kecil yang terletak menempel dengan ibukota. Kalau di Indonesia mungkin sejenis Bodetabek. Atau bahkan Cipanas. Pada umumnya, kota-kota kecil ini hanya punya satu jalanan utama dan jumlah lampu lalu lintas yang bisa dihitung jari.

Awalnya jatuh cinta dengan kota-kota seperti ini adalah ketika road trip jaman kuliah dulu. Saya kuliah di midwest America, yang memang banyak kota-kota berpenduduk 20,000 atau kurang yang memiliki daya tarik sendiri. Kota tempat tinggal saya, Columbia, Missouri, pada jamannya berpenduduk kurang dari 100,000 dan sebagian besar adalah mahasiswa. Jadi kalau musim panas atau musim liburan, kotanya sepi. Dari situlah ide jalan-jalan muncul, apalagi ketika sudah ada Dudu.

Menariknya, di beberapa negara bagian, ibu kota bukanlah kota terbesar di sana. Jadi, kota-kota kecil berpenduduk sedikit ini bisa jadi adalah ibu kota negara bagian. Selain itu, di setiap negara bagian biasanya ada kota bernama Springfield. Buat yang hobi nonton the Simpson pasti tahu reference ini.


Satu liburan musim semi, kami ke Wisconsin Dells. Kota berpenduduk 3000 jiwa yang terkenal karena banyaknya theme park dan water park di sana. Dua di antaranya adalah Noah's Ark Water Park, dan Mt. Olympus Water & Theme Park. Satu roller coaster yang paling berkesan adalah roller coaster dari kayu yang (saat itu) bernama Hades. Roller coaster ini turun masuk ke basement parkiran mobil, jadi kita berasa diajak jalan-jalan bersama Hades. Pada tahun 2013, Hades direnovasi dan diupgrade dengan 360 roll dan kereta baru.

Mt. Olympus Water & Theme Park
1701 Wisconsin Dells Pkwy, Wisconsin Dells, WI 53965, United States

Noah's Ark Water Park
1410 Wisconsin Dells Pkwy, Wisconsin Dells, WI 53965, United States

Lalu di musim gugur, saya dan Dudu pernah mampir ke Paducah, Kentucky (populasi sekitar 26,000) dan Metropolis, Illinois (populasi sekitar 5,000). Kedua kota ini terpisahkan oleh Ohio River tapi merupakan satu kesatuan Paducah, KY-IL Metropolitan Statistical Area. Meskipun kecil, Metropolis ini terkenal karena merupakan tempat tinggal Superman. Iya, Metropolis yang itu. Kalau di film terlihat seperti New York, tapi kenyataannya, Metropolis lebih mirip kampung halaman Superman di Smallville, Kansas.

World's Largest Superman Statue
517 Market St, Metropolis, IL 62960, United States



Sunday, January 26, 2025

Here We Go, To See the Snow in Brooklyn

Salah satu hal besar dalam daftar keinginan kami adalah melihat salju. Bukan hanya melihat, tetapi mengalaminya sendiri. Salju akhirnya turun di hari keenam bulan Januari, diikuti oleh badai musim dingin dan serangkaian penundaan penerbangan serta penutupan tempat wisata.


Beberapa fakta menarik tentang hari bersalju:
  • Cuaca lebih dingin sehari sebelum dan sesudahnya. Namun salju menghangatkan cuaca (sedikit sih, tetap saja udaranya dingin).
  • Garam biasanya digunakan untuk mencairkan salju di tempat umum, terutama tangga kereta bawah tanah, jalan raya, dan lainnya.
  • Baju jadi basah, meskipun tidak akan membuat Anda basah kuyup seperti hujan. Bawalah payung jika ingin tetap kering, dan kenakan sepatu anti air. Kenakan beberapa lapis pakaian yang hangat, tahan air, dan tahan angin. Apalagi jika ingin bermain di tempat bersalju.
Berapa banyak saljunya? Sebenarnya hanya sedikit sih, dan karena jalanan banyak yang sudah diberi garam, maka saljunya langsung mencair begitu menyentuh lantai. Namun, hari bersalju, tetap saja seru. Salju turun dalam bentuk butiran-butiran es kecil yang beterbangan di udara. Ukuran dan bentuknya bisa berbeda-beda, dari butiran halus seperti debu hingga kepingan salju yang lebih besar dengan pola kristal yang unik. Biasanya menempel di rambut saya, jadi terlihat keunikannya.

Namun, langit biasanya tertutup awan mendung berwarna abu-abu atau putih. Jadi buat kami yang sebenarnya ingin foto-foto langit, salju sedikit menjadi kendala.

Salju Pertama yang Turun di Bulan Januari


Di mana kami berada saat salju pertama mulai turun di New York City? Kami sedang menjelajahi Dumbo di daerah Brooklyn. Salju yang turun selama kurang lebih 3 jam itu memperkenalkan perspektif yang berbeda dari jembatan dan dunia di sekitarnya. Taman dan pohon kering memiliki wajah baru, karena tertutup warna putih. Begitu pula dengan batu-batu di tepi sungai dan bangku-bangku di luar ruangan.


Sejujurnya, hari bersalju lebih cantik dinikmati di Central Park, tapi kami sudah pergi hari sebelumnya dan hari itu jadwalnya ke Brooklyn Bridge.

Bagaimana caranya untuk pergi ke tempat dengan pemandangan Brooklyn Bridge yang bagus?
  • Gunakan Subway A atau C dengan tujuan ke High St, F dengan tujuan ke York St, 2 atau 3 dengan tujuan ke Clark St.
  • Jalan kaki ke Time Out Market New York. Kurang lebih perjalanan memakan waktu 10 menit, tapi jadi lebih lama karena hari itu bersalju. Jadi jalan juga harus lebih pelan.
  • Keluar dari Time Out Market New York lewat pintu belakang, menuju Jane’s Carousel dan nikmati pemandangannya!
Ada lebih banyak tempat dengan pemandangan Manhattan yang menakjubkan dari area tersebut. Periksa Google Maps Pinpoints yang berbeda like Brooklyn Heights Promenade, Pebble Beach, Dumbo Manhattan Bridge View, New York City Elevated View Point, atau Brooklyn Bridge Lookout. Beberapa di antaranya ada dalam daftar keinginan kami untuk berfoto, tetapi cuaca bersalju tidak membantu memudahkan perjalanan kami. Jadi, kami hanya stay di area belakang Time Out Market New York.

Lalu, masuk lagi mencari kehangatan dan makan siang.

Makan Siang di Time Out Market New York, Worth It?

Tuesday, January 21, 2025

Laguna Beach Weekend Escape

Laguna Beach, hidden gem yang terletak di sepanjang pantai Southern California, di antara Los Angeles dan San Diego. Wait, let me rephrase that. Laguna Beach adalah pantai. Iya, satu destinasi dari sederetan pantai yang ada di Southern California.


Dalam perjalanan menuju Laguna Beach, kami melewati beberapa pantai lainnya: Seal Beach, Huntington Beach, dan Newport Beach. Masing-masing pantai punya ceritanya sendiri. Seal Beach yang santai dan cenderung lebih sepi dari dua pantai lainnya. Huntington Beach cenderung lebih edgy dengan open market dan deretan classic car di public parking pantainya. Newport beach yang lebih modern dan banyak tempat shoppingnya.

Laguna Beach adalah gabungan dari itu semua. A little bit of everything.

Rewind sejenak. Kami memutuskan untuk mengambil jalan yang sedikit memutar menuju Laguna Beach dari Los Angeles. Melewati I-710 South, lalu pindah ke Pacific Coast Highway alias California State Route 1 di Long Beach. California 1 adalah highway legendaris yang membentang di sepanjang garis pantai California. Menyetir di Pacific Coast Highway berarti bertemu pemandangan Samudra Pasifik yang menakjubkan, tebing yang dramatis, dan pantai yang indah. Karena kita rutenya ke selatan, jadi tebing yang dramatis hampir tidak ada, dan Samudra Pasifik juga tidak seindah jalur yang ke utara.


Jalan ikonik ini membentang sepanjang 650 miles di coastline California dan kami hanya melewati sekitar 35 miles dari Long Beach hingga Aliso Beach, sedikit lebih selatan dari Laguna Beach. Jalanan ini memutar, tapi pemandangannya bagus. Scenic Drive. Ada sekitar 45 menit hingga 1 jam extra yang harus diluangkan untuk menyusuri jalanan ini. Jadi, rencanakan baik-baik perjalanannya.

Pergi ke Pantai yang Mana?

Laguna Beach sudah pasti menjadi destinasi. Namun, jika ingin benar-benar ke pantai dan menikmatinya, carilah pantai yang lebih sepi daripada Laguna Main Beach Park. Ada Thalia Street Beach, Victoria Beach, and the Pirate Tower, Treasure Island Beach, serta Aliso Beach. Sebenarnya, ada banyak belokan ke pantai yang bisa dikunjungi di sepanjang jalan North Coast Highway itu. Kalau punya waktu lebih, dan udara sedang bersahabat, disarankan untuk mampir.

Thursday, June 6, 2024

Petualangan Akhir Pekan Bersama Buku dan Bazaar di Singapura

Setelah sekian lama hanya travelling di Indonesia, akhirnya saya kembali mengunjungi negara tetangga. Ini trip perdana saya menggunakan auto-gate e-passport. Biasanya harus mengantri di imigrasi, sekarang mengantri di depan mesin. Mengurangi interaksi dengan manusia, tapi ya itu, paspor saya jadi tidak ada capnya. Dibilang lebih cepat juga tidak begitu berbeda karena penerbangan saya ada di jam pagi, dan masih banyak yang kagok menggunakan auto-gate ini. Termasuk saya. 

Terminal 2 setelah sekian lama. Kali ini traveling sama Panda.

Sekian lama tidak terbang, kesan yang dirasakan masih sama. Antusiasme mau ke luar negeri dan perasaan lega sudah meninggalkan Indonesia. Meskipun secara fisik masih ada di gate untuk boarding. Kalau main game, seperti mau memulai petualangan di welcome screen tapi belum klik start. 

Bandara negara tetangga favorit saya itu tidak banyak berbeda. Lagi-lagi ini perdana saya menggunakan auto-gate. Tanpa antri juga. Prosesnya cepat dan kurang dari 15 menit, saya sudah menunggu bagasi, siap berpetualang di Singapura.


Tuesday, May 1, 2018

Let’s go to Korea: Answering the Basic Questions

I blurted the idea out there and never thought it would come true. So far, I’ve only arranged trips to Singapore and Malaysia. Penang and Bangkok are the furthest away we went on our own itinerary. Well, there was this Western Europe trip half a decade ago, but my brothers took the lead on scheduling. All I had to do was showing up at Heathrow.

So this is a big jump from our regular Southeast Asian traveldates. 


Question #1: WHEN?

The best time to visit Korea is Autumn (or I call it “Fall” cos I studied in the U.S.). The falling leaves, the changing colors and the not-so-cold weather made Korea an ideal destination in September and October. Sometimes early November too. So, if you’re not familiar with these scenes, have yet to experience autumn, don’t think twice about when. Yes, it’s pricey but it’s worth the view.

But between us, we have enough Autumns and Thanksgivings that we’re not into falling leaves anymore. “I want to see snow,” Andrew had said. Several times, too. I’ve showed him pictures from when we’re stuck snowed in for days. He argued back that he was too young to remember anything about winter time. Well, the truth is I miss Winter air too. Snow is another thing but breathing the cold air is happiness for me.

And it’s been 10+ years since I last see them (cos watching Frozen on movie theatre doesn’t count).

It’s Winter for us, then. Cheaper too. When it comes to price of our return ticket, there was 50% gap between the two seasons. Winter being cheaper. With the two of us, a 50% gap combined equals to another return ticket. So Winter it is.

Counting in school holidays and Christmas – New Year day offs I can take from work, we finally settled for December 31st departure. New Year’s on the plane didn’t sound as bad. And in reality, it wasn’t that bad. We flew Garuda Indonesia (our national airline). Hats and party equipments are available to cheer for New Year, 30 minutes after our boarding time. Once in a lifetime indeed. 



Question #2: WHERE?

If I can redo my itinerary, I wouldn’t pack so many tourists spot on one week. It’s either Seoul, with a side trip to Sorak Mountain and Sokcho or Busan with a few days in Jeju. The thing is we never know if we’ll go again.

On second thought, we’ll go again. This trip, we had to scrap off “Train to Busan” from our itinerary in exchange with a day in Everland.

So, I would recommend you to start your K-itinerary with Seoul. Because there are so many things you can see in Seoul and you can filled a week worth of activities by being in and around Seoul. Stroll through the different neighborhoods and theme parks, the palaces and the shopping areas. Give Nami island a day or book an early morning bus trip to Sokcho, visit Mount Sorak and return to Seoul the next day.

With Winter, and thanks to the recent Olympics, trains are available from that part of South Korea. The ski resorts are within reach too. Wish I had known these things before scrambling to visit everything. But again, we didn’t know if we ever will come back to South Korea. So at least we’ve been to Jeju, to Sorak and everywhere in Seoul.

Question #3: HOW MUCH?

This is a little hard to justify because I can only speak for departures from Jakarta. But I bought my tickets at a travel fair, which cost me half the regular return ticket price. There are budget airlines with similar price of the Garuda Indonesia ticket I purchased. I wouldn’t recommend them because Garuda Indonesia flies non-stop to South Korea, a 6-7 hours trip.  Some of the budget airlines schedule includes an overnight stop at either Kuala Lumpur or Singapore. Although it won’t be a problem with me and Andrew, I wouldn’t recommend them for family travel in general.

Yes, ticket-hunting is a must for us.

Tickets on hand, now it’s time to talk about accommodation. It’s best to book them 1-2 months in advance to ensure you get the best prices possible. Check on local festivals and avoid them if you’re not planning to participate. Check everything. A hotel in Dongdaemun isn’t always more expensive than Myeongdong. Look at different hotels, check the facilities and see how much a room without breakfast is. Also check if they have deals on extra nights. I figured that 4 nights in a Dongdaemun hotel are cheaper than others I browsed through because they had this 3+1 discount night. 


Food in South Korea depends on where you dine. My favorite mini market Gimbab cost about 2000KRW. I’m addicted to them and always have them in my backpack. The Onigiri is around 900 – 1000KRW. But I traveled with a bunch of Asian families (including Andrew) and we had to search for rice along with Lotteria fried chicken we ordered. The microwaved rice bowls are 1000 to 1500KRW each at mini market. Eating in restaurants can be costly. Pork noddle (guksu) in Jeju cost 9000 – 10,000KRW while Rose Latte in Insadong cost 6500KRW. A portion of fried chicken (shared among us) cost 24,000 – 26,000KRW. I personally love going to Lottemart and shop for bread, pork cutlets, milk and the so-called food supplies. Pack sandwiches for lunch or dinner on the go. It cuts your food cost and save you time cos you don’t have to stop and eat while you, for example, browse through Myeongdong.

So it depends. 



Well, we managed to round up a 10-day trip to South Korea (including 3-day in Jeju). It costs us roughly 15 million Rupiahs (a little over 1000USD) for two persons sharing hotel rooms, excluding meals, attraction tickets and personal shopping.

Unfortunately, 10 days aren’t enough. We want to go another round to Busan. Hopefully sometime soon, and in a different season.

Monday, April 10, 2017

The Batik Village of Laweyan, Hidden Treasure Behind Surakarta's Street

In many of our frequent visit to Solo, we found a Kampung Batik (Batik Village) hidden behind the city’s main roads. Solo is dubbed the City of Batik, as written upon arrival at Adi Soemarmo Airport. So one morning, when Dudu is busy swimming at the hotel with the cousins, I went with the moms to Kampung Batik Laweyan.



“Where do you want to go, Ma’am?” The taxi driver asked. Apparently Kampung Batik Laweyan consists of different shops and stores stretched along the long yet narrow street. Because we arrived by car, the driver took us to a shop called Batik Putra Begawan, accessible by car and have several parking spaces. From the store, we can either walk or take a tricycle to different shops in the area. The Batik shops are practically next to one another, selling different Batik items in different shape and sizes. From the air-conditioned modern store like Batik Putra Begawan that we went into, to the one inside a traditional Javanese Joglo houses. Some of the shops are located inside small alleys, fit only for pedestrians and bicycle, right next to Batik workshops. Unfortunately, the workshops are having their day off on Sundays and I was there on Sunday morning. Otherwise, visitors can learn more about Batik’s creation process and watch how the painted ones are made.

Saturday, March 4, 2017

Hong Kong Beyond the City Lights: Geoparks Dream

Hong Kong is on our bucket list. No, it's not because Dudu saw it on Transformers. It's because my only visit to Hong Kong was almost two decades ago. Needless to say I only can vaguely remember the city. I remember there's a region called Tsim Sha Tsui, there's this train going uphill with a Madame Tussaud on top. I'm pretty sure the happiest place in earth hadn't opened its doors in Hong Kong then.

But that's about it.

So, despite having been to Hong Kong i couldn't write about the places I go. This post is written as a participant to #WegoDiscoverHK blog contest and I'll be taking the outsider point of view, talking as if I've never been to the city.

Back then, it was a standard tourist visit, as I went with an arranged tour group from Indonesia with my aunt and cousin. We probably went where everyone went. Now that I've visited few other countries out there, I realize there's always something more to a destination that what's offered on your local travel agents offered. 



The other day, I was surprised to see this picture on my instagram feeds. I captured the scene before it went away. For me, who always thought that Hong Kong is identical with scrumptious dishes and city lights, something as naturally scenic as this is a pleasant surprise. Especially when my current travelmate, Dudu, is an adventurous outdoor boy. I figured if there's something this pretty, there should be more to Hong Kong than the skyscrapers have to offer. Of course something like Disneyland or Ocean Park is tempting and we do want to spend a day or two there, but we decided to look around. We found this interesting site.

Sunday, January 29, 2017

Best Date of 2016

Where have we gone on a date last year? As I tried to write this post, I was struggling through the post I’ve written on the other blog as well as pictures for posts we’ve yet to write about. It’s hard to pick the best of because each adventure is unique. There’s always a new story, a new thing to learn even if we’re visiting the same place. So in the middle of my writer’s block, I asked Dudu about last year.


Mama:
Best Travel of 2016?
Dudu: Hm…
Mama: Train to Malang?
Dudu: It was last year?
Mama: Yeah.
Dudu: That was memorable.
Mama: Singapore and Legoland Playdate?
Dudu: That was so much fun too.
Mama: Universal Studios Halloween?
Dudu: That’s scary, but I love it!
Mama: So which one?
Dudu: Do I have to pick? Can we just write about all three?
Mama: Okay, now can you write about why each one is the best of 2016?
Dudu: WHAT?

Here are the winners!


Friday, September 25, 2015

Marina Bay After Dark

What can you do when the sun set at Marina Bay Sands and its surrounding area? A lot apparently. Whichever side you're on, be sure to capture the amazing view of Singapore skyline after dark.




Marina Bay Sands
Stepping out of Bayfront MRT Station, I walked around the premise until dusk. It was almost 7 (the sun sets quite late in Singapore) and I was checking out what's on the Art & Science Museum to plan a visit with Andrew when he arrived the following day. Then the view started to steal my attention. Maybe because it's a Thursday and there was almost nobody by the bay. So I went down and started taking picture. Coming from the crowded Jakarta, the tranquil Marina Bay is really something to treasure on.