“Tempat ini, pintu masuknya di mana sih?”
Menemukan pintu masuk Dharma Boutique Roastery menjadi petualangan tersendiri, karena lokasinya yang seolah "bersembunyi" di balik keriuhan Jalan Wotgandul Barat. Roastery sekaligus cafe ini menempati bangunan tua bergaya kolonial yang terlihat tenang di balik pagar besi yang bersahaja.
Iya, tapi, pintu masuknya mana?
Ada sebuah pintu besi dengan tulisan “Dharma Boutique Roastery” di sekitar 50 meter dari WM Kelengan. Jadi, jalan kaki pelan-pelan baru kelihatan. Begitu masuk ke dalam, suasana jadi lebih tenang. Serasa masuk ke dunia lain.
Oleh-oleh yang paling sering saya bawa pulang dari satu lokasi tujuan wisata akhir-akhir ini adalah kopi. Jadi mengunjungi local roastery atau cafe sudah jadi agenda wajib dalam itinerary.
Dharma Boutique Roastery bukan sekadar kedai kopi biasa, melainkan rumah kopi berusia lebih dari satu abad yang masih bertahan hingga sekarang. Masuk ke dalam lewat “pintu rahasia” tadi, memang terasa seperti menjelajah waktu. Haha.
Setelah mengumpulkan cerita dari kanan kiri, ternyata cerita sejarahnya dimulai pada tahun 1915, ketika seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Tan Tiong Ie mendirikan usaha kopi bernama Margo Redjo. Awalnya usaha ini berdiri di Cimahi, Jawa Barat, sebelum akhirnya dipindahkan ke Semarang, yang adalah kampung halaman Tan Tiong Ie. Kini usaha tersebut dikelola oleh generasi ketiga keluarga pendiri, yaitu Widayat Basuki Dharmowiyono.
Kenapa usaha penyangraian kopi ini terletak di rumah? Karena ijin pendirian pabriknya tidak kunjung muncul. Tapi, setelah ijin usaha keluar di tahun 1928, usaha ini jadi berkembang lebih pesat, termasuk export kopi ke Nama Margo Redjo sendiri diubah menjadi Dharma Boutique Roastery pada tahun 2016-2017.
Berkunjung ke Dharma Boutique Roastery
Salah satu daya tarik utama Dharma Boutique Roastery adalah perpaduan antara tradisi lama dan konsep kopi modern. Bangunannya masih mempertahankan nuansa vintage dengan mesin sangrai kopi tua yang usianya puluhan tahun. Sebenarnya untung juga tempat ini tidak berubah jadi bangunan pabrik, karena ngopi di sini memberikan pengalaman unik.
Begitu masuk ke dalam, kita masuk ke ruangan depan untuk memilih kopi. Ada puluhan varian kopi yang berasal dari berbagai daerah seperti Aceh Gayo, Flores, Bajawa, hingga Papua. Semua bisa diseduh dan dinikmati langsung, atau dibeli untuk dibawa pulang. Setiap kopi diletakkan di dalam toples kaca dengan tutup warna-warni. Harganya sudah tertulis di setiap toples untuk yang ingin membeli biji kopi atau versi sudah digiling. Kalau kita bilang mau bawa ke Jakarta, nanti akan dimasukkan ke kantong yang kedap udara agar kopi lebih tahan lama.
Enaknya lagi, di sini bisa ngobrol sama karyawan dan dapat rekomendasi kopi. Favorite saya Robusta Temanggung, lalu biasanya saya beli satu antara Nusantara Honey atau Nusantara Wine. Soalnya saya tim Robusta. Robusta Temanggung punya dominan rasa cokelat pahit (dark chocolate) dan kacang-kacangan (nutty).
Nusantara Honey dan Nusantara Wine membuat kopi Robusta favorite saya jadi terasa sedikit berbeda. Nusantara Honey memiliki hint rasa Caramel yang smooth dan sweet, sementara Nusantara Wine memiliki hint rasa asam dan surprised taste of tropical fruit.
Katalog kopinya ada di link di bio Instagram Dharma Boutique Roastery. Tetap paling enak sih datang dan memilih sendiri. Kadang saya nekat mencoba varian yang namanya belum pernah saya dengar atau temukan. Terutama dari varian Arabica.
Harga kopi per-100 gram ya relative murah. Robusta mulai dari Rp.26,000, sementara Arabica mulai dari Rp. 44,000. Kopi Luwak ada di Rp. 130,000 - Rp. 140,000. Mereka juga punya varian spesial yang harganya ada di Rp. 50,000 hingga Rp. 72,000.
Dine in vs Take Away.
Berbeda dengan banyak coffee shop modern yang ramai dan penuh dekorasi minimalis, Dharma Boutique Roastery menawarkan suasana yang lebih tenang dan autentik. Saya dua kali ke sini. Yang pertama dine in, sambil WFC di taman depan rumah kolonial. Yang kedua, takeaway karena sekalian makan siang di restoran sebelahnya. Pengunjung juga sebenarnya dapat melihat langsung proses roasting kopi atau bahkan mesin-mesin tua yang masih tersimpan di area produksi. Namun, kemarin saya hanya WFC sementara Dudu sibuk mengerjakan PR.
Perhatikan hal berikut kalau mau berkunjung ke Dharma Boutique Roastery.
- Parkirannya pinggir jalan dan sulit. Saya biasa mampir ke sini kalau sekalian makan di daerah sini, atau menginap di hotel Quest Hotel Simpang Lima Semarang.
- Datang pagi atau sore karena area tempat duduknya outdoor dan Semarang panas. Meskipun outdoor, area ini memiliki banyak tanaman yang memberikan kesan teduh.
- Sempatkan ngobrol sama barista mengenai metode seduh atau mendapatkan rekomendasi kopi sesuai selera.
Dharma Boutique Roastery buka Senin - Sabtu, jam 09:00 - 16:30.
Berkunjung ke Dharma Boutique Roastery bukan sekadar ritual minum kopi, melainkan petualangan seru menemukan sejarah dari setiap cangkir yang disajikan. Consider mampir ke tempat ini kalau sedang di Semarang. Siapa tau bisa bawa pulang kopi yang penuh kenangan.







No comments:
Post a Comment
Thanks for stopping by. Please do leave your thoughts or questions, but we appreciate if you don't spam :)