Sunday, May 3, 2026

Menemukan Jeda di Perpustakaan Jakarta

Kenapa Mengunjungi Perpustakaan?
Pada awalnya, saya hanya memandang perpustakaan ini dari depan pintu.

Saya pertama kali mengetahui keberadaan perpustakaan ini ketika sedang mengikuti kursus bahasa Korea. Namun perpustakaannya selalu tutup, karena les saya setelah jam kerja.


Ironisnya, saya baru bisa berkunjung ke sini setelah saya tidak lagi mengikuti kursus bahasa di sana. Itu pun perlu keberanian memasuki perpustakaan yang satu ini, karena penuh buku-buku berbahasa asing. Terasa ada beban berat ketika saya sebenarnya belum fasih-fasih amat dan hanya bisa memahami cerita di buku anak-anak saja.

Sejak saat itu, cara saya memandang perpustakaan di Indonesia ini berubah. Di dunia serba digital ini, mengunjungi perpustakaan menjadi sebuah tujuan traveling. Baik di kota sendiri maupun di kota tujuan. Banyak perpustakaan yang berlokasi di gedung bersejarah atau gedung modern dengan arsitektur unik. Sebagian perpustakaan juga lokasinya tersembunyi, jadi kalau mau berkunjung ke sana ya memang harus menjadikannya bagian dari itinerary.

Untuk saya, perpustakaan ini menjadi sanctuary, alias tempat untuk istirahat sejenak ketika traveling menjadi overwhelming. Perpustakaan menyatukan buku, budaya dan bahasa dalam satu ruang. Saya bisa menjelajahi rak-rak buku, menemukan buku-buku asing, dan mengikuti rasa ingin tahu ke mana pun dia pergi. Saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan ditemukan. Jadi kayak adventure sendiri.

Perpustakaan yang saya ceritakan tadi di awal adanya di dalam pusat kebudayaan Korea. Terletak di Korean Culture Center, Equity Tower, Jakarta, perpustakaan pusat kebudayaan Korea ini memiliki koleksi yang cukup lengkap. Dari novel, buku sejarah, buku anak hingga manhwa alias komik Korea. Masuk ke perpustakaan ini buat saya seperti pindah negara haha. Kalo ingin jalan-jalan ke Korea, ya mampir ke sini saja. Meskipun kecil, tapi tempatnya nyaman. Di satu sudutnya ada meja tempat membaca (atau buka laptop), dengan jendela besar menghadap ke hiruk pikuk kawasan SCBD.

Friday, May 1, 2026

Rekomendasi dan Tips Berkunjung ke Museum Smithsonian di Washington, D.C.

“Di Washington, D.C. banyak museum gratis?”
“Iya, satu deret sepanjang jalan.”
“Kalau mau ke sana, mulai dari museum yang mana?”


Pertanyaan ini sulit dijawab karena kawasan National Mall dipenuhi museum dengan tema yang sangat beragam. “Mau ke museum apa dulu” sangat bergantung pada interest dan waktu yang dimiliki. Apakah sejarah atau seni? Atau justru sains? Saya sendiri sudah dua kali berkunjung ke sini: pertama kali bersama teman-teman kuliah pada winter 2007, sekalian mampir saat perjalanan tahun baru ke New York City. Lalu, saya kembali lagi di summer 2023 bersama Dudu.

Supaya tidak bingung menentukan rute, yuk kita telusuri satu per satu museumnya. Di blogpost ini, saya fokus pada area utama National Mall, yaitu mulai dari Washington Monument hingga United States Capitol. Panjangnya sekitar 3 km; jika ditempuh berjalan kaki tanpa berhenti, butuh sekitar 45 menit hingga 1 jam. Biasanya, kunjungan ke National Mall ini diakhiri dengan perhentian di Lincoln Memorial, yang jaraknya sekitar 1,5 km dari Washington Monument, atau sekitar 20 menit berjalan kaki.

Kompleks museum ini adalah rumah bagi 17 museum, galeri, dan kebun binatang. Jadi, mau mulai dari mana dulu nih? Nulisnya aja bingung, apalagi harus berkunjung haha. Ada tiga museum yang menurut saya wajib kudu harus dikunjungi.

National Museum of Natural History


Museum ini adalah yang terfavorit sepanjang masa. Dari kerangka dinosaurus hingga berlian legendaris, kamu bisa “keliling dunia” tanpa keluar gedung. Eh, kayaknya familiar ya? Well, buat yang pernah nonton film Night at the Museum, vibes-nya mirip sama yang di film tersebut. Sama-sama Museum of Natural History yang punya Dinosaur dan Fossil Halls, tapi beda lokasi.

Museum ini cocok untuk semua umur. Ada aquarium, fosil ikan hiu, insect zoo dan berbagai pengalaman interaktif sekaligus edukatif. Kalau bawa anak bisa seharian sih haha.

Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.

National Air and Space Museum



Ini museum favorit Dudu karena isinya teknologi dan luar angkasa. Kita bisa melihat langsung pesawat asli milik Wright Brothers hingga Apollo 11 command module. Museum ini juga luas, setidaknya membutuhkan waktu setengah hari lebih untuk menjelajahi semuanya. Museum ini memiliki ketentuan untuk booking, bahkan untuk pengunjung individual. Lalu, antrian ini bisa jadi panjang dan mengular di luar museum. Kalau National Air and Space Museum ada di dalam daftar kunjungan, sebaiknya prioritaskan museum ini dan booking tiketnya dulu.

Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.

National Museum of American History




Museum ini menarik bagi yang penasaran akan potret lengkap perjalanan Amerika Serikat, baik dari sisi politik maupun popular culture. Ada bendera asli Star-Spangled Banner dan benda bersejarah lainnya. Ada juga section khusus tentang para Presiden dan First Ladies. Bagian favorit saya dan Dudu di museum ini adalah section berjudul “Entertainment Nation.” Di sini, kita bisa melihat Dorothy’s ruby slippers dari Wizard of Oz, Star Wars R2-D2 and C-3PO costumes, serta artifact lain yang membangun culture entertainment di Amerika.

Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.


Selain tiga museum di atas, yang menurut saya wajib dikunjungi, ada beberapa museum lain yang bisa jadi alternatif.

National Museum of African American History and Culture dan National Museum of the American Indian masing-masing mengangkat sejarah, budaya, kontribusi dan perspektif dari dua suku yang identik dengan Amerika saat ini. Sama seperti National Museum of Natural History, National Museum of the American Indian juga punya cabang di New York. Lokasi museum ini berdekatan dengan National Air and Space Museum jadi bisa direncanakan di satu hari yang sama. Sementara National Museum of African American History and Culture sudah menarik perhatian saya dari bentuk bangunannya. Untuk ke museum ini, kita perlu reserve pass juga.

National Museum of African American History and Culture
Buka Senin (12:00 - 17:30), Selasa hingga Minggu (10:00 - 17:30).

National Museum of the American Indian
Buka setiap hari, pukul 10:00 - 17:30.

Sunday, April 26, 2026

Aquarium di Tengah Mall itu Adalah SEA LIFE Bangkok Ocean World

Aquarium di tengah kota Bangkok ini tiba-tiba masuk itinerary perjalanan saya dan Dudu karena lokasinya yang mudah diakses. SEA LIFE Bangkok Ocean World berada di bawah Siam Paragon, tempat ini cocok untuk jadi tujuan pertama di pagi hari sebelum menjelajah kota. Apalagi kalau bepergian sama anak.

Well, sebenarnya Dudu sudah masuk usia remaja. Namun, pergi ke aquarium selalu menarik buat kami berdua karena seperti masuk ke dunia lain. Dari hiruk-pikuk mall, kamu seperti masuk ke dunia lain yang lebih gelap, tenang, dan penuh warna. Meskipun saya lebih merasakan kontrasnya suasana, saat keluar dari aquarium di jam makan siang di akhir pekan. Seperti kembali ke dunia nyata setelah menyelam ke basement mall.



Our date is at
SEA LIFE Bangkok Ocean World
Siam Paragon. ชั้น บี1-บี2 สยามพารากอน 991 Rama I Rd, Pathum Wan, Bangkok 10330, Thailand
Jam buka: 10:00 - 20:00 (last entry 19:00)

SEA LIFE Bangkok Ocean World merupakan salah satu akuarium terbesar di Asia Tenggara, dengan luas sekitar 10.000 meter persegi yang terbentang di bawah pusat perbelanjaan Siam Paragon. Sebagai gambaran, luasnya hampir sama dengan Seaworld Ancol (sekitar 9.000 m²), tapi masih jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Jakarta Aquarium (sekitar 7.200 m²) atau Aquaria KLCC di Kuala Lumpur (sekitar 5.600 m²). Pesan saya pada Dudu cuma “Jangan dibandingkan dengan Singapura ya” haha.




SEA LIFE Bangkok Ocean World dibuka pertama kali pada tahun 2005 dengan nama Siam Ocean World. Kemudian, aquarium ini berganti nama menjadi SEA LIFE Bangkok Ocean World pada 2014 setelah dikelola oleh jaringan global SEA LIFE.

Harga Tiket:
  • 1,299 THB untuk dewasa
  • 1,099 THB untuk anak usia 2-11 tahun dan lansia di atas 60 tahun
  • Anak-anak di bawah 2 tahun gratis tapi wajib membawa dokumen pendukung.
Tiket dapat dibeli secara offline di lokasi, online di website resmi maupun online travel agent (OTA).

Ada apa di SEA LIFE Bangkok Ocean World?

Saturday, April 25, 2026

Pengalaman Dinner Cruise di Chao Phraya Bangkok Bareng Anak

“Mama, saya pengen naik cruise!”

Dudu sudah lama mengutarakan mimpinya yang satu ini, dan sampai blog ini ditulis, saya belum mampu mengabulkannya. Selain karena mahal, waktu liburan kita berdua sering tidak cocok. Beberapa tahun lalu, kami berdua mengunjungi Bangkok dan saya menemukan satu alternatif perjalanan cruise yang sepertinya bisa menghibur hati.

Chao Phraya River Cruise adalah perjalanan naik kapal menyusuri sungai yang jadi salah satu daya tarik utama (kalau tidak mau dibilang nyawa) kota Bangkok. Basically, perjalanan ini sama seperti cruise biasa. Bedanya, kalau cruise reguler kita bisa berhari-hari dan melakukan banyak kegiatan, di Chao Phraya River Cruise kita hanya makan buffet all-you-can-eat dan menikmati pemandangan malam kota Bangkok. Di sepanjang tepian sungai Chao Phraya ada kemegahan kuil-kuil bersejarah seperti Wat Arun, deretan gedung pencakar langit modern, dan beragam tujuan kuliner. 

Yang pertama terlintas di kepala adalah “kok Ciliwung ga bisa ya?” Biar kami berdua bisa pergi cruise kapan saja. Haha. Anyway, setelah browsing lebih lanjut, dan dapat approval Dudu, saya memutuskan untuk memasukkan cruise ini dalam itinerary Bangkok kami berdua. 

What You Need to Know about these Chao Phraya River Cruise

Kebanyakan perjalanan kapal pesiar Chao Phraya River Cruise memiliki dua jenis perjalanan yaitu Sunset Cruise dan Dinner Cruise. Sunset cruise biasanya dimulai pukul 16:30 – 17:00 dan memiliki durasi yang lebih singkat, sekitar 90 menit. Sementara Dinner Cruise biasanya dimulai sekitar Pukul 19:00 dan berdurasi sekitar 2 jam karena ada waktu untuk makan all-you-can-eat buffet. Rute yang dilewati kurang lebih sama, tapi dinner cruise biasanya menempuh jarak lebih jauh ke utara melewati Jembatan Rama VIII sebelum berputar balik untuk memberikan waktu dinner yang lebih lama.

Tiket Chao Phraya River Cruise dapat dipesan dengan mudah secara online, baik melalui OTA lokal seperti Traveloka maupun platform internasional seperti Klook atau Booking.com. Kalau sudah mantap ingin mencoba pengalaman ini, sebaiknya pesan tiket jauh-jauh hari. Dinner cruise di sini termasuk aktivitas yang cukup populer, terutama di musim liburan. 

Ada beberapa operator cruise dengan pilihan kapal dan jenis buffet yang berbeda-beda. Titik keberangkatannya pun bervariasi, umumnya dari depan mall Asiatique atau ICONSIAM. Karena itu, ada baiknya meluangkan waktu untuk membandingkan opsi yang tersedia sebelum menentukan pilihan. Saya dan Dudu mengikuti perjalanan Dinner Cruise dengan Chao Phraya Princess Cruise. 

Berdasarkan harga di tahun 2026, Chao Phraya Princess Cruise mematok harga sekitar 1,200 THB untuk dewasa dan 950 THB untuk anak usia 4–12 tahun, sementara anak di bawah 4 tahun bisa ikut gratis. Durasi perjalanan sekitar 2 jam, dimulai pukul 19:30. Menariknya, tersedia dua pilihan menu: International Buffet dan Indian Buffet, dengan dermaga keberangkatan yang berbeda. Karena kami memilih International Buffet, titik keberangkatan kami adalah ICONSIAM.

Sunday, April 19, 2026

New York Transit Museum: Menjelajah Sejarah Subway New York di Bekas Stasiun Bawah Tanah

Salah satu hal yang pertama muncul di kepala ketika mendengar kata New York adalah Subway-nya, yang lebih dikenal dengan MTA. Saat ini, New York Subway punya 472 stasiun di empat wilayah (Manhattan, Brooklyn, Queens, dan Bronx). Dan buat saya, subway New York bukan sekadar sistem transportasi. Ada kenangan personal di dalamnya. Salah satunya adalah momen berlari mengejar kereta terakhir setelah merayakan tahun baru di Times Square bersama teman-teman kuliah dulu.

Well, itu cerita lama. Saat kembali ke New York di tahun 2025, saya jadi melihat subway dengan cara yang berbeda. Kali ini, saya tidak hanya naik, tapi juga “kembali ke masa lalu” lewat kunjungan ke New York Transit Museum.

New York Transit Museum
99 Schermerhorn St, Brooklyn, NY 11201, United States


Berada di Downtown Brooklyn, museum ini menempati bekas stasiun Court Street yang dibuka pada tahun 1936. Museum ini unik karena menawarkan pengalaman menjelajah stasiun bawah tanah asli yang sudah tidak digunakan lagi dan menghadirkan suasana autentik yang sulit ditemukan di museum lain. Begitu memasuki area museum, kita langsung merasakan atmosfer klasik subway New York, termasuk udara dingin khas bawah tanah, yang terasa semakin menusuk karena saya datang di musim dingin. Bahkan di dalam ruangan pun, saya dan Dudu tetap memakai coat.

Jalan masuk ke museum ini cukup tricky untuk ditemukan karena bentuknya tangga menuju stasiun bawah tanah. Lokasinya berada di persimpangan Schermerhorn Street dan Boerum Place. Pintu masuknya ditandai dengan pagar besi khas New York dan papan petunjuk berwarna biru cerah.

Harga tiket museum ini adalah 10 USD untuk dewasa dan 5 USD untuk anak-anak dan Lansia. Museum ini buka hari Rabu hingga Minggu, pk. 10.00 – 16.00. Perlu diingat bahwa lokasi museum yang ada di stasiun bawah tanah, membuat adanya pembatasan entry di waktu-waktu tertentu ketika pengunjung sedang padat. Ada baiknya booking tiket terlebih dahulu jika berencana berkunjung di musim liburan.

Apa yang Bisa Dilihat di Dalam Museum?

Friday, April 17, 2026

Membuat Itinerary Traveling yang Efektif Dan Realistis

“Emang ke Singapura mau ngapain aja?”
“Bagi itinerary-nya dong.”
“Hari terakhir bisa shopping nggak?”

Kalimat-kalimat adalah contoh yang sering muncul di chat saya menjelang keberangkatan. Soalnya saya yang bertugas bikin itinerary. Mau ngapain aja selama di kota atau negara tujuan? Seberapa detail kita harus menuliskan itinerary? Lalu, yang paling sering ditanyakan adalah, “lo kalo bikin itinerary, mulai dari mana sih?”

Mulai dari memilih negara tujuannya dulu hahaha.
Tolong jangan timpuk.

Anyway, on a more serious note, itinerary saya biasanya dimulai dari menjawab pertanyaan sederhana: Where, What, When, Who, and How. Seperti menulis blog ya harus ada 5W 1H. Itinerary cuma butuh 4W dan 1H. W yang kelima (Why) hanya perlu muncul kalau ada pertengkaran yang timbul akibat itinerary yang disusun. Kalau sudah paham, yuk, kita mulai susun itinerary kita.



WHERE - Mau pergi ke mana?

Negara tujuan kita apa? Singapura. Oke, itu mudah. Kalau daerah yang lebih luas gimana? Misalnya, mau ke Jawa Timur. Jawa Timur sebelah mana? Surabaya? Mau nyebrang ke Madura? Atau malah belok ke Malang? Mau ke Korea Selatan. Mau ke kota apa saja? Mau ke Jeju juga nggak? Atau ke Busan? Korea Selatan saja atau sekalian ke Jepang?

“Where” adalah menentukan kota atau negara tujuan dengan spesifik.

WHAT - Apa yang mau dikunjungi?

Apakah kita mau ke museum? Ke alam bebas? Atau ke tempat-tempat populer? Biasanya, saya akan membuat list tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Bukan cuma objek wisata populer, tetapi juga cafe, restoran, tempat oleh-oleh. Pokoknya semua tempat yang mau dikunjungi.

Biasanya “What” ini berguna kalau kita bepergian dalam grup. Ada si A yang pengen ke theme park, ada si B yang senangnya museum. Ada si C yang pengen mencoba makan viral. Belum lagi kalau si D punya anak kecil lalu pengen shopping di toko tertentu. Kalau semua di list, kan jadi masing-masing kebagian mengunjungi tempat yang ingin dituju.

What-nya kadang sampah se-detail ini kalau kita banyak mau haha

Thursday, April 16, 2026

Hoz Pasta Kebagusan, Kafe Pasta dan Pizza Jakarta yang Wajib Dicoba

"Masak pasta aja ah!"

Kalimat itu sering lewat di kepala saya kalau sudah stuck mau masak apa. Soalnya pasta (terutama jenis penne) sering jadi pilihan ketika saya tidak punya banyak waktu maupun kehabisan ide mau makan apa. Pasta buat saya adalah sesuatu yang sederhana, mudah diolah dan jadinya enak meskipun saya tidak bisa masak. Tapi anehnya, meskipun tinggal di ibu kota, saya justru jarang menemukan kafe pasta dan pizza Jakarta yang benar-benar cocok di lidah. Entah karena rasanya kurang autentik atau harganya yang kurang bersahabat. Sedih ya.

So, ketika saya dipertemukan dengan hidden gem kafe pasta dan pizza jakarta, yang harganya super affordable tapi rasanya bener-bener out of this world, rasanya tuh kayak baru aja nemuin harta karun yang udah lama hilang. Oke, lebay. Tapi review ini beneran.

Hoz Pasta Kebagusan
Jl. Sepat I No.8A, RT.7/RW.2, Kebagusan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12510


First thing first. Location. Hal yang membuat saya dengan mudah bilang “yuk” adalah lokasinya yang dekat rumah. Tinggal di sisi selatan TB Simatupang biasanya identik dengan pilihan makanan barat yang terbatas. Kalaupun ada, kebanyakan tidak sesuai selera.

Saya tiba di Hoz Pasta sekitar pukul 16:00, bukan jam makan tapi restorannya ramai. Parkiran mobil terbatas dan arena parkir tempat ini didominasi oleh motor. Tempat ini bisa dengan mudah dicapai dari Stasiun KRL Tanjung Barat. Jaraknya sekitar 1 km atau 15 menit berjalan kaki lewat Jalan Baung. Kalau saya perhatikan, tempat ini ramai oleh mereka yang mau sekadar nongkrong santai ataupun serius ngejar deadline sambil WFC. Tidak heran kalau dengan mudah tempat ini bisa jadi rekomendasi tempat makan pasta dan pizza di Jakarta. Maybe next time saya bisa WFC di sini juga.

Menu Pasta yang Affordable dan Comforting