Saturday, June 13, 2026

Wisata Nonton Parade di Amerika Serikat

Waktu kecil, saya pernah terpesona sama parade Disneyland. Kemudian saat saya kuliah, tiap homecoming, alias hari pala alumni kembali ke kampus, ada parade juga. Lalu saya jadi memperhatikan betapa seringnya pawai atau parade megah muncul sebagai bagian penting di berbagai perayaan di Amerika Serikat. Bukan hanya theme park atau taman bermain yang punya parade, tapi perayaan lokal pun ada paradenya. Mulai dari kemeriahan Fourth of July di kota-kota kecil hingga kemegahan balon raksasa Macy’s Thanksgiving Day Parade yang terkenal hingga seluruh dunia. Semua meriah.


Parade, bagi masyarakat Amerika Serikat, dimulai sejak akhir abad ke-18 sebagai medium krusial untuk membangun identitas nasional. Dalam buku “Civic Wars: Democracy and Public Life in the American City during the Nineteenth Century,” sejarawan Mary P. Ryan menceritakan bagaimana kota-kota besar di AS menggunakan ruang publik dan parade sebagai panggung bagi berbagai kelompok etnis, kelas pekerja, dan imigran. Parade adalah sarana untuk unjuk diri, dan sekarang, parade jadi sarana promosi.

Parade akhirnya juga jadi tujuan wisata. Ini adalah beberapa parade terkenal di Amerika Serikat, yang sebagian ada di wishlist saya. Siapa tahu kalau next time berkunjung ke sana bisa pas dengan waktu paradenya.

Macy’s Thanksgiving Day Parade

Macy’s Thanksgiving Day Parade adalah sebuah tradisi di kota New York sejak tahun 1924. Arguably, ini adalah parade paling terkenal di Amerika Serikat. Balon helium raksasa berbentuk karakter-karakter favorit, kendaraan hias, marching band, dan pertunjukan Broadway beriringan melintasi Manhattan pada pagi Hari Thanksgiving. Rute parade membentang dari Upper West Side hingga Herald Square.

Photo by Brittanica

Photo by The Hollywood Reporter

Photo by NBC News

Saya belum pernah menyaksikan parade ini secara langsung, karena parade ini biasanya ditayangkan di televisi, dan media lainnya. Penasaran juga sebenarnya, tapi kalau mau melihat langsung berarti harus menyempatkan ke New York di minggu Thanksgiving, yang adalah salah satu momen paling sibuk di Amerika karena semua orang pulang kampung. Lalu harga tiket dan penginapan jadi melonjak.

Belum lagi di bulan November di NYC bisa sangat dingin, bayangkan suhu 30-40°F (0-5°C) dengan angin dingin yang menusuk. Lalu kita berdiri di tempat terbuka menunggu balon Snoopy lewat. Sebagai orang yang pernah stuck kedinginan di Times Square karena pengen merasakan euphoria Ball Drop New Year’s Eve, kayaknya sekarang saya berpikir dua kali kalau mau kedinginan di New York lagi haha.

Apa pentingnya Macy’s Day Parade sampai Green Day punya lagu berjudul sama? Jangan dianalisa dari sisi ekonomi, politik dan lainnya ya. Jawaban yang saya dapatkan waktu itu, entah dari siapa, adalah bahwa di akhir Macy’s Day Parade ada Sinterklas. Thanksgiving dan Christmas adalah dua hari libur terpenting di Amerika, jadi parade ini menandakan musim liburan sudah tiba. Sinterklas sudah datang dan Natal sudah dimulai.

Tahun ini adalah perayaan ke-100 Macy’s Day Parade, pasti meriah ya. Apakah saya harus ke sana? Hahaha.


Parade 4th of July

Independence Day parade berbeda di setiap kota. Sebenarnya Thanksgiving Parade pun ada di berbagai kota besar lainnya di Amerika, tapi Macy’s Day Parade adalah yang paling terkenal.

Sedikit berbeda dengan Parade 4th of July yang justru, menurut saya, lebih seru menonton yang lokalnya. Karena 4th of July ini masuk di liburan musim panas, jadi saya cukup sering menonton di tempat berbeda. Yang terakhir saya saksikan adalah Parade 4th of July di Arlington, Texas.

Berkebalikan dengan Macy’s Day Parade, menyaksikan 4th of July parade di negara bagian sebelah selatan berarti gosong kepanasan. Meskipun parade biasanya dimulai pagi, karena banyaknya partisipan, biasanya berlangsung hingga tengah hari.

Di Parade 4th of July, yang berpartisipasi di parade biasanya bukan brand komersial besar tapi komunitas lokal, bisnis UMKM setempat, sekolah yang ada di daerah sana dan lembaga pemerintahan. Yang populer dengan anak-anak sudah pasti tim pemadam kebakaran, polisi dan mereka yang mengeluarkan semua amunisi untuk berkeliling kota. Ada yang membuat mobil hias dan pakai kostum, dan ada yang melakukan atraksi. Grup sekolah biasanya diwakili oleh tim marching band dan cheerleader.




Yang membuat parade ini seru adalah suasana perayaannya yang jelas ketara di interaksi antara penonton dan partisipan parade.

Parade lain? Ada Rose Bowl Parade di Los Angeles yang mengiringi pertandingan football Rose Bowl dan Mardi Gras di New Orleans yang terkenal meriah. National Cherry Blossom Festival Parade di Washington DC juga katanya bagus. Kalau diturutin semua, bisa sebulan sekali nonton parade di lokasi berbeda di Amerika.

Nonton parade butuh persiapan, yang menurut saya, sama seperti kalau mau pergi nonton konser.

Sunday, June 7, 2026

Urban Walk di Singapura: Mount Faber dan Henderson Waves

Ke Singapura buat apa? Jalan Kaki. Eh, ini beneran lho. Urban walk adalah salah satu cara terbaik untuk mengenal sebuah kota.

Mengutip dari website Mountaineers.org, Urban Walk atau Jalan-jalan di perkotaan adalah kegiatan rekreasi sejauh dua mil atau lebih, yang dilakukan di jalan-jalan kota atau pinggiran kota, taman, atau jalur hijau, di mana terdapat layanan telepon seluler yang stabil dan titik akses dan keluar darurat di dekatnya.


Aktivitas ini mengajak wisatawan menjelajahi destinasi dengan berjalan kaki, menikmati suasana sekitar secara lebih dekat, sekaligus menemukan sisi kota yang sering terlewat jika hanya berpindah dari satu atraksi ke atraksi lain menggunakan kendaraan. Di Jakarta juga sebenarnya banyak guided walking tour yang bisa diikuti kalau ingin menjelajah dengan berjalan kaki. Namun, jika sedang di Singapura, salah satu rute urban walk yang paling menarik adalah perjalanan dari Mount Faber menuju Henderson Waves.

Perjalanan ke Mount Faber

Mount Faber ini kok terdengar familiar ya? Well, Mount Faber merupakan salah satu stasiun utama Singapore Cable Car. Dulu, jaman MRT belum sampai Harbourfront, masuk ke Sentosa itu paling seru lewat Mount Faber. Perjalanan lewat cable car ini menawarkan pengalaman yang berbeda.

Sekarang, Mount Faber bukan hanya stasiun cable car, tetapi juga tujuan wisata. Terletak di salah satu titik tertinggi di Singapura, Mount Faber menawarkan perpaduan antara pemandangan kota dan ruang hijau. Kalau tidak menyeberang ke Pulau Sentosa, coba mampir menjelang senja untuk menyaksikan perubahan warna langit dan lampu kota yang mulai menyala.




Di Mount Faber Peak ada beberapa restoran yang bisa jadi tempat dinner romantis atau makan malam bersama keluarga seperti Dusk, Arbora dan The Mirabilis Bar. Di akhir pekan, dan pada saat sunset, restoran di sini cenderung ramai, jadi ada baiknya booking dulu sebelum berangkat. Jika ke Mount Faber dengan kendaraan pribadi, harap diperhatikan bahwa di atas sana parkiran mobil sangat terbatas.

Selain Mount Faber Peak, ada beberapa dek observasi dan area terbuka di Mount Faber yang menawarkan pemandangan indah. Salah satunya adalah Mount Faber Top View Garden yang lokasinya sekitar 350m dari Mount Faber Peak. Di sini kita bisa bertemu Mini Merlion yang bersembunyi di pepohonan. Lalu ada banyak penunjuk arah ke berbagai negara tetangga. Pemandangannya juga bagus banget buat foto-foto. Namun kalau berkunjung siang hari, panasnya bisa setengah mati. Jangan lupa bawa topi dan minuman.


Our Date is at
Mount Faber Top View Garden
101 Mount Faber Lp., Singapore 099201
MRT: Harbourfront

Kalau mau melanjutkan perjalanan, jangan lupa ke toilet yang ada di seberang Mount Faber Peak dulu.


Berjalan Menuju Henderson Waves

Perjalanan Urban Walk kita bisa dilanjutkan menuju Henderson Waves melalui jaringan Southern Ridges. Southern Ridges adalah jalur pejalan kaki sepanjang sekitar 10 kilometer yang menghubungkan beberapa taman dan ruang hijau di Singapura. Salah satu bagian paling terkenal dari rute ini adalah Henderson Waves.

Saturday, June 6, 2026

Java Jazz Festival 2026 dan Rekomendasi Jalan-Jalan di PIK 2

Setelah lebih dari satu dekade, saya kembali lagi menghadiri Java Jazz Festival. Setelah berpindah-pindah lokasi beberapa kali, tahun ini Java Jazz Festival 2026 menempati rumah barunya di Nusantara International Convention Exhibition (NICE), PIK 2. Jujur reaksi pertama saya adalah “jauh” karena saya adalah tim lintas provinsi. Dari Depok ke Jakarta lalu ke Banten hahaha.

Untuk mencapai tempat ini, saya perlu alasan yang kuat dan ternyata Java Jazz-lah yang membawa saya pertama kali ke venue ini. Selama ini Java Jazz identik dengan akhir pekan yang dihabiskan berpindah dari satu panggung ke panggung lain. Sekarang selain di venue, ada kesempatan menjelajahi salah satu kawasan rekreasi paling berkembang di utara Jakarta.

Sebelum kita keliling kota, ada baiknya kita intip dulu venue Java Jazz Festival 2026 ini seperti apa sih?

Mengenal Venue: NICE PIK 2

Terletak di kawasan Pantai Indah Kapuk 2, Nusantara International Convention Exhibition (NICE) menjadi salah satu venue terbaru berskala besar yang dirancang untuk mengakomodasi berbagai acara internasional, mulai dari pameran, konferensi, hingga festival musik. Venue yang mulai beroperasi pada Agustus 2025 ini menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan lokasi festival yang biasanya berada di pusat kota atau kawasan perkantoran.




Yang membuat pengalaman menghadiri Java Jazz Festival 2026 di NICE PIK 2 terasa istimewa adalah lingkungan sekitarnya. PIK 2 saat ini lebih terasa sebagai tujuan wisata. Kalau saya, biasanya mampir ke PIK 2 buat makan sebelum atau sesudah dari bandara. Tempat menunggu kalau mau menjemput teman, terutama kalau mendaratnya dengan penerbangan malam.

Cara menikmati Java Jazz Festival 2026 sekaligus menjelajahi PIK 2 dalam satu hari.

Pertanyaan yang paling utama datang pertama: “Naik apa ke NICE?” Ke PIK 2-nya saja sudah rumit kendaraannya, meskipun sekarang ada busway hingga Pantai Maju. Bagaimana dengan PIK 2 bagian ujung sebelah sana yang punya exit tol terpisah itu? Pilihan pertama ya jelas Transjakarta. Setelah tiba di kawasan PIK, perjalanan dapat dilanjutkan menggunakan layanan shuttle bus internal atau transportasi online.

Namun, jujur yang paling mudah memang naik mobil pribadi. Kecuali jika eventnya seperti Java Jazz yang menyediakan Shuttle dan rute spesial Royal Trans ke daerah strategis di pusat kota. Shuttle-shuttle ini adalah pilihan terbaik dan termurah haha. Sebenarnya, daerah PIK 2 ini areanya menyenangkan untuk berjalan kaki. Hanya saja cuacanya panas di siang hari dan jarak yang ditempuh dari satu titik ke titik lain bisa jadi lumayan jauh.

Salah satu alasan banyak orang datang ke PIK bahkan tanpa menghadiri acara apa pun adalah pilihan kulinernya. Favorit saya dan keluarga biasanya ada di sekitaran Pantjoran PIK dan Pantai Maju. Lalu akhir-akhir ini saya senang mampir ke Indonesia Design District yang juga banyak pilihan makanan.

Jika ingin menghabiskan satu hari di PIK 2 sekalian pergi ke event seperti Java Jazz Festival, ini itinerary-nya. Itinerary ini dibuat berdasarkan asumsi bahwa kita bepergian menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi online.


09.00 WIB

Sampai PIK pagi-pagi jadi belum panas dan ada banyak tempat yang cocok buat memulai hari misalnya Monsieur Spoon Riviera Aloha PIK 2. Restoran ini penuh kalau sudah siang menjelang sore. Jadi, datang pagi-pagi untuk sarapan atau brunch mungkin adalah pilihan yang tepat. Lokasi tempat ini dekat dengan pantai, dan menyajikan menu makanan yang sudah familiar. Selain itu, tempatnya juga fotogenik kalau mau sekalian update content.

Kalau mau berhenti di area depan PIK 2, di sekitaran By The Sea dan Pantai Maju ada Native Tribe East Coast dan Jordnära Cafe yang bisa jadi pilihan brunch sebelum menjelajah PIK 2 lebih lanjut. Di sekitaran NICE sendiri, cafe yang buka pagi ada Fillmore Coffee Orange Groves dan Titik Temu Brew Bar di Indonesia Design District.




10:30 WIB

Jalan-jalan di Land’s End atau Aloha. Dibandingkan Pantai Maju, dua tempat ini lebih menyenangkan kalau buat sekedar jalan-jalan dan menikmati pemandangan. Di Land’s End ada mercusuar yang ikonik, sementara di Aloha pantainya panjang meskipun tidak bisa dipakai main.





Malas ke pantai? Di dekat NICE ada La Riviera PIK 2 - Kota Belanda yang rukonya cocok buat foto-foto instagramable. Masalahnya hanya tempat ini panas kalau matahari sudah tinggi. Yang lebih teduh adalah area Orange Grooves PIK 2. Lokasinya cocok untuk berjalan santai, berolahraga ringan bersama keluarga, atau sekadar menikmati udara terbuka di tepi sungai.

Sunday, May 31, 2026

Singgah Sebentar di Singapore Art Museum di Tanjong Pagar Distripark

Bused panas banget.
Padahal hari sebelumnya hujan deras hampir seharian.

Kalau matahari sedang terlalu terik, ada baiknya kita punya rencana cadangan selain keliling kota dengan berjalan kaki. Bisa coffee shop, bisa toko buku, ataupun museum. Di pertengahan Mei kemarin, rencana cadangan saya adalah mampir ke Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark.


Awalnya sederhana. Saya hanya ingin menunggu matahari agak turun sebelum melanjutkan perjalanan ke tujuan sebenarnya, yang lokasinya outdoor. Perhentian di museum ini hanya sekitar 90 menit, namun berkesan seperti sebuah petualangan sendiri.

Our Date is At
39 Keppel Rd, #01-02, Singapore 089065
Buka setiap hari, 10:00 – 19:00


Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark bukan museum biasa. Jangan berharap ketemu bangunan kolonial kuno atau gedung modern yang minimalis. Tanjong Pagar Distripark terasa lebih seperti ruang industri dan area parkir kontainer daripada museum. Kompleksnya berdiri di bekas kawasan logistik dan pergudangan, tapi di tengah itu semua tiba-tiba ada museum nyempil.

Menurut saya, tempat ini cocok buat mereka yang ingin ke museum tapi sering overwhelmed sendiri sama keberadaan bangunan museum. Singapore Art Museum (SAM) di Tanjong Pagar Distripark ini terasa lebih santai dan eksploratif. Kita bisa memulai dari mana saja kita mau. Galeri yang bisa dikunjungi ada di dua lantai berbeda. Gedung utama museum, yang jadi satu dengan tempat pembelian tiket dan cafe di museum memiliki exhibition berjudul Learning Gallery.

Memulai Kunjungan dengan Learning Gallery

Meski dirancang untuk mudah diakses berbagai usia, ruang ini justru menyenangkan karena tidak terasa menggurui. Selain interaktif dan tersedianya kegiatan di akhir “perjalanan,” yang menarik perhatian saya adalah adanya dua versi exhibition card. Yang pertama adalah exhibition card standard untuk para orang dewasa. Isinya penjelasan tentang karya seni, siapa senimannya dan informasi lainnya. Ada satu kartu lagi yang ditujukan untuk anak-anak. Isinya informasi dan pertanyaan dengan bahasa lebih sederhana, serta posisi yang lebih rendah sesuai dengan eye-level anak-anak.




Satu bagian yang menarik perhatian saya adalah Animal Roulette karya David Chan. Konsepnya sederhana, bagian kepala dan ekor binatang dipasangkan secara acak. Buat anak-anak mungkin ini adalah hal seru. Buat orang dewasa, maknanya bisa lebih dalam. Misalnya tentang hidup yang penuh ketidakpastian. Worksheet dari The Learning Gallery ini saya bawa pulang untuk dikerjakan bareng keponakan.

Naik ke lantai 3 menggunakan lift, saya menyadari bahwa seluruh bangunan yang mirip gudang ini adalah pengalaman masuk museum seni. Tembok di luar bangunan gedung, koridor penghubung, dan tiga menit di dalam lift. Semuanya adalah karya seni yang bisa dinikmati.

Dua Pameran di Galeri Lantai Tiga

Di Lantai tiga ada dua exhibition di depan mata: Nafasan Bumi ~ An Endless Harvest di galeri sebelah kanan, serta Talking Object dan The Living Room di galeri sebelah kiri. Saya masuk ke yang kiri duluan.

Talking Object menjadi pameran favorit saya hari itu.



Tuesday, May 26, 2026

Menjelajahi Singapura sebagai Penggemar Seni

“Kalau ke Singapura, lo biasanya pergi ke mana?”
Pertanyaan ini sering sulit saya jawab. Bagi saya, Singapura bukan lagi tempat tujuan wisata. Saya lebih sering datang untuk konser, mengunjungi keluarga, atau sekadar transit sebelum melanjutkan perjalanan lain. Jadi, kalau saya mengunjungi negara tetangga yang sedikit lebih luas dari DKI Jakarta ini, saya punya itinerary tematik yang saya susun ketika berangkat.


Kadang saya datang untuk berburu buku. Kadang untuk cari coffee shop unik. Belakangan ini, saya paling sering kembali untuk melihat pameran seni dan ruang kreatif.

Ke Singapura sebagai penggemar seni sebenarnya menyenangkan. Negara ini seperti titik temu banyak budaya: Chinese, India, Melayu, hingga jejak kolonial Inggris yang masih terasa di beberapa sudut kotanya. Mirip-mirip sama Indonesia yang punya banyak keragaman, Singapura juga lumayan diverse meskipun negaranya jauh lebih kecil.

Lalu, kalau mau ke lokasi tujuan, transportasinya lebih mudah haha.

Anyway, ini adalah museum rekomendasi saya bagi mereka yang ingin mengintip koleksi dan pameran seni di Singapura.



National Gallery Singapore

Tempat ini adalah yang paling wajib dikunjungi. Galeri ini (arguably) menyimpan arsip visual terbesar di dunia untuk seni modern Asia Tenggara, dan sering jadi tuan rumah koleksi keliling atau koleksi pinjaman dari museum-museum lain di seluruh dunia. Jika ada festival, National Gallery Singapore juga sering berpartisipasi dan punya program-program seru.

National Gallery Singapore terletak di tengah kota, menempati dua monumen nasional paling ikonik di Singapura, yaitu bekas Gedung Supreme Court (Mahkamah Agung) dan City Hall (Balai Kota). Ada atap kanopi kaca di bagian tengahnya, yang jadi tempat favorit saya untuk duduk dan bengong. Apalagi kalau hujan turun. National Gallery Singapore adalah rumah lukisan klasik abad ke-19 karya Raden Saleh, pameran interaktif yang ramah anak di Keppel Center, dan ruang-ruang yang memberikan jeda dari sibuknya negara Singapura

Dua hal yang membuat saya selalu berusaha mampir ke National Gallery Singapore adalah koleksinya yang lebih banyak ke seni modern dan kids friendly activities di Keppel Center.

1 St Andrew’s Road, Singapore 178957
Buka setiap hari, 10:00 – 19:00
MRT: City Hall


Sunday, May 24, 2026

Perbandingan Maskapai Low Cost Carrier Jakarta–Singapura 2026

Sejak pesawat kesayangan saya, Jetstar, pamit dari rute Jakarta-Singapura, saya jadi bimbang kalau mau pergi ke negara tetangga. Padahal sebelumnya Jetstar adalah pilihan favorit saya: jadwalnya nyaman, harganya masih masuk akal, dan sampai Singapura sebelum makan siang.

Sekarang pilihan maskapai memang masih banyak, tetapi harga tiket makin sulit diprediksi. Kadang untuk rute PP Jakarta–Singapura yang biasanya sekitar tiga jutaan, tiba-tiba bisa melonjak jadi enam juta saat long weekend. Tapi kan saya tetap harus pergi ke negara tetangga karena ada urusan keluarga dan nonton konser. Jadi, naik pesawat apa dong?

Disclaimer dulu kalau semua opini di artikel ini berdasarkan pengalaman pribadi dan pengalaman keluarga yang bepergian di rute yang sama.

Kenapa saya suka Jetstar? Bukan karena fasilitasnya paling mewah atau pesawatnya paling baru, melainkan karena rasanya selalu pas untuk perjalanan Jakarta–Singapura. Jadwal penerbangan jam 9 pagi membuat saya bisa sampai di Singapura sebelum makan siang, dan punya lebih banyak waktu sebelum acara sesungguhnya. Memang Jetstar bukan satu-satunya maskapai dengan jam penerbangan seperti itu. Ada AirAsia, Batik Air, dan Scoot juga. Namun, biasanya harga tiket mereka sudah di atas satu juta Rupiah, sementara Jetstar sering terasa lebih ramah di kantong. Karena itu, tanpa sadar saya jadi cukup sering mengandalkan maskapai ini untuk short getaway maupun perjalanan mendadak. Sekarang setelah Jetstar tidak lagi melayani rute Jakarta–Singapura, mau tidak mau, saya jadi harus mencari alternatif pada maskapai lain yang tersedia.



Maskapai pertama yang paling sering saya gunakan setelah Jetstar adalah Citilink. Kalau rute Jakarta-Singapura biasanya saya langganan naik Jetstar, sebaliknya di Singapura-Jakarta, saya sering memilih Citilink. Untuk rute Singapura–Jakarta, Citilink termasuk nyaman karena punya pilihan penerbangan pagi dan malam. Saya biasanya memilih penerbangan pagi karena jadwalnya cukup ideal. Dari beberapa kali terbang dengan Citilink, saya baru sekali mengalami reschedule, dan untungnya masih di hari yang sama.

Wednesday, May 20, 2026

Singapore Maritime Gallery: Wisata Edukatif Gratis di Marina South Pier

Saya mendeskripsikan Singapore Maritime Gallery sebagai gabungan sebuah museum sejarah dan Toko Nintendo di New York. Penasaran?

Kalau menyusuri MRT line yang berwarna merah di Singapura, ada satu stasiun tambahan yang baru muncul, bersamaan dengan jalur baru. Namanya Marina South Pier. Ini tempat apa?

Our Date is At
Singapore Maritime Gallery
31 Marina Coastal Drive
Level 2 Marina South Pier
Singapore 018988


Saya baru kenal Marina South Pier minggu lalu, ketika harus melarung abu jenasah salah satu paman yang meninggal di Singapura. Ternyata tempat ini sedikit banyak mirip Marina Ancol dengan perahu-perahu kecil yang menyeberangkan orang ke pulau-pulau sebelah selatan Singapura. Termasuk layanan melarung abu. Cruise yang lebih besar, seperti Disney Cruise dan penyeberangan ke Batam, mendaratnya di Vivo City atau HarbourFront yang dekat ke pulau Sentosa. Marina South Pier punya Marina Bay Sands (MBS) sebagai latar belakangnya.

Selain itu, tempat ini kosong. Hanya ada kios-kios kecil yang menjual makan dan minum, dan rooftop yang dipakai piknik warga pendatang. Karena hari itu hujan, cuaca jadi cukup sejuk. Downsidenya, jadi tidak bisa ke Pier atau dock di atas untuk melihat kapal yang berangkat.

Saya tidak ikut kapal yang pergi melarung, karena kapasitas yang terbatas. Jadi, sambil menunggu kapal kembali, saya bisa apa? Keluarga lain, yang juga menunggu menyarankan keliling Singapore Maritime Gallery yang ada di lantai dua. Exhibition indoor ini cukup menyenangkan untuk dikunjungi, terutama ketika hari hujan. Sepupu-sepupu yang punya anak kecil langsung setuju.



Mengenal Singapore Maritime Gallery

Singapore Maritime Gallery adalah galeri interaktif yang dikelola oleh Maritime and Port Authority of Singapore (MPA). Galeri yang pertama kali dibuka pada tahun 2012 ini, terus diperbarui dengan teknologi serta zona pameran baru. Pada 2025, tempat ini kembali direvitalisasi dengan tambahan area heritage bernama “Tides of Time” yang menampilkan sejarah maritim Singapura sejak abad ke-3.

Bukan cuma Changi Airports, ternyata pelabuhan dan pelayaran di Singapura pun sibuk. Lewat galeri ini, pengunjung dapat memahami bagaimana negara kecil tanpa sumber daya alam bisa berkembang menjadi salah satu pusat maritim global.




Sejarah kelautan terdengar membosankan, apalagi kalau ini bukan interest kita. Namun, Singapore Maritime Gallery mampu menyajikan informasi dengan gaya yang menarik sehingga saya merasa seperti sedang bertualang kembali ke jaman dahulu kala.

Yang paling bahagia ya anak-anak… dan para bapak. Sepupu saya yang punya anak balita menghabiskan waktu dengan main simple time management games, seperti mengatur kontainer. Anaknya sibuk bikin prakarya origami ikan di ruangan sebelahnya. Wait, sebelum sampai ke area bermain, ada beberapa zona yang perlu kita lalui. Kalau yang bawa toddler sih silahkan langsung saja ke bagian akhir.