Showing posts with label Airport. Show all posts
Showing posts with label Airport. Show all posts

Saturday, June 13, 2026

Tips Transit di Bandara: Jadikan Layover Panjang Sebuah Pengalaman Menyenangkan

Berhenti terlalu lama.
Saya sering berpikir begitu kalau melihat jeda layover di sebuah perjalanan. Seringkali, jika bepergian liburan, saya ingin cepat sampai. Buat apa berhenti lama-lama, apalagi kalau tidak bisa keluar airport.


Sampai saya bertemu Changi Airport yang seperti entertainment center 24 jam. Sejak itu saya tidak ambil pusing dengan layover yang lebih dari 3 jam. Ternyata, dengan persiapan yang matang, waktu tunggu panjang ini justru bisa jadi kesempatan untuk istirahat, eksplorasi, atau bahkan memulai sebuah petualangan mini. Bagaimana caranya?

Yang pertama sudah pasti wajib melakukan riset bandara tujuan transit. Setiap bandara memiliki fasilitas berbeda, jadi pastikan memeriksa situs resmi atau akun media sosial bandara tersebut. Beberapa Bandara seperti Changi Airport punya aplikasi sendiri, yang memudahkan untuk navigasi dan belanja.

Setelah itu, sesuaikan waktu layover kita dengan jadwal airportnya. Apakah kita mendarat di pagi hari? Atau justru setelah matahari terbenam dan harus bermalam di airport? Waktu kita mendarat akan membuat rencana sedikit berbeda. Misalnya kalau kita mendarat di pagi hari lalu baru berangkat lagi di sore atau malam hari, mungkin kita bisa ke taman outdoor, punya lebih banyak pilihan restoran untuk makan, dan bahkan kalau di SIngapura, kita akan sempat keluar untuk jalan-jalan sebelum kembali ke Changi dan melanjutkan perjalanan.


Kalau kita mendarat di malam hari dan berangkat lagi esok harinya, mungkin fokus kita lebih ke mencari tempat tidur yang aman dan nyaman di airport. Prioritaskan area yang aman dan teran. Jangan lupa memeriksa restoran mana saja yang buka di jam kita mendarat. Jangan sampai kita kelaparan malam-malam. Untuk mencari rest zone, coba periksa rekomendasi sesama traveler di media sosial

Berikutnya adalah mempersiapkan layover dengan baik. Kalau sudah tahu akan layover panjang, sebaiknya membawa barang-barang penting di tas carry-on. Untuk layover yang sampai 8 atau 12 jam biasanya saya membawa toiletries dalam ukuran travel, jadi bisa cuci muka dan sikat gigi di toilet airport. Jangan lupa membawa handuk kecil dan pakaian ganti juga.


Apa yang bisa dilakukan di bandara selama layover itu?

Yang pertama jelas makan. Kalau layover hingga 12 jam, biasanya saya pasti dua kali makan. Bandara besar biasanya punya pilihan restoran beragam, dari fast food hingga kuliner lokal. Gunakan kesempatan untuk mencicipi kuliner lokal jika layover di negara yang belum pernah dikunjungi. Saya belum pernah ke Jepang selain untuk transit. Jadi setiap lewat Narita, saya tetap mencoba makanan Jepang. Jika bandaranya seru seperti Changi Airport yang ada area entertainment, Sunflower Garden dan segambreng fasilitas lainnya, layover jadi terasa seperti wisata ke theme park. Tapi yang pertama dilakukan tetap berburu makanan sih. Bahkan ketika transit di Sydney, yang saya cari malah McGriddles haha. Itu lho, menu sarapan pagi McDonald’s yang susah banget ditemukan di Asia.

Bagaimana dengan menginap di bandara?

Hanya lakukan ini jika budget memungkinkan. Layover yang panjang bisa melelahkan, jadi booking day-use hotel atau transit hotel di dalam area bandara adalah pilihan tepat kalau kita benar-benar butuh istirahat. Contoh kasus: saya dan Dudu yang waktu itu masih SD, mau pergi ke Penang bersama keluarga, termasuk opa oma. Penerbangan Jakarta-Singapura dilakukan malam hari, lalu disambung dengan penerbangan Singapura-Penang di hari berikutnya. Ada hampir 12 jam layover dari jam 10 malam hingga 10 pagi keesokan harinya. Karena rombongan saya ada anak kecil dan lansia, akhirnya kami memutuskan untuk tinggal di hotel airport saja daripada memaksakan diri tidur di sofa. Apalagi rencananya, sampai Penang kita mau langsung jalan-jalan.




Alternatif lain adalah memeriksa apakah ada kartu kredit atau maskapai yang bisa memberikan akses lounge.

Perlukah keluar untuk city tour?

Sunday, May 31, 2026

Singgah Sebentar di Singapore Art Museum di Tanjong Pagar Distripark

Bused panas banget.
Padahal hari sebelumnya hujan deras hampir seharian.

Kalau matahari sedang terlalu terik, ada baiknya kita punya rencana cadangan selain keliling kota dengan berjalan kaki. Bisa coffee shop, bisa toko buku, ataupun museum. Di pertengahan Mei kemarin, rencana cadangan saya adalah mampir ke Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark.


Awalnya sederhana. Saya hanya ingin menunggu matahari agak turun sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan sebenarnya, yang lokasinya outdoor. Perhentian di museum ini hanya sekitar 90 menit, namun berkesan seperti sebuah petualangan sendiri.

Our Date is At
39 Keppel Rd, #01-02, Singapore 089065
Buka setiap hari, 10:00 – 19:00


Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark bukan museum biasa. Jangan berharap ketemu bangunan kolonial kuno atau gedung modern yang minimalis. Tanjong Pagar Distripark terasa lebih seperti ruang industri dan area parkir kontainer daripada museum. Kompleksnya berdiri di bekas kawasan logistik dan pergudangan, tapi di tengah itu semua tiba-tiba ada museum nyempil.

Menurut saya, tempat ini cocok buat mereka yang ingin ke museum tapi sering overwhelmed sendiri sama keberadaan bangunan museum. Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark ini terasa lebih santai dan eksploratif. Kita bisa memulai dari mana saja kita mau. Galeri yang bisa dikunjungi ada di dua lantai berbeda. Gedung utama museum, yang jadi satu dengan tempat pembelian tiket dan cafe di museum memiliki exhibition berjudul Learning Gallery.

Memulai Kunjungan dengan Learning Gallery

Meski dirancang untuk mudah diakses berbagai usia, ruang ini justru menyenangkan karena tidak terasa menggurui. Selain interaktif dan tersedianya kegiatan di akhir “perjalanan,” yang menarik perhatian saya adalah adanya dua versi exhibition card. Yang pertama adalah exhibition card standard untuk para orang dewasa. Isinya penjelasan tentang karya seni, siapa senimannya dan informasi lainnya. Ada satu kartu lagi yang ditujukan untuk anak-anak. Isinya informasi dan pertanyaan dengan bahasa lebih sederhana, serta posisi yang lebih rendah sesuai dengan eye-level anak-anak.




Satu bagian yang menarik perhatian saya adalah Animal Roulette karya David Chan. Konsepnya sederhana, bagian kepala dan ekor binatang dipasangkan secara acak. Buat anak-anak mungkin ini adalah hal seru. Buat orang dewasa, maknanya bisa lebih dalam. Misalnya tentang hidup yang penuh ketidakpastian. Worksheet dari The Learning Gallery ini saya bawa pulang untuk dikerjakan bareng keponakan.

Naik ke lantai 3 menggunakan lift, saya menyadari bahwa seluruh bangunan yang mirip gudang ini adalah pengalaman masuk museum seni. Tembok di luar bangunan gedung, koridor penghubung, dan tiga menit di dalam lift. Semuanya adalah karya seni yang bisa dinikmati.

Dua Pameran di Galeri Lantai Tiga

Di Lantai tiga ada dua exhibition di depan mata: Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest di galeri sebelah kanan, serta Talking Object dan The Living Room di galeri sebelah kiri. Saya masuk ke yang kiri duluan.

Talking Object menjadi pameran favorit saya hari itu.



Sunday, March 8, 2026

All Things You Need To Know About Taking Red-Eye Flight

Red-Eye Flight adalah penyelamat budget, tapi (menurut saya) ini bukan penerbangan yang cocok untuk semua orang. Memangnya apa itu Red-Eye Flight? Istilah “red-eye” dipake buat jadwal penerbangan yang berangkat malam hari dan baru sampai di destinasi tujuan besok paginya. Kenapa disebut red-eye? Karena pas mendarat, mata penumpang biasanya bakal merah dan puffy gara-gara kurang tidur di pesawat. Jadi ini bukan penerbangan patah hati yang isinya orang habis nangis haha.

Contoh: Musim dingin kemarin saya terbang dari Los Angeles ke Newark, New Jersey, pakai red-eye flight. Berangkat sekitar jam 8 malam dari Los Angeles International Airport, transit di Atlanta, Georgia jam 4 pagi, lalu terbang lagi jam 6 pagi. Mendarat di Newark jam 9 pagi. Kurang tidur, sudah pasti. Selain jam transit yang subuh-subuh begitu, pesawatnya juga bukan yang nyaman untuk tidur.


Kenapa mau bela-belain naik red-eye flight? 

Ada beberapa alasan:
  • Biasanya, tiket red-eye itu jauh lebih murah dibanding jam-jam normal. Menurut beberapa online travel agent, tiket penerbangan di jam red-eye bisa lebih murah hingga 30% dari harga di jam-jam sibuk.
  • Kalau kamu ada kegiatan lain atau kerja, penerbangan jenis ini memaksimalkan waktu libur, sekaligus hemat penginapan. Soalnya semalam pertama kan dihabiskan di pesawat.
  • Perbedaan zona waktu yang besar (seperti rute Los Angeles - New York) juga sering menjadi alasan orang mengambil red-eye, agar tidak habis waktu di jalan. Waktu yang dihabiskan di jalan, ditambah perbedaan zona waktu adalah sama dengan total waktu tidur normal kita.
Namun, kalau dilihat-lihat, harga lebih murah ini tidak terlalu berlaku di penerbangan Jakarta-Singapura, kecuali kita mengambil pesawat yang tidak budget. Berdasarkan pengalaman berburu penerbangan red-eye di Asia Tenggara, harga tiket jam red-eye pesawat reguler tetap lebih mahal dari harga tiket jam biasa pesawat budget.

Masalahnya datang ketika kita ngantuk, dan pesawat kita ada transitnya.

Tuesday, February 3, 2026

T5 In the Making: Melihat Masa Depan Changi Airport

“Eh, apaan nih?” pikir saya, melihat sebuah area pameran yang masih tertutup di ujung Terminal 3 Changi Airport. Pagi itu, sambil menyantap sarapan di McDonald’s, rasa penasaran mulai muncul. Saya langsung googling, karena dari balik pembatas pameran terdengar suara seperti latihan opening ceremony. Ada suara MC yang formal “Ladies and gentlemen…” lengkap dengan intonasi khas acara resmi.

Ada tulisan T5 di sana. Wah, ada terminal baru lagi di Changi! Saya pun bertekad sebelum pulang ke Indonesia, saya harus mampir dan lihat sendiri apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan di sana.

 

T5 In the Making adalah pameran gratis yang digelar di Arrival Hall Terminal 3 Changi Airport, berlangsung dari 6 Januari hingga 31 Maret 2026. Lewat exhibition ini, pengunjung diajak menelusuri perjalanan panjang pengembangan bandara Singapura, sampai akhirnya masuk ke visi besar, desain, dan teknologi yang akan membentuk Terminal 5 (T5) di masa depan.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Ministry of Transport (MOT), Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS), dan Changi Airport Group (CAG). Meski gratis, pengunjung tetap perlu mendaftar terlebih dahulu karena kapasitas ruangannya terbatas. Setelah registrasi, kita akan menerima email konfirmasi yang nantinya bisa ditukar dengan semacam personal boarding pass sebelum masuk ke area pameran. Simple, tapi terasa pas dengan tema bandara yang mau dibuka.

Registrasi di sini: https://t5inthemakingreg.changiairport.com/

Saat saya mendaftar, slot kunjungan masih cukup longgar di hampir setiap jam. Saya registrasi H-1 sebelum kedatangan, dan memilih slot pukul 11 siang. Ketika datang dan berkeliling, suasananya juga tergolong sepi. Tidak ada antrean masuk, dan di dalam, saya hanya berpapasan dengan dua atau tiga pengunjung lain. Kondisi ini bikin saya bisa menikmati pameran dengan santai, berhenti lama di beberapa titik, foto-foto, dan ambil konten tanpa rasa terburu-buru.

Namun, saat saya cek kembali untuk keperluan menulis blog ini, terlihat kalau slot Sabtu–Minggu sudah mulai banyak yang penuh.

Untuk kunjungan, siapkan waktu sekitar 40–50 menit. Saya sendiri hampir menghabiskan satu jam, sebagian besar karena terlalu sering berhenti buat foto. Kalau berencana datang sebelum penerbangan, jangan lupa juga memperhitungkan waktu perjalanan dari dan menuju area pameran.

Ada apa saja di exhibition T5 In the Making ini?

Wednesday, June 12, 2019

Kapan Waktu yang Tepat untuk Menginap di Hotel Airport?

Selama 12 tahun jalan-jalan sama Dudu, saya baru 2 kali menginap di airport hotel. Keduanya di Changi Airport. Eh, Changi kan bagus, banyak tempat istirahat dan kegiatan yang bisa dilakukan. Buat apa menginap?

Jam berangkat yang kurang manusiawi. Jam mendarat yang terlalu malam, jadi MRT sudah tutup. Waktu transit yang kurang dari 12 jam. Tiga hal itu yang biasanya menjadi alasan saya untuk menginap di hotel airport. Selain tentunya karena saya bawa balita.

Tapi emang worth it?
 

Monday, September 21, 2015

Redefining Transit at Changi Airport

Changi Airport is the happiest place on earth. At least for us who often had to spend hours waiting for boarding (and yes, waiting has never been a fun thing). But this international airport, well-known for its facilities on both transit and departure/arrival area makes transit more than just fun, it’s educational! So, when our recent flight to Jakarta got delayed for over than 2 hours, we’re more than glad to be patient.



There’s something for everyone at Changi Airport Singapore. Be it dining, shopping, movie, playground, even a walk-in a-park kind of thing. Most of them are free (except dining and shopping) so leave your worry behind. If you have extra hours in Singapore, checked your luggage in and have fun. Much better than dragging your suitcase around town. Once you’re in the transit area (the ones after immigration), scan your boarding pass and see how much time you have left before boarding and plan ahead.

Here are the list of our favorite things to do at Changi Airport.