Showing posts with label Eat. Show all posts
Showing posts with label Eat. Show all posts

Sunday, May 10, 2026

Sabtu Pagi Nostalgia di Jalan Surabaya

Apa yang pertama terlintas di pikiran saat mendengar kata “Jalan Surabaya?” Barang antik? Coffee shop indie? Mural unik?

Bahan tulisan traveling buat posting minggu ini sudah habis. Terus gimana? Kalau browsing cerita teman-teman atau scrolling IG di sana sini, banyak yang sedang ikutan walking tour. Kayaknya kok seru ya? Karena itulah, ketika diajakin teman staycation (gegara dia book airbnb salah tanggal), saya memutuskan buat mencoba jalan-jalan sendiri menyusuri Jalan Surabaya.

Sabtu pagi itu Jalan Surabaya lumayan ramai karena ada beberapa walking tour yang sedang berlangsung. Udara belum terlalu panas ketika saya mulai berjalan pukul 9 pagi.


Kalau dilihat sejarahnya, Jalan Surabaya ini sebenarnya adalah bagian dari rencana pemerintah Kolonial Belanda untuk mengembangkan tuinstad (kota taman) yang dirancang oleh arsitek P.A.J. Moojen pada awal abad ke-20. Menteng pada saat itu adalah kawasan pemukiman kelas atas untuk pejabat dan warga Eropa. Di tahun 1960an, banyak rumah besar di Menteng yang mulai berganti kepemilikan dan barang-barang mewah yang dimiliki dijual. Para pedagang asongan yang pada awalnya berpindah-pindah mulai menetap atas inisiatif Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, di tahun 1974.

Penataan kios-kios permanen di sepanjang satu sisi Jalan Surabaya ini bertujuan agar para pedagang tidak berjualan di trotoar dan merusak estetika kawasan Menteng.


Jalan Pagi Untuk Ketemu Kopi

Pagi itu, perjalanan saya dimulai dari perempatan Jalan Surabaya dan Pangeran Diponegoro. Saya berhenti di Nwansa Coffee sebuah kedai yang nyempil di pengkolan, di antara toko-toko yang tertutup rolling door. Kedai kopi itu ramai pengunjung di Sabtu pagi, ternyata sedang ada walking tour yang beristirahat di sana. Mau duduk buat people listening dan ngonten jadi gagal.

Nwansa Coffee memberikan kesan jadul, dengan koleksi LCD dan DVD, serta telepon kabel yang ada di raknya. Cafe-nya sendiri hanya muat untuk beberapa orang, tapi merupakan tempat perhentian yang populer bagi mereka yang bersepeda atau komunitas lari. Saya memesan Ice Americano, karena merencanakan untuk membawa minuman sambil melanjutkan perjalanan. Untuk Americanonya sendiri, ada dua pilihan beans dan saya memilih yang bukan rekomendasi baristanya, karena saya bukan fans beans yang fruity. Tetap enak kok kopinya, harganya juga terjangkau.



Coffee Shop di Jalan Surabaya ada beberapa. Yang paling terkenal adalah Giyanti. Saya dulu pernah ke Giyanti sebelum tempatnya viral dan terkenal. Giyanti adalah salah satu destinasi kopi artisan terbaik yang menawarkan berbagai pilihan biji kopi berkualitas tinggi. Tempatnya artistik dengan interior vintage yang unik, lengkap dengan perpaduan furnitur kayu, tanaman hijau. Tempat ini cocok buat duduk, brunch dan ngopi bersama teman-teman. Tempat ini sekarang sudah populer, lengkap dengan fasilitas valet parking. Selain kopi, yang membekas di ingatan saya tentang tempat ini adalah pastry-nya.



Yang terbaru di jalanan ini adalah Common Grounds yang ada di ujung jalan berlawanan dengan Nwansa Coffee. Common Grounds adalah salah satu roastery dan cafe yang familiar bagi warga Jakarta, karena seringkali ditemukan di mall. Cafe modern dengan tempat yang nyaman untuk WFC ini memberikan kesan berbeda dengan Giyanti dan Nwansa Coffee yang lebih melokal.

Selain ketiga tempat itu, satu coffee shop yang bikin penasaran untuk dikunjungi adalah IniLoh Kopi. Sebenarnya ini bukan Coffee Shop sih karena bentuknya hanya kios dengan jendela terbuka di mana kita bisa memesan kopi. Hanya bisa to go atau duduk di pinggir jalan. Menunya pun sederhana. Konsep ini sering saya temukan di negara tetangga. Sayangnya hari itu saya sudah pegang kopi.


Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, perjalanan saya menyusuri Jalan Surabaya ini agak terbalik. Seharusnya saya mulai dari ujung Cikini baru ke perempatan jalan Pangeran Diponegoro. Jadi bisa lihat-lihat kanan kiri dulu sebelum berhenti di Nwansa Coffee untuk istirahat dan people listening.

Friday, May 8, 2026

Hidden Gem Cikini: Dua Nuansa Jepang dalam Satu Kawasan

Bicara kawasan Cikini, yang pertama terlintas di pikiran pasti Taman Ismail Marzuki. Kali ini berbeda. Cikini selalu punya cara untuk menghadirkan suasana tenang di tengah hiruk-pikuk Jakarta, terutama bagi siapa saja yang ingin melarikan diri sejenak untuk mencari inspirasi. Padahal ada Stasiun yang sibuk, jalur satu arah yang sering macet. Jalanan yang padat dengan warung, restoran, jajanan dan segala kekacauan tumpah ruah di jalan.

Penjelajahan kali ini membawa saya mengunjungi dua destinasi kuliner Jepang yang memiliki jiwa berbeda namun sama-sama menawarkan kenyamanan. Kedua tempat ini membuktikan bahwa pesona kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ruang mampu bercerita.


Tapi ya, saya harus berterima kasih pada Taman Ismail Marzuki soalnya saya menemukan kedua tempat ini gara-gara apa, teman-teman? Betul… gara-gara buka fitur nearby Google Maps pas lagi di Taman Ismail Marzuki.

Let’s go!

Kikugawa Resto
Jl. Cikini IV No.20, RT.15/RW.5, Cikini, Menteng, akarta Pusat 10330
Buka: Setiap hari jam 11.30 am–2.30 pm (lunch) dan 5.30–9.30 pm (dinner)

Menemukan restoran ini secara tidak sengaja karena bingung mau makan siang di mana sebelum nobar film Detektif Conan. Karena Dudu suka makanan Jepang, kita belok ke Cikini IV mencoba Kikugawa. Restoran Jepang rumahan yang nyempil di bawah rel kereta di jalan R.P. Soeroso. Ternyata restorannya tradisional, suasananya autentik dan makanannya enak.

Didirikan pada tahun 1969 oleh Kikuchi Surutake, Kikugawa adalah salah satu restoran Jepang tertua di Jakarta. Restoran ini menempati sebuah rumah, dengan exterior dan interior khas Jepang. Bangunan restoran mempertahankan gaya klasik dan vintage, yang kental dengan nuansa rumah tua. Tidak ada penanda resto yang visible, hanya tulisan Kikugawa di depan, jembatan lengkung berwarna merah cerah, papan info khas Jepang dan tirai kain tradisional Jepang atau noren dengan karakter kanji warna hitam. Masuk ke dalam melewati pintu geser seperti masuk ke dunia lain. Interiornya didominasi oleh elemen kayu, dan dekorasi tradisional Jepang.


Yang perlu diperhatikan kalau berkunjung ke Kikugawa adalah parkir mobil terbatas hanya untuk 1-2 mobil, jadi biasanya kita parkir di pinggir jalan. Selain itu jam buka yang ada jeda di sore hari juga perlu diingat agar bisa merencanakan kunjungan dengan baik.

Bagaimana dengan makanan? Karena saya dan Dudu lapar, jadinya kita pesan bento set. Saya pesan Kikugawa Set A (Rp. 137,000) yang isinya Fried Chicken Katsu dan Grilled Fish Fillet. Ternyata kekenyangan karena set berarti dapat nasi dan miso sup juga. Sementara Dudu pesan Kikugawa Set B (Rp. 153,000) yang isinya Grilled Beef dan Grilled Chicken. Habis itu nambah Gyoza isi 5 (Rp. 45,000) dan Tamagoyaki (Rp. 39,000). Kalap duluan karena terbawa suasana haha.



Menurut saya, Grilled Fish Fillet-nya juara. Rasanya seperti comfort food, tidak terlalu asin dan tidak terlalu manis. Ketika saya berkunjung kembali ke Kikugawa, grilled fish ini selalu jadi pesanan wajib. Kalau ditanya ke Dudu, jawaban dia sudah pasti, “enak kok, Mah” soalnya dia juga suka makanan Jepang. 

Thursday, April 16, 2026

Hoz Pasta Kebagusan, Kafe Pasta dan Pizza Jakarta yang Wajib Dicoba

"Masak pasta aja ah!"

Kalimat itu sering lewat di kepala saya kalau sudah stuck mau masak apa. Soalnya pasta (terutama jenis penne) sering jadi pilihan ketika saya tidak punya banyak waktu maupun kehabisan ide mau makan apa. Pasta buat saya adalah sesuatu yang sederhana, mudah diolah dan jadinya enak meskipun saya tidak bisa masak. Tapi anehnya, meskipun tinggal di ibu kota, saya justru jarang menemukan kafe pasta dan pizza Jakarta yang benar-benar cocok di lidah. Entah karena rasanya kurang autentik atau harganya yang kurang bersahabat. Sedih ya.

So, ketika saya dipertemukan dengan hidden gem kafe pasta dan pizza jakarta, yang harganya super affordable tapi rasanya bener-bener out of this world, rasanya tuh kayak baru aja nemuin harta karun yang udah lama hilang. Oke, lebay. Tapi review ini beneran.

Hoz Pasta Kebagusan
Jl. Sepat I No.8A, RT.7/RW.2, Kebagusan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12510


First thing first. Location. Hal yang membuat saya dengan mudah bilang “yuk” adalah lokasinya yang dekat rumah. Tinggal di sisi selatan TB Simatupang biasanya identik dengan pilihan makanan barat yang terbatas. Kalaupun ada, kebanyakan tidak sesuai selera.

Saya tiba di Hoz Pasta sekitar pukul 16:00, bukan jam makan tapi restorannya ramai. Parkiran mobil terbatas dan arena parkir tempat ini didominasi oleh motor. Tempat ini bisa dengan mudah dicapai dari Stasiun KRL Tanjung Barat. Jaraknya sekitar 1 km atau 15 menit berjalan kaki lewat Jalan Baung. Kalau saya perhatikan, tempat ini ramai oleh mereka yang mau sekadar nongkrong santai ataupun serius ngejar deadline sambil WFC. Tidak heran kalau dengan mudah tempat ini bisa jadi rekomendasi tempat makan pasta dan pizza di Jakarta. Maybe next time saya bisa WFC di sini juga.

Menu Pasta yang Affordable dan Comforting

Saturday, April 11, 2026

Coffee Slow Bar: Pelajaran dari Secangkir Kopi yang Tak Terburu-buru

Kemarin akhirnya saya kembali ke Melawai Plaza. Hah? Melawai Plaza? Ngapain? Di shopping center yang isinya toko emas dan restoran jadul itu, ada satu Coffee Slow Bar yang nyelip. Namanya LBRY. Ketika Gang Viral Pasaraya Blok M, yang literally ada di depannya itu baru mulai ramai, Melawai Plaza sudah tutup. Di tengah hiruk-pikuk kawasan yang selalu bergerak tanpa henti, duduk di sebuah coffee shop, dikelilingi buku dan keheningan adalah sebuah kemewahan.

Kenapa saya merasa harus mengunjunginya?



Cerita saya dengan LBRY Slow Coffee Bar bermula dari Google Nearby haha. Ya seperti biasalah, lagi di daerah Blok M lalu browsing kanan kiri, mencari ada apa lagi di sekitar sini. Karena saya selalu penasaran dengan coffee shop, dan ingin punya list seperti idol kesayangan saya, jadi LBRY Slow Coffee Bar masuk bookmark sejak beberapa waktu lalu. Intinya, setelah dua dekade, saya kemarin masuk ke Melawai Plaza lagi. Rasanya seperti kembali ke masa lalu.

LBRY Slow Coffee Bar adalah cafe hidden gem yang nyaman dan intimate di lantai Ground Floor Melawai Plaza. Terletak di antara deretan toko emas dan perhiasan yang gemerlap, kafe ini menghadirkan suasana yang kontras. Warnanya gelap dan cenderung muram. Meja panjang di bawah rak buku, kursi-kursi di depan kasir dan meja untuk mereka yang datang berdua. Cafe ini kecil. Konsepnya menggabungkan library dan slow coffee bar, cocok untuk work from cafe, membaca buku, atau sekadar bengong sendirian tanpa gangguan keramaian.




Ada house rules yang harus diperhatikan, salah satunya adalah suara yang tidak boleh keras-keras. Jadi, kalau mau WFC di sini ya tidak bisa meeting. Karena mampirnya di menjelang malam minggu, jadinya saya hanya stay satu jam. LBRY Slow Coffee Bar ini tutup jam 7 malam, karena Melawai Plaza-nya juga tutup jam segitu.

Our date is at

LBRY Slow Coffee Bar
Jl. Melawai Raya No.13 Ground Floor, Melawai, Kec. Kby. Baru, Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12160 Indonesia
(Tutup setiap Senin)


Bagaimana dengan kota lainnya?

Sunday, April 5, 2026

3 Coffee Shop Pilihan WFC Daerah Pondok Indah

Apa syaratnya tempat yang enak buat duduk dan kerja? Tempat yang bikin mood jadi bagus dan menulis jadi lancar? Well, sejak jadi freelancer, saya jadi suka mencoba beberapa tempat untuk bekerja seharian. Setidaknya, saya akan stay 4-5 jam di satu lokasi. Karena akhir-akhir ini jalanan macet, jadi ya saya WFC-nya tidak jauh-jauh dari TB Simatupang. Salah satu area yang bisa saya kunjungi tanpa memusingkan ganjil genap adalah Pondok Indah.

Pondok Indah Mall (PIM) memiliki banyak cafe dan coffee shop yang sangat WFC-friendly. Mulai dari Tous Les Jours dan Paris Baguette hingga Starbucks dan Joe & Dough, semuanya lengkap di sini. Bahkan sebenarnya di foodcourt PIM 3 pun bisa WFC karena wi-fi gratis yang ada di mallnya. Ada kalanya ke mall bukan solusi, jadi saya mencari cafe rumahan, atau yang setidaknya bukan bagian dari mall, tapi tetap WFC-friendly. Di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan, ada tiga coffee shop yang sering saya kunjungi, yaitu Common Grounds - Pondok Indah Plaza, Little Contrast Pondok Indah, dan Kopi Ketjil - Pondok Indah.

Common Grounds - Pondok Indah Plaza

Pondok Indah Plaza 2 No. 23, Duta Niaga Sektor II, Blok BA, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12310
Harga: Americano/Long Black: Rp45,000; Latte Rp 50,000

Cafe chain yang modern-cozy. Ada 2 lantai. Di bawah lebih casual dengan meja persegi & display pastry. Banyakan orang ngumpul, ngobrol, hangout di sini. Di atas lebih luas buat kelompok atau kerja. Spesialis kopi roasted fresh. Coffee shop ini punya all-day breakfast & Western food (pizza, pasta, burger, eggs benedict). Karena lokasinya di dalam komplek Pondok Indah Plaza, cafe ini mudah diakses baik dengan kendaraan pribadi maupun ojek online. Tempat parkir juga banyak dan busway stop pun relatif dekat.

Dari sudut pandang WFC, Common Grounds punya keunggulan besar di ambience yang inviting dan clean. Yah sama sih, seperti cafe-cafe di mall atau yang sudah punya nama besar. Makanan berat yang tersedia menjadi nilai plus karena saya bisa stay lama tanpa kelaparan, atau bisa bekerja melewati jam makan siang. Tapi, siap-siap mengeluarkan biaya lebih ya.

Kelemahan cafe ini ada di kursinya yang kalau sudah beberapa jam duduk, terasa tidak nyaman. Lalu, potensi keramaian yang ada. Cafe ini cukup populer, jadi kadang banyak ibu-ibu pulang antar anak sekolah, bapak-bapak financial freedom yang terlihat ngomongin business. Common Grounds cocok untuk sesi WFC 2-4 jam di mana saya butuh kombinasi kopi enak dan makanan lengkap, tapi kurang ideal untuk full day work yang butuh ketenangan total dan koneksi super stabil.

Sunday, March 15, 2026

Dharma Boutique Roastery: Jejak Kopi Nusantara di Kota Semarang



“Tempat ini, pintu masuknya di mana sih?”

Menemukan pintu masuk Dharma Boutique Roastery menjadi petualangan tersendiri, karena lokasinya yang seolah "bersembunyi" di balik keriuhan Jalan Wotgandul Barat. Roastery sekaligus cafe ini menempati bangunan tua bergaya kolonial yang terlihat tenang di balik pagar besi yang bersahaja.

Iya, tapi, pintu masuknya mana?



Ada sebuah pintu besi dengan tulisan “Dharma Boutique Roastery” di sekitar 50 meter dari WM Kelengan. Jadi, jalan kaki pelan-pelan baru kelihatan. Begitu masuk ke dalam, suasana jadi lebih tenang. Serasa masuk ke dunia lain.

Oleh-oleh yang paling sering saya bawa pulang dari satu lokasi tujuan wisata akhir-akhir ini adalah kopi. Jadi mengunjungi local roastery atau cafe sudah jadi agenda wajib dalam itinerary.

Dharma Boutique Roastery bukan sekadar kedai kopi biasa, melainkan rumah kopi berusia lebih dari satu abad yang masih bertahan hingga sekarang. Masuk ke dalam lewat “pintu rahasia” tadi, memang terasa seperti menjelajah waktu. Haha.

Setelah mengumpulkan cerita dari kanan kiri, ternyata cerita sejarahnya dimulai pada tahun 1915, ketika seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Tan Tiong Ie mendirikan usaha kopi bernama Margo Redjo. Awalnya usaha ini berdiri di Cimahi, Jawa Barat, sebelum akhirnya dipindahkan ke Semarang, yang adalah kampung halaman Tan Tiong Ie. Kini usaha tersebut dikelola oleh generasi ketiga keluarga pendiri, yaitu Widayat Basuki Dharmowiyono.

Kenapa usaha penyangraian kopi ini terletak di rumah? Karena ijin pendirian pabriknya tidak kunjung muncul. Tapi, setelah ijin usaha keluar di tahun 1928, usaha ini jadi berkembang lebih pesat, termasuk export kopi ke Nama Margo Redjo sendiri diubah menjadi Dharma Boutique Roastery pada tahun 2016-2017.

Berkunjung ke Dharma Boutique Roastery


Salah satu daya tarik utama Dharma Boutique Roastery adalah perpaduan antara tradisi lama dan konsep kopi modern. Bangunannya masih mempertahankan nuansa vintage dengan mesin sangrai kopi tua yang usianya puluhan tahun. Sebenarnya untung juga tempat ini tidak berubah jadi bangunan pabrik, karena ngopi di sini memberikan pengalaman unik.




Begitu masuk ke dalam, kita masuk ke ruangan depan untuk memilih kopi. Ada puluhan varian kopi yang berasal dari berbagai daerah seperti Aceh Gayo, Flores, Bajawa, hingga Papua. Semua bisa diseduh dan dinikmati langsung, atau dibeli untuk dibawa pulang. Setiap kopi diletakkan di dalam toples kaca dengan tutup warna-warni. Harganya sudah tertulis di setiap toples untuk yang ingin membeli biji kopi atau versi sudah digiling. Kalau kita bilang mau bawa ke Jakarta, nanti akan dimasukkan ke kantong yang kedap udara agar kopi lebih tahan lama.

Enaknya lagi, di sini bisa ngobrol sama karyawan dan dapat rekomendasi kopi. Favorite saya Robusta Temanggung, lalu biasanya saya beli satu antara Nusantara Honey atau Nusantara Wine. Soalnya saya tim Robusta. Robusta Temanggung punya dominan rasa cokelat pahit (dark chocolate) dan kacang-kacangan (nutty).

Wednesday, February 18, 2026

Istirahat Sejenak di Chinatown Singapore

Chinatown Singapura memberikan suasana berbeda ketika kita menjelajah di dalamnya. Soalnya masih banyak bangunan bersejarah yang bukan cuma punya cerita bagi turis, tapi bagi saya yang suka bolak-balik ke negara tetangga karena alasan keluarga. Seperti People’s Park Complex dan area sekitarnya, di mana saya sering ke sana bersama keluarga ketika daerah itu belum ada MRTnya. Pusat perbelanjaan lama, dengan barang-barang yang konon lebih murah dari daerah lainnya.

Sekarang ini, Chinatown Singapura lebih meriah. MRT yang langsung exit di tengah hiruk pikuk orang jualan, plus ruko-ruko meriah, thrift stores di lantai dua, dan cafe-cafe instagramable. Karena letaknya yang ada di daerah heritage, maka toko dan cafe yang bermunculan pun masih selaras dengan desain khas Chinatown. Dua cafe yang saya kunjungi di dua kesempatan berbeda ini memberikan satu hal yang sama: ketenangan. Kabur sejenak dari orang-orang yang berlalu lalang dengan cepat serta hebohnya orang jualan dan turis yang belanja.



Cafe Monochrome Chinatown


Membuka pintu masuk ke cafe yang satu ini rasanya seperti melangkah ke dunia lain. Interior hitam putihnya kontras dengan suasana Chinatown yang meriah.


 

Seluruh ruangan dirancang agar terlihat seperti sketsa komik. Garis-garis hitam di atas latar belakang putih, memberikan ilusi bahwa ruangan tersebut adalah gambar dua dimensi. Bukan hanya interior dan dekornya, meja dan kursi juga dibungkus garis-garis hitam di tepinya. Namun, karena lokasinya di Chinatown, dinding cafe ini dihiasi dengan gambar nuansa oriental, termasuk gambar bangunan tradisional Tionghoa, pohon, dan bunga teratai. Ada banyak sudut instagramable di cafe ini.

Friday, May 9, 2025

Cerita Sebuah Rumah Mewah di Selatan Jakarta

Konsep Work From Cafe (WFC) yang jadi populer sejak COVID ini memberikan alternatif bagi mereka yang bosan dengan suasana monoton. Pergantian atmosfer kerja ini penting buat saya, karena dapat memicu kreativitas, mengurangi stres, dan memberikan perspektif baru. Bahkan mood menulis juga dipengaruhi oleh suasana yang ada.

Salah satu tempat yang akhir-akhir ini sering saya kunjungi adalah cafe yang sebenarnya adalah rumah. Keduanya saya tahu dari teman, namun ketagihan datang, sehingga saya kembali lagi untuk beberapa kesempatan berikutnya. Dua rumah ini hadir dengan keunikannya masing-masing. Jadi, tergantung apa yang ingin dicapai, mood seperti apa yang ingin dibangun, dua tempat ini bisa jadi pilihan WFC berikutnya.


Saya sering bercanda bahwa untuk jadi orang kaya, kita harus manifestasi dulu. Makanya saya suka kerja di rumah ini. Manifestasi sendiri maksudnya mengubah pikiran dan keyakinan menjadi kenyataan melalui fokus, afirmasi, dan visualisasi positif. Untuk itu harus ada yang terlihat: rumah mewah di Andara.

Saat memasuki gerbang The Manor Andara, kesan pertama yang menyambut adalah kemegahan dan ketenangan yang berbeda dari hiruk pikuk jalanan di luar. Kalau masuk dengan berjalan kaki mungkin lebih dramatis karena ada suara gemericik air dari air mancur di dekat gerbang utama. Apalagi kalau jalan kaki langsung berbelok menyeberangi taman.

Konon, awalnya tempat ini dikenal sebagai wedding venue. Ya, kalau melihat wujudnya sih tidak heran. Mengusung konsep bangunan seperti rumah besar bergaya Eropa klasik, dengan pilar-pilar megah dan taman yang asri. Ada beberapa bangunan di sana, selain rumah utama yang mengingatkan saya pada film Crazy Rich Asian itu. Salah satunya ternyata cafe. Suasana di The Manor Cafe terasa tenang dan elegan, dengan pilihan area indoor dan outdoor. Terutama di weekdays, karena sepi, jadi serasa rumah milik sendiri. Meskipun ada area outdoor, yang pemandangannya langsung ke air mancur dan taman yang luas, saya lebih suka ada di indoor. Soalnya, cuaca di Andara itu panas.

The Manor Cafe menawarkan beragam pilihan menu, mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Harganya cukup menguras kantong, namun untuk beberapa menu, terutama menu Indonesia, porsinya sebanding dengan apa yang dibayarkan. Yang paling saya suka dari menu di The Manor adalah “Indonesian Platter” yang isinya pisang goreng, singkong goreng dan bakwan goreng. Biasanya kalau datang, saya lebih suka sudah makan siang kenyang di luar lalu sibuk ngemil dan ngopi di sini sampai matahari terbenam.


Namun, jika memutuskan untuk makan siang atau makan malam di sana, saya akan memilih Nasi Goreng Kampung. Selain dapat ayam, menu ini juga dilengkapi dengan sate, telur mata sapi dan kerupuk. Sebenarnya, pastanya juga enak sih. Tapi untuk yang terbiasa makan nasi, porsinya termasuk kecil dan pasti tidak kenyang.

Beberapa hal yang perlu disiapkan kalau WFC di sini adalah:
  • Colokan yang lumayan jarang. Tidak semua meja punya colokan, hanya beberapa yang berada di sisi jendela yang menghadap ke taman. Namun, karena The Manor Cafe ini biasanya sepi, saya tidak pernah kesulitan mendapatkan tempat duduk idaman.
  • WCnya jauh. Kalau hujan, kita harus pakai payung untuk ke WC yang letaknya dekat kolam renang.
  • Bisa grounding di taman kalau stress. Tapi, hati-hati dengan nyamuk ya.
  • Parkirannya luas, hanya saja, kalau ada event, kita bisa tidak kebagian parkir.
Ketika menulis postingan ini, saya sudah tiga kali ke The Manor Andara & The Manor Cafe. Ketiganya memiliki pengalaman yang berbeda.

Pertama kali ke sana, saya datang sore hari, bertemu teman dan hanya mencoba kopi serta pastry. Selain meja kami, ada dua sampai tiga meja lain yang terisi. Kedua kalinya saya ke sana, meja saya adalah satu-satunya yang terisi. Kami sering melihat beberapa orang datang untuk melihat venue dan memesan kopi untuk takeaway, tapi tidak ada yang stay dan duduk di meja. Kami datang di siang hari dan stay sampai Cafe-nya tutup.


Kunjungan ketiga adalah yang paling ramai. Soalnya ada event di salah satu bangunan yang ada di sana. Untungnya, karena datang cukup pagi, saya masih kebagian colokan. Tapi, ya jadi tahu kalau ramai itu ternyata jadi distracted karena saya sibuk people watching. Para selebgram yang bikin konten, bolak-balik ganti baju. Lalu, ada EO yang sibuk meeting di meja sebelah, atau sekedar mangkal membereskan report setelah event selesai.

The Manor Andara & The Manor Cafe dapat dicapai dengan kendaraan umum, baik dari arah Andara maupun dari arah Pangkalan Jati. Jika membawa kendaraan pribadi, perhatikan plang “The Manor” dari pinggir jalan. Pintu masuk ke rumah mewah ini ada di samping gerbang besar, yang terlihat dikunci. Jika berhenti di pinggir jalan, siap-siap berjalan kaki sekitar 5-10 menit untuk masuk ke rumah dan mencapai cafe. Iya, rumahnya memang sebesar itu.

Our Date is At:
The Manor Andara & The Manor Cafe
Jl. Ibnu Armah No.8, Pangkalan Jati Baru, Kec. Cinere, Kota Depok, Jawa Barat 16513



Sunday, April 13, 2025

5 Cafe yang Ditemukan Fitur Nearby Google Maps

Apa itu Google Nearby? Nearby adalah sebuah fitur yang ada di Google Maps, memungkinkan kita untuk menemukan tempat-tempat di sekitar tempat berada sekarang. Misalnya, restoran, kafe, toko, dan tempat wisata. Fitur ini dapat diakses melalui aplikasi Google Maps di ponsel, atau melalui situs web Google Maps di komputer. Untuk menggunakan Nearby, saya biasanya membuka aplikasi atau situs web Google Maps lalu menekan tombol untuk me-refresh lokasi tempat saya berada. Pastikan Google Maps bisa mengakses lokasi kita.





Nearby biasanya ada di dekat pilihan Direction, Save, Share dan sejenisnya. Lokasinya pas di bawah nama tempat kita berada, atau lokasi yang dipilih. Buat saya, Nearby adalah fitur yang sangat berguna jika ingin menemukan tempat-tempat baru di sekitar saya, atau mungkin di tempat yang saya tuju. Fitur ini bisa digunakan untuk merencanakan perjalanan atau ketika mencari ide tempat nongkrong. Misalnya, kalau sedang menunggu lalu bingung mau ke mana, atau sedang ingin makan tapi belum ada ide mau makan di mana.

Bagaimana cara pakainya?

  • Tentukan titik awal. Biasanya stasiun MRT, hotel tempat tinggal, dan lain sebagainya.
  • Klik fitur nearby, lalu muncul pilihan tempat apa yang ingin dicari. Kalau pilihan kita tidak ada, misal ingin cari cafe, ya diketik saja di search bar.
  • Setelah muncul pilihannya, bisa eksplor satu per satu untuk melihat detail tempatnya.
Saya sering mengandalkan Nearby. Terlalu sering bahkan. Namun, tempat-tempat yang ditemukan ternyata tidak mengecewakan.

The Post - Cipete

Titik awal: Stasiun MRT Cipete Raya
Misi: Mencari coffee shop dengan parkir mobil yang mumpuni, bisa untuk buka laptop, tapi bukan cafe populer.

Di Cipete, yang namanya coffee shop ini menjamur. Sepanjang jalan isinya tempat nongkrong dan tempat makan yang selalu penuh. Jadi, mencari cafe untuk duduk dan buka laptop ini lumayan sulit. Apalagi yang punya parkiran mobil. Nearby membawa saya ke The Post, yang lokasinya ada di seberang Lycee Francais. Jaman dahulu jalan ini kecil, dan bukan jalan umum. Ternyata sekarang sudah ramai dan ada cafe-nya.

Yang membuat saya terkesan dengan The Post adalah kopinya. Mereka punya manual brew dengan barista yang sangat helpful. Jadi, kita bisa langsung ke bar dan ngobrol dengan baristanya sebelum memesan. Cafe ini cukup luas dan estetik, bikin betah lama-lama di sini.

Saturday, March 22, 2025

Restoran Ibu Djoe dan Tante Hoa: Restoran Rumahan dan Kopi Kecap di Tegal

Perjalanan menyusuri Pantura kali ini sudah saya rencanakan berbekal bantuan dari Google Maps. Terutama soal makan siang dan perhentian di tengah jalan. Bukan cuma soal rasa, tapi juga suasana dan harga yang bersahabat. Yang selalu bikin deg-degan saat merencanakan sebuah perhentian adalah, “semoga pilihan saya kali ini tidak mengecewakan.” Why? Soalnya kalau berhenti itu I only have one shot. Kalau salah pilih ya tidak bisa pindah.


Begitu juga ketika membuka Google Maps di kota Tegal.

Mengapa harus Tegal? Soalnya, untuk berhenti, pilih lokasi yang berada di tengah perjalanan atau saat merasa sudah cukup lelah mengemudi. Perjalanan panjang dari Jakarta menuju Semarang, atau sebaliknya, membutuhkan jeda yang tepat. Saya mempertimbangkan jarak tempuh dan perkiraan waktu tiba di lokasi makan siang. Tegal itu letaknya strategis, persis di tengah-tengah perjalanan, bisa jadi pilihan utama untuk berhenti dan mengisi perut yang keroncongan. Kotanya juga besar, dan ada beberapa pilihan kulineran yang bisa didatangi.

Restoran Ibu Djoe dan Tante Hoa adalah satu restoran yang saya sudah mampir dua kali. Yang pertama, saya dan Dudu datang di jam tanggung. Breakfast sudah selesai, tapi lunch belum mulai. Untung Mbaknya baik dan mengijinkan kami memesan menu sarapan yang masih tersedia. Makanannya enak dan harganya tidak mahal. Jadi, di kesempatan berikutnya, kami kembali lagi untuk mencicipi makan siangnya.

Restoran ini tidak sulit ditemukan karena ada di pinggir jalan besar. Kalau lewat kota Tegal, pas di perempatan Mall dan McD, kita belok kanan. Nanti restorannya ada di sebelah kiri setelah Rumah Sakit. Di depan restoran ada lukisan besar dua perempuan yang melambangkan Ibu Djoe dan Tante Hoa. Bangunannya rumah dan parkirannya besar. Masuk ke dalam restoran, ada cerita tentang Ibu Djoe dan Tante Hoa yang digambarkan dalam bentuk komik.


Sunday, February 23, 2025

Roemah 36A Kopi dan Tanaman: Hidden Gem Jaksel

Bayangkan sebuah kafe yang menyatu dengan rumah dan taman. Itulah yang saya temukan di Roemah 36A Kopi dan Tanaman. Cerita ini bermula dari pertanyaan sederhana: “Mau WFC di mana?” Awalnya, saya penasaran, apa sih yang spesial dari tempat ini?


“Tau dari mana ada tempat ini?”
Saya, si tim nearby belum menemukan cafe rumahan ini karena tidak pernah buka maps di sekitaran RS. Fatmawati. Padahal hampir setiap hari lewat sana.
“Jadi, gue kalo naik ojek pulang suka lewat sini. Terus liat, apa tuh kayaknya lucu.”
Pantesan jalanannya bukan yang umum dilewati mobil.

Gimana ini maksudnya kopi dan tanaman?


Bio Instagram-nya yang mencantumkan “A coffee shop that can be your second home,” sepertinya serius. Soalnya, datang ke Roemah 36A Kopi dan Tanaman seperti mampir ke rumah teman. Ada kopi, dan ada puluhan pot tanaman di taman belakang. Dari pintu masuk, kita dihadapkan dengan meja kasir, etalase pastry and bungkus kopi yang ditempel di dinding. Ada papan pengumuman yang banyak post-it-nya. Pesan dulu.

Pesan apa?


Yang jelas Kopi. Americano ice di hari yang panas. Lalu Pempek. Jujur, pertama skeptis melihat apakah pempek yang disajikan di Roemah 36A Kopi dan Tanaman ini bisa enak. Soalnya, kalau bicara pempek saya ini lumayan pemilih. Tapi ternyata Pempek datang melebihi ekspektasi. Pempek Kapal Selam gendut, dengan cuka yang sesuai harapan, yaitu yang tidak terlalu manis. Jadi, begitu saya datang lagi ke sini, saya pesan Pempek lagi.

Namun, saya salah. Yang paling menyegarkan di sini bukan Ice Americano, tapi Soda Lemon Espresso. Minuman dingin yang satu ini wajib dicoba.


Ada makan berat juga, yang meski terlihat sederhana di menunya, rasanya enak. Ada Mie Goreng, Mie Godog, Nasi Goreng, Magelangan,Tongseng, hingga rice bowl Dori Sambal Matah. Di sudut belakang Roemah 36A Kopi dan Tanaman, di antara jajaran tanaman hijau, mata saya tertuju pada sebuah gerobak. Kalau scrolling Instagramnya, sebelum cafe renovasi, gerobak ini ada di depan. Ternyata, gerobak itu adalah dapur tempat semua hidangan dimasak. Persis seperti menikmati nasi goreng dari abang-abang gerobak langganan. Saat nasi gorengnya tiba di meja, rasanya pun tak jauh berbeda, otentik dan menggugah selera. Disajikan dengan porsi lumayan besar, bersama kerupuk, saya cuma sanggup menghabiskan setengahnya.

Oh iya, selain Pempek, Roemah 36A Kopi dan Tanaman juga punya sederetan makanan ringan termasuk risoles dan batagor. Mungkin next time bisa dicoba.

Sunday, January 26, 2025

Here We Go, To See the Snow in Brooklyn

Salah satu hal besar dalam daftar keinginan kami adalah melihat salju. Bukan hanya melihat, tetapi mengalaminya sendiri. Salju akhirnya turun di hari keenam bulan Januari, diikuti oleh badai musim dingin dan serangkaian penundaan penerbangan serta penutupan tempat wisata.


Beberapa fakta menarik tentang hari bersalju:
  • Cuaca lebih dingin sehari sebelum dan sesudahnya. Namun salju menghangatkan cuaca (sedikit sih, tetap saja udaranya dingin).
  • Garam biasanya digunakan untuk mencairkan salju di tempat umum, terutama tangga kereta bawah tanah, jalan raya, dan lainnya.
  • Baju jadi basah, meskipun tidak akan membuat Anda basah kuyup seperti hujan. Bawalah payung jika ingin tetap kering, dan kenakan sepatu anti air. Kenakan beberapa lapis pakaian yang hangat, tahan air, dan tahan angin. Apalagi jika ingin bermain di tempat bersalju.
Berapa banyak saljunya? Sebenarnya hanya sedikit sih, dan karena jalanan banyak yang sudah diberi garam, maka saljunya langsung mencair begitu menyentuh lantai. Namun, hari bersalju, tetap saja seru. Salju turun dalam bentuk butiran-butiran es kecil yang beterbangan di udara. Ukuran dan bentuknya bisa berbeda-beda, dari butiran halus seperti debu hingga kepingan salju yang lebih besar dengan pola kristal yang unik. Biasanya menempel di rambut saya, jadi terlihat keunikannya.

Namun, langit biasanya tertutup awan mendung berwarna abu-abu atau putih. Jadi buat kami yang sebenarnya ingin foto-foto langit, salju sedikit menjadi kendala.

Salju Pertama yang Turun di Bulan Januari


Di mana kami berada saat salju pertama mulai turun di New York City? Kami sedang menjelajahi Dumbo di daerah Brooklyn. Salju yang turun selama kurang lebih 3 jam itu memperkenalkan perspektif yang berbeda dari jembatan dan dunia di sekitarnya. Taman dan pohon kering memiliki wajah baru, karena tertutup warna putih. Begitu pula dengan batu-batu di tepi sungai dan bangku-bangku di luar ruangan.


Sejujurnya, hari bersalju lebih cantik dinikmati di Central Park, tapi kami sudah pergi hari sebelumnya dan hari itu jadwalnya ke Brooklyn Bridge.

Bagaimana caranya untuk pergi ke tempat dengan pemandangan Brooklyn Bridge yang bagus?
  • Gunakan Subway A atau C dengan tujuan ke High St, F dengan tujuan ke York St, 2 atau 3 dengan tujuan ke Clark St.
  • Jalan kaki ke Time Out Market New York. Kurang lebih perjalanan memakan waktu 10 menit, tapi jadi lebih lama karena hari itu bersalju. Jadi jalan juga harus lebih pelan.
  • Keluar dari Time Out Market New York lewat pintu belakang, menuju Jane’s Carousel dan nikmati pemandangannya!
Ada lebih banyak tempat dengan pemandangan Manhattan yang menakjubkan dari area tersebut. Periksa Google Maps Pinpoints yang berbeda like Brooklyn Heights Promenade, Pebble Beach, Dumbo Manhattan Bridge View, New York City Elevated View Point, atau Brooklyn Bridge Lookout. Beberapa di antaranya ada dalam daftar keinginan kami untuk berfoto, tetapi cuaca bersalju tidak membantu memudahkan perjalanan kami. Jadi, kami hanya stay di area belakang Time Out Market New York.

Lalu, masuk lagi mencari kehangatan dan makan siang.

Makan Siang di Time Out Market New York, Worth It?

Tuesday, January 21, 2025

Laguna Beach Weekend Escape

Laguna Beach, hidden gem yang terletak di sepanjang pantai Southern California, di antara Los Angeles dan San Diego. Wait, let me rephrase that. Laguna Beach adalah pantai. Iya, satu destinasi dari sederetan pantai yang ada di Southern California.


Dalam perjalanan menuju Laguna Beach, kami melewati beberapa pantai lainnya: Seal Beach, Huntington Beach, dan Newport Beach. Masing-masing pantai punya ceritanya sendiri. Seal Beach yang santai dan cenderung lebih sepi dari dua pantai lainnya. Huntington Beach cenderung lebih edgy dengan open market dan deretan classic car di public parking pantainya. Newport beach yang lebih modern dan banyak tempat shoppingnya.

Laguna Beach adalah gabungan dari itu semua. A little bit of everything.

Rewind sejenak. Kami memutuskan untuk mengambil jalan yang sedikit memutar menuju Laguna Beach dari Los Angeles. Melewati I-710 South, lalu pindah ke Pacific Coast Highway alias California State Route 1 di Long Beach. California 1 adalah highway legendaris yang membentang di sepanjang garis pantai California. Menyetir di Pacific Coast Highway berarti bertemu pemandangan Samudra Pasifik yang menakjubkan, tebing yang dramatis, dan pantai yang indah. Karena kita rutenya ke selatan, jadi tebing yang dramatis hampir tidak ada, dan Samudra Pasifik juga tidak seindah jalur yang ke utara.


Jalan ikonik ini membentang sepanjang 650 miles di coastline California dan kami hanya melewati sekitar 35 miles dari Long Beach hingga Aliso Beach, sedikit lebih selatan dari Laguna Beach. Jalanan ini memutar, tapi pemandangannya bagus. Scenic Drive. Ada sekitar 45 menit hingga 1 jam extra yang harus diluangkan untuk menyusuri jalanan ini. Jadi, rencanakan baik-baik perjalanannya.

Pergi ke Pantai yang Mana?

Laguna Beach sudah pasti menjadi destinasi. Namun, jika ingin benar-benar ke pantai dan menikmatinya, carilah pantai yang lebih sepi daripada Laguna Main Beach Park. Ada Thalia Street Beach, Victoria Beach, and the Pirate Tower, Treasure Island Beach, serta Aliso Beach. Sebenarnya, ada banyak belokan ke pantai yang bisa dikunjungi di sepanjang jalan North Coast Highway itu. Kalau punya waktu lebih, dan udara sedang bersahabat, disarankan untuk mampir.