Sekarang pilihan maskapai memang masih banyak, tetapi harga tiket makin sulit diprediksi. Kadang untuk rute PP Jakarta–Singapura yang biasanya sekitar tiga jutaan, tiba-tiba bisa melonjak jadi enam juta saat long weekend. Tapi kan saya tetap harus pergi ke negara tetangga karena ada urusan keluarga dan nonton konser. Jadi, naik pesawat apa dong?
Disclaimer dulu kalau semua opini di artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman keluarga yang bepergian di rute yang sama.
Kenapa saya suka Jetstar? Bukan karena fasilitasnya paling mewah atau pesawatnya paling baru, melainkan karena rasanya selalu pas untuk perjalanan Jakarta–Singapura. Jadwal penerbangan jam 9 pagi membuat saya bisa sampai di Singapura sebelum makan siang, dan punya lebih banyak waktu sebelum acara sesungguhnya. Memang Jetstar bukan satu-satunya maskapai dengan jam penerbangan seperti itu. Ada AirAsia, Batik Air, dan Scoot juga. Namun, biasanya harga tiket mereka sudah di atas satu juta Rupiah, sementara Jetstar sering terasa lebih ramah di kantong. Karena itu, tanpa sadar saya jadi cukup sering mengandalkan maskapai ini untuk short getaway maupun perjalanan mendadak. Sekarang setelah Jetstar tidak lagi melayani rute Jakarta–Singapura, mau tidak mau, saya jadi harus mencari alternatif pada maskapai lain yang tersedia.
Maskapai pertama yang paling sering saya gunakan setelah Jetstar adalah Citilink. Kalau rute Jakarta-Singapura biasanya saya langganan naik Jetstar, sebaliknya di Singapura-Jakarta, saya sering memilih Citilink. Untuk rute Singapura–Jakarta, Citilink termasuk nyaman karena punya pilihan penerbangan pagi dan malam. Saya biasanya memilih penerbangan pagi karena jadwalnya cukup ideal. Dari beberapa kali terbang dengan Citilink, saya baru sekali mengalami reschedule, dan untungnya masih di hari yang sama.

































