Saya sering berpikir begitu kalau melihat jeda layover di sebuah perjalanan. Seringkali, jika bepergian liburan, saya ingin cepat sampai. Buat apa berhenti lama-lama, apalagi kalau tidak bisa keluar airport.
Sampai saya bertemu Changi Airport yang seperti entertainment center 24 jam. Sejak itu saya tidak ambil pusing dengan layover yang lebih dari 3 jam. Ternyata, dengan persiapan yang matang, waktu tunggu panjang ini justru bisa jadi kesempatan untuk istirahat, eksplorasi, atau bahkan memulai sebuah petualangan mini. Bagaimana caranya?
Yang pertama sudah pasti wajib melakukan riset bandara tujuan transit. Setiap bandara memiliki fasilitas berbeda, jadi pastikan memeriksa situs resmi atau akun media sosial bandara tersebut. Beberapa Bandara seperti Changi Airport punya aplikasi sendiri, yang memudahkan untuk navigasi dan belanja.
Setelah itu, sesuaikan waktu layover kita dengan jadwal airportnya. Apakah kita mendarat di pagi hari? Atau justru setelah matahari terbenam dan harus bermalam di airport? Waktu kita mendarat akan membuat rencana sedikit berbeda. Misalnya kalau kita mendarat di pagi hari lalu baru berangkat lagi di sore atau malam hari, mungkin kita bisa ke taman outdoor, punya lebih banyak pilihan restoran untuk makan, dan bahkan kalau di SIngapura, kita akan sempat keluar untuk jalan-jalan sebelum kembali ke Changi dan melanjutkan perjalanan.
Kalau kita mendarat di malam hari dan berangkat lagi esok harinya, mungkin fokus kita lebih ke mencari tempat tidur yang aman dan nyaman di airport. Prioritaskan area yang aman dan teran. Jangan lupa memeriksa restoran mana saja yang buka di jam kita mendarat. Jangan sampai kita kelaparan malam-malam. Untuk mencari rest zone, coba periksa rekomendasi sesama traveler di media sosial
Berikutnya adalah mempersiapkan layover dengan baik. Kalau sudah tahu akan layover panjang, sebaiknya membawa barang-barang penting di tas carry-on. Untuk layover yang sampai 8 atau 12 jam biasanya saya membawa toiletries dalam ukuran travel, jadi bisa cuci muka dan sikat gigi di toilet airport. Jangan lupa membawa handuk kecil dan pakaian ganti juga.
Apa yang bisa dilakukan di bandara selama layover itu?
Yang pertama jelas makan. Kalau layover hingga 12 jam, biasanya saya pasti dua kali makan. Bandara besar biasanya punya pilihan restoran beragam, dari fast food hingga kuliner lokal. Gunakan kesempatan untuk mencicipi kuliner lokal jika layover di negara yang belum pernah dikunjungi. Saya belum pernah ke Jepang selain untuk transit. Jadi setiap lewat Narita, saya tetap mencoba makanan Jepang. Jika bandaranya seru seperti Changi Airport yang ada area entertainment, Sunflower Garden dan segambreng fasilitas lainnya, layover jadi terasa seperti wisata ke theme park. Tapi yang pertama dilakukan tetap berburu makanan sih. Bahkan ketika transit di Sydney, yang saya cari malah McGriddles haha. Itu lho, menu sarapan pagi McDonald’s yang susah banget ditemukan di Asia.Bagaimana dengan menginap di bandara?
Hanya lakukan ini jika budget memungkinkan. Layover yang panjang bisa melelahkan, jadi booking day-use hotel atau transit hotel di dalam area bandara adalah pilihan tepat kalau kita benar-benar butuh istirahat. Contoh kasus: saya dan Dudu yang waktu itu masih SD, mau pergi ke Penang bersama keluarga, termasuk opa oma. Penerbangan Jakarta-Singapura dilakukan malam hari, lalu disambung dengan penerbangan Singapura-Penang di hari berikutnya. Ada hampir 12 jam layover dari jam 10 malam hingga 10 pagi keesokan harinya. Karena rombongan saya ada anak kecil dan lansia, akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di hotel airport saja daripada memaksakan diri tidur di sofa. Apalagi rencananya, sampai Penang kita mau langsung jalan-jalan.
Alternatif lain adalah memeriksa apakah ada kartu kredit atau maskapai yang bisa memberikan akses lounge.






















