Showing posts with label itinerary. Show all posts
Showing posts with label itinerary. Show all posts

Friday, March 13, 2026

Contekan Itinerary New York di Musim Dingin

Ada dua jenis orang yang liburan ke New York City. Yang pertama: santai, satu hari cuma ke satu museum, sisanya ngopi dan people watching. Yang kedua: membuat itinerary seolah-olah New York itu kota kecil yang bisa dijelajahi dalam empat hari. Trip saya ini masuk kategori kedua karena teman seperjalanan saya bilang: “Pokoknya selama di New York kita harus lihat sebanyak mungkin.”

Sementara dia sendiri pake ke Washington DC dulu…

Taksi khas NYC Yang warnanya Kuning.

Buat yang sedang merencanakan trip ke NYC, ini dia itinerary versi saya.

Trip ini dilakukan di musim dingin, jadi selain jalan kaki banyak, juga harus tahan udara dingin Manhattan.


Hari 1: Tiba di NYC - New York Transit Museum - Check In Hotel


Mendarat di Newark Liberty International Airport jam 9 pagi, lalu naik bus ke Port Authority Bus Terminal dan jalan kaki sekitar 10 menit ke hotel. Saya menginap di DoubleTree by Hilton New York Times Square West dan bisa titip koper sebelum check-in.

Destinasi pertama hari itu adalah New York Transit Museum.

Museum ini sedikit unik karena lokasinya berada di stasiun subway lama yang sudah tidak dipakai. Begitu masuk, rasanya seperti masuk ke kapsul waktu sistem transportasi New York .Di dalamnya ada koleksi gerbong subway dari berbagai era. Beberapa bahkan bisa dimasuki langsung, jadi pengunjung bisa melihat bagaimana desain kereta berubah dari tahun ke tahun. Lucunya, beberapa gerbong lama terasa seperti set film New York klasik.

Warning: Museum ini dingin. Bukan karena AC yang terlalu kuat, tapi karena museum ini memang berada di stasiun subway bawah tanah yang sudah tidak dipakai. Jadi temperatur di dalamnya terasa seperti berada di platform subway lama. Saya berkunjung di musim dingin jadi kebayang deh kayak apa suhunya. Di dalam museum pun kita tidak copot coat.


Balik ke hotel sekitar jam 2:30, langsung check-in. Kamarnya cozy, lokasi dekat Times Square tapi nggak terlalu ribut. Istirahat bentar, terus saya lanjut adventure. Dudu tidur karena kita naik pesawat dengan jam red-eye. Sementara saya eksplor sekeliling, dan akhirnya duduk manis di sebuah coffee shop sambil people watching. Ketika hari gelap, saya jalan kaki sendirian ke Times Square. Melihat billboard raksasa di mana-mana, rasanya seperti masuk ke dunia yang penuh lampu LED. Ada berbagai orang kumpul di sini. Ada turis dari berbagai negara, orang lokal New York yang berjalan super cepat, hingga karakter kostum yang mencoba mengajak foto.

New York, bahkan di basian Perayaan Tahun Baru, sebenarnya relatif aman untuk jalan sendirian malam-malam. Tapi saya tetap berusaha nggak lewat jalan gelap sendirian atau keluar exit Subway yang ada homeless duduk-duduk. Karena musim dingin, banyak homeless yang menghangatkan badan di dalam stasiun.

Hari 2: Harry Potter, Broadway, dan Times Square (lagi)

Wednesday, March 4, 2026

Museum Mile New York: Worth It?

Terbentang di sepanjang 5th Avenue dari 82nd sampai 110th Street, jalanan ini kiri-kanannya museum semua. Museum MIle is about experiencing budaya, sejarah dan seni bergabung jadi satu di kota New York yang super sibuk itu.

Buat saya yang senang keluar masuk museum, rasanya seperti menemukan harta karun. Masalahnya, masuk museum ini rata-rata bayar, dan harganya lumayan. Harga tiket masuk museum mulai dari $9 (El Museo del Barrio) hingga $30 (Solomon R. Guggenheim Museum dan The Metropolitan Museum of Art / The Met).


Sebelum lanjut cerita, kita cek dulu ada museum apa saja sih di Museum Mile?


1. The Africa Center (110th St / 1280 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke seni, politik, dan budaya kontemporer Afrika. Tutup hari Senin dan Selasa. Baru-baru ini buka coffee shop yang namanya CUP @ The Africa Center. Masuk ke dalamnya gratis, yang bayar cuma kalau ikutan program dan mau lihat exhibition yang memang ada tiketnya. Kadang ada pementasan, event komunitas dan pemutaran film.


2. El Museo del Barrio (104th St / 1230 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke budaya dan seni warga Puerto Rico dan Amerika Latin, cocok buat yang suka dengan Caribbean dan Latin American art. Buka Kamis hingga Minggu. Tiket masuk dewasa $9, anak-anak di bawah 12 tahun bisa masuk gratis. Tiket masuk ke museum ini bisa juga digunakan untuk masuk ke Museum of the City of New York.

3. Museum of the City of New York (103rd St / 1220 5th Ave, New York, NY 10029)
Dari namanya sudah ketahuan bahwa museum ini bertujuan untuk mengenalkan masa lalu dan masa kini kota New York kepada pengunjung. Buka setiap hari. Tiket masuknya $23 untuk orang dewasa, anak di bawah 18 tahun masuk gratis. Setiap hari Rabu, bisa masuk gratis ke museum ini

4. Jewish Museum (92nd St / 1109 5th Ave &, E 92nd St, New York, 10128)
Isi museum ini adalah koleksi seni dan budaya Yahudi selama ribuan tahun. Tutup di hari Selasa dan Rabu. Tiketnya $24 untuk orang dewasa, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Hari Sabtu juga gratis.



5. Cooper Hewitt, Smithsonian Design Museum (91st St / 2 E 91st St, New York, NY 10128)
Museum ini khusus membahas desain. Lokasinya di bekas mansion Andrew Carnegie dan pintu masuknya ada di samping, jadi jangan tertukar sama rumah penduduk. Ada cafe di bagian depannya. Tiket masuk dewasa adalah $22, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Pay What You Wish ticket bisa didapatkan satu jam sebelum museum tutup

6. Solomon R. Guggenheim Museum (89th St / 1071 5th Ave, New York, NY 10128)
Gedung spiral putih yang legendaris ini adalah ‘rumah’ bagi banyak koleksi seni, mulai dari Picasso sampai Kandinsky. Namun, yang paling ikonik adalah arsitekturnya. Museum buka setiap hari. Tiket masuknya $30 untuk orang dewasa dan gratis untuk anak di bawah 12 tahun. Ada Pay What You Wish setiap Selasa dan Kamis sore, satu jam menjelang museum tutup.

7. Neue Galerie New York (86th St / 1048 5th Ave, New York, NY 10028)
Khusus buat pecinta seni Jerman dan Austria awal abad ke-20. Buka setiap hari kecuali Selasa. Tiket masuk dewasa $28, anak-anak di bawah 12 tahun tidak boleh masuk. Di hari Jumat pertama, masuk gratis mulai jam 5 sore. Di sini ada Café Sabarsky, restoran Austro-Hungarian yang Apple Strudel-nya konon enak banget.

8. The Metropolitan Museum of Art (82nd St / 1000 5th Ave, New York, NY 10028)
Sebuah museum yang megah untuk koleksi seni terbesar di dunia, dari zaman kuno hingga kontemporer. Buka setiap hari selain Rabu. Tiket dewasa $30, anak anak di bawah 12 tahun gratis.


Selain 8 museum di atas, sebenarnya ada beberapa museum lain yang letaknya tidak jauh dari 5th Avenue, tapi secara resmi, museum atau art gallery ini tidak masuk ke Museum Mile.

Sunday, February 22, 2026

Mencoba Jelajah Jakarta Tanpa Mobil: Keluar dari Zona Nyaman Demi Tempat Tujuan

Saya mampir tempat-tempat ini hanya ketika saya tidak naik mobil.

Selama ini, saya lebih sering melihat Jakarta dari dalam mobil. Udara selalu dingin karena AC, suara musik dari radio, dan bau wangi dari gantungan di bawah kaca. Saya lebih sibuk menghindari kendaraan lawan arah, pejalan kaki yang menyebrang sembarangan, dan hal-hal lain yang membuat perjalanan di Jakarta jadi lebih seru.


Karena ini jugalah, ada beberapa tempat yang biasanya hanya saya datangi saat tidak membawa mobil. Biasanya tempat-tempat ini adalah yang lokasinya mudah dijangkau transportasi umum dan tidak punya tempat parkir.

Buat saya, tempat-tempat ini spesial. Soalnya jumlah saya pergi tanpa mobil pribadi tuh bisa dihitung jari.

Kota Tua Jakarta

Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat nostalgia sekaligus wisata sejarah. Biasanya populer di akhir pekan atau musim liburan sekolah. Selain museum, dan gedung bersejarah yang ada di sekitar Lapangan di depan Museum Fatahillah, ada seniman jalanan, sepeda ontel warna-warni, dan aroma kopi yang ikut meramaikan suasana. Kalau ke sini, saya lebih suka naik transport umum lalu jalan kaki berkeliling. Soalnya, parkirannya lumayan sulit ditemukan dan banyak parkir liar yang bikin insecure.


Stasiun KRL terdekat adalah Stasiun Jakarta Kota. Keluar stasiun tinggal nyebrang lalu berjalan lurus sekitar 300 meter sampai ke Lapangan di depan Museum Fatahillah. Dulu, sebelum pembangunan MRT, Halte Kota adalah tempat transit yang paling sering dikunjungi karena rute busway saya adalah koridor 1 ke koridor 12. Sekarang, haltenya tinggal kenangan. Tapi, Halte Busway Kota Tua jadi ada 2, yaitu:
  • Kota (Koridor 1 dan 12) yang letaknya persis di depan Stasiun Jakarta Kota
  • Kali Besar Barat yang letaknya di depan Toko Merah

Sunday, February 8, 2026

Liburan Spontan dan Anti Bosan di Singapura

Singapura itu sering dapat cap “rapi, mahal, dan gitu-gitu aja”. Tapi saya masih balik-balik juga ke negara tetangga itu. Kenapa?

Jadi, ceritanya, awal tahun ini saya balik lagi ke Singapura. Karena sudah kesekian kalinya, saya tidak punya itinerary pasti. Tidak ada planning, dan janjian ketemuan teman pun spontan semuanya. Ketika pulang, saya scrolling foto-foto untuk dijadikan bahan tulisan blog challenge, dan menyadari bahwa trip ini adalah salah satu yang paling berkesan buat saya.

Kok bisa?

Mau Jalan ke mana kita hari ini?

Singapura adalah kota yang membiarkan saya nggak ngapa-ngapain, dan itu ternyata adalah sesuatu yang luxurious.


Singapura bagi banyak orang adalah tentang itinerary yang padat dan daftar belanja yang panjang. Namun bagi saya, Singapura adalah kota yang mengizinkan saya untuk "tidak ngapa-ngapain" dan ketika dijalani, hal itu adalah kemewahan yang luar biasa.

​Ada kenyamanan tersendiri saat saya menyadari bahwa tidak punya rencana itu tidak apa-apa. Di liburan kali ini, saya baru sempat mengecek jadwal eksibisi museum dan galeri setelah beberapa hari menapakkan kaki di Singapura. Sayangnya, di minggu saya berkunjung, tidak ada exhibition yang menarik perhatian. Yah, namanya juga jalan-jalan spontan. Namun, saya masih sempat mencicipi hiruk-pikuk opening day Light To Night Festival di Civic Center.


Light to Night Festival adalah sebuah perayaan visual yang memadukan teknologi dan seni. Festival ini menghidupkan fasad megah gedung-gedung ikonik di Singapura seperti National Gallery Singapore dan Victoria Theatre dengan instalasi art projection mapping. Begitu matahari terbenam, Singapura berubah jadi pertunjukan lampu yang fantastis. Itu pun agenda-agenda yang menarik sebenarnya ada di akhir bulan.

Namun, datang ke festival itu kan hanya satu malam, lalu bagaimana dengan sisa harinya?

​Di sinilah letak serunya. Di Singapura, saya merasa bisa datang hanya untuk berjalan kaki atau makan, lalu pulang. Saya tidak harus memaksakan diri menjadi turis. Saya cukup menjadi manusia biasa.

​Kejutan di Balik Fitur "Nearby"