Showing posts with label Jakarta. Show all posts
Showing posts with label Jakarta. Show all posts

Saturday, June 6, 2026

Java Jazz Festival 2026 dan Rekomendasi Jalan-Jalan di PIK 2

Setelah lebih dari satu dekade, saya kembali lagi menghadiri Java Jazz Festival. Setelah berpindah-pindah lokasi beberapa kali, tahun ini Java Jazz Festival 2026 menempati rumah barunya di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2. Jujur reaksi pertama saya adalah “jauh” karena saya adalah tim lintas provinsi. Dari Depok ke Jakarta lalu ke Banten hahaha.

Untuk mencapai tempat ini, saya perlu alasan yang kuat dan ternyata Java Jazz-lah yang membawa saya pertama kali ke venue ini. Selama ini Java Jazz identik dengan akhir pekan yang dihabiskan berpindah dari satu panggung ke panggung lain. Sekarang selain di venue, ada kesempatan menjelajahi salah satu kawasan rekreasi paling berkembang di utara Jakarta.

Sebelum kita keliling kota, ada baiknya kita intip dulu venue Java Jazz Festival 2026 ini seperti apa sih?

Mengenal Venue: NICE PIK 2

Terletak di kawasan Pantai Indah Kapuk 2, Nusantara International Convention Exhibition (NICE) menjadi salah satu venue terbaru berskala besar yang dirancang untuk mengakomodasi berbagai acara internasional, mulai dari pameran, konferensi, hingga festival musik. Venue yang mulai beroperasi pada Agustus 2025 ini menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan lokasi festival yang biasanya berada di pusat kota atau kawasan perkantoran.




Yang membuat pengalaman menghadiri Java Jazz Festival 2026 di NICE PIK 2 terasa istimewa adalah lingkungan sekitarnya. PIK 2 saat ini lebih terasa sebagai tujuan wisata. Kalau saya, biasanya mampir ke PIK 2 buat makan sebelum atau sesudah dari bandara. Tempat menunggu kalau mau menjemput teman, terutama kalau mendaratnya dengan penerbangan malam.

Cara menikmati Java Jazz Festival 2026 sekaligus menjelajahi PIK 2 dalam satu hari.

Pertanyaan yang paling utama datang pertama: “Naik apa ke NICE?” Ke PIK 2-nya saja sudah rumit kendaraannya, meskipun sekarang ada busway hingga Pantai Maju. Bagaimana dengan PIK 2 bagian ujung sebelah sana yang punya exit tol terpisah itu? Pilihan pertama ya jelas Transjakarta. Setelah tiba di kawasan PIK, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan layanan shuttle bus internal atau transportasi online.

Namun, jujur yang paling mudah memang naik mobil pribadi. Kecuali jika eventnya seperti Java Jazz yang menyediakan Shuttle dan rute spesial Royal Trans ke daerah strategis di pusat kota. Shuttle-shuttle ini adalah pilihan terbaik dan termurah haha. Sebenarnya, daerah PIK 2 ini areanya menyenangkan untuk berjalan kaki. Hanya saja cuacanya panas di siang hari dan jarak yang ditempuh dari satu titik ke titik lain bisa jadi lumayan jauh.

Salah satu alasan banyak orang datang ke PIK bahkan tanpa menghadiri acara apa pun adalah pilihan kulinernya. Favorit saya dan keluarga biasanya ada di sekitaran Pantjoran PIK dan Pantai Maju. Lalu akhir-akhir ini saya senang mampir ke Indonesia Design District yang juga banyak pilihan makanan.

Jika ingin menghabiskan satu hari di PIK 2 sekalian pergi ke event seperti Java Jazz Festival, ini itinerary-nya. Itinerary ini dibuat berdasarkan asumsi bahwa kita bepergian menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi online.


09.00 WIB

Sampai PIK pagi-pagi jadi belum panas dan ada banyak tempat yang cocok buat memulai hari misalnya Monsieur Spoon Riviera Aloha PIK 2. Restoran ini penuh kalau sudah siang menjelang sore. Jadi, datang pagi-pagi untuk sarapan atau brunch mungkin adalah pilihan yang tepat. Lokasi tempat ini dekat dengan pantai, dan menyajikan menu makanan yang sudah familiar. Selain itu, tempatnya juga fotogenik kalau mau sekalian update content.

Kalau mau berhenti di area depan PIK 2, di sekitaran By The Sea dan Pantai Maju ada Native Tribe East Coast dan Jordnära Cafe yang bisa jadi pilihan brunch sebelum menjelajah PIK 2 lebih lanjut. Di sekitaran NICE sendiri, cafe yang buka pagi ada Fillmore Coffee Orange Groves dan Titik Temu Brew Bar di Indonesia Design District.




10:30 WIB

Jalan-jalan di Land’s End atau Aloha. Dibandingkan Pantai Maju, dua tempat ini lebih menyenangkan kalau buat sekedar jalan-jalan dan menikmati pemandangan. Di Land’s End ada mercusuar yang ikonik, sementara di Aloha pantainya panjang meskipun tidak bisa dipakai main.





Malas ke pantai? Di dekat NICE ada La Riviera PIK 2 - Kota Belanda yang rukonya cocok buat foto-foto instagramable. Masalahnya hanya tempat ini panas kalau matahari sudah tinggi. Yang lebih teduh adalah area Orange Grooves PIK 2. Lokasinya cocok untuk berjalan santai, berolahraga ringan bersama keluarga, atau sekadar menikmati udara terbuka di tepi sungai.

Sunday, May 10, 2026

Sabtu Pagi Nostalgia di Jalan Surabaya

Apa yang pertama terlintas di pikiran saat mendengar kata “Jalan Surabaya?” Barang antik? Coffee shop indie? Mural unik?

Bahan tulisan traveling buat posting minggu ini sudah habis. Terus gimana? Kalau browsing cerita teman-teman atau scrolling IG di sana sini, banyak yang sedang ikutan walking tour. Kayaknya kok seru ya? Karena itulah, ketika diajakin teman staycation (gegara dia book airbnb salah tanggal), saya memutuskan buat mencoba jalan-jalan sendiri menyusuri Jalan Surabaya.

Sabtu pagi itu Jalan Surabaya lumayan ramai karena ada beberapa walking tour yang sedang berlangsung. Udara belum terlalu panas ketika saya mulai berjalan pukul 9 pagi.


Kalau dilihat sejarahnya, Jalan Surabaya ini sebenarnya adalah bagian dari rencana pemerintah Kolonial Belanda untuk mengembangkan tuinstad (kota taman) yang dirancang oleh arsitek P.A.J. Moojen pada awal abad ke-20. Menteng pada saat itu adalah kawasan pemukiman kelas atas untuk pejabat dan warga Eropa. Di tahun 1960an, banyak rumah besar di Menteng yang mulai berganti kepemilikan dan barang-barang mewah yang dimiliki dijual. Para pedagang asongan yang pada awalnya berpindah-pindah mulai menetap atas inisiatif Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, di tahun 1974.

Penataan kios-kios permanen di sepanjang satu sisi Jalan Surabaya ini bertujuan agar para pedagang tidak berjualan di trotoar dan merusak estetika kawasan Menteng.


Jalan Pagi Untuk Ketemu Kopi

Pagi itu, perjalanan saya dimulai dari perempatan Jalan Surabaya dan Pangeran Diponegoro. Saya berhenti di Nwansa Coffee sebuah kedai yang nyempil di pengkolan, di antara toko-toko yang tertutup rolling door. Kedai kopi itu ramai pengunjung di Sabtu pagi, ternyata sedang ada walking tour yang beristirahat di sana. Mau duduk buat people listening dan ngonten jadi gagal.

Nwansa Coffee memberikan kesan jadul, dengan koleksi LCD dan DVD, serta telepon kabel yang ada di raknya. Cafe-nya sendiri hanya muat untuk beberapa orang, tapi merupakan tempat perhentian yang populer bagi mereka yang bersepeda atau komunitas lari. Saya memesan Ice Americano, karena merencanakan untuk membawa minuman sambil melanjutkan perjalanan. Untuk Americanonya sendiri, ada dua pilihan beans dan saya memilih yang bukan rekomendasi baristanya, karena saya bukan fans beans yang fruity. Tetap enak kok kopinya, harganya juga terjangkau.



Coffee Shop di Jalan Surabaya ada beberapa. Yang paling terkenal adalah Giyanti. Saya dulu pernah ke Giyanti sebelum tempatnya viral dan terkenal. Giyanti adalah salah satu destinasi kopi artisan terbaik yang menawarkan berbagai pilihan biji kopi berkualitas tinggi. Tempatnya artistik dengan interior vintage yang unik, lengkap dengan perpaduan furnitur kayu, tanaman hijau. Tempat ini cocok buat duduk, brunch dan ngopi bersama teman-teman. Tempat ini sekarang sudah populer, lengkap dengan fasilitas valet parking. Selain kopi, yang membekas di ingatan saya tentang tempat ini adalah pastry-nya.



Yang terbaru di jalanan ini adalah Common Grounds yang ada di ujung jalan berlawanan dengan Nwansa Coffee. Common Grounds adalah salah satu roastery dan cafe yang familiar bagi warga Jakarta, karena seringkali ditemukan di mall. Cafe modern dengan tempat yang nyaman untuk WFC ini memberikan kesan berbeda dengan Giyanti dan Nwansa Coffee yang lebih melokal.

Selain ketiga tempat itu, satu coffee shop yang bikin penasaran untuk dikunjungi adalah IniLoh Kopi. Sebenarnya ini bukan Coffee Shop sih karena bentuknya hanya kios dengan jendela terbuka di mana kita bisa memesan kopi. Hanya bisa to go atau duduk di pinggir jalan. Menunya pun sederhana. Konsep ini sering saya temukan di negara tetangga. Sayangnya hari itu saya sudah pegang kopi.


Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, perjalanan saya menyusuri Jalan Surabaya ini agak terbalik. Seharusnya saya mulai dari ujung Cikini baru ke perempatan jalan Pangeran Diponegoro. Jadi bisa lihat-lihat kanan kiri dulu sebelum berhenti di Nwansa Coffee untuk istirahat dan people listening.

Friday, May 8, 2026

Hidden Gem Cikini: Dua Nuansa Jepang dalam Satu Kawasan

Bicara kawasan Cikini, yang pertama terlintas di pikiran pasti Taman Ismail Marzuki. Kali ini berbeda. Cikini selalu punya cara untuk menghadirkan suasana tenang di tengah hiruk-pikuk Jakarta, terutama bagi siapa saja yang ingin melarikan diri sejenak untuk mencari inspirasi. Padahal ada Stasiun yang sibuk, jalur satu arah yang sering macet. Jalanan yang padat dengan warung, restoran, jajanan dan segala kekacauan tumpah ruah di jalan.

Penjelajahan kali ini membawa saya mengunjungi dua destinasi kuliner Jepang yang memiliki jiwa berbeda namun sama-sama menawarkan kenyamanan. Kedua tempat ini membuktikan bahwa pesona kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ruang mampu bercerita.


Tapi ya, saya harus berterima kasih pada Taman Ismail Marzuki soalnya saya menemukan kedua tempat ini gara-gara apa, teman-teman? Betul… gara-gara buka fitur nearby Google Maps pas lagi di Taman Ismail Marzuki.

Let’s go!

Kikugawa Resto
Jl. Cikini IV No.20, RT.15/RW.5, Cikini, Menteng, akarta Pusat 10330
Buka: Setiap hari jam 11.30 am–2.30 pm (lunch) dan 5.30–9.30 pm (dinner)

Menemukan restoran ini secara tidak sengaja karena bingung mau makan siang di mana sebelum nobar film Detektif Conan. Karena Dudu suka makanan Jepang, kita belok ke Cikini IV mencoba Kikugawa. Restoran Jepang rumahan yang nyempil di bawah rel kereta di jalan R.P. Soeroso. Ternyata restorannya tradisional, suasananya autentik dan makanannya enak.

Didirikan pada tahun 1969 oleh Kikuchi Surutake, Kikugawa adalah salah satu restoran Jepang tertua di Jakarta. Restoran ini menempati sebuah rumah, dengan exterior dan interior khas Jepang. Bangunan restoran mempertahankan gaya klasik dan vintage, yang kental dengan nuansa rumah tua. Tidak ada penanda resto yang visible, hanya tulisan Kikugawa di depan, jembatan lengkung berwarna merah cerah, papan info khas Jepang dan tirai kain tradisional Jepang atau noren dengan karakter kanji warna hitam. Masuk ke dalam melewati pintu geser seperti masuk ke dunia lain. Interiornya didominasi oleh elemen kayu, dan dekorasi tradisional Jepang.


Yang perlu diperhatikan kalau berkunjung ke Kikugawa adalah parkir mobil terbatas hanya untuk 1-2 mobil, jadi biasanya kita parkir di pinggir jalan. Selain itu jam buka yang ada jeda di sore hari juga perlu diingat agar bisa merencanakan kunjungan dengan baik.

Bagaimana dengan makanan? Karena saya dan Dudu lapar, jadinya kita pesan bento set. Saya pesan Kikugawa Set A (Rp. 137,000) yang isinya Fried Chicken Katsu dan Grilled Fish Fillet. Ternyata kekenyangan karena set berarti dapat nasi dan miso sup juga. Sementara Dudu pesan Kikugawa Set B (Rp. 153,000) yang isinya Grilled Beef dan Grilled Chicken. Habis itu nambah Gyoza isi 5 (Rp. 45,000) dan Tamagoyaki (Rp. 39,000). Kalap duluan karena terbawa suasana haha.



Menurut saya, Grilled Fish Fillet-nya juara. Rasanya seperti comfort food, tidak terlalu asin dan tidak terlalu manis. Ketika saya berkunjung kembali ke Kikugawa, grilled fish ini selalu jadi pesanan wajib. Kalau ditanya ke Dudu, jawaban dia sudah pasti, “enak kok, Mah” soalnya dia juga suka makanan Jepang. 

Sunday, May 3, 2026

Menemukan Jeda di Perpustakaan Jakarta

Kenapa Mengunjungi Perpustakaan?
Pada awalnya, saya hanya memandang perpustakaan ini dari depan pintu.

Saya pertama kali mengetahui keberadaan perpustakaan ini ketika sedang mengikuti kursus bahasa Korea. Namun perpustakaannya selalu tutup, karena les saya setelah jam kerja.


Ironisnya, saya baru bisa berkunjung ke sini setelah saya tidak lagi mengikuti kursus bahasa di sana. Itu pun perlu keberanian memasuki perpustakaan yang satu ini, karena penuh buku-buku berbahasa asing. Terasa ada beban berat ketika saya sebenarnya belum fasih-fasih amat dan hanya bisa memahami cerita di buku anak-anak saja.

Sejak saat itu, cara saya memandang perpustakaan di Indonesia ini berubah. Di dunia serba digital ini, mengunjungi perpustakaan menjadi sebuah tujuan traveling. Baik di kota sendiri maupun di kota tujuan. Banyak perpustakaan yang berlokasi di gedung bersejarah atau gedung modern dengan arsitektur unik. Sebagian perpustakaan juga lokasinya tersembunyi, jadi kalau mau berkunjung ke sana ya memang harus menjadikannya bagian dari itinerary.

Untuk saya, perpustakaan ini menjadi sanctuary, alias tempat untuk istirahat sejenak ketika traveling menjadi overwhelming. Perpustakaan menyatukan buku, budaya dan bahasa dalam satu ruang. Saya bisa menjelajahi rak-rak buku, menemukan buku-buku asing, dan mengikuti rasa ingin tahu ke mana pun dia pergi. Saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan ditemukan. Jadi kayak adventure sendiri.

Perpustakaan yang saya ceritakan tadi di awal adanya di dalam pusat kebudayaan Korea. Terletak di Korean Culture Center, Equity Tower, Jakarta, perpustakaan pusat kebudayaan Korea ini memiliki koleksi yang cukup lengkap. Dari novel, buku sejarah, buku anak hingga manhwa alias komik Korea. Masuk ke perpustakaan ini buat saya seperti pindah negara haha. Kalo ingin jalan-jalan ke Korea, ya mampir ke sini saja. Meskipun kecil, tapi tempatnya nyaman. Di satu sudutnya ada meja tempat membaca (atau buka laptop), dengan jendela besar menghadap ke hiruk pikuk kawasan SCBD.

Sunday, April 5, 2026

3 Coffee Shop Pilihan WFC Daerah Pondok Indah

Apa syaratnya tempat yang enak buat duduk dan kerja? Tempat yang bikin mood jadi bagus dan menulis jadi lancar? Well, sejak jadi freelancer, saya jadi suka mencoba beberapa tempat untuk bekerja seharian. Setidaknya, saya akan stay 4-5 jam di satu lokasi. Karena akhir-akhir ini jalanan macet, jadi ya saya WFC-nya tidak jauh-jauh dari TB Simatupang. Salah satu area yang bisa saya kunjungi tanpa memusingkan ganjil genap adalah Pondok Indah.

Pondok Indah Mall (PIM) memiliki banyak cafe dan coffee shop yang sangat WFC-friendly. Mulai dari Tous Les Jours dan Paris Baguette hingga Starbucks dan Joe & Dough, semuanya lengkap di sini. Bahkan sebenarnya di foodcourt PIM 3 pun bisa WFC karena wi-fi gratis yang ada di mallnya. Ada kalanya ke mall bukan solusi, jadi saya mencari cafe rumahan, atau yang setidaknya bukan bagian dari mall, tapi tetap WFC-friendly. Di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan, ada tiga coffee shop yang sering saya kunjungi, yaitu Common Grounds - Pondok Indah Plaza, Little Contrast Pondok Indah, dan Kopi Ketjil - Pondok Indah.

Common Grounds - Pondok Indah Plaza

Pondok Indah Plaza 2 No. 23, Duta Niaga Sektor II, Blok BA, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12310
Harga: Americano/Long Black: Rp45,000; Latte Rp 50,000

Cafe chain yang modern-cozy. Ada 2 lantai. Di bawah lebih casual dengan meja persegi & display pastry. Banyakan orang ngumpul, ngobrol, hangout di sini. Di atas lebih luas buat kelompok atau kerja. Spesialis kopi roasted fresh. Coffee shop ini punya all-day breakfast & Western food (pizza, pasta, burger, eggs benedict). Karena lokasinya di dalam komplek Pondok Indah Plaza, cafe ini mudah diakses baik dengan kendaraan pribadi maupun ojek online. Tempat parkir juga banyak dan busway stop pun relatif dekat.

Dari sudut pandang WFC, Common Grounds punya keunggulan besar di ambience yang inviting dan clean. Yah sama sih, seperti cafe-cafe di mall atau yang sudah punya nama besar. Makanan berat yang tersedia menjadi nilai plus karena saya bisa stay lama tanpa kelaparan, atau bisa bekerja melewati jam makan siang. Tapi, siap-siap mengeluarkan biaya lebih ya.

Kelemahan cafe ini ada di kursinya yang kalau sudah beberapa jam duduk, terasa tidak nyaman. Lalu, potensi keramaian yang ada. Cafe ini cukup populer, jadi kadang banyak ibu-ibu pulang antar anak sekolah, bapak-bapak financial freedom yang terlihat ngomongin business. Common Grounds cocok untuk sesi WFC 2-4 jam di mana saya butuh kombinasi kopi enak dan makanan lengkap, tapi kurang ideal untuk full day work yang butuh ketenangan total dan koneksi super stabil.

Sunday, February 22, 2026

Mencoba Jelajah Jakarta Tanpa Mobil: Keluar dari Zona Nyaman Demi Tempat Tujuan

Saya mampir tempat-tempat ini hanya ketika saya tidak naik mobil.

Selama ini, saya lebih sering melihat Jakarta dari dalam mobil. Udara selalu dingin karena AC, suara musik dari radio, dan bau wangi dari gantungan di bawah kaca. Saya lebih sibuk menghindari kendaraan lawan arah, pejalan kaki yang menyebrang sembarangan, dan hal-hal lain yang membuat perjalanan di Jakarta jadi lebih seru.


Karena ini jugalah, ada beberapa tempat yang biasanya hanya saya datangi saat tidak membawa mobil. Biasanya tempat-tempat ini adalah yang lokasinya mudah dijangkau transportasi umum dan tidak punya tempat parkir.

Buat saya, tempat-tempat ini spesial. Soalnya jumlah saya pergi tanpa mobil pribadi tuh bisa dihitung jari.

Kota Tua Jakarta

Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat nostalgia sekaligus wisata sejarah. Biasanya populer di akhir pekan atau musim liburan sekolah. Selain museum, dan gedung bersejarah yang ada di sekitar Lapangan di depan Museum Fatahillah, ada seniman jalanan, sepeda ontel warna-warni, dan aroma kopi yang ikut meramaikan suasana. Kalau ke sini, saya lebih suka naik transport umum lalu jalan kaki berkeliling. Soalnya, parkirannya lumayan sulit ditemukan dan banyak parkir liar yang bikin insecure.


Stasiun KRL terdekat adalah Stasiun Jakarta Kota. Keluar stasiun tinggal nyebrang lalu berjalan lurus sekitar 300 meter sampai ke Lapangan di depan Museum Fatahillah. Dulu, sebelum pembangunan MRT, Halte Kota adalah tempat transit yang paling sering dikunjungi karena rute busway saya adalah koridor 1 ke koridor 12. Sekarang, haltenya tinggal kenangan. Tapi, Halte Busway Kota Tua jadi ada 2, yaitu:
  • Kota (Koridor 1 dan 12) yang letaknya persis di depan Stasiun Jakarta Kota
  • Kali Besar Barat yang letaknya di depan Toko Merah

Sunday, February 15, 2026

Festival Kebhinekaan: Perjalanan Seminggu Menghargai Perbedaan

Saya selalu percaya bahwa traveling bukan cuma soal pindah lokasi dan mengumpulkan foto dengan latar belakang berbeda, tapi tentang apa yang saya bawa pulang. Mulai dari cara pandang baru, rasa ingin tahu, atau pertanyaan-pertanyaan kecil tentang hidup. Semua adalah sesuatu yang saya temukan di tempat tujuan, yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan saya.

Karena itulah, terkadang kalau membuat itinerary, saya suka menyelipkan hal yang unik. Saya lebih tertarik ikut kelas memasak di negeri orang, atau berjalan kaki tanpa tujuan jelas menyusuri satu sudut kota sendiri. Kalau ada walking tur, biasanya saya senang ikutan juga. Dengan melakukan ini, saya mendapatkan insight yang berbeda, lebih personal dan lebih punya cerita untuk dituliskan.

Perjalanan hari ini ceritanya tidak jauh-jauh dari tempat tinggal. Masih seputaran Jakarta juga. Cerita hari ini adalah pengalaman saya ikutan anjangsana alias silaturahmi lintas iman di Festival Kebhinekaan.

Awal bulan kemarin saya menemukan yang namanya Festival Kebhinekaan. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan untuk merayakan keberagaman Indonesia dan memperkuat toleransi lintas iman ini sudah memasuki tahun ke-9. Sayangnya saya baru tahu bulan ini. Dalam festival ini, ada rangkaian kegiatan seperti kunjungan ke berbagai rumah ibadah lintas agama, anjangsana ke komunitas keagamaan serta dialog antar kelompok masyarakat. Tujuannya untuk berkenalan serta memupuk toleransi dan empati.

Tiga destinasi Anjangsana Kebhinekaan yang ada di jadwal festival tahun ini adalah Komunitas Penghayat Kapribaden Jawa di Limo, Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di Tebet, dan Jemaat Buddha Nichiren Jepang melalui kunjungan ke Kuil Hoseiji di Manggarai. Acara-acara ini semuanya gratis.

Berkumpul di Kuil Hoseiji

Cerita Perjalanan ke Tiga Kunjungan

Sunday, May 11, 2025

Lokasi Wisata Sepanjang Busway Koridor 1

Saya bukan pengguna transportasi umum, tapi saya (akhirnya) naik busway. Yang paling sering saya tumpangi adalah busway koridor 1. Selain main dating apps di bis, saya juga senang memperhatikan jalan. Setelah sekian lama absen, dua bulan terakhir ini saya jadi sering naik busway. Parkir di Blok M Plaza, lalu lanjut dengan busway jalan-jalan keliling Jakarta. Ada rasa nostalgia karena jaman masih jadi pegawai kantoran dulu, saya bisa tiap hari naik koridor 1.

Ini adalah tempat-tempat yang bisa dikunjungi dengan naik busway koridor 1. Bukan daftar yang lengkap, karena ini hanya halte yang benar-benar pernah saya kunjungi. Tapi, setidaknya bisa memberi gambaran.


Halte: Blok M/ ASEAN/ Kejaksaan Agung
Tempat tujuan: M Bloc dan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu

M Bloc Space adalah daerah kekinian yang populer dengan anak muda saat ini. Bertempat di bekas kompleks perumahan pegawai Peruri, lokasi ini adalah perpaduan unik antara ruang terbuka hijau, toko-toko ritel yang menjual produk lokal dan unik, berbagai pilihan kuliner. Biasanya saya ke sini untuk menghadiri event atau acara komunitas. Tempat ini ramai di akhir pekan atau sore hari sepulang kerja.

Di seberangnya, tepat di bawah stasiun MRT Blok M, ada Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Taman ini adalah ruang publik yang mendorong minat baca dan kegiatan literasi bagi berbagai kalangan. Ada banyak event membaca yang diadakan di amfiteater mini taman ini. Namun, buat saya, taman ini adalah lokasi menunggu busway sambungan ke arah Pondok Labu haha.

Halte: Senayan Bank DKI/ Polda Metro Jaya
Tempat tujuan: GBK

Ini dulu halte favorit, alias sering banget disamperin karena saya pernah jadi mbak-mbak SCBD. Jadi kalau pulang kantor selalu naik koridor 1 dari halte Senayan Bank DKI yang kayaknya dulu bukan ini namanya haha. Begitu juga dengan konser-konser dan acara di area GBK yang mengharuskan saya naik transport umum supaya tidak kena macet pada saat bubarannya.


Dari Halte ini kita bisa ke GBK, yang sekarang ada Hutan Kota. Bisa ke fX Sudirman atau ke area SCBD.

Halte: Bundaran HI Astra
Tempat tujuan: Bundaran HI, Grand Indonesia, Plaza Indonesi
a

Selain tentunya kita bisa ke Bundaran HI, halte ini sering jadi tempat wisata karena adanya sky deck dengan pemandangan Sudirman dan Patung Selamat Datang. Kalau di Google Maps namanya Bundaran HI Viewing Platform. Halte ini juga yang terdekat dari pusat perbelanjaan Plaza Indonesia. Bisa jalan kaki juga ke Grand Indonesia, walaupun kalau ke mall yang ini, atau ke underpass jalan Kendal, saya lebih suka turun di Tosari.

Dibandingkan halte Bundaran HI, saya lebih sering berhenti di Halte Sarinah atau yang sekarang namanya MH Thamrin. Jarak kedua halte ini tidak terlalu jauh, sekitar 750 meter dan kurang lebih 10-15 menit jalan kaki di trotoar nyaman. Di halte MH Thamrin ada pusat perbelanjaan Sarinah dan Jalan Sabang yang terkenal dengan kulinernya.

Halte: Monumen Nasional
Tempat tujuan: Monas, Museum Nasional


Dari Halte Monas, Museum Nasional hanya beberapa menit jalan kaki. Namun, museum ini bukanlah tujuan utama saya sering turun di halte Monas. Dulu, ketika masih sering naik busway, saya biasanya tukar ke Koridor 12 di Halte Kota. Masalahnya Koridor 12 ini sering PHP alias memberikan harapan palsu bahwa buswaynya masih ada. Bus mereka terakhir jam 10 malam, namun terkadang, jam 9.30 sudah tidak ada lagi. Jadi, kalau saya pulang di atas jam 9, saya akan turun di Monas dan tukar ke koridor 2 untuk pindah lagi ke koridor 10, karena kedua koridor itu sampai jam 12 malam.

Bulan puasa kemarin, saya kembali naik busway ini karena ada acara komunitas di Museum Nasional dan ternyata menyenangkan. Dari halte, kita hanya perlu menyeberang jalan, lalu masuk ke museum. Begitu juga dengan ke Monas. Halte ini adalah salah satu yang populer di hari libur, jadi kalau naik busway di akhir pekan, siap-siap tidak kebagian tempat duduk.

Halte: Kali Besar / Museum Sejarah Jakarta
Tempat tujuan: Kota Tua


Kalau turun di Halte Kali Besar, kita bisa foto-foto di toko Merah yang ada di seberang jalan. Kalau turun di Halte Museum Sejarah Jakarta, kita akan melewati daerah ramai depan Stasiun Kota dan langsung menemukan museumnya. Jarak kedua halte ini ke area lapangan di tengah Kota Tua kurang lebih sama.


Halte Kali Besar ini juga adalah tempat kita turun kalau mau pergi ke Museum Bahari. Walaupun jalan kakinya sekitar 1 kilometer dan mendaki gunung melewati lembah, serta menerjang panas terik daerah pelabuhan, tapi masih bisa dijalani.

Menjelajahi Jakarta menggunakan busway koridor 1 adalah pengalaman menyenangkan. Hanya saja, hindari jam-jam padat seperti berangkat dan pulang kantor. Atau hari libur siang-siang. Sebagai pengguna transportasi umum pemula, saya senang dengan Koridor 1 karena punya banyak tempat yang bisa digunakan untuk parkir mobil seperti Blok M atau mall-mall dan hotel di seputaran Bundaran HI.

Bisa dicoba kalau sedang malas menembus kemacetan Sudirman-Thamrin dengan mobil pribadi atau terhalang ganjil-genap sampai tempat tujuan.

Friday, May 9, 2025

Cerita Sebuah Rumah Mewah di Selatan Jakarta

Konsep Work From Cafe (WFC) yang jadi populer sejak COVID ini memberikan alternatif bagi mereka yang bosan dengan suasana monoton. Pergantian atmosfer kerja ini penting buat saya, karena dapat memicu kreativitas, mengurangi stres, dan memberikan perspektif baru. Bahkan mood menulis juga dipengaruhi oleh suasana yang ada.

Salah satu tempat yang akhir-akhir ini sering saya kunjungi adalah cafe yang sebenarnya adalah rumah. Keduanya saya tahu dari teman, namun ketagihan datang, sehingga saya kembali lagi untuk beberapa kesempatan berikutnya. Dua rumah ini hadir dengan keunikannya masing-masing. Jadi, tergantung apa yang ingin dicapai, mood seperti apa yang ingin dibangun, dua tempat ini bisa jadi pilihan WFC berikutnya.


Saya sering bercanda bahwa untuk jadi orang kaya, kita harus manifestasi dulu. Makanya saya suka kerja di rumah ini. Manifestasi sendiri maksudnya mengubah pikiran dan keyakinan menjadi kenyataan melalui fokus, afirmasi, dan visualisasi positif. Untuk itu harus ada yang terlihat: rumah mewah di Andara.

Saat memasuki gerbang The Manor Andara, kesan pertama yang menyambut adalah kemegahan dan ketenangan yang berbeda dari hiruk pikuk jalanan di luar. Kalau masuk dengan berjalan kaki mungkin lebih dramatis karena ada suara gemericik air dari air mancur di dekat gerbang utama. Apalagi kalau jalan kaki langsung berbelok menyeberangi taman.

Konon, awalnya tempat ini dikenal sebagai wedding venue. Ya, kalau melihat wujudnya sih tidak heran. Mengusung konsep bangunan seperti rumah besar bergaya Eropa klasik, dengan pilar-pilar megah dan taman yang asri. Ada beberapa bangunan di sana, selain rumah utama yang mengingatkan saya pada film Crazy Rich Asian itu. Salah satunya ternyata cafe. Suasana di The Manor Cafe terasa tenang dan elegan, dengan pilihan area indoor dan outdoor. Terutama di weekdays, karena sepi, jadi serasa rumah milik sendiri. Meskipun ada area outdoor, yang pemandangannya langsung ke air mancur dan taman yang luas, saya lebih suka ada di indoor. Soalnya, cuaca di Andara itu panas.

The Manor Cafe menawarkan beragam pilihan menu, mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Harganya cukup menguras kantong, namun untuk beberapa menu, terutama menu Indonesia, porsinya sebanding dengan apa yang dibayarkan. Yang paling saya suka dari menu di The Manor adalah “Indonesian Platter” yang isinya pisang goreng, singkong goreng dan bakwan goreng. Biasanya kalau datang, saya lebih suka sudah makan siang kenyang di luar lalu sibuk ngemil dan ngopi di sini sampai matahari terbenam.


Namun, jika memutuskan untuk makan siang atau makan malam di sana, saya akan memilih Nasi Goreng Kampung. Selain dapat ayam, menu ini juga dilengkapi dengan sate, telur mata sapi dan kerupuk. Sebenarnya, pastanya juga enak sih. Tapi untuk yang terbiasa makan nasi, porsinya termasuk kecil dan pasti tidak kenyang.

Beberapa hal yang perlu disiapkan kalau WFC di sini adalah:
  • Colokan yang lumayan jarang. Tidak semua meja punya colokan, hanya beberapa yang berada di sisi jendela yang menghadap ke taman. Namun, karena The Manor Cafe ini biasanya sepi, saya tidak pernah kesulitan mendapatkan tempat duduk idaman.
  • WCnya jauh. Kalau hujan, kita harus pakai payung untuk ke WC yang letaknya dekat kolam renang.
  • Bisa grounding di taman kalau stress. Tapi, hati-hati dengan nyamuk ya.
  • Parkirannya luas, hanya saja, kalau ada event, kita bisa tidak kebagian parkir.
Ketika menulis postingan ini, saya sudah tiga kali ke The Manor Andara & The Manor Cafe. Ketiganya memiliki pengalaman yang berbeda.

Pertama kali ke sana, saya datang sore hari, bertemu teman dan hanya mencoba kopi serta pastry. Selain meja kami, ada dua sampai tiga meja lain yang terisi. Kedua kalinya saya ke sana, meja saya adalah satu-satunya yang terisi. Kami sering melihat beberapa orang datang untuk melihat venue dan memesan kopi untuk takeaway, tapi tidak ada yang stay dan duduk di meja. Kami datang di siang hari dan stay sampai Cafe-nya tutup.


Kunjungan ketiga adalah yang paling ramai. Soalnya ada event di salah satu bangunan yang ada di sana. Untungnya, karena datang cukup pagi, saya masih kebagian colokan. Tapi, ya jadi tahu kalau ramai itu ternyata jadi distracted karena saya sibuk people watching. Para selebgram yang bikin konten, bolak-balik ganti baju. Lalu, ada EO yang sibuk meeting di meja sebelah, atau sekedar mangkal membereskan report setelah event selesai.

The Manor Andara & The Manor Cafe dapat dicapai dengan kendaraan umum, baik dari arah Andara maupun dari arah Pangkalan Jati. Jika membawa kendaraan pribadi, perhatikan plang “The Manor” dari pinggir jalan. Pintu masuk ke rumah mewah ini ada di samping gerbang besar, yang terlihat dikunci. Jika berhenti di pinggir jalan, siap-siap berjalan kaki sekitar 5-10 menit untuk masuk ke rumah dan mencapai cafe. Iya, rumahnya memang sebesar itu.

Our Date is At:
The Manor Andara & The Manor Cafe
Jl. Ibnu Armah No.8, Pangkalan Jati Baru, Kec. Cinere, Kota Depok, Jawa Barat 16513



Sunday, April 27, 2025

Museum Sejarah Jakarta itu Isinya Apa Sih?

Ini adalah pertanyaan saya ketika berada di kota tua, berdiri melihat gedung dengan arsitektur Belanda yang megah di tengahnya.

“Janjian di depan Museum Fatahillah ya,” kata seorang teman kala itu. Lalu, saya kembali memandangi gedung, di depannya ada dua buah meriam yang beralih fungsi jadi tunggangan anak-anak di sekitarnya. Saya jadi was-was. “Museum Fatahillah itu Museum Sejarah Jakarta kan?”


Jawabannya iya, soalnya ini adalah Taman Fatahillah. “Ya pokoknya yang ada meriamnya itu.”

Perjalanan ke Kota Tua kali ini adalah janjian bersama teman-teman-nya Panda. Iya, Panda boneka saya yang kadang suka muncul di blog juga. Dia punya IG dan Tiktok sendiri yang isinya traveling. Follow ya di @pandatravelstory. Haha. Nah, karena ketemuan inilah, dan sudah tau kalau parkir di sana susah plus banyak premannya, maka saya dan Panda pergi ke Kota Tua naik kendaraan umum. Apa aja pilihannya?

  • Naik KRL menuju Stasiun Jakarta Kota. Lalu, jalan menyeberang dari pintu keluar yang menghadap ke Kota Tua, sekitar 5-10 menit tergantung keramaian yang ada. Yes, kalau lagi ramai, jalur pejalan kaki juga bisa “macet”.
  • Naik Busway turun di Halte Kali Besar atau Halte Museum Sejarah Jakarta. Lalu, jalan ke Kota Tua. Kalau turun di Halte Kali Besar bisa sekalian foto-foto di toko Merah yang ada di seberang jalan.

Buat yang bingung, pintu masuk museum bukan yang menghadap ke square, alias lapangan terbuka di Kota Tua, tetapi ada di sampingnya. Pintu masuk Museum ini menghadap ke beberapa cafe yang ada di Kota Tua. Tiketnya Rp. 15000 untuk orang dewasa. Bisa dibayar dengan tunai atau non-tunai. Agak kaget juga sih ternyata lumayan murah.

Anyway, setelah masuk dan berkeliling museum, saya menemukan bahwa meriam yang selalu jadi daya tarik utama Museum Fatahillah itu justru hampir terlewatkan. Kok bisa? Soalnya ternyata ada banyak cerita di dalam museumnya. Museum Sejarah Jakarta menyimpan lebih dari 23.000 koleksi benda bersejarah yang berkaitan erat dengan perkembangan kota Jakarta, mulai dari masa kerajaan hingga era kemerdekaan dan kekinian.



Setelah membeli tiket masuk, di ruangan pertama ada lukisan dan sketsa di tembok-temboknya. Biasanya ini jadi ajang tempat foto-foto bagi pengunjung. Setelah itu, kita akan bertemu ondel-ondel dan taman yang besar. Di ujung taman, dekat mushola dan pintu keluar inilah, ada dua meriam yang menjadi ciri khas museum. Namun, sebelum ke sana, kita bisa berbelok masuk ke gedung museum.

Ada dua bagian dari museum ini, yang pertama adalah ruang bawah tanah, alias penjara, dan kamar tahanan Pangeran Diponegoro. Ruang tahanan bawah tanah yang dingin dan pengap ini sempit, jadi jika museum sedang ramai, harus mengantri masuk bergantian. Kamar Tahanan Pangeran Diponegoro terletak di gedung yang sama, di bagian atas. Satu hal yang harus diperhatikan ketika berada di Museum Sejarah Jakarta adalah tangga kayu yang minim pegangan dan satu tangga yang dipakai bergantian naik turun. Maklum, gedungnya kan bekas Balai Kota Batavia.

Ruang Tahanan Pangeran Diponegoro ini menghadirkan cerita dengan animasi dan gambar, yang kontras dengan suasana kuno dari interior kamar tersebut. Animasi ditayangkan di layar yang menutupi dipan bercerita tentang kisah penangkapan Pangeran Diponegoro. Animasi-animasi dan bagian interaktif yang ada di Museum Sejarah Jakarta ini patut diapresiasi karena membuat kisah sejarah jadi lebih menarik bagi generasi sekarang.

Di gedung sebelahnya, sejarah Jakarta baru benar-benar dimulai. Diawali dengan Artefak Prasejarah dan Masa Tarumanegara seperti replika prasasti dari Kerajaan Tarumanegara yaitu Prasasti Ciaruteun dan Prasasti Kebon Kopi, jejak kaki Purnawarman yang ada di batu, dan fragmen keramik dari berbagai periode yang ditemukan di sekitar Jakarta pada masa lampau.

Fokus utama koleksi museum ini ada di lantai dua, yaitu Masa Kolonial Belanda (Batavia). Hati-hati naik tangganya ya. Di lantai dua ada koleksi Perabotan Antik seperti meja, kursi, lemari, dan tempat tidur bergaya Eropa dari abad ke-17 hingga ke-19 yang pernah digunakan di gedung-gedung pemerintahan dan rumah-rumah mewah di Batavia. Ada koleksi uang kuno yang dipajang di bagian depan.

Di sini juga ada balkon yang memberikan pemandangan Kota Tua secara keseluruhan.

Kembali lagi ke bawah, kita melanjutkan cerita tentang Batavia. Hati-hati turun tangganya, ya. Di lantai satu ini, kita perlahan-lahan kembali ke masa Jakarta sekarang. Ada permainan interaktif menyusun sebuah rumah daerah dengan layar touchscreen yang warna dan bentuknya bisa kita ganti-ganti sendiri.

Sebagai warga Jakarta, berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta ini memberikan cerita sendiri untuk saya. Apa yang ada di museum ini sebagian sudah saya pelajari di sekolah, tapi melihat sendiri, membaca keterangan, dan mendengar ceritanya memberikan perspektif yang berbeda tentang Jakarta.

Beberapa hal yang patut diperhatikan kalau hendak berkunjung ke Museum Sejarah Jakarta.
  • Kalau bisa datang pagi-pagi saat masih sepi sehingga bisa menikmati koleksi dengan lebih leluasa. 
  • Kalau membawa anak kecil atau orang tua harap berhati-hati dengan tangga dan beberapa undakan yang ada. 
  • Luangkan waktu lihat satu-satu koleksinya tanpa terburu-buru.

Yuk ke museum.

Our Date is At:
Museum Sejarah Jakarta / Museum Fatahillah

Taman Fatahillah No.1, Pinangsia, Kec. Taman Sari, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11110


Sunday, April 13, 2025

5 Cafe yang Ditemukan Fitur Nearby Google Maps

Apa itu Google Nearby? Nearby adalah sebuah fitur yang ada di Google Maps, memungkinkan kita untuk menemukan tempat-tempat di sekitar tempat berada sekarang. Misalnya, restoran, kafe, toko, dan tempat wisata. Fitur ini dapat diakses melalui aplikasi Google Maps di ponsel, atau melalui situs web Google Maps di komputer. Untuk menggunakan Nearby, saya biasanya membuka aplikasi atau situs web Google Maps lalu menekan tombol untuk me-refresh lokasi tempat saya berada. Pastikan Google Maps bisa mengakses lokasi kita.





Nearby biasanya ada di dekat pilihan Direction, Save, Share dan sejenisnya. Lokasinya pas di bawah nama tempat kita berada, atau lokasi yang dipilih. Buat saya, Nearby adalah fitur yang sangat berguna jika ingin menemukan tempat-tempat baru di sekitar saya, atau mungkin di tempat yang saya tuju. Fitur ini bisa digunakan untuk merencanakan perjalanan atau ketika mencari ide tempat nongkrong. Misalnya, kalau sedang menunggu lalu bingung mau ke mana, atau sedang ingin makan tapi belum ada ide mau makan di mana.

Bagaimana cara pakainya?

  • Tentukan titik awal. Biasanya stasiun MRT, hotel tempat tinggal, dan lain sebagainya.
  • Klik fitur nearby, lalu muncul pilihan tempat apa yang ingin dicari. Kalau pilihan kita tidak ada, misal ingin cari cafe, ya diketik saja di search bar.
  • Setelah muncul pilihannya, bisa eksplor satu per satu untuk melihat detail tempatnya.
Saya sering mengandalkan Nearby. Terlalu sering bahkan. Namun, tempat-tempat yang ditemukan ternyata tidak mengecewakan.

The Post - Cipete

Titik awal: Stasiun MRT Cipete Raya
Misi: Mencari coffee shop dengan parkir mobil yang mumpuni, bisa untuk buka laptop, tapi bukan cafe populer.

Di Cipete, yang namanya coffee shop ini menjamur. Sepanjang jalan isinya tempat nongkrong dan tempat makan yang selalu penuh. Jadi, mencari cafe untuk duduk dan buka laptop ini lumayan sulit. Apalagi yang punya parkiran mobil. Nearby membawa saya ke The Post, yang lokasinya ada di seberang Lycee Francais. Jaman dahulu jalan ini kecil, dan bukan jalan umum. Ternyata sekarang sudah ramai dan ada cafe-nya.

Yang membuat saya terkesan dengan The Post adalah kopinya. Mereka punya manual brew dengan barista yang sangat helpful. Jadi, kita bisa langsung ke bar dan ngobrol dengan baristanya sebelum memesan. Cafe ini cukup luas dan estetik, bikin betah lama-lama di sini.

Tuesday, February 11, 2025

Perjalanan Nostalgia Menemui si Unyil di PFN Jakarta

Apa yang pertama kali terlintas di kepala, saat mendengar kata “Si Unyil”?

Well, kemarin, saya membaca satu postingan instagram tentang tur PFN Heritage sekaligus perayaan ulang tahun kedelapan Wisata Kreatif Jakarta. Ada tur nostalgia si Unyil di sana. Ikut, ah!

Pendaftaran melalui seleksi, menyisakan sekitar 50 orang terpilih mengikuti tur tersebut, yang (untungnya) termasuk saya.

Siapa si Unyil? 

Generasi sekarang, yang memiliki lebih banyak pilihan tontonan dengan akses global yang lebih terintegrasi, mungkin tidak kenal dengan anak laki-laki yang mengenakan peci dan sarung ini. Sebenarnya si Unyil masih tayang di TVRI pada Desember 2024 kemarin, bahkan dengan teknologi Face Recognition yang membuat para boneka tangan ini bisa membuka mulut dan mengedipkan mata. Namun, di tengah gempuran konten dari seluruh dunia, saya bayangkan sulitnya Unyil bersaing dengan mereka.



Yuk, kita kenalan di sini aja, biar semua bisa akrab.

Si Unyil adalah TV seri anak-anak yang mengudara setiap Minggu Pagi dari tanggal 5 April 1981 hingga 21 November 1993. Saya biasanya nonton ini gantian sama Doraemon. Si Unyil bercerita tentang petualangan sehari-hari sekelompok anak SD, yaitu Unyil. Ucrit dan Usro. Mulai dari sekolah, main di pasar, berinteraksi dengan warga desa lainnya seperti Pak Ogah, Pak Raden, dan Bu Bariah. Pencipta Si Unyil bernama Drs. Suyadi, yang dikenal juga sebagai Pak Raden.

Si Unyil bisa ditemukan di PFN, alias Produksi Film Negara. Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berbentuk Persero ini memiliki hak cipta Si Unyil dan beberapa film sejarah seperti G30SPKI. Berlokasi di Jalan Otto Iskandardinata, tepatnya sebelah GOR Jakarta Timur, sebelum deretan KFC dan McD, PFN ini tidak terlihat jelas dari luar. Namun, begitu masuk, ternyata dalamnya luas. Yang membuat saya happy tentu saja adalah tersedianya coffee shop dan tempat parkir mobil hehe.

Oh iya, tur PFN Heritage sekaligus bernostalgia bertemu si Unyil ini adalah acara spesial dari perayaan ulang tahun Wisata Kreatif Jakarta. Meskipun PFN sendiri terbuka untuk umum, karena memang melakukan penyewaan studio, alat produksi dan lain sebagainya, tetapi sepertinya tempat ini bukan tujuan tur wisata.

Sunday, April 10, 2022

Random Stop to Smell the Coffee

Cafe hopping. Hal yang dulu saya lakukan sama Dudu, sekarang lebih banyak dilakukan sendirian, plus lebih untuk tujuan kerja dibandingan hangout atau ngeblog. Menemukan coffee shop ketika meng-klik tombol 'nearby' di Google Maps, ini list tempat ngopi saya beberapa bulan terakhir:



Tanatap Meruya
Jl. Jalur 20 No.Blok 30/19, RT.8/RW.10, Meruya Utara, Kec. Kembangan, Kota Jakarta Barat, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 11620
Order: Ice Black Coffee (33k), Croissant (lupa harganya)

Setelah beberapa kali merencanakan ke Tanatap Ampera, saya malah mampir ke Tanatap Meruya, ketika melihat ada juga cabangnya di daerah sana. Tempatnya lumayan masuk ke dalam komplek perumahan dan kalau bukan anak Jakbar kayaknya akan sedikit bingung sampai ke sini. Parkirannya kecil, sekitar 5-6 mobil, dan bersusun. Jadi kalau pas kebagian parkir di belakang mobil lain, siap-siap dipanggil tukang pakirnya. Tapi tempatnya unik. Tipikal café dan kedai kopi kekinian. Banyak yang datang untuk foto-foto. Coffee dan croissant-nya standar. Mungkin karena hari Sabtu, tapi pas mampir ke sini suasananya sedang lumayan rame. Tetep pengen mencoba mampir ke yang Ampera.




Clean Slate Petite
Ruko South Solvang Square, Jl. Mission Drive Jl. Boulevard Raya Gading Serpong No.11, Klp. Dua, Kec. Klp. Dua, Kabupaten Tangerang, Banten 15810
Order: Black Coffee (30k), Bitterballen (35k), Strawberry Waffle (45k)

Lokasinya bukan tempat yang popular, karena ada di deretan ruko lumayan sepi di antara Gading Serpong dan Karawaci. Ruko Solvang, Namanya mengingatkan saya akan kota kecil di deket Los Angeles yang pernah saya datangi saat road trip Bersama Dudu. Clean Slate ini ternyata ada 2 lokasi, dan yang satunya ada di jalan utama Gading Serpong.

Karena sepi, parkirannya enak. Ruko-ruko sebelahnya masih kosong, jadi bebas parkir di mana saja. Ada parkiran sepeda juga, jadi mungkin kalau pagi banyak yang sepedaan ke daerah sini. Kopinya standard, tapi Strawberry Waffle-nya enak banget. Bitterballennya lumayan buat snacking, tapi kayaknya kalau ke sini lagi saya akan memesan waffle rasa lainnya. Yang jelas, nyaman buat kerja dan hangout bareng sahabat terdekat.




Malar Coffee
Jl. Tebet Barat IV No.11, RW.4, Tebet Bar., Kec. Tebet, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12810
Order: Black Coffee (30k)

Dari luar, coffee shopnya terlihat minimalis dengan warna putih. Begitu masuk tempatnya langsung terasa nyaman dan terlihat beberapa orang bekerja dengan laptop di sana. Coffee Shop ini tidak sendirian, karena di bagian belakangnya ada beberapa restoran lain seperti Steggo, dan services seperti Beauty Bar. Favorit saya tentu saja kacanya yang besar-besar yang membuat restoran ini terang benderang di siang hari. Kopinya bukan sesuatu yang berkesan buat saya, tapi duduk di dekat jendela besar membuat kopi jadi lebih nikmat.

Tempat parkirnya lumayan sempit, hanya muat 3-4 mobil. Tapi kalau untuk lokasi di Tebet, sebenarnya ini sudah termasuk besar. Menemukan Coffee Shop ini secara tidak sengaja ketika sedang mencari makan siang di Tebet. Sepertinya sih akan mampir ke sini lagi kalau main ke daerah sana.




OL Pops Coffee Bintaro Veteran
Jl. RC. Veteran Raya No.10, Bintaro, Kec. Pesanggrahan, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12330
Order: French Press Congo Civu (29k)

Menemukan coffee shop ini secara tidak sengaja karena numpang parkir pas makan di Tengkleng Pak Manto di daerah Veteran, Bintaro. Suasananya juara. Ada bagian outdoor yang menyenangkan dan romantis. Instagramable juga buat yang suka foto-foto. Karena tertarik dengan jenis biji kopi yang disajikan, saya jadi memesan Manual Brew French Press ketimbang Black Coffee atau Americano yang biasa. Dan karena biji kopinya ternyata Arabica semua, saya memilih yang belum pernah saya coba: Congo Civu. Ternyata kopinya lumayan light dan ada aftertaste yang sedikit unexpected pas pertama diminum. Tapi sejujurnya not bad.

Café ini juga punya makanan berat, yang next time pengen dicoba kalau pas mampir tanpa makan Tengkleng dulu. Parkirannya luas, bisa sampai 10 mobil, dan parkiran motor juga terletak di bagian dalam.

Saturday, March 19, 2022

Makan Steak di Indoguna Meat Shop & Gourmet Cikajang

Terletak agak ngumpet di lantai 2 toko daging, restoran ini konsepnya sedikit unik. Kalau biasanya di restoran steak lain kita membayar harga fix di menu, ini kita membayar harga daging yang kita beli plus ongkos masaknya. Ternyata harga akhir masaknya tidak seberapa berbeda dengan kalau kita makan steak di restoran lainnya.

Akhir-akhir ini lagi seneng banget makan steak. Dudu emang fans berat daging, dan tidak pernah menolak kalau diajak cobain steak. Jadi, di suatu random weekend, kita pergi makan steak di Indoguna. Sebenarnya tempat ini bukan restoran baru, tapi biasanya dikenal sebagai toko daging dan distributor daging ternama. At least, saya ke sana kalau beli daging atau keju, bukan untuk makan di restorannya. Soalnya parkirnya lumayan susah hehehe. Lokasinya di deretan ruko Jl. Cipaku di seberang pasar Santa. Kalau datang dari arah jl. Cikajang, maka akan terlihat tulisan Indoguna Meat Shop & Gourmet.

Kami datang di hari Sabtu siang, tapi masih sebelum jam 12 jadi dapat parkir di depan ruko dan restorannya juga belum terlalu ramai. Kalau berencana late lunch, sebaiknya sih booking tempat dulu.


Karena baru pertama kali ke sana, jadi agak clueless. Dapat menu book, tapi ternyata untuk dagingnya kita harus ke station daging sendiri dan memilih mau yang mana. Karena harga daging sesuai dengan berat gram-nya. Untungnya, mbak pelayan yang in charge sama meja kita orangnya baik dan super helpful. Jadi dia bawa dagingnya ke meja buat kita pilih. Tidak ada lagi pertanyaan soal ukuran daging seperti “200gr itu sebesar apa ya?” Hehe.

Selesai memilih daging, kita memilih tingkat kematangan, saus dan side dish-nya. Ini juga lumayan sulit karena pilihannya banyak. Untuk saus sih yang paling disarankan untuk daging ada Mushroom Sauce, Blackpepper Sauce atau Barbeque Sauce. Saya dan Dudu memesan Mushroom Sauce, meskipun saya sempat tergoda apa rasanya steak pakai Lemon Butter Sauce atau Gravy. Pilihan side dish ada Baked Potato, Mashed Potato, Potato Wedges, French Fries dan Nasi. Pilihan sayuran ada Mix Vegetable, Fresh Salad, Sauteed Mushroom dan Sauteed Spinach.



Jadi biaya yang dikeluarkan adalah harga daging + biaya side dish (48k). Contoh, pesanan saya adalah 200gr US Striploin Prime Steak (152k) plus mashed potato (48k). Sementara pesanan Dudu adalah 190gr Angus Striploin (154k) plus mashed potato (48k). Harga dagingnya mengikuti gram yang ada, jadi ketika memilih daging di awal, kita memilih ukurannya juga.

Saya dan Dudu sepakat kalau rasanya enak, dagingnya empuk dan sesuai harapan. Mashed potato-nya juga enak, tapi porsinya terlalu besar buat saya haha. Mungkin next time bisa coba potato wedges atau baked potato biar aman. Yang sedikit kurang adalah Sauteed Spinach yang saya pesan sebagai vegetable side dish. Kalau dibandingkan dengan beberapa restaurant lain, Sauteed Spinach di sini rasanya lebih subtle. Lebih tidak tajam. Di satu sisi ini bagus karena kalau dimakan sama steak jadi tidak overpowering. Tapi karena saya lebih suka yang tajam rasanya supaya bisa dimakan sendiri, jadi sepertinya next time akan pesan Sauteed Mushroom aja.


Yang menyenangkan dari restoran ini, selain kualitas dagingnya yang terjamin adalah rotinya yang enak. Ada appetizer garlic bread yang crunchy dan bikin nagih. Bisa dibeli di bakery-nya tapi harus request dulu. Dan karena kebetulan kita kebagian tempat duduk dekat bakery, harum garlic bread crispy ini lewat terus haha. Tapi yang kita bawa pulang adalah cheese sticknya (22,5k). Lalu suasananya enak banget, restaurant-nya nyaman dan pas buat makan bersama keluarga.

So, we’ll be back for sure.


Our date is at:

Indoguna Meatshop & Gourmet
Jl. Cipaku I No.11, RT.2/RW.4, Petogogan, Kec, Kec. Kby. Baru, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12170