Showing posts with label Singapore. Show all posts
Showing posts with label Singapore. Show all posts

Sunday, June 7, 2026

Urban Walk di Singapura: Mount Faber dan Henderson Waves

Ke Singapura buat apa? Jalan Kaki. Eh, ini beneran lho. Urban walk adalah salah satu cara terbaik untuk mengenal sebuah kota.

Mengutip dari website Mountaineers.org, Urban Walk atau Jalan-jalan di perkotaan adalah kegiatan rekreasi sejauh dua mil atau lebih, yang dilakukan di jalan-jalan kota atau pinggiran kota, taman, atau jalur hijau, di mana terdapat layanan telepon seluler yang stabil dan titik akses dan keluar darurat di dekatnya.


Aktivitas ini mengajak wisatawan menjelajahi destinasi dengan berjalan kaki, menikmati suasana sekitar secara lebih dekat, sekaligus menemukan sisi kota yang sering terlewat jika hanya berpindah dari satu atraksi ke atraksi lain menggunakan kendaraan. Di Jakarta juga sebenarnya banyak guided walking tour yang bisa diikuti kalau ingin menjelajah dengan berjalan kaki. Namun, jika sedang di Singapura, salah satu rute urban walk yang paling menarik adalah perjalanan dari Mount Faber menuju Henderson Waves.

Perjalanan ke Mount Faber

Mount Faber ini kok terdengar familiar ya? Well, Mount Faber merupakan salah satu stasiun utama Singapore Cable Car. Dulu, jaman MRT belum sampai Harbourfront, masuk ke Sentosa itu paling seru lewat Mount Faber. Perjalanan lewat cable car ini menawarkan pengalaman yang berbeda.

Sekarang, Mount Faber bukan hanya stasiun cable car, tetapi juga tujuan wisata. Terletak di salah satu titik tertinggi di Singapura, Mount Faber menawarkan perpaduan antara pemandangan kota dan ruang hijau. Kalau tidak menyeberang ke Pulau Sentosa, coba mampir menjelang senja untuk menyaksikan perubahan warna langit dan lampu kota yang mulai menyala.




Di Mount Faber Peak ada beberapa restoran yang bisa jadi tempat dinner romantis atau makan malam bersama keluarga seperti Dusk, Arbora dan The Mirabilis Bar. Di akhir pekan, dan pada saat sunset, restoran di sini cenderung ramai, jadi ada baiknya booking dulu sebelum berangkat. Jika ke Mount Faber dengan kendaraan pribadi, harap diperhatikan bahwa di atas sana parkiran mobil sangat terbatas.

Selain Mount Faber Peak, ada beberapa dek observasi dan area terbuka di Mount Faber yang menawarkan pemandangan indah. Salah satunya adalah Mount Faber Top View Garden yang lokasinya sekitar 350m dari Mount Faber Peak. Di sini kita bisa bertemu Mini Merlion yang bersembunyi di pepohonan. Lalu ada banyak penunjuk arah ke berbagai negara tetangga. Pemandangannya juga bagus banget buat foto-foto. Namun kalau berkunjung siang hari, panasnya bisa setengah mati. Jangan lupa bawa topi dan minuman.


Our Date is at
Mount Faber Top View Garden
101 Mount Faber Lp., Singapore 099201
MRT: Harbourfront

Kalau mau melanjutkan perjalanan, jangan lupa ke toilet yang ada di seberang Mount Faber Peak dulu.


Berjalan Menuju Henderson Waves

Perjalanan Urban Walk kita bisa dilanjutkan menuju Henderson Waves melalui jaringan Southern Ridges. Southern Ridges adalah jalur pejalan kaki sepanjang sekitar 10 kilometer yang menghubungkan beberapa taman dan ruang hijau di Singapura. Salah satu bagian paling terkenal dari rute ini adalah Henderson Waves.

Sunday, May 31, 2026

Singgah Sebentar di Singapore Art Museum di Tanjong Pagar Distripark

Bused panas banget.
Padahal hari sebelumnya hujan deras hampir seharian.

Kalau matahari sedang terlalu terik, ada baiknya kita punya rencana cadangan selain keliling kota dengan berjalan kaki. Bisa coffee shop, bisa toko buku, ataupun museum. Di pertengahan Mei kemarin, rencana cadangan saya adalah mampir ke Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark.


Awalnya sederhana. Saya hanya ingin menunggu matahari agak turun sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan sebenarnya, yang lokasinya outdoor. Perhentian di museum ini hanya sekitar 90 menit, namun berkesan seperti sebuah petualangan sendiri.

Our Date is At
39 Keppel Rd, #01-02, Singapore 089065
Buka setiap hari, 10:00 – 19:00


Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark bukan museum biasa. Jangan berharap ketemu bangunan kolonial kuno atau gedung modern yang minimalis. Tanjong Pagar Distripark terasa lebih seperti ruang industri dan area parkir kontainer daripada museum. Kompleksnya berdiri di bekas kawasan logistik dan pergudangan, tapi di tengah itu semua tiba-tiba ada museum nyempil.

Menurut saya, tempat ini cocok buat mereka yang ingin ke museum tapi sering overwhelmed sendiri sama keberadaan bangunan museum. Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark ini terasa lebih santai dan eksploratif. Kita bisa memulai dari mana saja kita mau. Galeri yang bisa dikunjungi ada di dua lantai berbeda. Gedung utama museum, yang jadi satu dengan tempat pembelian tiket dan cafe di museum memiliki exhibition berjudul Learning Gallery.

Memulai Kunjungan dengan Learning Gallery

Meski dirancang untuk mudah diakses berbagai usia, ruang ini justru menyenangkan karena tidak terasa menggurui. Selain interaktif dan tersedianya kegiatan di akhir “perjalanan,” yang menarik perhatian saya adalah adanya dua versi exhibition card. Yang pertama adalah exhibition card standard untuk para orang dewasa. Isinya penjelasan tentang karya seni, siapa senimannya dan informasi lainnya. Ada satu kartu lagi yang ditujukan untuk anak-anak. Isinya informasi dan pertanyaan dengan bahasa lebih sederhana, serta posisi yang lebih rendah sesuai dengan eye-level anak-anak.




Satu bagian yang menarik perhatian saya adalah Animal Roulette karya David Chan. Konsepnya sederhana, bagian kepala dan ekor binatang dipasangkan secara acak. Buat anak-anak mungkin ini adalah hal seru. Buat orang dewasa, maknanya bisa lebih dalam. Misalnya tentang hidup yang penuh ketidakpastian. Worksheet dari The Learning Gallery ini saya bawa pulang untuk dikerjakan bareng keponakan.

Naik ke lantai 3 menggunakan lift, saya menyadari bahwa seluruh bangunan yang mirip gudang ini adalah pengalaman masuk museum seni. Tembok di luar bangunan gedung, koridor penghubung, dan tiga menit di dalam lift. Semuanya adalah karya seni yang bisa dinikmati.

Dua Pameran di Galeri Lantai Tiga

Di Lantai tiga ada dua exhibition di depan mata: Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest di galeri sebelah kanan, serta Talking Object dan The Living Room di galeri sebelah kiri. Saya masuk ke yang kiri duluan.

Talking Object menjadi pameran favorit saya hari itu.



Tuesday, May 26, 2026

Menjelajahi Singapura sebagai Penggemar Seni

“Kalau ke Singapura, lo biasanya pergi ke mana?”
Pertanyaan ini sering sulit saya jawab. Bagi saya, Singapura bukan lagi tempat tujuan wisata. Saya lebih sering datang untuk konser, mengunjungi keluarga, atau sekadar transit sebelum melanjutkan perjalanan lain. Jadi, kalau saya mengunjungi negara tetangga yang sedikit lebih luas dari DKI Jakarta ini, saya punya itinerary tematik yang saya susun ketika berangkat.


Kadang saya datang untuk berburu buku. Kadang untuk cari coffee shop unik. Belakangan ini, saya paling sering kembali untuk melihat pameran seni dan ruang kreatif.

Ke Singapura sebagai penggemar seni sebenarnya menyenangkan. Negara ini seperti titik temu banyak budaya: Chinese, India, Melayu, hingga jejak kolonial Inggris yang masih terasa di beberapa sudut kotanya. Mirip-mirip sama Indonesia yang punya banyak keragaman, Singapura juga lumayan diverse meskipun negaranya jauh lebih kecil.

Lalu, kalau mau ke lokasi tujuan, transportasinya lebih mudah haha.

Anyway, ini adalah museum rekomendasi saya bagi mereka yang ingin mengintip koleksi dan pameran seni di Singapura.



National Gallery Singapore

Tempat ini adalah yang paling wajib dikunjungi. Galeri ini (arguably) menyimpan arsip visual terbesar di dunia untuk seni modern Asia Tenggara, dan sering jadi tuan rumah koleksi keliling atau koleksi pinjaman dari museum-museum lain di seluruh dunia. Jika ada festival, National Gallery Singapore juga sering berpartisipasi dan punya program-program seru.

National Gallery Singapore terletak di tengah kota, menempati dua monumen nasional paling ikonik di Singapura, yaitu bekas Gedung Supreme Court (Mahkamah Agung) dan City Hall (Balai Kota). Ada atap kanopi kaca di bagian tengahnya, yang jadi tempat favorit saya untuk duduk dan bengong. Apalagi kalau hujan turun. National Gallery Singapore adalah rumah lukisan klasik abad ke-19 karya Raden Saleh, pameran interaktif yang ramah anak di Keppel Center, dan ruang-ruang yang memberikan jeda dari sibuknya negara Singapura

Dua hal yang membuat saya selalu berusaha mampir ke National Gallery Singapore adalah koleksinya yang lebih banyak ke seni modern dan kids friendly activities di Keppel Center.

1 St Andrew’s Road, Singapore 178957
Buka setiap hari, 10:00 – 19:00
MRT: City Hall


Sunday, May 24, 2026

Perbandingan Maskapai Low Cost Carrier Jakarta–Singapura 2026

Sejak pesawat kesayangan saya, Jetstar, pamit dari rute Jakarta-Singapura, saya jadi bimbang kalau mau pergi ke negara tetangga. Padahal sebelumnya Jetstar adalah pilihan favorit saya: jadwalnya nyaman, harganya masih masuk akal, dan sampai Singapura sebelum makan siang.

Sekarang pilihan maskapai memang masih banyak, tetapi harga tiket makin sulit diprediksi. Kadang untuk rute PP Jakarta–Singapura yang biasanya sekitar tiga jutaan, tiba-tiba bisa melonjak jadi enam juta saat long weekend. Tapi kan saya tetap harus pergi ke negara tetangga karena ada urusan keluarga dan nonton konser. Jadi, naik pesawat apa dong?

Disclaimer dulu kalau semua opini di artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman keluarga yang bepergian di rute yang sama.

Kenapa saya suka Jetstar? Bukan karena fasilitasnya paling mewah atau pesawatnya paling baru, melainkan karena rasanya selalu pas untuk perjalanan Jakarta–Singapura. Jadwal penerbangan jam 9 pagi membuat saya bisa sampai di Singapura sebelum makan siang, dan punya lebih banyak waktu sebelum acara sesungguhnya. Memang Jetstar bukan satu-satunya maskapai dengan jam penerbangan seperti itu. Ada AirAsia, Batik Air, dan Scoot juga. Namun, biasanya harga tiket mereka sudah di atas satu juta Rupiah, sementara Jetstar sering terasa lebih ramah di kantong. Karena itu, tanpa sadar saya jadi cukup sering mengandalkan maskapai ini untuk short getaway maupun perjalanan mendadak. Sekarang setelah Jetstar tidak lagi melayani rute Jakarta–Singapura, mau tidak mau, saya jadi harus mencari alternatif pada maskapai lain yang tersedia.



Maskapai pertama yang paling sering saya gunakan setelah Jetstar adalah Citilink. Kalau rute Jakarta-Singapura biasanya saya langganan naik Jetstar, sebaliknya di Singapura-Jakarta, saya sering memilih Citilink. Untuk rute Singapura–Jakarta, Citilink termasuk nyaman karena punya pilihan penerbangan pagi dan malam. Saya biasanya memilih penerbangan pagi karena jadwalnya cukup ideal. Dari beberapa kali terbang dengan Citilink, saya baru sekali mengalami reschedule, dan untungnya masih di hari yang sama.

Wednesday, May 20, 2026

Singapore Maritime Gallery: Wisata Edukatif Gratis di Marina South Pier

Saya mendeskripsikan Singapore Maritime Gallery sebagai gabungan sebuah museum sejarah dan Toko Nintendo di New York. Penasaran?

Kalau menyusuri MRT line yang berwarna merah di Singapura, ada satu stasiun tambahan yang baru muncul, bersamaan dengan jalur baru. Namanya Marina South Pier. Ini tempat apa?

Our Date is At
Singapore Maritime Gallery
31 Marina Coastal Drive
Level 2 Marina South Pier
Singapore 018988


Saya baru kenal Marina South Pier minggu lalu, ketika harus melarung abu jenasah salah satu paman yang meninggal di Singapura. Ternyata tempat ini sedikit banyak mirip Marina Ancol dengan perahu-perahu kecil yang menyeberangkan orang ke pulau-pulau sebelah selatan Singapura. Termasuk layanan melarung abu. Cruise yang lebih besar, seperti Disney Cruise dan penyeberangan ke Batam, mendaratnya di Vivo City atau HarbourFront yang dekat ke pulau Sentosa. Marina South Pier punya Marina Bay Sands (MBS) sebagai latar belakangnya.

Selain itu, tempat ini kosong. Hanya ada kios-kios kecil yang menjual makan dan minum, dan rooftop yang dipakai piknik warga pendatang. Karena hari itu hujan, cuaca jadi cukup sejuk. Downsidenya, jadi tidak bisa ke Pier atau dock di atas untuk melihat kapal yang berangkat.

Saya tidak ikut kapal yang pergi melarung, karena kapasitas yang terbatas. Jadi, sambil menunggu kapal kembali, saya bisa apa? Keluarga lain, yang juga menunggu menyarankan keliling Singapore Maritime Gallery yang ada di lantai dua. Exhibition indoor ini cukup menyenangkan untuk dikunjungi, terutama ketika hari hujan. Sepupu-sepupu yang punya anak kecil langsung setuju.



Mengenal Singapore Maritime Gallery

Singapore Maritime Gallery adalah galeri interaktif yang dikelola oleh Maritime and Port Authority of Singapore (MPA). Galeri yang pertama kali dibuka pada tahun 2012 ini, terus diperbarui dengan teknologi serta zona pameran baru. Pada 2025, tempat ini kembali direvitalisasi dengan tambahan area heritage bernama “Tides of Time” yang menampilkan sejarah maritim Singapura sejak abad ke-3.

Bukan cuma Changi Airports, ternyata pelabuhan dan pelayaran di Singapura pun sibuk. Lewat galeri ini, pengunjung dapat memahami bagaimana negara kecil tanpa sumber daya alam bisa berkembang menjadi salah satu pusat maritim global.




Sejarah kelautan terdengar membosankan, apalagi kalau ini bukan interest kita. Namun, Singapore Maritime Gallery mampu menyajikan informasi dengan gaya yang menarik sehingga saya merasa seperti sedang bertualang kembali ke jaman dahulu kala.

Yang paling bahagia ya anak-anak… dan para bapak. Sepupu saya yang punya anak balita menghabiskan waktu dengan main simple time management games, seperti mengatur kontainer. Anaknya sibuk bikin prakarya origami ikan di ruangan sebelahnya. Wait, sebelum sampai ke area bermain, ada beberapa zona yang perlu kita lalui. Kalau yang bawa toddler sih silahkan langsung saja ke bagian akhir.


Saturday, May 16, 2026

Menyeberang ke Singapura Lewat Johor Bahru

“Lewat Johor aja gimana?”

Sebuah saran muncul di grup WA keluarga ketika saya harus berangkat ke Singapura karena ada kerabat yang meninggal mendadak. Harga tiket ke Changi sudah melambung tinggi karena long weekend, dan waktu pemesanan yang sudah sangat mepet.

Karena tidak ada pilihan lain, akhirnya saya memesan tiket Jakarta - Senai. Ternyata masuk ke Singapura lewat Johor Bahru adalah salah satu rute favorit. Selain lebih hemat dibanding penerbangan langsung, perjalanan darat ini juga menawarkan pengalaman unik melihat aktivitas lintas negara yang sibuk setiap hari. Ini adalah perjalanan pertama saya melintasi kota Johor Bahru.

Sebelumnya cuma ke Legoland dan ke mall dekat perbatasan saja.



Perjalanan ke Singapura Dari Johor Bahru


Senai International Airport mengingatkan saya akan Soekarno-Hatta Terminal 1. Airport-nya kecil tapi banyak toko dan makanan. Melewati imigrasi, saya ditanya tiket pulang. Karena saya pulang lewat Changi, jadi saya jawab kalau pulang lewat Singapura. Kartu imigrasi Malaysia bisa diisi online. Untuk kartu imigrasi, jika hanya melintasi Johor, maka bisa mengisi alamat JB Sentral sebagai alamat di Malaysia.




Mendarat di Senai, kita naik Causeway Link bus ke JB Sentral. Sebenarnya dari Senai ke checkpoint sangat mudah karena banyak bus umum, shuttle, hingga taksi online yang bisa digunakan menuju terminal imigrasi. Tapi karena saya datang di jam setelah rush hour pekerja, antrean panjang yang biasanya terjadi saat jam kerja atau akhir pekan berhasil saya hindari. Jaraknya tidak terlalu jauh, sekitar 30km atau sekitar 40 menit jika traffic sedang tidak terlalu ramai.

Di JB Sentral, turun dari Causeway Link Bus lalu berjalan menuju imigrasi. Ada papan petunjuk menuju Woodlands, melewati proses cap paspor di imigrasi Malaysia terlebih dahulu. Karena tidak terlalu ramai, saya hanya menunggu 1 orang di depan lalu lewat di imigrasi. Namun, tetap disarankan menyiapkan paspor dan dokumen perjalanan sebelum giliran tiba agar proses lebih lancar.

Setelah melewati pemeriksaan keluar Malaysia, perjalanan dilanjutkan menggunakan bus menuju pos pemeriksaan Singapura di kawasan Woodlands. Kita bisa naik bus Causeway Link nomor berapa saja dan turun di Woodlands Checkpoint. Lalu, selepas masuk imigrasi Singapore, kita bisa lanjut naik Causeway link sesuai dengan tujuan yang diinginkan.
  • CW 1: JB Custom ke Kranji MRT
  • CW 2: JB Custom ke Queen Street Terminal
  • CW 5: JB Custom ke Newton Circus
Tapi harus tap kartu yang sama. Semua bis bisa dibayar dengan kartu kredit yang bertanda Visa dan Mastercard. Harga Causeway Link dari Senai ke JB Custom adalah RM 8, sementara dari JB Custom ke Singapura antara RM 2 dan RM 4.80.

Kondisi lalu lintas bisa mempengaruhi waktu tempuh. Saat jam sibuk, antrean kendaraan menuju Singapura bisa sangat panjang. Namun di luar jam sibuk, proses menyeberang terasa cukup cepat dan efisien. Kalau sedang tidak diburu-buru waktu, perjalanan lewat Johor Bahru bisa jadi alternative pilihan untuk biaya yang lebih murah. Jangan lupa mengisi kartu kedatangan digital sebelum melewati imigrasi Singapura.

Friday, April 3, 2026

Universal Studio Singapore Halloween Horror Night: Seram Tapi Bikin Penasaran

Satu dekade yang lalu, saya dan Dudu nekat adu nyali di Halloween Horror Night, Universal Studios Singapura. Event tahunan ini dikenal sebagai salah satu perayaan Halloween paling seram di Asia Tenggara. Begitu matahari terbenam, taman hiburan yang biasanya ceria berubah menjadi dunia penuh kabut, suara jeritan, dan kejutan di setiap sudutnya.



Saya sebenarnya bukan penggemar jumpscare dan tidak suka film gory yang banyak darah muncrat. Lalu, ngapain saya di sana? Waktu itu sih karena diajakin sepupu, sekaligus kepo. Apa serunya sih ke theme park malam-malam? Apa bedanya sih dengan suasana siang hari? Akhirnya ajakan itu nekat kami berdua iyakan, walau endingnya adalah tidak naik wahana apa-apa karena ketakutan duluan.

Yang membuat Halloween Horror Nights begitu menarik adalah transformasi Universal Studios Singapore menjadi taman hiburan bernuansa horor. Bukan hanya suasananya yang berubah drastis, tapi juga pengalaman yang terasa jauh berbeda dari kunjungan siang hari. Jujur saja, yang bikin horror bukan cuma hantunya, tapi juga harga tiket masuk theme park dan panjang antrian masuk rumah hantunya. Hahaha.

Konsep Halloween Horror Nights di Universal Studios Singapore




Secara umum, konsep Halloween Horror Nights biasanya menggabungkan cerita original dengan inspirasi budaya Asia maupun franchise populer. Theme park dibagi menjadi beberapa area utama, yaitu:
  • Haunted House (rumah hantu)
  • Scare Zone
  • Live Show
Pertama kali diadakan pada tahun 2011, Halloween Horror Nights di USS awalnya hanya memiliki satu haunted house dan berlangsung selama tujuh malam. Ketika saya datang di 2016, sudah ada lima rumah hantu, dua scare zone, dan suasana Sentosa malam hari yang langsung berubah jadi dunia lain. Saat itu, Halloween Horror Nights sudah berlangsung hampir satu bulan penuh. Ada pertunjukkan live dan pengalaman interaktif yang membuat setiap tahun jadi layak buat dikunjungi kembali. Kalau nggak trauma haha. Saya sih belum balik lagi ke sana meskipun ingin.

Pada tahun 2016, rumah hantunya ada:
  • Bodies of Work
  • Old Changi Hospital
  • Hu Li’s Inn
  • Salem Witch House
  • Hawker Center Massacre
Di setiap rumah hantu ada bosnya. Mereka semua muncul di area utama ketika theme park dibuka, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk foto (atau lari). Di antara para hantu yang muncul, ada satu yang terlihat sangat familiar, namanya Pontianak. Habis itu saya protes, karena ternyata itu Mbak Kunti yang imigrasi ke Malaysia. Ya ampun, di Singapura Mbak Kunti naik pangkat jadi bos rumah hantu. Saya tidak ingat, Mbak Kunti ada di rumah hantu yang mana.

Yang jelas, saya dan Dudu hanya masuk ke Hawker Center Massacre karena antriannya paling pendek. Setelah itu? Kapok. Kami akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di scare zone, yaitu area terbuka dengan aktor berkostum menyeramkan yang siap mengejutkan pengunjung kapan saja.

Pada 2025 misalnya, Halloween Horror Nights edisi 13 menghadirkan kolaborasi dengan serial Stranger Things yang membawa pengunjung masuk ke dunia Upside Down lengkap dengan monster dan suasana mencekam. Tahun lalu, Halloween Horror Nights diadakan mulai jam 7 malam, setiap Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu malam, mulai 26 September hingga 1 November 2025.

Harga tiket mulai dari:
  • SGD 68 untuk non-peak days
  • SGD 78 untuk peak days
Sebagai pembanding, harga tiket reguler Universal Studio Singapura untuk dewasa adalah antara SGD 76 dan SGD 83.




Halloween Horror Nights memang seru, tapi bukan buat semua orang.

Wednesday, February 18, 2026

Istirahat Sejenak di Chinatown Singapore

Chinatown Singapura memberikan suasana berbeda ketika kita menjelajah di dalamnya. Soalnya masih banyak bangunan bersejarah yang bukan cuma punya cerita bagi turis, tapi bagi saya yang suka bolak-balik ke negara tetangga karena alasan keluarga. Seperti People’s Park Complex dan area sekitarnya, di mana saya sering ke sana bersama keluarga ketika daerah itu belum ada MRTnya. Pusat perbelanjaan lama, dengan barang-barang yang konon lebih murah dari daerah lainnya.

Sekarang ini, Chinatown Singapura lebih meriah. MRT yang langsung exit di tengah hiruk pikuk orang jualan, plus ruko-ruko meriah, thrift stores di lantai dua, dan cafe-cafe instagramable. Karena letaknya yang ada di daerah heritage, maka toko dan cafe yang bermunculan pun masih selaras dengan desain khas Chinatown. Dua cafe yang saya kunjungi di dua kesempatan berbeda ini memberikan satu hal yang sama: ketenangan. Kabur sejenak dari orang-orang yang berlalu lalang dengan cepat serta hebohnya orang jualan dan turis yang belanja.



Cafe Monochrome Chinatown


Membuka pintu masuk ke cafe yang satu ini rasanya seperti melangkah ke dunia lain. Interior hitam putihnya kontras dengan suasana Chinatown yang meriah.


 

Seluruh ruangan dirancang agar terlihat seperti sketsa komik. Garis-garis hitam di atas latar belakang putih, memberikan ilusi bahwa ruangan tersebut adalah gambar dua dimensi. Bukan hanya interior dan dekornya, meja dan kursi juga dibungkus garis-garis hitam di tepinya. Namun, karena lokasinya di Chinatown, dinding cafe ini dihiasi dengan gambar nuansa oriental, termasuk gambar bangunan tradisional Tionghoa, pohon, dan bunga teratai. Ada banyak sudut instagramable di cafe ini.