Karena itulah, terkadang kalau membuat itinerary, saya suka menyelipkan hal yang unik. Saya lebih tertarik ikut kelas memasak di negeri orang, atau berjalan kaki tanpa tujuan jelas menyusuri satu sudut kota sendiri. Kalau ada walking tur, biasanya saya senang ikutan juga. Dengan melakukan ini, saya mendapatkan insight yang berbeda, lebih personal dan lebih punya cerita untuk dituliskan.
Perjalanan hari ini ceritanya tidak jauh-jauh dari tempat tinggal. Masih seputaran Jakarta juga. Cerita hari ini adalah pengalaman saya ikutan anjangsana alias silaturahmi lintas iman di Festival Kebhinekaan.
Awal bulan kemarin saya menemukan yang namanya Festival Kebhinekaan. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan untuk merayakan keberagaman Indonesia dan memperkuat toleransi lintas iman ini sudah memasuki tahun ke-9. Sayangnya saya baru tahu bulan ini. Dalam festival ini, ada rangkaian kegiatan seperti kunjungan ke berbagai rumah ibadah lintas agama, anjangsana ke komunitas keagamaan serta dialog antar kelompok masyarakat. Tujuannya untuk berkenalan serta memupuk toleransi dan empati.
Tiga destinasi Anjangsana Kebhinekaan yang ada di jadwal festival tahun ini adalah Komunitas Penghayat Kapribaden Jawa di Limo, Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di Tebet, dan Jemaat Buddha Nichiren Jepang melalui kunjungan ke Kuil Hoseiji di Manggarai. Acara-acara ini semuanya gratis.




.jpg)


























