Saturday, April 11, 2026

Coffee Slow Bar: Pelajaran dari Secangkir Kopi yang Tak Terburu-buru

Kemarin akhirnya saya kembali ke Melawai Plaza. Hah? Melawai Plaza? Ngapain? Di shopping center yang isinya toko emas dan restoran jadul itu, ada satu Coffee Slow Bar yang nyelip. Namanya LBRY. Ketika Gang Viral Pasaraya Blok M, yang literally ada di depannya itu baru mulai ramai, Melawai Plaza sudah tutup. Di tengah hiruk-pikuk kawasan yang selalu bergerak tanpa henti, duduk di sebuah coffee shop, dikelilingi buku dan keheningan adalah sebuah kemewahan.

Kenapa saya merasa harus mengunjunginya?



Cerita saya dengan LBRY Slow Coffee Bar bermula dari Google Nearby haha. Ya seperti biasalah, lagi di daerah Blok M lalu browsing kanan kiri, mencari ada apa lagi di sekitar sini. Karena saya selalu penasaran dengan coffee shop, dan ingin punya list seperti idol kesayangan saya, jadi LBRY Slow Coffee Bar masuk bookmark sejak beberapa waktu lalu. Intinya, setelah dua dekade, saya kemarin masuk ke Melawai Plaza lagi. Rasanya seperti kembali ke masa lalu.

LBRY Slow Coffee Bar adalah cafe hidden gem yang nyaman dan intimate di lantai Ground Floor Melawai Plaza. Terletak di antara deretan toko emas dan perhiasan yang gemerlap, kafe ini menghadirkan suasana yang kontras. Warnanya gelap dan cenderung muram. Meja panjang di bawah rak buku, kursi-kursi di depan kasir dan meja untuk mereka yang datang berdua. Cafe ini kecil. Konsepnya menggabungkan library dan slow coffee bar, cocok untuk work from cafe, membaca buku, atau sekadar bengong sendirian tanpa gangguan keramaian.




Ada house rules yang harus diperhatikan, salah satunya adalah suara yang tidak boleh keras-keras. Jadi, kalau mau WFC di sini ya tidak bisa meeting. Karena mampirnya di menjelang malam minggu, jadinya saya hanya stay satu jam. LBRY Slow Coffee Bar ini tutup jam 7 malam, karena Melawai Plaza-nya juga tutup jam segitu.

Our date is at

LBRY Slow Coffee Bar
Jl. Melawai Raya No.13 Ground Floor, Melawai, Kec. Kby. Baru, Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12160 Indonesia
(Tutup setiap Senin)


Bagaimana dengan kota lainnya?

Bukan cuma di Jakarta, saya pernah mengunjungi cafe sejenis di Bangkok. Lagi-lagi gegara Google nearby. Ketika membuka Nearby di peta selepas makan Boat Noodle di kunjungan saya ke Bangkok tahun 2018, saya menemukan nip cafe - Phahonyothin 2/1. Terletak di parkiran apartment, cafe yang menurut saya masuk kategori slow bar ini unik karena baristanya suka ngobrol. Sama seperti di LBRY Slow Coffee Bar, kita bisa duduk di bar terbuka lalu ngobrol sama barista yang sedang menyiapkan pesanan.

Di nip cafe - Phahonyothin 2/1 ada kucing yang jadi peliharaan. Tapi, lagi-lagi saya tidak tinggal lama di cafe ini, meskipun suasananya sangat mendukung untuk duduk dan bengong. Sepanjang saya di sana kurang lebih satu jam, ada beberapa customer orang asing yang masuk dan mengobrol juga dengan baristanya.

 

Menyempatkan diri mampir ke slow bar di kota yang sibuk berarti mengizinkan waktu berhenti.

Refleksi pertama yang muncul adalah soal waktu. Di slow bar, tidak ada tekanan untuk “menikmati hari secepat mungkin”. Yang ada hanya house rules yang bisa jadi tertulis maupun tidak, bahwa kita bisa tinggal lama dan menikmati waktu yang berjalan dengan tempo berbeda dari hustle dan bustle di luar sana. Saya bisa duduk berjam-jam dengan satu gelas saja, membiarkan pikiran bertualang sendiri. Atau bengong sambil people watching. Di kasus ini lebih cat watching sih.

Masalah biasanya muncul ketika slow bar ini jadi populer. Ukuran tempat yang sangat kecil berarti kadang penuh, dan saya harus sabar menunggu kursi kosong. Lalu, harap dimaklumi kalau harga kopi, terutama manual brew-nya lebih mahal dari rata-rata, karena kualitas biji kopi juga tidak main-main.

Selain nip cafe - Phahonyothin 2/1, ada beberapa cafe dengan konsep slow bar yang ingin saya coba.

Recordoffee
95 14-15 ถ. เจริญกรุง Talat Noi, Samphanthawong, Bangkok 10100, Thailand
Kombinasi antara record store dan specialty coffee shop dengan vibe Japanese old-school cafe yang cozy. Banyak review yang bilang tempat ini memberikan rasa nostalgia.

Heartbreaking record cafe&bar
PGV3+8V5, 146 Luean Rit Alley, Chakkrawat, Samphanthawong, Bangkok 10100, Thailand
Tersembunyi di sebuah gang kecil di Chumchon Luenrit, tempat ini terasa seperti time capsule Jepang. Kebanyakan reviewnya bicara tentang musik yang bisa dipilih sendiri.

Next Destination: Singapore

Singapore dan slow bar terdengar tidak cocok. Singapura yang tak pernah berhenti berlari rasanya kontras dengan cafe yang mengajak kita untuk berhenti total. Surprisingly ada beberapa listening cafe yang sepertinya menarik untuk dikunjungi. Misalnya A Slow Cup di The Cathay atau Slow Boat di Craig Road.

Lalu ada Analogue Anonymous di Geylang Road yang di-review sebagai tempat untuk beristirahat dengan secangkir kopi yang unik karena konon tempat ini ngeblend beans sendiri.

Inti dari mengunjungi slow bar adalah meluangkan waktu. Datanglah saat tidak sedang terburu-buru. Pesan satu gelas dan lakukan hal-hal yang bersifat manual: journaling, baca buku, arts and craft atau sejenisnya. Di tengah itinerary perjalanan yang kerap sangat padat (karena kita suka nggak mau rugi kan udah cuti), sejam dua jam di slow bar bisa mengubah cerita liburan kita.

Mau coba?

No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by. Please do leave your thoughts or questions, but we appreciate if you don't spam :)