Wednesday, February 11, 2026

Light to Night Festival: Singapura Setelah Matahari Terbenam

Apa rasanya duduk di padang rumput sambil menyaksikan pertunjukkan lampu tembak warna-warni bergerak di tembok sebuah bangunan bersejarah? Sepertinya cocok untuk saya yang senang bengong dan people watching. Ada beberapa tempat untuk melakukan ini di Light to Night Festival, yaitu di National Gallery Singapore dan Victoria Theatre and Concert Hall. Pertunjukkan lampunya sih ada juga di The Arts House at The Old Parliament, tapi tidak ada padang rumput dan tempat duduk-duduk cantik untuk menikmati pertunjukannya.


Dari tadi ngomongin Light to Night Festival, apaan sih ini?

Light to Night Festival adalah salah satu acara tahunan di Singapura yang biasanya digelar setiap Januari hingga Februari. Festival ini berpusat di kawasan Civic District yaitu seputaran National Gallery Singapore dan area sekitarnya seperti Padang, St. Andrew’s Cathedral, Singapore River, hingga gedung-gedung bersejarah lainnya di Civic District. Selama beberapa minggu, area terbuka di pusat kota Singapura ini berubah menjadi galeri seni yang bisa dinikmati secara gratis oleh siapa saja.

Bahkan untuk hari pertama, ketika saya datang ke sana, National Gallery Singapore dibuka gratis untuk umum. Kecuali special exhibition tentunya.

 

Melihat sejarahnya, festival ini pertama kali diadakan pada 2016, dan sejak itu menjadi agenda budaya yang ditunggu-tunggu. Setiap tahun, temanya berbeda, tapi biasanya berkaitan dengan isu kemanusiaan, identitas, emosi, atau hubungan manusia dengan lingkungan dan teknologi. Tema ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk karya seni dengan cahaya, instalasi multimedia, proyeksi pada bangunan bangunan, pertunjukan, hingga program diskusi dan workshop.

Sayangnya, karena saat itu saya datang di hari pertama, jadi kegiatannya banyak yang belum mulai. Baru pameran, bazaar dan pertunjukkan lampunya saja.







Apa yang membuat Light to Night Festival menarik adalah penggunaan bangunan ikonik sebagai medium seni. Bagian tembok depan National Gallery Singapore, yang dulunya merupakan gedung Balai Kota dan Mahkamah Agung itu, menjadi kanvas pertunjukan visual. Proyeksi cahaya ini tidak hanya menampilkan visual yang menarik, tetapi juga mengangkat cerita sejarah, nilai sosial, dan pesan artistik yang relevan dengan tema festival tahun tersebut. Intinya sih, Civic District Singapura berubah setelah matahari terbenam.

Apa saja yang harus diperhatikan kalau ke acara terbuka seperti ini?

Sunday, February 8, 2026

Liburan Spontan dan Anti Bosan di Singapura

Singapura itu sering dapat cap “rapi, mahal, dan gitu-gitu aja”. Tapi saya masih balik-balik juga ke negara tetangga itu. Kenapa?

Jadi, ceritanya, awal tahun ini saya balik lagi ke Singapura. Karena sudah kesekian kalinya, saya tidak punya itinerary pasti. Tidak ada planning, dan janjian ketemuan teman pun spontan semuanya. Ketika pulang, saya scrolling foto-foto untuk dijadikan bahan tulisan blog challenge, dan menyadari bahwa trip ini adalah salah satu yang paling berkesan buat saya.

Kok bisa?

Mau Jalan ke mana kita hari ini?

Singapura adalah kota yang membiarkan saya nggak ngapa-ngapain, dan itu ternyata adalah sesuatu yang luxurious.


Singapura bagi banyak orang adalah tentang itinerary yang padat dan daftar belanja yang panjang. Namun bagi saya, Singapura adalah kota yang mengizinkan saya untuk "tidak ngapa-ngapain" dan ketika dijalani, hal itu adalah kemewahan yang luar biasa.

​Ada kenyamanan tersendiri saat saya menyadari bahwa tidak punya rencana itu tidak apa-apa. Di liburan kali ini, saya baru sempat mengecek jadwal eksibisi museum dan galeri setelah beberapa hari menapakkan kaki di Singapura. Sayangnya, di minggu saya berkunjung, tidak ada exhibition yang menarik perhatian. Yah, namanya juga jalan-jalan spontan. Namun, saya masih sempat mencicipi hiruk-pikuk opening day Light To Night Festival di Civic Center.


Light to Night Festival adalah sebuah perayaan visual yang memadukan teknologi dan seni. Festival ini menghidupkan fasad megah gedung-gedung ikonik di Singapura seperti National Gallery Singapore dan Victoria Theatre dengan instalasi art projection mapping. Begitu matahari terbenam, Singapura berubah jadi pertunjukan lampu yang fantastis. Itu pun agenda-agenda yang menarik sebenarnya ada di akhir bulan.

Namun, datang ke festival itu kan hanya satu malam, lalu bagaimana dengan sisa harinya?

​Di sinilah letak serunya. Di Singapura, saya merasa bisa datang hanya untuk berjalan kaki atau makan, lalu pulang. Saya tidak harus memaksakan diri menjadi turis. Saya cukup menjadi manusia biasa.

​Kejutan di Balik Fitur "Nearby"

Tuesday, February 3, 2026

T5 In the Making: Melihat Masa Depan Changi Airport

“Eh, apaan nih?” pikir saya, melihat sebuah area pameran yang masih tertutup di ujung Terminal 3 Changi Airport. Pagi itu, sambil menyantap sarapan di McDonald’s, rasa penasaran mulai muncul. Saya langsung googling, karena dari balik pembatas pameran terdengar suara seperti latihan opening ceremony. Ada suara MC yang formal “Ladies and gentlemen…” lengkap dengan intonasi khas acara resmi.

Ada tulisan T5 di sana. Wah, ada terminal baru lagi di Changi! Saya pun bertekad sebelum pulang ke Indonesia, saya harus mampir dan lihat sendiri apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan di sana.

 

T5 In the Making adalah pameran gratis yang digelar di Arrival Hall Terminal 3 Changi Airport, berlangsung dari 6 Januari hingga 31 Maret 2026. Lewat exhibition ini, pengunjung diajak menelusuri perjalanan panjang pengembangan bandara Singapura, sampai akhirnya masuk ke visi besar, desain, dan teknologi yang akan membentuk Terminal 5 (T5) di masa depan.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Ministry of Transport (MOT), Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS), dan Changi Airport Group (CAG). Meski gratis, pengunjung tetap perlu mendaftar terlebih dahulu karena kapasitas ruangannya terbatas. Setelah registrasi, kita akan menerima email konfirmasi yang nantinya bisa ditukar dengan semacam personal boarding pass sebelum masuk ke area pameran. Simple, tapi terasa pas dengan tema bandara yang mau dibuka.

Registrasi di sini: https://t5inthemakingreg.changiairport.com/

Saat saya mendaftar, slot kunjungan masih cukup longgar di hampir setiap jam. Saya registrasi H-1 sebelum kedatangan, dan memilih slot pukul 11 siang. Ketika datang dan berkeliling, suasananya juga tergolong sepi. Tidak ada antrean masuk, dan di dalam, saya hanya berpapasan dengan dua atau tiga pengunjung lain. Kondisi ini bikin saya bisa menikmati pameran dengan santai, berhenti lama di beberapa titik, foto-foto, dan ambil konten tanpa rasa terburu-buru.

Namun, saat saya cek kembali untuk keperluan menulis blog ini, terlihat kalau slot Sabtu–Minggu sudah mulai banyak yang penuh.

Untuk kunjungan, siapkan waktu sekitar 40–50 menit. Saya sendiri hampir menghabiskan satu jam, sebagian besar karena terlalu sering berhenti buat foto. Kalau berencana datang sebelum penerbangan, jangan lupa juga memperhitungkan waktu perjalanan dari dan menuju area pameran.

Ada apa saja di exhibition T5 In the Making ini?

Sunday, May 11, 2025

Lokasi Wisata Sepanjang Busway Koridor 1

Saya bukan pengguna transportasi umum, tapi saya (akhirnya) naik busway. Yang paling sering saya tumpangi adalah busway koridor 1. Selain main dating apps di bis, saya juga senang memperhatikan jalan. Setelah sekian lama absen, dua bulan terakhir ini saya jadi sering naik busway. Parkir di Blok M Plaza, lalu lanjut dengan busway jalan-jalan keliling Jakarta. Ada rasa nostalgia karena jaman masih jadi pegawai kantoran dulu, saya bisa tiap hari naik koridor 1.

Ini adalah tempat-tempat yang bisa dikunjungi dengan naik busway koridor 1. Bukan daftar yang lengkap, karena ini hanya halte yang benar-benar pernah saya kunjungi. Tapi, setidaknya bisa memberi gambaran.


Halte: Blok M/ ASEAN/ Kejaksaan Agung
Tempat tujuan: M Bloc dan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu

M Bloc Space adalah daerah kekinian yang populer dengan anak muda saat ini. Bertempat di bekas kompleks perumahan pegawai Peruri, lokasi ini adalah perpaduan unik antara ruang terbuka hijau, toko-toko ritel yang menjual produk lokal dan unik, berbagai pilihan kuliner. Biasanya saya ke sini untuk menghadiri event atau acara komunitas. Tempat ini ramai di akhir pekan atau sore hari sepulang kerja.

Di seberangnya, tepat di bawah stasiun MRT Blok M, ada Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Taman ini adalah ruang publik yang mendorong minat baca dan kegiatan literasi bagi berbagai kalangan. Ada banyak event membaca yang diadakan di amfiteater mini taman ini. Namun, buat saya, taman ini adalah lokasi menunggu busway sambungan ke arah Pondok Labu haha.

Halte: Senayan Bank DKI/ Polda Metro Jaya
Tempat tujuan: GBK

Ini dulu halte favorit, alias sering banget disamperin karena saya pernah jadi mbak-mbak SCBD. Jadi kalau pulang kantor selalu naik koridor 1 dari halte Senayan Bank DKI yang kayaknya dulu bukan ini namanya haha. Begitu juga dengan konser-konser dan acara di area GBK yang mengharuskan saya naik transport umum supaya tidak kena macet pada saat bubarannya.


Dari Halte ini kita bisa ke GBK, yang sekarang ada Hutan Kota. Bisa ke fX Sudirman atau ke area SCBD.

Halte: Bundaran HI Astra
Tempat tujuan: Bundaran HI, Grand Indonesia, Plaza Indonesi
a

Selain tentunya kita bisa ke Bundaran HI, halte ini sering jadi tempat wisata karena adanya sky deck dengan pemandangan Sudirman dan Patung Selamat Datang. Kalau di Google Maps namanya Bundaran HI Viewing Platform. Halte ini juga yang terdekat dari pusat perbelanjaan Plaza Indonesia. Bisa jalan kaki juga ke Grand Indonesia, walaupun kalau ke mall yang ini, atau ke underpass jalan Kendal, saya lebih suka turun di Tosari.

Dibandingkan halte Bundaran HI, saya lebih sering berhenti di Halte Sarinah atau yang sekarang namanya MH Thamrin. Jarak kedua halte ini tidak terlalu jauh, sekitar 750 meter dan kurang lebih 10-15 menit jalan kaki di trotoar nyaman. Di halte MH Thamrin ada pusat perbelanjaan Sarinah dan Jalan Sabang yang terkenal dengan kulinernya.

Halte: Monumen Nasional
Tempat tujuan: Monas, Museum Nasional


Dari Halte Monas, Museum Nasional hanya beberapa menit jalan kaki. Namun, museum ini bukanlah tujuan utama saya sering turun di halte Monas. Dulu, ketika masih sering naik busway, saya biasanya tukar ke Koridor 12 di Halte Kota. Masalahnya Koridor 12 ini sering PHP alias memberikan harapan palsu bahwa buswaynya masih ada. Bus mereka terakhir jam 10 malam, namun terkadang, jam 9.30 sudah tidak ada lagi. Jadi, kalau saya pulang di atas jam 9, saya akan turun di Monas dan tukar ke koridor 2 untuk pindah lagi ke koridor 10, karena kedua koridor itu sampai jam 12 malam.

Bulan puasa kemarin, saya kembali naik busway ini karena ada acara komunitas di Museum Nasional dan ternyata menyenangkan. Dari halte, kita hanya perlu menyeberang jalan, lalu masuk ke museum. Begitu juga dengan ke Monas. Halte ini adalah salah satu yang populer di hari libur, jadi kalau naik busway di akhir pekan, siap-siap tidak kebagian tempat duduk.

Halte: Kali Besar / Museum Sejarah Jakarta
Tempat tujuan: Kota Tua


Kalau turun di Halte Kali Besar, kita bisa foto-foto di toko Merah yang ada di seberang jalan. Kalau turun di Halte Museum Sejarah Jakarta, kita akan melewati daerah ramai depan Stasiun Kota dan langsung menemukan museumnya. Jarak kedua halte ini ke area lapangan di tengah Kota Tua kurang lebih sama.


Halte Kali Besar ini juga adalah tempat kita turun kalau mau pergi ke Museum Bahari. Walaupun jalan kakinya sekitar 1 kilometer dan mendaki gunung melewati lembah, serta menerjang panas terik daerah pelabuhan, tapi masih bisa dijalani.

Menjelajahi Jakarta menggunakan busway koridor 1 adalah pengalaman menyenangkan. Hanya saja, hindari jam-jam padat seperti berangkat dan pulang kantor. Atau hari libur siang-siang. Sebagai pengguna transportasi umum pemula, saya senang dengan Koridor 1 karena punya banyak tempat yang bisa digunakan untuk parkir mobil seperti Blok M atau mall-mall dan hotel di seputaran Bundaran HI.

Bisa dicoba kalau sedang malas menembus kemacetan Sudirman-Thamrin dengan mobil pribadi atau terhalang ganjil-genap sampai tempat tujuan.

Friday, May 9, 2025

Cerita Sebuah Rumah Mewah di Selatan Jakarta

Konsep Work From Cafe (WFC) yang jadi populer sejak COVID ini memberikan alternatif bagi mereka yang bosan dengan suasana monoton. Pergantian atmosfer kerja ini penting buat saya, karena dapat memicu kreativitas, mengurangi stres, dan memberikan perspektif baru. Bahkan mood menulis juga dipengaruhi oleh suasana yang ada.

Salah satu tempat yang akhir-akhir ini sering saya kunjungi adalah cafe yang sebenarnya adalah rumah. Keduanya saya tahu dari teman, namun ketagihan datang, sehingga saya kembali lagi untuk beberapa kesempatan berikutnya. Dua rumah ini hadir dengan keunikannya masing-masing. Jadi, tergantung apa yang ingin dicapai, mood seperti apa yang ingin dibangun, dua tempat ini bisa jadi pilihan WFC berikutnya.


Saya sering bercanda bahwa untuk jadi orang kaya, kita harus manifestasi dulu. Makanya saya suka kerja di rumah ini. Manifestasi sendiri maksudnya mengubah pikiran dan keyakinan menjadi kenyataan melalui fokus, afirmasi, dan visualisasi positif. Untuk itu harus ada yang terlihat: rumah mewah di Andara.

Saat memasuki gerbang The Manor Andara, kesan pertama yang menyambut adalah kemegahan dan ketenangan yang berbeda dari hiruk pikuk jalanan di luar. Kalau masuk dengan berjalan kaki mungkin lebih dramatis karena ada suara gemericik air dari air mancur di dekat gerbang utama. Apalagi kalau jalan kaki langsung berbelok menyeberangi taman.

Konon, awalnya tempat ini dikenal sebagai wedding venue. Ya, kalau melihat wujudnya sih tidak heran. Mengusung konsep bangunan seperti rumah besar bergaya Eropa klasik, dengan pilar-pilar megah dan taman yang asri. Ada beberapa bangunan di sana, selain rumah utama yang mengingatkan saya pada film Crazy Rich Asian itu. Salah satunya ternyata cafe. Suasana di The Manor Cafe terasa tenang dan elegan, dengan pilihan area indoor dan outdoor. Terutama di weekdays, karena sepi, jadi serasa rumah milik sendiri. Meskipun ada area outdoor, yang pemandangannya langsung ke air mancur dan taman yang luas, saya lebih suka ada di indoor. Soalnya, cuaca di Andara itu panas.

The Manor Cafe menawarkan beragam pilihan menu, mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Harganya cukup menguras kantong, namun untuk beberapa menu, terutama menu Indonesia, porsinya sebanding dengan apa yang dibayarkan. Yang paling saya suka dari menu di The Manor adalah “Indonesian Platter” yang isinya pisang goreng, singkong goreng dan bakwan goreng. Biasanya kalau datang, saya lebih suka sudah makan siang kenyang di luar lalu sibuk ngemil dan ngopi di sini sampai matahari terbenam.


Namun, jika memutuskan untuk makan siang atau makan malam di sana, saya akan memilih Nasi Goreng Kampung. Selain dapat ayam, menu ini juga dilengkapi dengan sate, telur mata sapi dan kerupuk. Sebenarnya, pastanya juga enak sih. Tapi untuk yang terbiasa makan nasi, porsinya termasuk kecil dan pasti tidak kenyang.

Beberapa hal yang perlu disiapkan kalau WFC di sini adalah:
  • Colokan yang lumayan jarang. Tidak semua meja punya colokan, hanya beberapa yang berada di sisi jendela yang menghadap ke taman. Namun, karena The Manor Cafe ini biasanya sepi, saya tidak pernah kesulitan mendapatkan tempat duduk idaman.
  • WCnya jauh. Kalau hujan, kita harus pakai payung untuk ke WC yang letaknya dekat kolam renang.
  • Bisa grounding di taman kalau stress. Tapi, hati-hati dengan nyamuk ya.
  • Parkirannya luas, hanya saja, kalau ada event, kita bisa tidak kebagian parkir.
Ketika menulis postingan ini, saya sudah tiga kali ke The Manor Andara & The Manor Cafe. Ketiganya memiliki pengalaman yang berbeda.

Pertama kali ke sana, saya datang sore hari, bertemu teman dan hanya mencoba kopi serta pastry. Selain meja kami, ada dua sampai tiga meja lain yang terisi. Kedua kalinya saya ke sana, meja saya adalah satu-satunya yang terisi. Kami sering melihat beberapa orang datang untuk melihat venue dan memesan kopi untuk takeaway, tapi tidak ada yang stay dan duduk di meja. Kami datang di siang hari dan stay sampai Cafe-nya tutup.


Kunjungan ketiga adalah yang paling ramai. Soalnya ada event di salah satu bangunan yang ada di sana. Untungnya, karena datang cukup pagi, saya masih kebagian colokan. Tapi, ya jadi tahu kalau ramai itu ternyata jadi distracted karena saya sibuk people watching. Para selebgram yang bikin konten, bolak-balik ganti baju. Lalu, ada EO yang sibuk meeting di meja sebelah, atau sekedar mangkal membereskan report setelah event selesai.

The Manor Andara & The Manor Cafe dapat dicapai dengan kendaraan umum, baik dari arah Andara maupun dari arah Pangkalan Jati. Jika membawa kendaraan pribadi, perhatikan plang “The Manor” dari pinggir jalan. Pintu masuk ke rumah mewah ini ada di samping gerbang besar, yang terlihat dikunci. Jika berhenti di pinggir jalan, siap-siap berjalan kaki sekitar 5-10 menit untuk masuk ke rumah dan mencapai cafe. Iya, rumahnya memang sebesar itu.

Our Date is At:
The Manor Andara & The Manor Cafe
Jl. Ibnu Armah No.8, Pangkalan Jati Baru, Kec. Cinere, Kota Depok, Jawa Barat 16513



Sunday, May 4, 2025

Navigating Mass Rapid Transits in Overwhelming Cities

Navigating public transportation can be a challenge when it comes to a new city. Especially when we’re not regular public transport users. Singapore used to be the training ground, with only two SMRT lines and integrated buses. Now, the neighboring country has six lines with over 140 stations. My personal favorite stop, Dhoby Ghaut has become so overwhelmingly large and confusing. The busiest station back in the day, City Hall, now shared the crowd with many other interchanges.


Since then, me and Dudu have experienced public transport, subways in particular, around the world. From London’s Underground to New York's infamous MTA Transit. Wandering around Seoul’s Metro, going up and down Bangkok’s BTS and getting lost in Paris’ Métropolitain. Not to mention KL’s Rapid Transit, Metro de Madrid and the Prague Metro. Recently, we added Los Angeles MTA to our list. Our goal is to try the well-known Tokyo Metro.

Every Subway has its own complicated map, plus language barrier if we’re traveling in non-English Speaking countries. Some of them we travelled back to a decade ago when Google Maps wasn't as advanced, and metro cards aren't as easy to get. So we do have to rely on maps and one-time tickets.

Collecting our “Transit” stories, these are things we learnt the hard way. Some of them are so basic and we were warned that when we nostalgically recall them, it becomes an inside joke.


Check the nearest exit.

Saturday, May 3, 2025

Microlibrary Warak Kayu Semarang: Where to Hide Between Books in the City Center

I first encountered this library on social media. A small yet comfortable space that invited me to visit. Even better, it’s a library. Semarang has always been my second hometown. I went back every year when I was a kid and continued to do so even after my father passed away during covid. Recently, I’m running out of places to visit in Semarang. So, I was super happy to find Microlibrary Warak Kayu and include the place in my homecoming itinerary.


Our first visit to Microlibrary Warak Kayu Semarang wasn’t as eventful. The library was unexpectedly closed on the days we’re in Semarang. I was disappointed because it was high on my list, aside from the Dharma Boutique Coffee Roaster near the hotel where I’m staying, and I’m purposefully staying over the weekdays too.

Microlibrary Warak Kayu Semarang nestled near the city center, next to a busy street. It’s a small, oddly shaped wooden structure on the parking lot near Taman Kasmaran, in between kiosks that sell flowers and Dr. Kariadi Hospital.

My first impression upon arriving at the structure is, “why is this so small?” Dudu had the same thought. It was much smaller than we expected. Yes, it’s called a micro library, but still, I expected the building to be bigger. The door was locked, but there was no notice on the outside. So, I checked their social media just to find out they are closed for the day. Too bad.