Padahal hari sebelumnya hujan deras hampir seharian.
Kalau matahari sedang terlalu terik, ada baiknya kita punya rencana cadangan selain keliling kota dengan berjalan kaki. Bisa coffee shop, bisa toko buku, ataupun museum. Di pertengahan Mei kemarin, rencana cadangan saya adalah mampir ke Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark.
Awalnya sederhana. Saya hanya ingin menunggu matahari agak turun sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan sebenarnya, yang lokasinya outdoor. Perhentian di museum ini hanya sekitar 90 menit, namun berkesan seperti sebuah petualangan sendiri.
Our Date is At
39 Keppel Rd, #01-02, Singapore 089065
Buka setiap hari, 10:00 – 19:00
Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark bukan museum biasa. Jangan berharap ketemu bangunan kolonial kuno atau gedung modern yang minimalis. Tanjong Pagar Distripark terasa lebih seperti ruang industri dan area parkir kontainer daripada museum. Kompleksnya berdiri di bekas kawasan logistik dan pergudangan, tapi di tengah itu semua tiba-tiba ada museum nyempil.
Menurut saya, tempat ini cocok buat mereka yang ingin ke museum tapi sering overwhelmed sendiri sama keberadaan bangunan museum. Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark ini terasa lebih santai dan eksploratif. Kita bisa memulai dari mana saja kita mau. Galeri yang bisa dikunjungi ada di dua lantai berbeda. Gedung utama museum, yang jadi satu dengan tempat pembelian tiket dan cafe di museum memiliki exhibition berjudul Learning Gallery.
Memulai Kunjungan dengan Learning Gallery
Meski dirancang untuk mudah diakses berbagai usia, ruang ini justru menyenangkan karena tidak terasa menggurui. Selain interaktif dan tersedianya kegiatan di akhir “perjalanan,” yang menarik perhatian saya adalah adanya dua versi exhibition card. Yang pertama adalah exhibition card standard untuk para orang dewasa. Isinya penjelasan tentang karya seni, siapa senimannya dan informasi lainnya. Ada satu kartu lagi yang ditujukan untuk anak-anak. Isinya informasi dan pertanyaan dengan bahasa lebih sederhana, serta posisi yang lebih rendah sesuai dengan eye-level anak-anak.Satu bagian yang menarik perhatian saya adalah Animal Roulette karya David Chan. Konsepnya sederhana, bagian kepala dan ekor binatang dipasangkan secara acak. Buat anak-anak mungkin ini adalah hal seru. Buat orang dewasa, maknanya bisa lebih dalam. Misalnya tentang hidup yang penuh ketidakpastian. Worksheet dari The Learning Gallery ini saya bawa pulang untuk dikerjakan bareng keponakan.
Naik ke lantai 3 menggunakan lift, saya menyadari bahwa seluruh bangunan yang mirip gudang ini adalah pengalaman masuk museum seni. Tembok di luar bangunan gedung, koridor penghubung, dan tiga menit di dalam lift. Semuanya adalah karya seni yang bisa dinikmati.
Dua Pameran di Galeri Lantai Tiga
Di Lantai tiga ada dua exhibition di depan mata: Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest di galeri sebelah kanan, serta Talking Object dan The Living Room di galeri sebelah kiri. Saya masuk ke yang kiri duluan.Talking Object menjadi pameran favorit saya hari itu.
Ada sesuatu yang menarik ketika benda-benda biasa seperti mesin tik, peralatan rumah tangga, dan material sehari-hari, diposisikan ulang menjadi sesuatu yang emosional dan kadang sedikit mengganggu. Saya cukup lama berhenti di beberapa instalasi karena rasanya seperti sedang membaca memoar orang lain lewat objek. Yang saya sukai dari pameran ini adalah flownya yang sederhana. Cukup datang, lihat, lalu biarkan diri sendiri menghubungkan cerita benda tersebut dengan pemiliknya. Artwork favorit saya adalah Lama Sabakhtani #03 karya Christine Ay Tjoe, yaitu mesin tik yang diletakkan di bawah bohlam.
Meskipun masih di area yang sama dan konsep interpretasi karya seni yang sejalan, The Living Room memberikan pengalaman yang berbeda. Sesuai namanya, pameran ini mengambil inspirasi dari ruang tamu di rumah: sebuah ruang yang terasa pribadi tetapi tetap terbuka untuk orang lain. The Living Room mengajak pengunjung memikirkan ulang bagaimana museum menyimpan, merawat, dan menghadirkan kembali karya-karya yang lahir dari praktek yang performance-based.
The Living Room adalah kolaborasi antara Singapore Art Museum (SAM), Seoul Museum of Art (SeMA), and Queensland Art Gallery | Gallery of Modern Art (QAGOMA).
Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest adalah yang terakhir saya datangi. Pameran karya dua seniman Indonesia ini begitu masuk langsung memberikan wujud sawit di depan mata haha. Kan di masa begini, sawit itu sensitif ya. Namun, dua seniman Indonesia di baliknya, Elia Nurvista and Bagus Pandega, fokus kepada pertanyaan “setelah semua yang kita ambil dari bumi, apa yang sebenarnya tertinggal?” Perkebunan, lokasi pertambangan, dan potensi teknologi kendaraan listrik menjadi fokus semua ini.
Perlu sedikit waktu memahami satu per satu karyanya. Namun, semuanya dikemas dalam bentuk interaktif yang menarik, mulai dari Conveyor Belt bernama L.O.O.P (Less Organic Operation Procedure), penayangan film berjudul Plantation Tragedy, hingga aktivitas stamping dengan hasil yang bisa kita bawa pulang.
Jika ingin memasukkan Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark dalam itinerary, apa yang harus diperhatikan?
Saat ini mengunjungi SAM adalah naik MRT ke Tanjong Pagar atau HarbourFront, lalu lanjut bus menuju Keppel Road, dan turun di bus stop alight at no. 14061 (Opp Former Railway Station). Dari sana tinggal jalan kaki masuk ke area Distripark dan cari Block 39. Alternatif lain, naik taksi atau ride-hailing dari area Marina Bay hanya sekitar belasan menit tergantung kondisi lalu lintas. Jika menggunakan mobil, karena lokasinya sedikit tersembunyi, saya sarankan menggunakan pintu samping menuju area museum supaya tidak bingung berputar-putar di kawasan pergudangan.Kalau melihat peta, di masa depan ada MRT Keppel yang akan buka, dan SAM bisa dicapai dengan berjalan kaki dari stasiun MRT ini.
Siapkan waktu setidaknya 2 jam untuk keliling museum, karena di SAM ada beberapa galeri dengan exhibition berbeda-beda. Selain galeri utama, ada Gajah Gallery serta Padimai Art & Tech Studio yang menawarkan instalasi VR "Your view matter" oleh Olafur Eliasson, di lantai 3. Kalau beneran ingin mengunjungi semuanya, dan tidak terburu-buru sebaiknya memang meluangkan waktu, misalnya selepas makan siang di daerah Tanjong Pagar atau Harbourfront.
Siapkan waktu setidaknya 2 jam untuk keliling museum, karena di SAM ada beberapa galeri dengan exhibition berbeda-beda. Selain galeri utama, ada Gajah Gallery serta Padimai Art & Tech Studio yang menawarkan instalasi VR "Your view matter" oleh Olafur Eliasson, di lantai 3. Kalau beneran ingin mengunjungi semuanya, dan tidak terburu-buru sebaiknya memang meluangkan waktu, misalnya selepas makan siang di daerah Tanjong Pagar atau Harbourfront.




















No comments:
Post a Comment
Thanks for stopping by. Please do leave your thoughts or questions, but we appreciate if you don't spam :)