Pada awalnya, saya hanya memandang perpustakaan ini dari depan pintu.
Saya pertama kali mengetahui keberadaan perpustakaan ini ketika sedang mengikuti kursus bahasa Korea. Namun perpustakaannya selalu tutup, karena les saya setelah jam kerja.
Ironisnya, saya baru bisa berkunjung ke sini setelah saya tidak lagi mengikuti kursus bahasa di sana. Itu pun perlu keberanian memasuki perpustakaan yang satu ini, karena penuh buku-buku berbahasa asing. Terasa ada beban berat ketika saya sebenarnya belum fasih-fasih amat dan hanya bisa memahami cerita di buku anak-anak saja.
Sejak saat itu, cara saya memandang perpustakaan di Indonesia ini berubah. Di dunia serba digital ini, mengunjungi perpustakaan menjadi sebuah tujuan traveling. Baik di kota sendiri maupun di kota tujuan. Banyak perpustakaan yang berlokasi di gedung bersejarah atau gedung modern dengan arsitektur unik. Sebagian perpustakaan juga lokasinya tersembunyi, jadi kalau mau berkunjung ke sana ya memang harus menjadikannya bagian dari itinerary.
Untuk saya, perpustakaan ini menjadi sanctuary, alias tempat untuk istirahat sejenak ketika traveling menjadi overwhelming. Perpustakaan menyatukan buku, budaya dan bahasa dalam satu ruang. Saya bisa menjelajahi rak-rak buku, menemukan buku-buku asing, dan mengikuti rasa ingin tahu ke mana pun dia pergi. Saya tidak pernah benar-benar tahu apa yang akan ditemukan. Jadi kayak adventure sendiri.
Perpustakaan yang saya ceritakan tadi di awal adanya di dalam pusat kebudayaan Korea. Terletak di Korean Culture Center, Equity Tower, Jakarta, perpustakaan pusat kebudayaan Korea ini memiliki koleksi yang cukup lengkap. Dari novel, buku sejarah, buku anak hingga manhwa alias komik Korea. Masuk ke perpustakaan ini buat saya seperti pindah negara haha. Kalo ingin jalan-jalan ke Korea, ya mampir ke sini saja. Meskipun kecil, tapi tempatnya nyaman. Di satu sudutnya ada meja tempat membaca (atau buka laptop), dengan jendela besar menghadap ke hiruk pikuk kawasan SCBD.


















