Sunday, February 15, 2026

Festival Kebhinekaan: Perjalanan Seminggu Menghargai Perbedaan

Saya selalu percaya bahwa traveling bukan cuma soal pindah lokasi dan mengumpulkan foto dengan latar belakang berbeda, tapi tentang apa yang saya bawa pulang. Mulai dari cara pandang baru, rasa ingin tahu, atau pertanyaan-pertanyaan kecil tentang hidup. Semua adalah sesuatu yang saya temukan di tempat tujuan, yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan saya.

Karena itulah, terkadang kalau membuat itinerary, saya suka menyelipkan hal yang unik. Saya lebih tertarik ikut kelas memasak di negeri orang, atau berjalan kaki tanpa tujuan jelas menyusuri satu sudut kota sendiri. Kalau ada walking tur, biasanya saya senang ikutan juga. Dengan melakukan ini, saya mendapatkan insight yang berbeda, lebih personal dan lebih punya cerita untuk dituliskan.

Perjalanan hari ini ceritanya tidak jauh-jauh dari tempat tinggal. Masih seputaran Jakarta juga. Cerita hari ini adalah pengalaman saya ikutan anjangsana alias silaturahmi lintas iman di Festival Kebhinekaan.

Awal bulan kemarin saya menemukan yang namanya Festival Kebhinekaan. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan untuk merayakan keberagaman Indonesia dan memperkuat toleransi lintas iman ini sudah memasuki tahun ke-9. Sayangnya saya baru tahu bulan ini. Dalam festival ini, ada rangkaian kegiatan seperti kunjungan ke berbagai rumah ibadah lintas agama, anjangsana ke komunitas keagamaan serta dialog antar kelompok masyarakat. Tujuannya untuk berkenalan serta memupuk toleransi dan empati.

Tiga destinasi Anjangsana Kebhinekaan yang ada di jadwal festival tahun ini adalah Komunitas Penghayat Kapribaden Jawa di Limo, Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di Tebet, dan Jemaat Buddha Nichiren Jepang melalui kunjungan ke Kuil Hoseiji di Manggarai. Acara-acara ini semuanya gratis.

Berkumpul di Kuil Hoseiji

Cerita Perjalanan ke Tiga Kunjungan


“Perhentian” pertama dari Anjangsana Kebhinekaan adalah Komunitas Penghayat Kapribaden Jawa di Depok. Dilakukan pada hari Minggu, 8 Februari 2026, komunitas ini berkumpul sekali sebulan di malam Senin Pahing. Kebetulan, ketika saya berkunjung ke sana, mereka sedang ada acara syukuran ulang tahun Pinisepuh yaitu Ibu Hartini Wahyono. Ini adalah pengalaman pertama saya ngobrol dan melihat langsung kegiatan komunitas penghayat alias aliran kepercayaan di Indonesia.

Penghayat Kapribaden adalah laku kepercayaan spiritual yang menekankan kesatuan antara manusia, Tuhan, dan alam semesta (urip) yang dilakukan secara pribadi dan mandiri. Kapribaden sendiri didirikan atas dasar wahyu yang diterima oleh pendirinya, Romo M. Semono Sastrohadidjojo, pada tahun 1978, dan sejak itu berkembang menjadi organisasi yang sah secara hukum dengan cabang di berbagai provinsi di Indonesia. Hari-hari yang mereka peringati adalah turunnya Wahyu Panca Gaib dan pertemuan secara berkala. Di pertemuan ini, biasanya mereka berbagi pengalaman tentang bagaimana mereka menjalankan laku spiritual selama ini. Apakah ada pengalaman yang bisa dibagikan untuk kemudian jadi pelajaran bagi mereka yang hadir.

Pertemuan dengan Komunitas Penghayat Kapribaden

Pertemuan yang saya hadiri dilakukan di rumah salah satu penghayat di daerah Cinere, Depok. Sebenarnya daerahnya dekat rumah, dan saya lumayan familiar dengan jalan ke sana. Namun, ketika akhirnya menemukan rumah yang menjadi tujuan, saya menyadari bahwa daerah tersebut sudah banyak berubah karena pembangunan jalan tol. Kemudian, meskipun saya sering lewat di jalan utamanya, saya belum pernah belok ke gang lokasi rumah tersebut berada. Jadi, sebenarnya saya tidak perlu jauh-jauh mencari. Dekat rumah saja sebenarnya sudah ada destinasi.

Lalu di hari Selasa, 10 Februari 2026, saya ikut rombongan berkunjung ke Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di daerah Tebet. Kejadiannya kembali terulang. Lokasinya ada di daerah yang saya sering lewat, tapi tidak pernah terpikirkan bahwa ada gereja Mormon di sana. Selain tanya jawab dan penjelasan tentang ajaran, ada juga guided tour keliling gerejanya.

Ada banyak pertanyaan yang disampaikan para pengunjung kepada para jemaat, mengingat gereja dan ajaran ini banyak stigmanya. Ajaran Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir sebenarnya sudah berada di Indonesia sejak lama. Pengakuan pemerintah disebutkan terjadi pada tahun 1970 dan kitab Mormon sendiri diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia pada 1977. Di silaturahmi kali ini, disebutkan adanya rencana pembangunan bait suci pertama di Indonesia di daerah Gatot Subroto. Kalau bait suci ini sudah dibangun, informasi yang disampaikan adalah adanya open house sebelum dilakukan penyucian dan menjadi tertutup untuk umum. Rasanya, open house bait suci bisa jadi tujuan perjalanan berikutnya.

 


Anjangsana terakhir dilakukan pada Rabu, 11 Februari 2026 di Kuil Hoseiji Manggarai, bersama Jemaat Buddha Nichiren Jepang di Indonesia. Kunjungan yang ini cukup singkat tapi padat ceritanya. Saya dan rombongan yang hadir diterima oleh Biksu Basuki, yang menceritakan tentang agama Buddha Nichiren yang berfokus pada Lotus Sutra, serta penjelasan singkat tentang aliran agama Buddha yang ada di Indonesia.

Kuil Hoseiji sendiri didirikan pada tahun 2005. Sebenarnya, kuil ini sudah ada sejak 2004, tapi ketika hendak diresmikan, ada musibah tsunami Aceh yang membuat semuanya jadi diundur ke tahun berikutnya. Yang membedakan Kuil Hoseiji dengan kuil Buddha pada umumnya adalah absennya patung Buddha dan Bodhisattva di ruang ibadah. Sembahyang biasanya dilakukan di hadapan Gohonzon, yaitu mandala suci buatan Biksu Tertinggi Nichiren, yang dipajang di tengah ruang ibadah. Kuil ini sendiri terlihat megah dari luar, tapi tetap dengan kedamaian dan kesederhanaan di dalamnya.



Pelajaran yang Dibawa Pulang

Kalau melihat ketiga kunjungan saya itu, sebenarnya saya merasa bahwa untuk menemukan sesuatu yang baru itu tuh kita tidak perlu repot-repot pergi jauh. Melihat ke sekeliling saya, sebenarnya ada banyak destinasi menarik yang sesuai minat saya, tetapi tersembunyi. Jadi, benar-benar harus buka mata lebar-lebar dan menggali informasi.

Selain itu, saya merasa bahwa yang namanya destinasi itu tidak melulu bangunan populer atau cafe viral, tapi bisa juga sekedar sebuah perhentian yang menambah makna. Tidak melulu harus ada fotonya, tapi kenang-kenangan dalam bentuk tulisan rasanya juga sama berkesannya. 
Bentuknya belum tentu tempat wisata. Bisa jadi ya hanya sebuah rumah atau bangunan sederhana, tapi memiliki cerita sendiri ketika kita datang berkunjung dan berdialog dengan orang-orang di dalamnya.

No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by. Please do leave your thoughts or questions, but we appreciate if you don't spam :)