Saturday, May 16, 2026

Pengalaman Main Ski Di Mammoth Lakes California

Beberapa waktu lalu, saya dapat cerita main ski dari anak saya, si Dudu. Ski adalah salah satu olahraga yang ingin dia coba. Jadi, ketika keluarga teman-teman saya mengajak, ya saya iyakan saja permintaan Dudu buat pergi main ski. Mereka pergi ke Mammoth Mountain di area Mammoth Lakes, sebuah destinasi wisata yang letaknya sekitar 300 miles di utara Los Angeles.


Mammoth Mountain adalah salah satu destinasi ski paling terkenal di California. Area ini berada di pegunungan Sierra Nevada dan terkenal karena musim saljunya panjang. Rata-rata lebih dari 400 inci salju turun di daerah ini, akibat pola cuaca dari Samudra Pasifik yang terbentuk di atas Sierra. Ketinggiannya yang lebih dari 11.000 kaki dan area ski yang luas, membuat tempat ini jadi favorit banyak pemain ski pemula hingga profesional. Area ski di sini memiliki sekitar 150 jalur ski dengan variasi tingkat kesulitan yang cukup lengkap. Mammoth Mountain memiliki total 28 lift yang terdiri dari berbagai tipe, termasuk dua six-pack lift, sepuluh quad lift, di mana sembilan di antaranya merupakan high-speed detachable lift. Kapasitas angkut mencapai sekitar 50.000 rider per jam, untuk mengakomodasi jumlah pengunjung yang hadir.

Ketika dia kembali, saya bertanya “Apa yang kamu ingat dari perjalanan tersebut?”

Cerita yang dibawa pulang Dudu setelah perjalanannya ke Mammoth Mountain, yang paling membekas justru pengalaman-pengalaman kecil: belajar ski dengan mengamati orang lain, jatuh saat turun dari ski lift, sampai kepanasan karena terlalu banyak memakai layer baju.

Menuju Mammoth Mountain

Perjalanan ke Mammoth Mountain memakan waktu sekitar 4-5 jam dengan mobil sewaan, biasanya melalui Highway 395. Rutenya terkenal cukup indah karena melewati gurun Mojave dan pegunungan Eastern Sierra. Perjalanan menuju Mammoth terasa seperti masuk ke dunia yang berbeda. Suasana kota besar Los Angeles berganti dengan jalan panjang, pegunungan, dan udara yang semakin dingin.



Perjalanan main ski ke Mammoth Lakes dari Los Angeles memang tergolong tidak murah, tetapi masih cukup realistis untuk short winter getaway. Sebaiknya pergi bersama teman agar bisa sharing cost. Estimasi cost yang harus dikeluarkan untuk mencoba pengalaman main ski di Mammoth Lake adalah:

Mammoth Mountain Lift Tickets:
  • Young Adult (usia 13–22) 1-Day Lift Ticket USD 120 (weekend) atau USD 102 (weekdays)
  • Adult (usia 23 - 64) 1-Day Lift Ticket USD 120 (weekend) atau USD 102 (weekdays)
Paket Ski Standar sudah termasuk ski, sepatu bot, dan tongkat ski standar dari toko penyewaan (USD 55). Bagi pemula sebaiknya menyewa peralatan ini karena sudah sepaket semua. Selain itu, jangan lupa membawa jaket, sarung tangan, dan pakaian musim dingin sendiri.

 

Menyeberang ke Singapura Lewat Johor Bahru

“Lewat Johor aja gimana?”

Sebuah saran muncul di grup WA keluarga ketika saya harus berangkat ke Singapura karena ada kerabat yang meninggal mendadak. Harga tiket ke Changi sudah melambung tinggi karena long weekend, dan waktu pemesanan yang sudah sangat mepet.

Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya saya memesan tiket Jakarta - Senai. Ternyata masuk ke Singapura lewat Johor Bahru adalah salah satu rute favorit. Selain lebih hemat dibanding penerbangan langsung, perjalanan darat ini juga menawarkan pengalaman unik melihat aktivitas lintas negara yang sibuk setiap hari. Ini adalah perjalanan pertama saya melintasi kota Johor Bahru.

Sebelumnya cuma ke Legoland dan ke mall dekat perbatasan saja.



Perjalanan ke Singapura Dari Johor Bahru


Senai International Airport mengingatkan saya akan Soekarno-Hatta Terminal 1. Airport-nya kecil tapi banyak toko dan makanan. Melewati imigrasi, saya ditanya tiket pulang. Karena saya pulang lewat Changi, jadi saya jawab kalau pulang lewat Singapura. Kartu imigrasi Malaysia bisa diisi online. Untuk kartu imigrasi, jika hanya melintasi Johor, maka bisa mengisi alamat JB Sentral sebagai alamat di Malaysia.




Mendarat di Senai, kita naik Causeway Link bus ke JB Sentral. Sebenarnya dari Senai ke checkpoint sangat mudah karena banyak bus umum, shuttle, hingga taksi online yang bisa digunakan menuju terminal imigrasi. Tapi karena saya datang di jam setelah rush hour pekerja, antrean panjang yang biasanya terjadi saat jam kerja atau akhir pekan berhasil saya hindari. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 30km atau sekitar 40 menit jika traffic sedang tidak terlalu ramai.

Di JB Sentral, turun dari Causeway Link Bus lalu berjalan menuju imigrasi. Ada papan petunjuk menuju Woodlands, melewati proses cap paspor di imigrasi Malaysia terlebih dahulu. Karena tidak terlalu ramai, saya hanya menunggu 1 orang di depan lalu lewat di imigrasi. Namun, tetap disarankan menyiapkan paspor dan dokumen perjalanan sebelum giliran tiba agar proses lebih lancar.

Setelah melewati pemeriksaan keluar Malaysia, perjalanan dilanjutkan menggunakan bus menuju pos pemeriksaan Singapura di kawasan Woodlands. Kita bisa naik bus Causeway Link nomor berapa saja dan turun di Woodlands Checkpoint. Lalu, selepas masuk imigrasi Singapore, kita bisa lanjut naik Causeway link sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
  • CW 1: JB Custom ke Kranji MRT
  • CW 2: JB Custom ke Queen Street Terminal
  • CW 5: JB Custom ke Newton Circus
Tapi harus tap kartu yang sama. Semua bis bisa dibayar dengan kartu kredit yang bertanda Visa dan Mastercard. Harga Causeway Link dari Senai ke JB Custom adalah RM 8, sementara dari JB Custom ke Singapura antara RM 2 dan RM 4.80.

Kondisi lalu lintas bisa mempengaruhi waktu tempuh. Saat jam sibuk, antrean kendaraan menuju Singapura bisa sangat panjang. Namun di luar jam sibuk, proses menyeberang terasa cukup cepat dan efisien. Kalau sedang tidak diburu-buru waktu, perjalanan lewat Johor Bahru bisa jadi alternative pilihan untuk biaya yang lebih murah. Jangan lupa mengisi kartu kedatangan digital sebelum melewati imigrasi Singapura.

Sunday, May 10, 2026

Sabtu Pagi Nostalgia di Jalan Surabaya

Apa yang pertama terlintas di pikiran saat mendengar kata “Jalan Surabaya?” Barang antik? Coffee shop indie? Mural unik?

Bahan tulisan traveling buat posting minggu ini sudah habis. Terus gimana? Kalau browsing cerita teman-teman atau scrolling IG di sana sini, banyak yang sedang ikutan walking tour. Kayaknya kok seru ya? Karena itulah, ketika diajakin teman staycation (gegara dia book airbnb salah tanggal), saya memutuskan buat mencoba jalan-jalan sendiri menyusuri Jalan Surabaya.

Sabtu pagi itu Jalan Surabaya lumayan ramai karena ada beberapa walking tour yang sedang berlangsung. Udara belum terlalu panas ketika saya mulai berjalan pukul 9 pagi.


Kalau dilihat sejarahnya, Jalan Surabaya ini sebenarnya adalah bagian dari rencana pemerintah Kolonial Belanda untuk mengembangkan tuinstad (kota taman) yang dirancang oleh arsitek P.A.J. Moojen pada awal abad ke-20. Menteng pada saat itu adalah kawasan pemukiman kelas atas untuk pejabat dan warga Eropa. Di tahun 1960an, banyak rumah besar di Menteng yang mulai berganti kepemilikan dan barang-barang mewah yang dimiliki dijual. Para pedagang asongan yang pada awalnya berpindah-pindah mulai menetap atas inisiatif Gubernur DKI Jakarta saat itu, Ali Sadikin, di tahun 1974.

Penataan kios-kios permanen di sepanjang satu sisi Jalan Surabaya ini bertujuan agar para pedagang tidak berjualan di trotoar dan merusak estetika kawasan Menteng.


Jalan Pagi Untuk Ketemu Kopi

Pagi itu, perjalanan saya dimulai dari perempatan Jalan Surabaya dan Pangeran Diponegoro. Saya berhenti di Nwansa Coffee sebuah kedai yang nyempil di pengkolan, di antara toko-toko yang tertutup rolling door. Kedai kopi itu ramai pengunjung di Sabtu pagi, ternyata sedang ada walking tour yang beristirahat di sana. Mau duduk buat people listening dan ngonten jadi gagal.

Nwansa Coffee memberikan kesan jadul, dengan koleksi LCD dan DVD, serta telepon kabel yang ada di raknya. Cafe-nya sendiri hanya muat untuk beberapa orang, tapi merupakan tempat perhentian yang populer bagi mereka yang bersepeda atau komunitas lari. Saya memesan Ice Americano, karena merencanakan untuk membawa minuman sambil melanjutkan perjalanan. Untuk Americanonya sendiri, ada dua pilihan beans dan saya memilih yang bukan rekomendasi baristanya, karena saya bukan fans beans yang fruity. Tetap enak kok kopinya, harganya juga terjangkau.



Coffee Shop di Jalan Surabaya ada beberapa. Yang paling terkenal adalah Giyanti. Saya dulu pernah ke Giyanti sebelum tempatnya viral dan terkenal. Giyanti adalah salah satu destinasi kopi artisan terbaik yang menawarkan berbagai pilihan biji kopi berkualitas tinggi. Tempatnya artistik dengan interior vintage yang unik, lengkap dengan perpaduan furnitur kayu, tanaman hijau. Tempat ini cocok buat duduk, brunch dan ngopi bersama teman-teman. Tempat ini sekarang sudah populer, lengkap dengan fasilitas valet parking. Selain kopi, yang membekas di ingatan saya tentang tempat ini adalah pastry-nya.



Yang terbaru di jalanan ini adalah Common Grounds yang ada di ujung jalan berlawanan dengan Nwansa Coffee. Common Grounds adalah salah satu roastery dan cafe yang familiar bagi warga Jakarta, karena seringkali ditemukan di mall. Cafe modern dengan tempat yang nyaman untuk WFC ini memberikan kesan berbeda dengan Giyanti dan Nwansa Coffee yang lebih melokal.

Selain ketiga tempat itu, satu coffee shop yang bikin penasaran untuk dikunjungi adalah IniLoh Kopi. Sebenarnya ini bukan Coffee Shop sih karena bentuknya hanya kios dengan jendela terbuka di mana kita bisa memesan kopi. Hanya bisa to go atau duduk di pinggir jalan. Menunya pun sederhana. Konsep ini sering saya temukan di negara tetangga. Sayangnya hari itu saya sudah pegang kopi.


Sebenarnya, kalau dipikir-pikir, perjalanan saya menyusuri Jalan Surabaya ini agak terbalik. Seharusnya saya mulai dari ujung Cikini baru ke perempatan jalan Pangeran Diponegoro. Jadi bisa lihat-lihat kanan kiri dulu sebelum berhenti di Nwansa Coffee untuk istirahat dan people listening.

Friday, May 8, 2026

Hidden Gem Cikini: Dua Nuansa Jepang dalam Satu Kawasan

Bicara kawasan Cikini, yang pertama terlintas di pikiran pasti Taman Ismail Marzuki. Kali ini berbeda. Cikini selalu punya cara untuk menghadirkan suasana tenang di tengah hiruk-pikuk Jakarta, terutama bagi siapa saja yang ingin melarikan diri sejenak untuk mencari inspirasi. Padahal ada Stasiun yang sibuk, jalur satu arah yang sering macet. Jalanan yang padat dengan warung, restoran, jajanan dan segala kekacauan tumpah ruah di jalan.

Penjelajahan kali ini membawa saya mengunjungi dua destinasi kuliner Jepang yang memiliki jiwa berbeda namun sama-sama menawarkan kenyamanan. Kedua tempat ini membuktikan bahwa pesona kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ruang mampu bercerita.


Tapi ya, saya harus berterima kasih pada Taman Ismail Marzuki soalnya saya menemukan kedua tempat ini gara-gara apa, teman-teman? Betul… gara-gara buka fitur nearby Google Maps pas lagi di Taman Ismail Marzuki.

Let’s go!

Kikugawa Resto
Jl. Cikini IV No.20, RT.15/RW.5, Cikini, Menteng, akarta Pusat 10330
Buka: Setiap hari jam 11.30 am–2.30 pm (lunch) dan 5.30–9.30 pm (dinner)

Menemukan restoran ini secara tidak sengaja karena bingung mau makan siang di mana sebelum nobar film Detektif Conan. Karena Dudu suka makanan Jepang, kita belok ke Cikini IV mencoba Kikugawa. Restoran Jepang rumahan yang nyempil di bawah rel kereta di jalan R.P. Soeroso. Ternyata restorannya tradisional, suasananya autentik dan makanannya enak.

Didirikan pada tahun 1969 oleh Kikuchi Surutake, Kikugawa adalah salah satu restoran Jepang tertua di Jakarta. Restoran ini menempati sebuah rumah, dengan exterior dan interior khas Jepang. Bangunan restoran mempertahankan gaya klasik dan vintage, yang kental dengan nuansa rumah tua. Tidak ada penanda resto yang visible, hanya tulisan Kikugawa di depan, jembatan lengkung berwarna merah cerah, papan info khas Jepang dan tirai kain tradisional Jepang atau noren dengan karakter kanji warna hitam. Masuk ke dalam melewati pintu geser seperti masuk ke dunia lain. Interiornya didominasi oleh elemen kayu, dan dekorasi tradisional Jepang.


Yang perlu diperhatikan kalau berkunjung ke Kikugawa adalah parkir mobil terbatas hanya untuk 1-2 mobil, jadi biasanya kita parkir di pinggir jalan. Selain itu jam buka yang ada jeda di sore hari juga perlu diingat agar bisa merencanakan kunjungan dengan baik.

Bagaimana dengan makanan? Karena saya dan Dudu lapar, jadinya kita pesan bento set. Saya pesan Kikugawa Set A (Rp. 137,000) yang isinya Fried Chicken Katsu dan Grilled Fish Fillet. Ternyata kekenyangan karena set berarti dapat nasi dan miso sup juga. Sementara Dudu pesan Kikugawa Set B (Rp. 153,000) yang isinya Grilled Beef dan Grilled Chicken. Habis itu nambah Gyoza isi 5 (Rp. 45,000) dan Tamagoyaki (Rp. 39,000). Kalap duluan karena terbawa suasana haha.



Menurut saya, Grilled Fish Fillet-nya juara. Rasanya seperti comfort food, tidak terlalu asin dan tidak terlalu manis. Ketika saya berkunjung kembali ke Kikugawa, grilled fish ini selalu jadi pesanan wajib. Kalau ditanya ke Dudu, jawaban dia sudah pasti, “enak kok, Mah” soalnya dia juga suka makanan Jepang. 

Sunday, May 3, 2026

Menemukan Jeda di Perpustakaan Jakarta

Kenapa Mengunjungi Perpustakaan?
Pada awalnya, saya hanya memandang perpustakaan ini dari depan pintu.

Saya pertama kali mengetahui keberadaan perpustakaan ini ketika sedang mengikuti kursus bahasa Korea. Namun perpustakaannya selalu tutup, karena les saya setelah jam kerja.


Ironisnya, saya baru bisa berkunjung ke sini setelah saya tidak lagi mengikuti kursus bahasa di sana. Itu pun perlu keberanian memasuki perpustakaan yang satu ini, karena penuh buku-buku berbahasa asing. Terasa ada beban berat ketika saya sebenarnya belum fasih-fasih amat dan hanya bisa memahami cerita di buku anak-anak saja.

Sejak saat itu, cara saya memandang perpustakaan di Indonesia ini berubah. Di dunia serba digital ini, mengunjungi perpustakaan menjadi sebuah tujuan traveling. Baik di kota sendiri maupun di kota tujuan. Banyak perpustakaan yang berlokasi di gedung bersejarah atau gedung modern dengan arsitektur unik. Sebagian perpustakaan juga lokasinya tersembunyi, jadi kalau mau berkunjung ke sana ya memang harus menjadikannya bagian dari itinerary.

Untuk saya, perpustakaan ini menjadi sanctuary, alias tempat untuk istirahat sejenak ketika traveling menjadi overwhelming. Perpustakaan menyatukan buku, budaya dan bahasa dalam satu ruang. Saya bisa menjelajahi rak-rak buku, menemukan buku-buku asing, dan mengikuti rasa ingin tahu ke mana pun dia pergi. Saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan ditemukan. Jadi kayak adventure sendiri.

Perpustakaan yang saya ceritakan tadi di awal adanya di dalam pusat kebudayaan Korea. Terletak di Korean Culture Center, Equity Tower, Jakarta, perpustakaan pusat kebudayaan Korea ini memiliki koleksi yang cukup lengkap. Dari novel, buku sejarah, buku anak hingga manhwa alias komik Korea. Masuk ke perpustakaan ini buat saya seperti pindah negara haha. Kalo ingin jalan-jalan ke Korea, ya mampir ke sini saja. Meskipun kecil, tapi tempatnya nyaman. Di satu sudutnya ada meja tempat membaca (atau buka laptop), dengan jendela besar menghadap ke hiruk pikuk kawasan SCBD.

Friday, May 1, 2026

Rekomendasi dan Tips Berkunjung ke Museum Smithsonian di Washington, D.C.

“Di Washington, D.C. banyak museum gratis?”
“Iya, satu deret sepanjang jalan.”
“Kalau mau ke sana, mulai dari museum yang mana?”


Pertanyaan ini sulit dijawab karena kawasan National Mall dipenuhi museum dengan tema yang sangat beragam. “Mau ke museum apa dulu” sangat bergantung pada interest dan waktu yang dimiliki. Apakah sejarah atau seni? Atau justru sains? Saya sendiri sudah dua kali berkunjung ke sini: pertama kali bersama teman-teman kuliah pada winter 2007, sekalian mampir saat perjalanan tahun baru ke New York City. Lalu, saya kembali lagi di summer 2023 bersama Dudu.

Supaya tidak bingung menentukan rute, yuk kita telusuri satu per satu museumnya. Di blogpost ini, saya fokus pada area utama National Mall, yaitu mulai dari Washington Monument hingga United States Capitol. Panjangnya sekitar 3 km; jika ditempuh berjalan kaki tanpa berhenti, butuh sekitar 45 menit hingga 1 jam. Biasanya, kunjungan ke National Mall ini diakhiri dengan perhentian di Lincoln Memorial, yang jaraknya sekitar 1,5 km dari Washington Monument, atau sekitar 20 menit berjalan kaki.

Kompleks museum ini adalah rumah bagi 17 museum, galeri, dan kebun binatang. Jadi, mau mulai dari mana dulu nih? Nulisnya aja bingung, apalagi harus berkunjung haha. Ada tiga museum yang menurut saya wajib kudu harus dikunjungi.

National Museum of Natural History


Museum ini adalah yang terfavorit sepanjang masa. Dari kerangka dinosaurus hingga berlian legendaris, kamu bisa “keliling dunia” tanpa keluar gedung. Eh, kayaknya familiar ya? Well, buat yang pernah nonton film Night at the Museum, vibes-nya mirip sama yang di film tersebut. Sama-sama Museum of Natural History yang punya Dinosaur dan Fossil Halls, tapi beda lokasi.

Museum ini cocok untuk semua umur. Ada aquarium, fosil ikan hiu, insect zoo dan berbagai pengalaman interaktif sekaligus edukatif. Kalau bawa anak bisa seharian sih haha.

Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.

National Air and Space Museum



Ini museum favorit Dudu karena isinya teknologi dan luar angkasa. Kita bisa melihat langsung pesawat asli milik Wright Brothers hingga Apollo 11 command module. Museum ini juga luas, setidaknya membutuhkan waktu setengah hari lebih untuk menjelajahi semuanya. Museum ini memiliki ketentuan untuk booking, bahkan untuk pengunjung individual. Lalu, antrian ini bisa jadi panjang dan mengular di luar museum. Kalau National Air and Space Museum ada di dalam daftar kunjungan, sebaiknya prioritaskan museum ini dan booking tiketnya dulu.

Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.

National Museum of American History




Museum ini menarik bagi yang penasaran akan potret lengkap perjalanan Amerika Serikat, baik dari sisi politik maupun popular culture. Ada bendera asli Star-Spangled Banner dan benda bersejarah lainnya. Ada juga section khusus tentang para Presiden dan First Ladies. Bagian favorit saya dan Dudu di museum ini adalah section berjudul “Entertainment Nation.” Di sini, kita bisa melihat Dorothy’s ruby slippers dari Wizard of Oz, Star Wars R2-D2 and C-3PO costumes, serta artifact lain yang membangun culture entertainment di Amerika.

Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.


Selain tiga museum di atas, yang menurut saya wajib dikunjungi, ada beberapa museum lain yang bisa jadi alternatif.

National Museum of African American History and Culture dan National Museum of the American Indian masing-masing mengangkat sejarah, budaya, kontribusi dan perspektif dari dua suku yang identik dengan Amerika saat ini. Sama seperti National Museum of Natural History, National Museum of the American Indian juga punya cabang di New York. Lokasi museum ini berdekatan dengan National Air and Space Museum jadi bisa direncanakan di satu hari yang sama. Sementara National Museum of African American History and Culture sudah menarik perhatian saya dari bentuk bangunannya. Untuk ke museum ini, kita perlu reserve pass juga.

National Museum of African American History and Culture
Buka Senin (12:00 - 17:30), Selasa hingga Minggu (10:00 - 17:30).

National Museum of the American Indian
Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.

Sunday, April 26, 2026

Aquarium di Tengah Mall itu Adalah SEA LIFE Bangkok Ocean World

Aquarium di tengah kota Bangkok ini tiba-tiba masuk itinerary perjalanan saya dan Dudu karena lokasinya yang mudah diakses. SEA LIFE Bangkok Ocean World berada di bawah Siam Paragon, tempat ini cocok untuk jadi tujuan pertama di pagi hari sebelum menjelajah kota. Apalagi kalau bepergian sama anak.

Well, sebenarnya Dudu sudah masuk usia remaja. Namun, pergi ke aquarium selalu menarik buat kami berdua karena seperti masuk ke dunia lain. Dari hiruk-pikuk mall, kamu seperti masuk ke dunia lain yang lebih gelap, tenang, dan penuh warna. Meskipun saya lebih merasakan kontrasnya suasana, saat keluar dari aquarium di jam makan siang di akhir pekan. Seperti kembali ke dunia nyata setelah menyelam ke basement mall.



Our date is at
SEA LIFE Bangkok Ocean World
Siam Paragon. ชั้น บี1-บี2 สยามพารากอน 991 Rama I Rd, Pathum Wan, Bangkok 10330, Thailand
Jam buka: 10:00 - 20:00 (last entry 19:00)

SEA LIFE Bangkok Ocean World merupakan salah satu akuarium terbesar di Asia Tenggara, dengan luas sekitar 10.000 meter persegi yang terbentang di bawah pusat perbelanjaan Siam Paragon. Sebagai gambaran, luasnya hampir sama dengan Seaworld Ancol (sekitar 9.000 m²), tapi masih jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Jakarta Aquarium (sekitar 7.200 m²) atau Aquaria KLCC di Kuala Lumpur (sekitar 5.600 m²). Pesan saya pada Dudu cuma “Jangan dibandingkan dengan Singapura ya” haha.




SEA LIFE Bangkok Ocean World dibuka pertama kali pada tahun 2005 dengan nama Siam Ocean World. Kemudian, aquarium ini berganti nama menjadi SEA LIFE Bangkok Ocean World pada 2014 setelah dikelola oleh jaringan global SEA LIFE.

Harga Tiket:
  • 1,299 THB untuk dewasa
  • 1,099 THB untuk anak usia 2-11 tahun dan lansia di atas 60 tahun
  • Anak-anak di bawah 2 tahun gratis tapi wajib membawa dokumen pendukung.
Tiket dapat dibeli secara offline di lokasi, online di website resmi maupun online travel agent (OTA).

Ada apa di SEA LIFE Bangkok Ocean World?