Friday, May 8, 2026

Hidden Gem Cikini: Dua Nuansa Jepang dalam Satu Kawasan

Bicara kawasan Cikini, yang pertama terlintas di pikiran pasti Taman Ismail Marzuki. Kali ini berbeda. Cikini selalu punya cara untuk menghadirkan suasana tenang di tengah hiruk-pikuk Jakarta, terutama bagi siapa saja yang ingin melarikan diri sejenak untuk mencari inspirasi. Padahal ada Stasiun yang sibuk, jalur satu arah yang sering macet. Jalanan yang padat dengan warung, restoran, jajanan dan segala kekacauan tumpah ruah di jalan.

Penjelajahan kali ini membawa saya mengunjungi dua destinasi kuliner Jepang yang memiliki jiwa berbeda namun sama-sama menawarkan kenyamanan. Kedua tempat ini membuktikan bahwa pesona kuliner tidak hanya soal rasa, tetapi juga tentang bagaimana sebuah ruang mampu bercerita.


Tapi ya, saya harus berterima kasih pada Taman Ismail Marzuki soalnya saya menemukan kedua tempat ini gara-gara apa, teman-teman? Betul… gara-gara buka fitur nearby Google Maps pas lagi di Taman Ismail Marzuki.

Let’s go!

Kikugawa Resto
Jl. Cikini IV No.20, RT.15/RW.5, Cikini, Menteng, akarta Pusat 10330
Buka: Setiap hari jam 11.30 am–2.30 pm (lunch) dan 5.30–9.30 pm (dinner)

Menemukan restoran ini secara tidak sengaja karena bingung mau makan siang di mana sebelum nobar film Detektif Conan. Karena Dudu suka makanan Jepang, kita belok ke Cikini IV mencoba Kikugawa. Restoran Jepang rumahan yang nyempil di bawah rel kereta di jalan R.P. Soeroso. Ternyata restorannya tradisional, suasananya autentik dan makanannya enak.

Didirikan pada tahun 1969 oleh Kikuchi Surutake, Kikugawa adalah salah satu restoran Jepang tertua di Jakarta. Restoran ini menempati sebuah rumah, dengan exterior dan interior khas Jepang. Bangunan restoran mempertahankan gaya klasik dan vintage, yang kental dengan nuansa rumah tua. Tidak ada penanda resto yang visible, hanya tulisan Kikugawa di depan, jembatan lengkung berwarna merah cerah, papan info khas Jepang dan tirai kain tradisional Jepang atau noren dengan karakter kanji warna hitam. Masuk ke dalam melewati pintu geser seperti masuk ke dunia lain. Interiornya didominasi oleh elemen kayu, dan dekorasi tradisional Jepang.


Yang perlu diperhatikan kalau berkunjung ke Kikugawa adalah parkir mobil terbatas hanya untuk 1-2 mobil, jadi biasanya kita parkir di pinggir jalan. Selain itu jam buka yang ada jeda di sore hari juga perlu diingat agar bisa merencanakan kunjungan dengan baik.

Bagaimana dengan makanan? Karena saya dan Dudu lapar, jadinya kita pesan bento set. Saya pesan Kikugawa Set A (Rp. 137,000) yang isinya Fried Chicken Katsu dan Grilled Fish Fillet. Ternyata kekenyangan karena set berarti dapat nasi dan miso sup juga. Sementara Dudu pesan Kikugawa Set B (Rp. 153,000) yang isinya Grilled Beef dan Grilled Chicken. Habis itu nambah Gyoza isi 5 (Rp. 45,000) dan Tamagoyaki (Rp. 39,000). Kalap duluan karena terbawa suasana haha.



Menurut saya, Grilled Fish Fillet-nya juara. Rasanya seperti comfort food, tidak terlalu asin dan tidak terlalu manis. Ketika saya berkunjung kembali ke Kikugawa, grilled fish ini selalu jadi pesanan wajib. Kalau ditanya ke Dudu, jawaban dia sudah pasti, “enak kok, Mah” soalnya dia juga suka makanan Jepang. 
Sebenarnya yang banyak dapat pujian dari mereka yang mampir ke Kikugawa gara-gara saya jebak habis ngopi di Blue Doors, adalah Salmon Sashimi yang potongannya besar dan Onigiri isi 2 yang rasanya authentic. Mungkin bisa jadi alternatif buat mereka yang nggak mau pesan bento set dengan porsi besar.

Kikugawa bukan satu-satunya Jejepangan yang saya temui di Cikini. Kemarin, saat staycation di daerah Stasiun Cikini bareng teman-teman, saya mampir ke Daisugi Coffee Ideas & Lounge.

Daisugi Coffee Ideas & Lounge
Jl. Cisadane No.19, Cikini, Menteng, Jakarta Pusat, 10330
Jam Buka: Senin - Sabtu jam 10:00 - 22:00, Minggu jam 10:00 - 20:00


Kalau Kikugawa adalah restoran jepang authentic di sebuah rumah tua, Daisugi menawarkan suasana cafe modern, tapi masih dengan suasana hening dan tenang yang sama. Tidak ada pintu geser dan kain menggantung, tapi interior khas Jepang dengan pohon bonsai yang membatasi booth, serta elemen kayu sederhana menghiasi temboknya membuat tempat ini menyenangkan untuk duduk dan buka laptop. Kikugawa adalah tempat membangun relasi, makan siang dan ngobrol. Sementara Daisugi adalah tempat buka laptop, duduk dengan secangkir kopi yang enak. Wi-fi di tempat ini juga lancar.

Mengambil nama dari sebuah metode khas Jepang yang memelihara keberlanjutan sambil menciptakan sesuatu yang benar-benar indah, Daisugi membuat mereka yang datang berkunjung jadi betah haha. Menu Daisugi, yang bentuknya digital, lebih beragam dengan banyaknya minuman fusion dan kekinian yang ada di daftarnya. Pilihan kopinya lumayan ekstensif dengan jenis classic seperti Americano, Latte dan Cappuccino, hingga yang spesifik seperti Vietnamese Coffee, Butterscotch Latte, citrus coffee series, dan Manual Brew.



Makanan yang tersedia juga lebih ke restoran Jepang modern seperti Ramen, Udon, Ricebowl (Don) set dan Chazuke. Kalau sedang tidak ingin menyantap hidangan Jepang, Daisugi punya pilihan pastry dan beberapa western sandwiches. Lalu ada dessert seperti gelato dan cheesecake. Yang paling bikin saya bahagia tentu manual brew-nya yang enak. Hari itu saya pesan beans Catuji Mekarwangi Honey yang ada di kategori Tier 1 (Rp. 45,000).

Lokasi Daisuki lumayan mudah dijangkau dari Stasiun Cikini dan punya parkiran untuk sekitar 6 mobil.


Menjelajahi Cikini melalui Kikugawa dan Daisugi Coffee memberikan pengalaman yang melampaui sekadar wisata kuliner, karena keduanya menawarkan ruang untuk meresapi ketenangan di tengah dinamika Jakarta.

No comments:

Post a Comment

Thanks for stopping by. Please do leave your thoughts or questions, but we appreciate if you don't spam :)