Sunday, March 15, 2026

Dharma Boutique Roastery: Jejak Kopi Nusantara di Kota Semarang



“Tempat ini, pintu masuknya di mana sih?”

Menemukan pintu masuk Dharma Boutique Roastery menjadi petualangan tersendiri, karena lokasinya yang seolah "bersembunyi" di balik keriuhan Jalan Wotgandul Barat. Roastery sekaligus cafe ini menempati bangunan tua bergaya kolonial yang terlihat tenang di balik pagar besi yang bersahaja.

Iya, tapi, pintu masuknya mana?



Ada sebuah pintu besi dengan tulisan “Dharma Boutique Roastery” di sekitar 50 meter dari WM Kelengan. Jadi, jalan kaki pelan-pelan baru kelihatan. Begitu masuk ke dalam, suasana jadi lebih tenang. Serasa masuk ke dunia lain.

Oleh-oleh yang paling sering saya bawa pulang dari satu lokasi tujuan wisata akhir-akhir ini adalah kopi. Jadi mengunjungi local roastery atau cafe sudah jadi agenda wajib dalam itinerary.

Dharma Boutique Roastery bukan sekadar kedai kopi biasa, melainkan rumah kopi berusia lebih dari satu abad yang masih bertahan hingga sekarang. Masuk ke dalam lewat “pintu rahasia” tadi, memang terasa seperti menjelajah waktu. Haha.

Setelah mengumpulkan cerita dari kanan kiri, ternyata cerita sejarahnya dimulai pada tahun 1915, ketika seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Tan Tiong Ie mendirikan usaha kopi bernama Margo Redjo. Awalnya usaha ini berdiri di Cimahi, Jawa Barat, sebelum akhirnya dipindahkan ke Semarang, yang adalah kampung halaman Tan Tiong Ie. Kini usaha tersebut dikelola oleh generasi ketiga keluarga pendiri, yaitu Widayat Basuki Dharmowiyono.

Kenapa usaha penyangraian kopi ini terletak di rumah? Karena ijin pendirian pabriknya tidak kunjung muncul. Tapi, setelah ijin usaha keluar di tahun 1928, usaha ini jadi berkembang lebih pesat, termasuk export kopi ke Nama Margo Redjo sendiri diubah menjadi Dharma Boutique Roastery pada tahun 2016-2017.

Berkunjung ke Dharma Boutique Roastery


Salah satu daya tarik utama Dharma Boutique Roastery adalah perpaduan antara tradisi lama dan konsep kopi modern. Bangunannya masih mempertahankan nuansa vintage dengan mesin sangrai kopi tua yang usianya puluhan tahun. Sebenarnya untung juga tempat ini tidak berubah jadi bangunan pabrik, karena ngopi di sini memberikan pengalaman unik.




Begitu masuk ke dalam, kita masuk ke ruangan depan untuk memilih kopi. Ada puluhan varian kopi yang berasal dari berbagai daerah seperti Aceh Gayo, Flores, Bajawa, hingga Papua. Semua bisa diseduh dan dinikmati langsung, atau dibeli untuk dibawa pulang. Setiap kopi diletakkan di dalam toples kaca dengan tutup warna-warni. Harganya sudah tertulis di setiap toples untuk yang ingin membeli biji kopi atau versi sudah digiling. Kalau kita bilang mau bawa ke Jakarta, nanti akan dimasukkan ke kantong yang kedap udara agar kopi lebih tahan lama.

Enaknya lagi, di sini bisa ngobrol sama karyawan dan dapat rekomendasi kopi. Favorite saya Robusta Temanggung, lalu biasanya saya beli satu antara Nusantara Honey atau Nusantara Wine. Soalnya saya tim Robusta. Robusta Temanggung punya dominan rasa cokelat pahit (dark chocolate) dan kacang-kacangan (nutty).

Friday, March 13, 2026

Contekan Itinerary New York di Musim Dingin

Ada dua jenis orang yang liburan ke New York City. Yang pertama: santai, satu hari cuma ke satu museum, sisanya ngopi dan people watching. Yang kedua: membuat itinerary seolah-olah New York itu kota kecil yang bisa dijelajahi dalam empat hari. Trip saya ini masuk kategori kedua karena teman seperjalanan saya bilang: “Pokoknya selama di New York kita harus lihat sebanyak mungkin.”

Sementara dia sendiri pake ke Washington DC dulu…

Taksi khas NYC Yang warnanya Kuning.

Buat yang sedang merencanakan trip ke NYC, ini dia itinerary versi saya.

Trip ini dilakukan di musim dingin, jadi selain jalan kaki banyak, juga harus tahan udara dingin Manhattan.


Hari 1: Tiba di NYC - New York Transit Museum - Check In Hotel


Mendarat di Newark Liberty International Airport jam 9 pagi, lalu naik bus ke Port Authority Bus Terminal dan jalan kaki sekitar 10 menit ke hotel. Saya menginap di DoubleTree by Hilton New York Times Square West dan bisa titip koper sebelum check-in.

Destinasi pertama hari itu adalah New York Transit Museum.

Museum ini sedikit unik karena lokasinya berada di stasiun subway lama yang sudah tidak dipakai. Begitu masuk, rasanya seperti masuk ke kapsul waktu sistem transportasi New York .Di dalamnya ada koleksi gerbong subway dari berbagai era. Beberapa bahkan bisa dimasuki langsung, jadi pengunjung bisa melihat bagaimana desain kereta berubah dari tahun ke tahun. Lucunya, beberapa gerbong lama terasa seperti set film New York klasik.

Warning: Museum ini dingin. Bukan karena AC yang terlalu kuat, tapi karena museum ini memang berada di stasiun subway bawah tanah yang sudah tidak dipakai. Jadi temperatur di dalamnya terasa seperti berada di platform subway lama. Saya berkunjung di musim dingin jadi kebayang deh kayak apa suhunya. Di dalam museum pun kita tidak copot coat.


Balik ke hotel sekitar jam 2:30, langsung check-in. Kamarnya cozy, lokasi dekat Times Square tapi nggak terlalu ribut. Istirahat bentar, terus saya lanjut adventure. Dudu tidur karena kita naik pesawat dengan jam red-eye. Sementara saya eksplor sekeliling, dan akhirnya duduk manis di sebuah coffee shop sambil people watching. Ketika hari gelap, saya jalan kaki sendirian ke Times Square. Melihat billboard raksasa di mana-mana, rasanya seperti masuk ke dunia yang penuh lampu LED. Ada berbagai orang kumpul di sini. Ada turis dari berbagai negara, orang lokal New York yang berjalan super cepat, hingga karakter kostum yang mencoba mengajak foto.

New York, bahkan di basian Perayaan Tahun Baru, sebenarnya relatif aman untuk jalan sendirian malam-malam. Tapi saya tetap berusaha nggak lewat jalan gelap sendirian atau keluar exit Subway yang ada homeless duduk-duduk. Karena musim dingin, banyak homeless yang menghangatkan badan di dalam stasiun.

Hari 2: Harry Potter, Broadway, dan Times Square (lagi)

Sunday, March 8, 2026

All Things You Need To Know About Taking Red-Eye Flight

Red-Eye Flight adalah penyelamat budget, tapi (menurut saya) ini bukan penerbangan yang cocok untuk semua orang. Memangnya apa itu Red-Eye Flight? Istilah “red-eye” dipake buat jadwal penerbangan yang berangkat malam hari dan baru sampai di destinasi tujuan besok paginya. Kenapa disebut red-eye? Karena pas mendarat, mata penumpang biasanya bakal merah dan puffy gara-gara kurang tidur di pesawat. Jadi ini bukan penerbangan patah hati yang isinya orang habis nangis haha.

Contoh: Musim dingin kemarin saya terbang dari Los Angeles ke Newark, New Jersey, pakai red-eye flight. Berangkat sekitar jam 8 malam dari Los Angeles International Airport, transit di Atlanta, Georgia jam 4 pagi, lalu terbang lagi jam 6 pagi. Mendarat di Newark jam 9 pagi. Kurang tidur, sudah pasti. Selain jam transit yang subuh-subuh begitu, pesawatnya juga bukan yang nyaman untuk tidur.


Kenapa mau bela-belain naik red-eye flight? 

Ada beberapa alasan:
  • Biasanya, tiket red-eye itu jauh lebih murah dibanding jam-jam normal. Menurut beberapa online travel agent, tiket penerbangan di jam red-eye bisa lebih murah hingga 30% dari harga di jam-jam sibuk.
  • Kalau kamu ada kegiatan lain atau kerja, penerbangan jenis ini memaksimalkan waktu libur, sekaligus hemat penginapan. Soalnya semalam pertama kan dihabiskan di pesawat.
  • Perbedaan zona waktu yang besar (seperti rute Los Angeles - New York) juga sering menjadi alasan orang mengambil red-eye, agar tidak habis waktu di jalan. Waktu yang dihabiskan di jalan, ditambah perbedaan zona waktu adalah sama dengan total waktu tidur normal kita.
Namun, kalau dilihat-lihat, harga lebih murah ini tidak terlalu berlaku di penerbangan Jakarta-Singapura, kecuali kita mengambil pesawat yang tidak budget. Berdasarkan pengalaman berburu penerbangan red-eye di Asia Tenggara, harga tiket jam red-eye pesawat reguler tetap lebih mahal dari harga tiket jam biasa pesawat budget.

Masalahnya datang ketika kita ngantuk, dan pesawat kita ada transitnya.

Wednesday, March 4, 2026

Museum Mile New York: Worth It?

Terbentang di sepanjang 5th Avenue dari 82nd sampai 110th Street, jalanan ini kiri-kanannya museum semua. Museum MIle is about experiencing budaya, sejarah dan seni bergabung jadi satu di kota New York yang super sibuk itu.

Buat saya yang senang keluar masuk museum, rasanya seperti menemukan harta karun. Masalahnya, masuk museum ini rata-rata bayar, dan harganya lumayan. Harga tiket masuk museum mulai dari $9 (El Museo del Barrio) hingga $30 (Solomon R. Guggenheim Museum dan The Metropolitan Museum of Art / The Met).


Sebelum lanjut cerita, kita cek dulu ada museum apa saja sih di Museum Mile?


1. The Africa Center (110th St / 1280 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke seni, politik, dan budaya kontemporer Afrika. Tutup hari Senin dan Selasa. Baru-baru ini buka coffee shop yang namanya CUP @ The Africa Center. Masuk ke dalamnya gratis, yang bayar cuma kalau ikutan program dan mau lihat exhibition yang memang ada tiketnya. Kadang ada pementasan, event komunitas dan pemutaran film.


2. El Museo del Barrio (104th St / 1230 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke budaya dan seni warga Puerto Rico dan Amerika Latin, cocok buat yang suka dengan Caribbean dan Latin American art. Buka Kamis hingga Minggu. Tiket masuk dewasa $9, anak-anak di bawah 12 tahun bisa masuk gratis. Tiket masuk ke museum ini bisa juga digunakan untuk masuk ke Museum of the City of New York.

3. Museum of the City of New York (103rd St / 1220 5th Ave, New York, NY 10029)
Dari namanya sudah ketahuan bahwa museum ini bertujuan untuk mengenalkan masa lalu dan masa kini kota New York kepada pengunjung. Buka setiap hari. Tiket masuknya $23 untuk orang dewasa, anak di bawah 18 tahun masuk gratis. Setiap hari Rabu, bisa masuk gratis ke museum ini

4. Jewish Museum (92nd St / 1109 5th Ave &, E 92nd St, New York, 10128)
Isi museum ini adalah koleksi seni dan budaya Yahudi selama ribuan tahun. Tutup di hari Selasa dan Rabu. Tiketnya $24 untuk orang dewasa, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Hari Sabtu juga gratis.



5. Cooper Hewitt, Smithsonian Design Museum (91st St / 2 E 91st St, New York, NY 10128)
Museum ini khusus membahas desain. Lokasinya di bekas mansion Andrew Carnegie dan pintu masuknya ada di samping, jadi jangan tertukar sama rumah penduduk. Ada cafe di bagian depannya. Tiket masuk dewasa adalah $22, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Pay What You Wish ticket bisa didapatkan satu jam sebelum museum tutup

6. Solomon R. Guggenheim Museum (89th St / 1071 5th Ave, New York, NY 10128)
Gedung spiral putih yang legendaris ini adalah ‘rumah’ bagi banyak koleksi seni, mulai dari Picasso sampai Kandinsky. Namun, yang paling ikonik adalah arsitekturnya. Museum buka setiap hari. Tiket masuknya $30 untuk orang dewasa dan gratis untuk anak di bawah 12 tahun. Ada Pay What You Wish setiap Selasa dan Kamis sore, satu jam menjelang museum tutup.

7. Neue Galerie New York (86th St / 1048 5th Ave, New York, NY 10028)
Khusus buat pecinta seni Jerman dan Austria awal abad ke-20. Buka setiap hari kecuali Selasa. Tiket masuk dewasa $28, anak-anak di bawah 12 tahun tidak boleh masuk. Di hari Jumat pertama, masuk gratis mulai jam 5 sore. Di sini ada Café Sabarsky, restoran Austro-Hungarian yang Apple Strudel-nya konon enak banget.

8. The Metropolitan Museum of Art (82nd St / 1000 5th Ave, New York, NY 10028)
Sebuah museum yang megah untuk koleksi seni terbesar di dunia, dari zaman kuno hingga kontemporer. Buka setiap hari selain Rabu. Tiket dewasa $30, anak anak di bawah 12 tahun gratis.


Selain 8 museum di atas, sebenarnya ada beberapa museum lain yang letaknya tidak jauh dari 5th Avenue, tapi secara resmi, museum atau art gallery ini tidak masuk ke Museum Mile.

Sunday, March 1, 2026

Menjelajah Museum Tanpa Keluar Rumah (Part 2): Channel Youtube Favorit

Kalau di part 1 kita bicara soal Virtual Reality Tour atau VR Exhibition, di postingan yang ini kita ngobrolin traveling virtual lewat video YouTube.

Jujur saya, saya bukan tipe penonton video. Namun, di tahun 2023, penyanyi kesukaan saya launching Youtube channel berisi jalan-jalan keliling museum dengan dia sebagai guide yang memberi narasi. Eh, kok seru!

Narasi Personal Melalui YouTube Influencer

Nonton Youtube keliling sebuah kota atau objek wisata memberikan pengalaman berbeda, mainly karena ada teman jalannya. Ada dua jenis channel yang biasanya saya tonton. Yang pertama adalah channel milik orang pribadi. Seperti Yessay dari Super Junior Yesung (https://www.youtube.com/@yessay_). Channel Youtube ini berbeda karena memiliki vibes yang tenang, jalan santai, serta temanya seputar sejarah dan budaya. Yessay bukan vlog perjalanan yang terburu-buru atau yang merangkum tempat-tempat viral seperti video pendek di media sosial pada umumnya. Menontonnya terasa seperti sedang diajak melakukan perjalanan kontemplatif, bersama si pemilik channel.


Yessay mengajak saya blusukan ke museum-museum seni anti-mainstream yang jarang terjamah turis, hingga menelusuri sudut-sudut situs warisan budaya di Korea dengan perspektif yang berbeda. Kadang-kadang, kita berhenti sejenak untuk "mengobrol" dengan Yesung, tentang art, tenang hidup atau tentang hal-hal random yang membuat nonton video seperti jalan-jalan bareng seorang teman. This is the kind of travel I wish I was doing. Saking senangnya sama channel ini, saya bahkan membuat itinerary untuk suatu hari ke Korea dan mengunjungi tempat-tempat yang jadi tujuan di channel ini.

Ada banyak kreator konten yang mengkhususkan diri pada vlog perjalanan atau sejarah budaya. Menonton mereka memberikan perspektif yang berbeda pada sebuah tujuan. Selain Yessay, ada beberapa channel yang bisa jadi alternatif tontonan kalau kita sedang stuck di rumah, merencanakan itinerary trip berikutnya:

  • Allan Su (https://www.youtube.com/@allansu) adalah seorang traveller yang vlognya berbentuk diary. Meskipun menurut saya, pace-nya agak terlalu cepat dan konsepnya lebih ke itinerary, tapi isi vlognya berguna buat yang planning mau jalan-jalan karena isinya lumayan detail.
  • Art Insider (www.youtube.com/@theartinsidershow) mengajak kita keliling museum yang ada di UK dan Perancis. Ada beberapa yang di New York juga. Gaya ceritanya terlalu gen-z buat saya, tapi insightful dan bahasanya mudah dimengerti. Videonya belum banyak, jadi saya berharap dia bisa konsisten update.
  • Mary Lynn Buchanan (https://www.youtube.com/@MaryLynn_Buchanan) adalah pilihan yang sangat tepat bagi yang menyukai konten eksplorasi contemporary art dengan penyajian yang tenang dan mendalam. Art Gallery yang dikunjungi ada di berbagai belahan dunia, dengan fokus di New York, Jepang, U.K. dan Perancis.

Di Instagram, saya follow The Urbanist Singapore, yang sering punya Reels tentang urban planning dan heritage. Sedikit berbeda dengan Youtube karena media sosial yang digunakan kebanyakan video pendek, tapi cerita-cerita yang ada tidak kalah menarik karena menghadirkan sisi lain kota Singapura dan biasanya fokus pada satu titik. Bisa tentang eskalator, tentang kucing, tentang sebuah bangunan lama, atau hal-hal unik yang akan terlewatkan mata jika kita jalan begitu saja di negara tetangga.

Kelebihan utama mengikuti tur adalah terselipnya fakta-fakta unik atau opini pribadi yang membuat sejarah tidak terasa kaku. Bagi saya yang lebih menyukai gaya storytelling, channel seperti ini adalah tempat yang pas untuk memahami konteks budaya sebuah koleksi museum.

Bagaimana dengan Channel YouTube Resmi Dari Museumnya?


Berbeda dengan influencer, kanal YouTube resmi museum biasanya menyajikan konten yang lebih artistik dan sinematik. Channel Yessay kerap bekerja sama dengan Korean Heritage Channel (https://www.youtube.com/@koreanheritage) yang menghadirkan konten sejarah, budaya dan traveling di Korea. Sebenarnya, nonton Youtube channel ini lebih cocok buat cari hidden gem daripada tempat yang viral atau instagrammable. Videonya juga cenderung pendek, jadi kita bisa “berkunjung” ke beberapa tempat sekaligus. Seri “Heritage Walk with SUPER JUNIOR's Yesung” yang ada di sini mengajak kita berkeliling dengan sang artis sebagai guide-nya.


Banyak museum punya Youtube Channel sendiri. Selain menghadirkan virtual tur, channel Youtube resmi museum atau art gallery seringkali mendokumentasikan pameran temporer yang mungkin sudah berakhir secara fisik namun tetap "hidup" secara digital.
  • National Museum of Korea (https://www.youtube.com/@nationalmuseumofkorea) punya channel Youtube yang lumayan aktif. Selain update mengenai koleksi yang sedang tayang, channel ini juga punya NMK Immersive Digital Gallery, NMK lectures, NMK Kids, NMK Masterpieces dan sebagainya. Bagian “What’s on” adalah yang paling pas kalau ingin jalan-jalan keliling museum dengan laptop. Untungnya mereka punya closed caption bahasa Inggris, jadi saya bisa nonton dengan aman.
  • The Met di New York (https://www.youtube.com/@metmuseum) memiliki lebih dari 2000 video buat kita tonton. Sebagian besar adalah exhibition tour yang mengajak kita menyusuri koleksi-koleksi yang ada, baik yang masih dipajang maupun yang sudah lampau
  • ArtScience Museum Singapore (https://www.youtube.com/@ArtScienceMuseumSG) punya koleksi ArtScience Museum Virtual Tours yang dipandu oleh Museum Ambassadors. Durasinya pendek-pendek (sekitar 6-7 menit) jadi kalau punya waktu 30 menit di pagi hari bisa nonton 2-3 video.


Eksplorasi museum melalui layar YouTube membuktikan bahwa jarak dan waktu bukan lagi penghalang untuk jalan-jalan, menikmati sejarah dan budaya di negara lain. Setiap video menawarkan jendela unik untuk memahami dunia dari perspektif yang berbeda. Namun, perjalanan virtual ini bukan pengganti wisata fisik bagi saya. Soalnya tetap berbeda vibesnya, mendengarkan apa yang orang ceritakan tentang sebuah tempat versus kita sendiri yang ada di sana.



Saturday, February 28, 2026

Menjelajah Museum Tanpa Keluar Rumah (Part 1): VR Exhibition

Kebiasaan ini dimulai dari jaman Covid, ketika tiba-tiba banyak tur guide menawarkan wisata virtual. Ternyata ada banyak museum yang menyediakan fitur 360-degree virtual tour di situs resmi mereka. Lalu, di tahun 2023, member grup idol favorit saya me-launching Youtube channel tentang jalan-jalan ke museum, situs bersejarah, art gallery dan sebagainya. Beberapa acara di Korean Culture Center yang saya datangi juga merupakan virtual tur ke museum-museum yang ada di Seoul. Saya jadi berpikir, mungkin jalan-jalan virtual ini, ada serunya juga.

Eh, tapi ini termasuk travelling nggak ya?

Berkat kemajuan teknologi digital, jalan-jalan mengunjungi suatu tempat tidak lagi berarti terbang ke sana, Bisa dari fitur 360-degree virtual tour atau dari Youtube. Saya bahkan kadang “jalan-jalan” sendiri pakai Google Maps. Meskipun hanya di depan layar, dan tidak secara fisik berada di sana, saya tetap menentukan dua peraturan untuk jalan-jalan virtual ini.
  • Mendedikasikan waktu. Sama seperti kalau kita physically present di museum, jalan-jalan virtual juga tidak bisa disambi. Bangun pagi, sempatkan 30 menit untuk browsing, jalan-jalan dan nonton.
  • Riset dulu. Ada tur apa yang ditawarkan. Kalau nonton di Youtube, koleksi apa yang ditampilkan? Jalan-jalannya ke mana? Tetap punya plan “jalan-jalan” yang sesuai. Misal punya itinerary seminggu di Seoul, ya beneran tiap pagi kita keliling museum di Seoul.
Dan kalau biasanya saya traveling sambil bawa kopi di tangan, ya ini juga sama. Siapkan kopi di samping meja. Bedanya cuma kadang-kadang saya browsing sambil dasteran aja.


Cara paling “mudah” untuk memulai tur virtual adalah melalui situs resmi museum. Museum-museum besar di Korea, seperti National Museum of Korea atau The National Folk Museum of Korea, telah mengintegrasikan teknologi High-Resolution 360 View. Kita tinggal masuk ke websitenya lalu memilih bagian digital museum atau virtual tour. Salah satu museum yang lumayan update dengan koleksi virtualnya adalah National Museum of Modern and Contemporary Art, Korea (MMCA). Museum ini memiliki empat cabang dengan empat fokus berbeda. Cabang Seoul yang berfokus pada seni kontemporer global, sementara cabang Gwacheon menonjolkan arsitektur dan alam. Lalu cabang Deoksugung yang terletak di dalam istana bersejarah untuk seni modern klasik, serta cabang Cheongju sebagai pusat penyimpanan dan restorasi. Kalau perginya virtual, ya kita cukup masuk ke websitenya saja.

Mengunjungi Evolusi Kereta Bawah Tanah Seoul dari Laptop

Sunday, February 22, 2026

Mencoba Jelajah Jakarta Tanpa Mobil: Keluar dari Zona Nyaman Demi Tempat Tujuan

Saya mampir tempat-tempat ini hanya ketika saya tidak naik mobil.

Selama ini, saya lebih sering melihat Jakarta dari dalam mobil. Udara selalu dingin karena AC, suara musik dari radio, dan bau wangi dari gantungan di bawah kaca. Saya lebih sibuk menghindari kendaraan lawan arah, pejalan kaki yang menyebrang sembarangan, dan hal-hal lain yang membuat perjalanan di Jakarta jadi lebih seru.


Karena ini jugalah, ada beberapa tempat yang biasanya hanya saya datangi saat tidak membawa mobil. Biasanya tempat-tempat ini adalah yang lokasinya mudah dijangkau transportasi umum dan tidak punya tempat parkir.

Buat saya, tempat-tempat ini spesial. Soalnya jumlah saya pergi tanpa mobil pribadi tuh bisa dihitung jari.

Kota Tua Jakarta

Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat nostalgia sekaligus wisata sejarah. Biasanya populer di akhir pekan atau musim liburan sekolah. Selain museum, dan gedung bersejarah yang ada di sekitar Lapangan di depan Museum Fatahillah, ada seniman jalanan, sepeda ontel warna-warni, dan aroma kopi yang ikut meramaikan suasana. Kalau ke sini, saya lebih suka naik transport umum lalu jalan kaki berkeliling. Soalnya, parkirannya lumayan sulit ditemukan dan banyak parkir liar yang bikin insecure.


Stasiun KRL terdekat adalah Stasiun Jakarta Kota. Keluar stasiun tinggal nyebrang lalu berjalan lurus sekitar 300 meter sampai ke Lapangan di depan Museum Fatahillah. Dulu, sebelum pembangunan MRT, Halte Kota adalah tempat transit yang paling sering dikunjungi karena rute busway saya adalah koridor 1 ke koridor 12. Sekarang, haltenya tinggal kenangan. Tapi, Halte Busway Kota Tua jadi ada 2, yaitu:
  • Kota (Koridor 1 dan 12) yang letaknya persis di depan Stasiun Jakarta Kota
  • Kali Besar Barat yang letaknya di depan Toko Merah

Wednesday, February 18, 2026

Istirahat Sejenak di Chinatown Singapore

Chinatown Singapura memberikan suasana berbeda ketika kita menjelajah di dalamnya. Soalnya masih banyak bangunan bersejarah yang bukan cuma punya cerita bagi turis, tapi bagi saya yang suka bolak-balik ke negara tetangga karena alasan keluarga. Seperti People’s Park Complex dan area sekitarnya, di mana saya sering ke sana bersama keluarga ketika daerah itu belum ada MRTnya. Pusat perbelanjaan lama, dengan barang-barang yang konon lebih murah dari daerah lainnya.

Sekarang ini, Chinatown Singapura lebih meriah. MRT yang langsung exit di tengah hiruk pikuk orang jualan, plus ruko-ruko meriah, thrift stores di lantai dua, dan cafe-cafe instagramable. Karena letaknya yang ada di daerah heritage, maka toko dan cafe yang bermunculan pun masih selaras dengan desain khas Chinatown. Dua cafe yang saya kunjungi di dua kesempatan berbeda ini memberikan satu hal yang sama: ketenangan. Kabur sejenak dari orang-orang yang berlalu lalang dengan cepat serta hebohnya orang jualan dan turis yang belanja.



Cafe Monochrome Chinatown


Membuka pintu masuk ke cafe yang satu ini rasanya seperti melangkah ke dunia lain. Interior hitam putihnya kontras dengan suasana Chinatown yang meriah.


 

Seluruh ruangan dirancang agar terlihat seperti sketsa komik. Garis-garis hitam di atas latar belakang putih, memberikan ilusi bahwa ruangan tersebut adalah gambar dua dimensi. Bukan hanya interior dan dekornya, meja dan kursi juga dibungkus garis-garis hitam di tepinya. Namun, karena lokasinya di Chinatown, dinding cafe ini dihiasi dengan gambar nuansa oriental, termasuk gambar bangunan tradisional Tionghoa, pohon, dan bunga teratai. Ada banyak sudut instagramable di cafe ini.

Sunday, February 15, 2026

Festival Kebhinekaan: Perjalanan Seminggu Menghargai Perbedaan

Saya selalu percaya bahwa traveling bukan cuma soal pindah lokasi dan mengumpulkan foto dengan latar belakang berbeda, tapi tentang apa yang saya bawa pulang. Mulai dari cara pandang baru, rasa ingin tahu, atau pertanyaan-pertanyaan kecil tentang hidup. Semua adalah sesuatu yang saya temukan di tempat tujuan, yang kemudian menjadi bagian dari kehidupan saya.

Karena itulah, terkadang kalau membuat itinerary, saya suka menyelipkan hal yang unik. Saya lebih tertarik ikut kelas memasak di negeri orang, atau berjalan kaki tanpa tujuan jelas menyusuri satu sudut kota sendiri. Kalau ada walking tur, biasanya saya senang ikutan juga. Dengan melakukan ini, saya mendapatkan insight yang berbeda, lebih personal dan lebih punya cerita untuk dituliskan.

Perjalanan hari ini ceritanya tidak jauh-jauh dari tempat tinggal. Masih seputaran Jakarta juga. Cerita hari ini adalah pengalaman saya ikutan anjangsana alias silaturahmi lintas iman di Festival Kebhinekaan.

Awal bulan kemarin saya menemukan yang namanya Festival Kebhinekaan. Kegiatan tahunan yang diselenggarakan untuk merayakan keberagaman Indonesia dan memperkuat toleransi lintas iman ini sudah memasuki tahun ke-9. Sayangnya saya baru tahu bulan ini. Dalam festival ini, ada rangkaian kegiatan seperti kunjungan ke berbagai rumah ibadah lintas agama, anjangsana ke komunitas keagamaan serta dialog antar kelompok masyarakat. Tujuannya untuk berkenalan serta memupuk toleransi dan empati.

Tiga destinasi Anjangsana Kebhinekaan yang ada di jadwal festival tahun ini adalah Komunitas Penghayat Kapribaden Jawa di Limo, Gereja Yesus Kristus dari Orang-Orang Suci Zaman Akhir di Tebet, dan Jemaat Buddha Nichiren Jepang melalui kunjungan ke Kuil Hoseiji di Manggarai. Acara-acara ini semuanya gratis.

Berkumpul di Kuil Hoseiji

Cerita Perjalanan ke Tiga Kunjungan

Wednesday, February 11, 2026

Light to Night Festival: Singapura Setelah Matahari Terbenam

Apa rasanya duduk di padang rumput sambil menyaksikan pertunjukkan lampu tembak warna-warni bergerak di tembok sebuah bangunan bersejarah? Sepertinya cocok untuk saya yang senang bengong dan people watching. Ada beberapa tempat untuk melakukan ini di Light to Night Festival, yaitu di National Gallery Singapore dan Victoria Theatre and Concert Hall. Pertunjukkan lampunya sih ada juga di The Arts House at The Old Parliament, tapi tidak ada padang rumput dan tempat duduk-duduk cantik untuk menikmati pertunjukannya.


Dari tadi ngomongin Light to Night Festival, apaan sih ini?

Light to Night Festival adalah salah satu acara tahunan di Singapura yang biasanya digelar setiap Januari hingga Februari. Festival ini berpusat di kawasan Civic District yaitu seputaran National Gallery Singapore dan area sekitarnya seperti Padang, St. Andrew’s Cathedral, Singapore River, hingga gedung-gedung bersejarah lainnya di Civic District. Selama beberapa minggu, area terbuka di pusat kota Singapura ini berubah menjadi galeri seni yang bisa dinikmati secara gratis oleh siapa saja.

Bahkan untuk hari pertama, ketika saya datang ke sana, National Gallery Singapore dibuka gratis untuk umum. Kecuali special exhibition tentunya.

 

Melihat sejarahnya, festival ini pertama kali diadakan pada 2016, dan sejak itu menjadi agenda budaya yang ditunggu-tunggu. Setiap tahun, temanya berbeda, tapi biasanya berkaitan dengan isu kemanusiaan, identitas, emosi, atau hubungan manusia dengan lingkungan dan teknologi. Tema ini kemudian diterjemahkan ke dalam berbagai bentuk karya seni dengan cahaya, instalasi multimedia, proyeksi pada bangunan bangunan, pertunjukan, hingga program diskusi dan workshop.

Sayangnya, karena saat itu saya datang di hari pertama, jadi kegiatannya banyak yang belum mulai. Baru pameran, bazaar dan pertunjukkan lampunya saja.







Apa yang membuat Light to Night Festival menarik adalah penggunaan bangunan ikonik sebagai medium seni. Bagian tembok depan National Gallery Singapore, yang dulunya merupakan gedung Balai Kota dan Mahkamah Agung itu, menjadi kanvas pertunjukan visual. Proyeksi cahaya ini tidak hanya menampilkan visual yang menarik, tetapi juga mengangkat cerita sejarah, nilai sosial, dan pesan artistik yang relevan dengan tema festival tahun tersebut. Intinya sih, Civic District Singapura berubah setelah matahari terbenam.

Apa saja yang harus diperhatikan kalau ke acara terbuka seperti ini?

Sunday, February 8, 2026

Liburan Spontan dan Anti Bosan di Singapura

Singapura itu sering dapat cap “rapi, mahal, dan gitu-gitu aja”. Tapi saya masih balik-balik juga ke negara tetangga itu. Kenapa?

Jadi, ceritanya, awal tahun ini saya balik lagi ke Singapura. Karena sudah kesekian kalinya, saya tidak punya itinerary pasti. Tidak ada planning, dan janjian ketemuan teman pun spontan semuanya. Ketika pulang, saya scrolling foto-foto untuk dijadikan bahan tulisan blog challenge, dan menyadari bahwa trip ini adalah salah satu yang paling berkesan buat saya.

Kok bisa?

Mau Jalan ke mana kita hari ini?

Singapura adalah kota yang membiarkan saya nggak ngapa-ngapain, dan itu ternyata adalah sesuatu yang luxurious.


Singapura bagi banyak orang adalah tentang itinerary yang padat dan daftar belanja yang panjang. Namun bagi saya, Singapura adalah kota yang mengizinkan saya untuk "tidak ngapa-ngapain" dan ketika dijalani, hal itu adalah kemewahan yang luar biasa.

​Ada kenyamanan tersendiri saat saya menyadari bahwa tidak punya rencana itu tidak apa-apa. Di liburan kali ini, saya baru sempat mengecek jadwal eksibisi museum dan galeri setelah beberapa hari menapakkan kaki di Singapura. Sayangnya, di minggu saya berkunjung, tidak ada exhibition yang menarik perhatian. Yah, namanya juga jalan-jalan spontan. Namun, saya masih sempat mencicipi hiruk-pikuk opening day Light To Night Festival di Civic Center.


Light to Night Festival adalah sebuah perayaan visual yang memadukan teknologi dan seni. Festival ini menghidupkan fasad megah gedung-gedung ikonik di Singapura seperti National Gallery Singapore dan Victoria Theatre dengan instalasi art projection mapping. Begitu matahari terbenam, Singapura berubah jadi pertunjukan lampu yang fantastis. Itu pun agenda-agenda yang menarik sebenarnya ada di akhir bulan.

Namun, datang ke festival itu kan hanya satu malam, lalu bagaimana dengan sisa harinya?

​Di sinilah letak serunya. Di Singapura, saya merasa bisa datang hanya untuk berjalan kaki atau makan, lalu pulang. Saya tidak harus memaksakan diri menjadi turis. Saya cukup menjadi manusia biasa.

​Kejutan di Balik Fitur "Nearby"

Tuesday, February 3, 2026

T5 In the Making: Melihat Masa Depan Changi Airport

“Eh, apaan nih?” pikir saya, melihat sebuah area pameran yang masih tertutup di ujung Terminal 3 Changi Airport. Pagi itu, sambil menyantap sarapan di McDonald’s, rasa penasaran mulai muncul. Saya langsung googling, karena dari balik pembatas pameran terdengar suara seperti latihan opening ceremony. Ada suara MC yang formal “Ladies and gentlemen…” lengkap dengan intonasi khas acara resmi.

Ada tulisan T5 di sana. Wah, ada terminal baru lagi di Changi! Saya pun bertekad sebelum pulang ke Indonesia, saya harus mampir dan lihat sendiri apa yang sebenarnya sedang dipersiapkan di sana.

 

T5 In the Making adalah pameran gratis yang digelar di Arrival Hall Terminal 3 Changi Airport, berlangsung dari 6 Januari hingga 31 Maret 2026. Lewat exhibition ini, pengunjung diajak menelusuri perjalanan panjang pengembangan bandara Singapura, sampai akhirnya masuk ke visi besar, desain, dan teknologi yang akan membentuk Terminal 5 (T5) di masa depan.

Pameran ini merupakan hasil kolaborasi antara Ministry of Transport (MOT), Civil Aviation Authority of Singapore (CAAS), dan Changi Airport Group (CAG). Meski gratis, pengunjung tetap perlu mendaftar terlebih dahulu karena kapasitas ruangannya terbatas. Setelah registrasi, kita akan menerima email konfirmasi yang nantinya bisa ditukar dengan semacam personal boarding pass sebelum masuk ke area pameran. Simple, tapi terasa pas dengan tema bandara yang mau dibuka.

Registrasi di sini: https://t5inthemakingreg.changiairport.com/

Saat saya mendaftar, slot kunjungan masih cukup longgar di hampir setiap jam. Saya registrasi H-1 sebelum kedatangan, dan memilih slot pukul 11 siang. Ketika datang dan berkeliling, suasananya juga tergolong sepi. Tidak ada antrean masuk, dan di dalam, saya hanya berpapasan dengan dua atau tiga pengunjung lain. Kondisi ini bikin saya bisa menikmati pameran dengan santai, berhenti lama di beberapa titik, foto-foto, dan ambil konten tanpa rasa terburu-buru.

Namun, saat saya cek kembali untuk keperluan menulis blog ini, terlihat kalau slot Sabtu–Minggu sudah mulai banyak yang penuh.

Untuk kunjungan, siapkan waktu sekitar 40–50 menit. Saya sendiri hampir menghabiskan satu jam, sebagian besar karena terlalu sering berhenti buat foto. Kalau berencana datang sebelum penerbangan, jangan lupa juga memperhitungkan waktu perjalanan dari dan menuju area pameran.

Ada apa saja di exhibition T5 In the Making ini?

Sunday, May 11, 2025

Lokasi Wisata Sepanjang Busway Koridor 1

Saya bukan pengguna transportasi umum, tapi saya (akhirnya) naik busway. Yang paling sering saya tumpangi adalah busway koridor 1. Selain main dating apps di bis, saya juga senang memperhatikan jalan. Setelah sekian lama absen, dua bulan terakhir ini saya jadi sering naik busway. Parkir di Blok M Plaza, lalu lanjut dengan busway jalan-jalan keliling Jakarta. Ada rasa nostalgia karena jaman masih jadi pegawai kantoran dulu, saya bisa tiap hari naik koridor 1.

Ini adalah tempat-tempat yang bisa dikunjungi dengan naik busway koridor 1. Bukan daftar yang lengkap, karena ini hanya halte yang benar-benar pernah saya kunjungi. Tapi, setidaknya bisa memberi gambaran.


Halte: Blok M/ ASEAN/ Kejaksaan Agung
Tempat tujuan: M Bloc dan Taman Literasi Martha Christina Tiahahu

M Bloc Space adalah daerah kekinian yang populer dengan anak muda saat ini. Bertempat di bekas kompleks perumahan pegawai Peruri, lokasi ini adalah perpaduan unik antara ruang terbuka hijau, toko-toko ritel yang menjual produk lokal dan unik, berbagai pilihan kuliner. Biasanya saya ke sini untuk menghadiri event atau acara komunitas. Tempat ini ramai di akhir pekan atau sore hari sepulang kerja.

Di seberangnya, tepat di bawah stasiun MRT Blok M, ada Taman Literasi Martha Christina Tiahahu. Taman ini adalah ruang publik yang mendorong minat baca dan kegiatan literasi bagi berbagai kalangan. Ada banyak event membaca yang diadakan di amfiteater mini taman ini. Namun, buat saya, taman ini adalah lokasi menunggu busway sambungan ke arah Pondok Labu haha.

Halte: Senayan Bank DKI/ Polda Metro Jaya
Tempat tujuan: GBK

Ini dulu halte favorit, alias sering banget disamperin karena saya pernah jadi mbak-mbak SCBD. Jadi kalau pulang kantor selalu naik koridor 1 dari halte Senayan Bank DKI yang kayaknya dulu bukan ini namanya haha. Begitu juga dengan konser-konser dan acara di area GBK yang mengharuskan saya naik transport umum supaya tidak kena macet pada saat bubarannya.


Dari Halte ini kita bisa ke GBK, yang sekarang ada Hutan Kota. Bisa ke fX Sudirman atau ke area SCBD.

Halte: Bundaran HI Astra
Tempat tujuan: Bundaran HI, Grand Indonesia, Plaza Indonesi
a

Selain tentunya kita bisa ke Bundaran HI, halte ini sering jadi tempat wisata karena adanya sky deck dengan pemandangan Sudirman dan Patung Selamat Datang. Kalau di Google Maps namanya Bundaran HI Viewing Platform. Halte ini juga yang terdekat dari pusat perbelanjaan Plaza Indonesia. Bisa jalan kaki juga ke Grand Indonesia, walaupun kalau ke mall yang ini, atau ke underpass jalan Kendal, saya lebih suka turun di Tosari.

Dibandingkan halte Bundaran HI, saya lebih sering berhenti di Halte Sarinah atau yang sekarang namanya MH Thamrin. Jarak kedua halte ini tidak terlalu jauh, sekitar 750 meter dan kurang lebih 10-15 menit jalan kaki di trotoar nyaman. Di halte MH Thamrin ada pusat perbelanjaan Sarinah dan Jalan Sabang yang terkenal dengan kulinernya.

Halte: Monumen Nasional
Tempat tujuan: Monas, Museum Nasional


Dari Halte Monas, Museum Nasional hanya beberapa menit jalan kaki. Namun, museum ini bukanlah tujuan utama saya sering turun di halte Monas. Dulu, ketika masih sering naik busway, saya biasanya tukar ke Koridor 12 di Halte Kota. Masalahnya Koridor 12 ini sering PHP alias memberikan harapan palsu bahwa buswaynya masih ada. Bus mereka terakhir jam 10 malam, namun terkadang, jam 9.30 sudah tidak ada lagi. Jadi, kalau saya pulang di atas jam 9, saya akan turun di Monas dan tukar ke koridor 2 untuk pindah lagi ke koridor 10, karena kedua koridor itu sampai jam 12 malam.

Bulan puasa kemarin, saya kembali naik busway ini karena ada acara komunitas di Museum Nasional dan ternyata menyenangkan. Dari halte, kita hanya perlu menyeberang jalan, lalu masuk ke museum. Begitu juga dengan ke Monas. Halte ini adalah salah satu yang populer di hari libur, jadi kalau naik busway di akhir pekan, siap-siap tidak kebagian tempat duduk.

Halte: Kali Besar / Museum Sejarah Jakarta
Tempat tujuan: Kota Tua


Kalau turun di Halte Kali Besar, kita bisa foto-foto di toko Merah yang ada di seberang jalan. Kalau turun di Halte Museum Sejarah Jakarta, kita akan melewati daerah ramai depan Stasiun Kota dan langsung menemukan museumnya. Jarak kedua halte ini ke area lapangan di tengah Kota Tua kurang lebih sama.


Halte Kali Besar ini juga adalah tempat kita turun kalau mau pergi ke Museum Bahari. Walaupun jalan kakinya sekitar 1 kilometer dan mendaki gunung melewati lembah, serta menerjang panas terik daerah pelabuhan, tapi masih bisa dijalani.

Menjelajahi Jakarta menggunakan busway koridor 1 adalah pengalaman menyenangkan. Hanya saja, hindari jam-jam padat seperti berangkat dan pulang kantor. Atau hari libur siang-siang. Sebagai pengguna transportasi umum pemula, saya senang dengan Koridor 1 karena punya banyak tempat yang bisa digunakan untuk parkir mobil seperti Blok M atau mall-mall dan hotel di seputaran Bundaran HI.

Bisa dicoba kalau sedang malas menembus kemacetan Sudirman-Thamrin dengan mobil pribadi atau terhalang ganjil-genap sampai tempat tujuan.

Friday, May 9, 2025

Cerita Sebuah Rumah Mewah di Selatan Jakarta

Konsep Work From Cafe (WFC) yang jadi populer sejak COVID ini memberikan alternatif bagi mereka yang bosan dengan suasana monoton. Pergantian atmosfer kerja ini penting buat saya, karena dapat memicu kreativitas, mengurangi stres, dan memberikan perspektif baru. Bahkan mood menulis juga dipengaruhi oleh suasana yang ada.

Salah satu tempat yang akhir-akhir ini sering saya kunjungi adalah cafe yang sebenarnya adalah rumah. Keduanya saya tahu dari teman, namun ketagihan datang, sehingga saya kembali lagi untuk beberapa kesempatan berikutnya. Dua rumah ini hadir dengan keunikannya masing-masing. Jadi, tergantung apa yang ingin dicapai, mood seperti apa yang ingin dibangun, dua tempat ini bisa jadi pilihan WFC berikutnya.


Saya sering bercanda bahwa untuk jadi orang kaya, kita harus manifestasi dulu. Makanya saya suka kerja di rumah ini. Manifestasi sendiri maksudnya mengubah pikiran dan keyakinan menjadi kenyataan melalui fokus, afirmasi, dan visualisasi positif. Untuk itu harus ada yang terlihat: rumah mewah di Andara.

Saat memasuki gerbang The Manor Andara, kesan pertama yang menyambut adalah kemegahan dan ketenangan yang berbeda dari hiruk pikuk jalanan di luar. Kalau masuk dengan berjalan kaki mungkin lebih dramatis karena ada suara gemericik air dari air mancur di dekat gerbang utama. Apalagi kalau jalan kaki langsung berbelok menyeberangi taman.

Konon, awalnya tempat ini dikenal sebagai wedding venue. Ya, kalau melihat wujudnya sih tidak heran. Mengusung konsep bangunan seperti rumah besar bergaya Eropa klasik, dengan pilar-pilar megah dan taman yang asri. Ada beberapa bangunan di sana, selain rumah utama yang mengingatkan saya pada film Crazy Rich Asian itu. Salah satunya ternyata cafe. Suasana di The Manor Cafe terasa tenang dan elegan, dengan pilihan area indoor dan outdoor. Terutama di weekdays, karena sepi, jadi serasa rumah milik sendiri. Meskipun ada area outdoor, yang pemandangannya langsung ke air mancur dan taman yang luas, saya lebih suka ada di indoor. Soalnya, cuaca di Andara itu panas.

The Manor Cafe menawarkan beragam pilihan menu, mulai dari appetizer, main course, hingga dessert. Harganya cukup menguras kantong, namun untuk beberapa menu, terutama menu Indonesia, porsinya sebanding dengan apa yang dibayarkan. Yang paling saya suka dari menu di The Manor adalah “Indonesian Platter” yang isinya pisang goreng, singkong goreng dan bakwan goreng. Biasanya kalau datang, saya lebih suka sudah makan siang kenyang di luar lalu sibuk ngemil dan ngopi di sini sampai matahari terbenam.


Namun, jika memutuskan untuk makan siang atau makan malam di sana, saya akan memilih Nasi Goreng Kampung. Selain dapat ayam, menu ini juga dilengkapi dengan sate, telur mata sapi dan kerupuk. Sebenarnya, pastanya juga enak sih. Tapi untuk yang terbiasa makan nasi, porsinya termasuk kecil dan pasti tidak kenyang.

Beberapa hal yang perlu disiapkan kalau WFC di sini adalah:
  • Colokan yang lumayan jarang. Tidak semua meja punya colokan, hanya beberapa yang berada di sisi jendela yang menghadap ke taman. Namun, karena The Manor Cafe ini biasanya sepi, saya tidak pernah kesulitan mendapatkan tempat duduk idaman.
  • WCnya jauh. Kalau hujan, kita harus pakai payung untuk ke WC yang letaknya dekat kolam renang.
  • Bisa grounding di taman kalau stress. Tapi, hati-hati dengan nyamuk ya.
  • Parkirannya luas, hanya saja, kalau ada event, kita bisa tidak kebagian parkir.
Ketika menulis postingan ini, saya sudah tiga kali ke The Manor Andara & The Manor Cafe. Ketiganya memiliki pengalaman yang berbeda.

Pertama kali ke sana, saya datang sore hari, bertemu teman dan hanya mencoba kopi serta pastry. Selain meja kami, ada dua sampai tiga meja lain yang terisi. Kedua kalinya saya ke sana, meja saya adalah satu-satunya yang terisi. Kami sering melihat beberapa orang datang untuk melihat venue dan memesan kopi untuk takeaway, tapi tidak ada yang stay dan duduk di meja. Kami datang di siang hari dan stay sampai Cafe-nya tutup.


Kunjungan ketiga adalah yang paling ramai. Soalnya ada event di salah satu bangunan yang ada di sana. Untungnya, karena datang cukup pagi, saya masih kebagian colokan. Tapi, ya jadi tahu kalau ramai itu ternyata jadi distracted karena saya sibuk people watching. Para selebgram yang bikin konten, bolak-balik ganti baju. Lalu, ada EO yang sibuk meeting di meja sebelah, atau sekedar mangkal membereskan report setelah event selesai.

The Manor Andara & The Manor Cafe dapat dicapai dengan kendaraan umum, baik dari arah Andara maupun dari arah Pangkalan Jati. Jika membawa kendaraan pribadi, perhatikan plang “The Manor” dari pinggir jalan. Pintu masuk ke rumah mewah ini ada di samping gerbang besar, yang terlihat dikunci. Jika berhenti di pinggir jalan, siap-siap berjalan kaki sekitar 5-10 menit untuk masuk ke rumah dan mencapai cafe. Iya, rumahnya memang sebesar itu.

Our Date is At:
The Manor Andara & The Manor Cafe
Jl. Ibnu Armah No.8, Pangkalan Jati Baru, Kec. Cinere, Kota Depok, Jawa Barat 16513



Sunday, May 4, 2025

Navigating Mass Rapid Transits in Overwhelming Cities

Navigating public transportation can be a challenge when it comes to a new city. Especially when we’re not regular public transport users. Singapore used to be the training ground, with only two SMRT lines and integrated buses. Now, the neighboring country has six lines with over 140 stations. My personal favorite stop, Dhoby Ghaut has become so overwhelmingly large and confusing. The busiest station back in the day, City Hall, now shared the crowd with many other interchanges.


Since then, me and Dudu have experienced public transport, subways in particular, around the world. From London’s Underground to New York's infamous MTA Transit. Wandering around Seoul’s Metro, going up and down Bangkok’s BTS and getting lost in Paris’ MĂ©tropolitain. Not to mention KL’s Rapid Transit, Metro de Madrid and the Prague Metro. Recently, we added Los Angeles MTA to our list. Our goal is to try the well-known Tokyo Metro.

Every Subway has its own complicated map, plus language barrier if we’re traveling in non-English Speaking countries. Some of them we travelled back to a decade ago when Google Maps wasn't as advanced, and metro cards aren't as easy to get. So we do have to rely on maps and one-time tickets.

Collecting our “Transit” stories, these are things we learnt the hard way. Some of them are so basic and we were warned that when we nostalgically recall them, it becomes an inside joke.


Check the nearest exit.

Saturday, May 3, 2025

Microlibrary Warak Kayu Semarang: Where to Hide Between Books in the City Center

I first encountered this library on social media. A small yet comfortable space that invited me to visit. Even better, it’s a library. Semarang has always been my second hometown. I went back every year when I was a kid and continued to do so even after my father passed away during covid. Recently, I’m running out of places to visit in Semarang. So, I was super happy to find Microlibrary Warak Kayu and include the place in my homecoming itinerary.


Our first visit to Microlibrary Warak Kayu Semarang wasn’t as eventful. The library was unexpectedly closed on the days we’re in Semarang. I was disappointed because it was high on my list, aside from the Dharma Boutique Coffee Roaster near the hotel where I’m staying, and I’m purposefully staying over the weekdays too.

Microlibrary Warak Kayu Semarang nestled near the city center, next to a busy street. It’s a small, oddly shaped wooden structure on the parking lot near Taman Kasmaran, in between kiosks that sell flowers and Dr. Kariadi Hospital.

My first impression upon arriving at the structure is, “why is this so small?” Dudu had the same thought. It was much smaller than we expected. Yes, it’s called a micro library, but still, I expected the building to be bigger. The door was locked, but there was no notice on the outside. So, I checked their social media just to find out they are closed for the day. Too bad.