Sunday, May 24, 2026

Perbandingan Maskapai Low Cost Carrier Jakarta–Singapura 2026

Sejak pesawat kesayangan saya, Jetstar, pamit dari rute Jakarta-Singapura, saya jadi bimbang kalau mau pergi ke negara tetangga. Padahal sebelumnya Jetstar adalah pilihan favorit saya: jadwalnya nyaman, harganya masih masuk akal, dan sampai Singapura sebelum makan siang.

Sekarang pilihan maskapai memang masih banyak, tetapi harga tiket makin sulit diprediksi. Kadang untuk rute PP Jakarta–Singapura yang biasanya sekitar tiga jutaan, tiba-tiba bisa melonjak jadi enam juta saat long weekend. Tapi kan saya tetap harus pergi ke negara tetangga karena ada urusan keluarga dan nonton konser. Jadi, naik pesawat apa dong?

Disclaimer dulu kalau semua opini di artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman keluarga yang bepergian di rute yang sama.

Kenapa saya suka Jetstar? Bukan karena fasilitasnya paling mewah atau pesawatnya paling baru, melainkan karena rasanya selalu pas untuk perjalanan Jakarta–Singapura. Jadwal penerbangan jam 9 pagi membuat saya bisa sampai di Singapura sebelum makan siang, dan punya lebih banyak waktu sebelum acara sesungguhnya. Memang Jetstar bukan satu-satunya maskapai dengan jam penerbangan seperti itu. Ada AirAsia, Batik Air, dan Scoot juga. Namun, biasanya harga tiket mereka sudah di atas satu juta Rupiah, sementara Jetstar sering terasa lebih ramah di kantong. Karena itu, tanpa sadar saya jadi cukup sering mengandalkan maskapai ini untuk short getaway maupun perjalanan mendadak. Sekarang setelah Jetstar tidak lagi melayani rute Jakarta–Singapura, mau tidak mau, saya jadi harus mencari alternatif pada maskapai lain yang tersedia.



Maskapai pertama yang paling sering saya gunakan setelah Jetstar adalah Citilink. Kalau rute Jakarta-Singapura biasanya saya langganan naik Jetstar, sebaliknya di Singapura-Jakarta, saya sering memilih Citilink. Untuk rute Singapura–Jakarta, Citilink termasuk nyaman karena punya pilihan penerbangan pagi dan malam. Saya biasanya memilih penerbangan pagi karena jadwalnya cukup ideal. Dari beberapa kali terbang dengan Citilink, saya baru sekali mengalami reschedule, dan untungnya masih di hari yang sama.

Kelebihan terbesar Citilink menurut saya adalah kombinasi harga dan kenyamanan yang masih cukup seimbang. Namun, kekurangannya ada di bagasi. Untuk penerbangan internasional seperti Jakarta–Singapura, umumnya hanya mendapat bagasi kabin 7kg tanpa bagasi check-in gratis. Kalau menambah bagasi, total harga tiketnya kadang malah jadi mahal. Jadi menurut saya, Citilink paling cocok untuk traveler yang bepergian ringan tanpa banyak bawaan.


Airlines kedua yang saya lihat adalah Batik. Saya biasanya mulai melirik Batik Air kalau butuh bagasi lebih banyak. Keluarga yang Singapura sih biasanya memilih Batik Air karena bagasi dan jadwal penerbangan yang banyak pilihan. Saya memang baru sekali mencoba Batik untuk rute Singapura–Jakarta, tetapi pengalaman pertamanya cukup menyenangkan. Alasan utama saya memilih Batik waktu itu karena saya harus membawa cukup banyak barang pulang ke Jakarta. Dibanding membeli add-on bagasi di Citilink, harga Batik justru terasa lebih masuk akal karena sudah termasuk bagasi check-in 20kg dan bagasi kabin 7kg.

Sebagai gambaran, waktu itu pilihan saya adalah:
  • Citilink tanpa bagasi: Rp. 1,9 juta. Dengan bagasi 10kg Rp. 2,2 juta.
  • Batik Air dengan bagasi 20kg Rp. 2,1 juta.
AirAsia sebenarnya selalu muncul di hasil pencarian karena frekuensi penerbangannya banyak dan rutenya cukup fleksibel. Namun, jujur saja, saya pribadi selalu agak deg-degan kalau harus booking AirAsia untuk perjalanan yang waktunya mepet atau penting. Air Asia adalah pilihan terakhir karena frekuensi cancellation dan reschedule yang cukup tinggi.

Kalaupun harus naik Air Asia, saya akan berusaha booking tiket penerbangan yang paling pagi. Jadi kalau terjadi perubahan jadwal, masih ada kemungkinan pindah ke penerbangan berikutnya di hari yang sama. Banyak juga yang menyarankan untuk sekalian membeli asuransi pembatalan penerbangan saat checkout di Online Travel Agent. Apalagi kalau perjalanannya penting atau tidak bisa ditunda.

Dua Pemain Baru yang ada Di Search Result OTA

Jujur saja, sebelumnya saya tidak pernah benar-benar mempertimbangkan Pelita Air. Namun, ketika kemarin saya mendadak harus ke Singapura di long weekend, saya harus mencari alternatif yang berbeda lagi. Soalnya pesawat return flight Jakarta - Singapura - Jakarta sudah mencapai 6 juta dari biasanya sekitar 3 jutaan. Jadi saya berangkat naik Air Asia ke Johor Bahru dengan pesawat paling pagi. Ada rasa takut di-cancel juga, terutama karena saya ke Singapura untuk family emergency. Untungnya semua berjalan dengan lancar.

Kemudian datang masalah pulang dari Singapura naik apa. In this economy, harga tiket sudah sulit diprediksi. Dua pesawat andalan, Citilink dan Batik, sudah tidak tersedia. Akhirnya, saya mencoba sebuah maskapai yang selama ini hanya berani saya pandangi: Pelita Air. Ternyata pengalaman pertamanya justru cukup menyenangkan. Harga tiketnya masih relatif terjangkau untuk kondisi long weekend, sudah termasuk bagasi 20kg, dan legroom kursinya terasa lega. Saya juga dapat roti cokelat dan air mineral selama penerbangan, sesuatu yang terasa mewah di era tiket pesawat sekarang.

 

Pelita Air berangkat dari Terminal 4 Changi dan mendarat di Terminal 3 Soekarno-Hatta. Awalnya saya sempat malas karena biasanya jalan kaki di Terminal 3 cukup jauh, tetapi ternyata setelah mendarat penumpang langsung diantar bus ke area dekat imigrasi. Proses keluar bandara jadi jauh lebih cepat dari yang saya bayangkan. Hore!

Bagasi keluar dengan cepat dan saya sudah bisa keluar dari Bandara Soekarno-Hatta dalam waktu kurang dari satu jam.

Bagaimana dengan Transnusa? Saya memang belum pernah mencoba sendiri. Namun, maskapai ini cukup sering disebut keluarga saya waktu kami sama-sama mendadak harus ke Singapura untuk family emergency beberapa waktu lalu. Ada yang naik Citilink, ada yang menggunakan Air Asia seperti saya, ada juga yang roundtrip naik Transnusa. Surprisingly, review untuk TransNusa justru cukup positif. Keluarga yang naik Transnusa bilang legroom pesawatnya juga lega dan pesawatnya lumayan ramah untuk yang bawa lansia. Harganya 1,8 juta dengan bagasi 20kg.

Kalau Pelita hanya ada 1 kali penerbangan Singapura - Jakarta di siang hari, Transnusa ada 3 penerbangan di siang, sore dan malam. Mungkin next time saya akan mencoba Transnusa.


Setelah mencoba beberapa maskapai, saya merasa tidak ada satu maskapai yang benar-benar “sempurna” untuk rute Jakarta–Singapura. Semuanya tergantung kebutuhan. Satu hal yang saya pelajari: untuk rute Jakarta–Singapura, harga tiket sekarang sangat dinamis. Kalau punya jadwal fleksibel, terbang di hari Rabu atau Kamis biasanya jauh lebih murah dibanding long weekend atau akhir pekan.

No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by. Please do leave your thoughts or questions, but we appreciate if you don't spam :)