Sunday, April 26, 2026

Aquarium di Tengah Mall itu Adalah SEA LIFE Bangkok Ocean World

Aquarium di tengah kota Bangkok ini tiba-tiba masuk itinerary perjalanan saya dan Dudu karena lokasinya yang mudah diakses. SEA LIFE Bangkok Ocean World berada di bawah Siam Paragon, tempat ini cocok untuk jadi tujuan pertama di pagi hari sebelum menjelajah kota. Apalagi kalau bepergian sama anak.

Well, sebenarnya Dudu sudah masuk usia remaja. Namun, pergi ke aquarium selalu menarik buat kami berdua karena seperti masuk ke dunia lain. Dari hiruk-pikuk mall, kamu seperti masuk ke dunia lain yang lebih gelap, tenang, dan penuh warna. Meskipun saya lebih merasakan kontrasnya suasana, saat keluar dari aquarium di jam makan siang di akhir pekan. Seperti kembali ke dunia nyata setelah menyelam ke basement mall.



Our date is at
SEA LIFE Bangkok Ocean World
Siam Paragon. ชั้น บี1-บี2 สยามพารากอน 991 Rama I Rd, Pathum Wan, Bangkok 10330, Thailand
Jam buka: 10:00 - 20:00 (last entry 19:00)

SEA LIFE Bangkok Ocean World merupakan salah satu akuarium terbesar di Asia Tenggara, dengan luas sekitar 10.000 meter persegi yang terbentang di bawah pusat perbelanjaan Siam Paragon. Sebagai gambaran, luasnya hampir sama dengan Seaworld Ancol (sekitar 9.000 m²), tapi masih jauh lebih besar jika dibandingkan dengan Jakarta Aquarium (sekitar 7.200 m²) atau Aquaria KLCC di Kuala Lumpur (sekitar 5.600 m²). Pesan saya pada Dudu cuma “Jangan dibandingkan dengan Singapura ya” haha.




SEA LIFE Bangkok Ocean World dibuka pertama kali pada tahun 2005 dengan nama Siam Ocean World. Kemudian, aquarium ini berganti nama menjadi SEA LIFE Bangkok Ocean World pada 2014 setelah dikelola oleh jaringan global SEA LIFE.

Harga Tiket:
  • 1,299 THB untuk dewasa
  • 1,099 THB untuk anak usia 2-11 tahun dan lansia di atas 60 tahun
  • Anak-anak di bawah 2 tahun gratis tapi wajib membawa dokumen pendukung.
Tiket dapat dibeli secara offline di lokasi, online di website resmi maupun online travel agent (OTA).

Ada apa di SEA LIFE Bangkok Ocean World?

Saturday, April 25, 2026

Pengalaman Dinner Cruise di Chao Phraya Bangkok Bareng Anak

“Mama, saya pengen naik cruise!”

Dudu sudah lama mengutarakan mimpinya yang satu ini, dan sampai blog ini ditulis, saya belum mampu mengabulkannya. Selain karena mahal, waktu liburan kita berdua sering tidak cocok. Beberapa tahun lalu, kami berdua mengunjungi Bangkok dan saya menemukan satu alternatif perjalanan cruise yang sepertinya bisa menghibur hati.

Chao Phraya River Cruise adalah perjalanan naik kapal menyusuri sungai yang jadi salah satu daya tarik utama (kalau tidak mau dibilang nyawa) kota Bangkok. Basically, perjalanan ini sama seperti cruise biasa. Bedanya, kalau cruise reguler kita bisa berhari-hari dan melakukan banyak kegiatan, di Chao Phraya River Cruise kita hanya makan buffet all-you-can-eat dan menikmati pemandangan malam kota Bangkok. Di sepanjang tepian sungai Chao Phraya ada kemegahan kuil-kuil bersejarah seperti Wat Arun, deretan gedung pencakar langit modern, dan beragam tujuan kuliner. 

Yang pertama terlintas di kepala adalah “kok Ciliwung ga bisa ya?” Biar kami berdua bisa pergi cruise kapan saja. Haha. Anyway, setelah browsing lebih lanjut, dan dapat approval Dudu, saya memutuskan untuk memasukkan cruise ini dalam itinerary Bangkok kami berdua. 

What You Need to Know about these Chao Phraya River Cruise

Kebanyakan perjalanan kapal pesiar Chao Phraya River Cruise memiliki dua jenis perjalanan yaitu Sunset Cruise dan Dinner Cruise. Sunset cruise biasanya dimulai pukul 16:30 – 17:00 dan memiliki durasi yang lebih singkat, sekitar 90 menit. Sementara Dinner Cruise biasanya dimulai sekitar Pukul 19:00 dan berdurasi sekitar 2 jam karena ada waktu untuk makan all-you-can-eat buffet. Rute yang dilewati kurang lebih sama, tapi dinner cruise biasanya menempuh jarak lebih jauh ke utara melewati Jembatan Rama VIII sebelum berputar balik untuk memberikan waktu dinner yang lebih lama.

Tiket Chao Phraya River Cruise dapat dipesan dengan mudah secara online, baik melalui OTA lokal seperti Traveloka maupun platform internasional seperti Klook atau Booking.com. Kalau sudah mantap ingin mencoba pengalaman ini, sebaiknya pesan tiket jauh-jauh hari. Dinner cruise di sini termasuk aktivitas yang cukup populer, terutama di musim liburan. 

Ada beberapa operator cruise dengan pilihan kapal dan jenis buffet yang berbeda-beda. Titik keberangkatannya pun bervariasi, umumnya dari depan mall Asiatique atau ICONSIAM. Karena itu, ada baiknya meluangkan waktu untuk membandingkan opsi yang tersedia sebelum menentukan pilihan. Saya dan Dudu mengikuti perjalanan Dinner Cruise dengan Chao Phraya Princess Cruise. 

Berdasarkan harga di tahun 2026, Chao Phraya Princess Cruise mematok harga sekitar 1,200 THB untuk dewasa dan 950 THB untuk anak usia 4–12 tahun, sementara anak di bawah 4 tahun bisa ikut gratis. Durasi perjalanan sekitar 2 jam, dimulai pukul 19:30. Menariknya, tersedia dua pilihan menu: International Buffet dan Indian Buffet, dengan dermaga keberangkatan yang berbeda. Karena kami memilih International Buffet, titik keberangkatan kami adalah ICONSIAM.

Sunday, April 19, 2026

New York Transit Museum: Menjelajah Sejarah Subway New York di Bekas Stasiun Bawah Tanah

Salah satu hal yang pertama muncul di kepala ketika mendengar kata New York adalah Subway-nya, yang lebih dikenal dengan MTA. Saat ini, New York Subway punya 472 stasiun di empat wilayah (Manhattan, Brooklyn, Queens, dan Bronx). Dan buat saya, subway New York bukan sekadar sistem transportasi. Ada kenangan personal di dalamnya. Salah satunya adalah momen berlari mengejar kereta terakhir setelah merayakan tahun baru di Times Square bersama teman-teman kuliah dulu.

Well, itu cerita lama. Saat kembali ke New York di tahun 2025, saya jadi melihat subway dengan cara yang berbeda. Kali ini, saya tidak hanya naik, tapi juga “kembali ke masa lalu” lewat kunjungan ke New York Transit Museum.

New York Transit Museum
99 Schermerhorn St, Brooklyn, NY 11201, United States


Berada di Downtown Brooklyn, museum ini menempati bekas stasiun Court Street yang dibuka pada tahun 1936. Museum ini unik karena menawarkan pengalaman menjelajah stasiun bawah tanah asli yang sudah tidak digunakan lagi dan menghadirkan suasana autentik yang sulit ditemukan di museum lain. Begitu memasuki area museum, kita langsung merasakan atmosfer klasik subway New York, termasuk udara dingin khas bawah tanah, yang terasa semakin menusuk karena saya datang di musim dingin. Bahkan di dalam ruangan pun, saya dan Dudu tetap memakai coat.

Jalan masuk ke museum ini cukup tricky untuk ditemukan karena bentuknya tangga menuju stasiun bawah tanah. Lokasinya berada di persimpangan Schermerhorn Street dan Boerum Place. Pintu masuknya ditandai dengan pagar besi khas New York dan papan petunjuk berwarna biru cerah.

Harga tiket museum ini adalah 10 USD untuk dewasa dan 5 USD untuk anak-anak dan Lansia. Museum ini buka hari Rabu hingga Minggu, pk. 10.00 – 16.00. Perlu diingat bahwa lokasi museum yang ada di stasiun bawah tanah, membuat adanya pembatasan entry di waktu-waktu tertentu ketika pengunjung sedang padat. Ada baiknya booking tiket terlebih dahulu jika berencana berkunjung di musim liburan.

Apa yang Bisa Dilihat di Dalam Museum?

Friday, April 17, 2026

Membuat Itinerary Traveling yang Efektif Dan Realistis

“Emang ke Singapura mau ngapain aja?”
“Bagi itinerary-nya dong.”
“Hari terakhir bisa shopping nggak?”

Kalimat-kalimat adalah contoh yang sering muncul di chat saya menjelang keberangkatan. Soalnya saya yang bertugas bikin itinerary. Mau ngapain aja selama di kota atau negara tujuan? Seberapa detail kita harus menuliskan itinerary? Lalu, yang paling sering ditanyakan adalah, “lo kalo bikin itinerary, mulai dari mana sih?”

Mulai dari memilih negara tujuannya dulu hahaha.
Tolong jangan timpuk.

Anyway, on a more serious note, itinerary saya biasanya dimulai dari menjawab pertanyaan sederhana: Where, What, When, Who, and How. Seperti menulis blog ya harus ada 5W 1H. Itinerary cuma butuh 4W dan 1H. W yang kelima (Why) hanya perlu muncul kalau ada pertengkaran yang timbul akibat itinerary yang disusun. Kalau sudah paham, yuk, kita mulai susun itinerary kita.



WHERE - Mau pergi ke mana?

Negara tujuan kita apa? Singapura. Oke, itu mudah. Kalau daerah yang lebih luas gimana? Misalnya, mau ke Jawa Timur. Jawa Timur sebelah mana? Surabaya? Mau nyebrang ke Madura? Atau malah belok ke Malang? Mau ke Korea Selatan. Mau ke kota apa saja? Mau ke Jeju juga nggak? Atau ke Busan? Korea Selatan saja atau sekalian ke Jepang?

“Where” adalah menentukan kota atau negara tujuan dengan spesifik.

WHAT - Apa yang mau dikunjungi?

Apakah kita mau ke museum? Ke alam bebas? Atau ke tempat-tempat populer? Biasanya, saya akan membuat list tempat-tempat yang ingin dikunjungi. Bukan cuma objek wisata populer, tetapi juga cafe, restoran, tempat oleh-oleh. Pokoknya semua tempat yang mau dikunjungi.

Biasanya “What” ini berguna kalau kita bepergian dalam grup. Ada si A yang pengen ke theme park, ada si B yang senangnya museum. Ada si C yang pengen mencoba makan viral. Belum lagi kalau si D punya anak kecil lalu pengen shopping di toko tertentu. Kalau semua di list, kan jadi masing-masing kebagian mengunjungi tempat yang ingin dituju.

What-nya kadang sampah se-detail ini kalau kita banyak mau haha

Thursday, April 16, 2026

Hoz Pasta Kebagusan, Kafe Pasta dan Pizza Jakarta yang Wajib Dicoba

"Masak pasta aja ah!"

Kalimat itu sering lewat di kepala saya kalau sudah stuck mau masak apa. Soalnya pasta (terutama jenis penne) sering jadi pilihan ketika saya tidak punya banyak waktu maupun kehabisan ide mau makan apa. Pasta buat saya adalah sesuatu yang sederhana, mudah diolah dan jadinya enak meskipun saya tidak bisa masak. Tapi anehnya, meskipun tinggal di ibu kota, saya justru jarang menemukan kafe pasta dan pizza Jakarta yang benar-benar cocok di lidah. Entah karena rasanya kurang autentik atau harganya yang kurang bersahabat. Sedih ya.

So, ketika saya dipertemukan dengan hidden gem kafe pasta dan pizza jakarta, yang harganya super affordable tapi rasanya bener-bener out of this world, rasanya tuh kayak baru aja nemuin harta karun yang udah lama hilang. Oke, lebay. Tapi review ini beneran.

Hoz Pasta Kebagusan
Jl. Sepat I No.8A, RT.7/RW.2, Kebagusan, Ps. Minggu, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12510


First thing first. Location. Hal yang membuat saya dengan mudah bilang “yuk” adalah lokasinya yang dekat rumah. Tinggal di sisi selatan TB Simatupang biasanya identik dengan pilihan makanan barat yang terbatas. Kalaupun ada, kebanyakan tidak sesuai selera.

Saya tiba di Hoz Pasta sekitar pukul 16:00, bukan jam makan tapi restorannya ramai. Parkiran mobil terbatas dan arena parkir tempat ini didominasi oleh motor. Tempat ini bisa dengan mudah dicapai dari Stasiun KRL Tanjung Barat. Jaraknya sekitar 1 km atau 15 menit berjalan kaki lewat Jalan Baung. Kalau saya perhatikan, tempat ini ramai oleh mereka yang mau sekadar nongkrong santai ataupun serius ngejar deadline sambil WFC. Tidak heran kalau dengan mudah tempat ini bisa jadi rekomendasi tempat makan pasta dan pizza di Jakarta. Maybe next time saya bisa WFC di sini juga.

Menu Pasta yang Affordable dan Comforting

Sunday, April 12, 2026

Memulai Trip dengan Mengunjungi Jeju Folklore & Natural History Museum

Perjalanan ke Korea itu termasuk Pulau Jeju. Begitu requestnya. Di Pulau Jeju mau ngapain? Kalau diserahkan ke saya sih, yang ada kita masuk ke museum. Pertanyaannya, museum apa? Ada beberapa museum yang direkomendasikan bagi mereka yang pertama kali berkunjung ke Pulau Jeju. Mulai dari Jeju National Museum, Jeju Museum of Art, dan Jeju Haenyo Museum. Namun, pada akhirnya saya mampir ke Jeju Folklore & Natural History Museum.

Museum yang saya datangi karena random ini memberikan pemahaman tentang mengapa Pulau Jeju terasa begitu berbeda dari daerah lain di Korea Selatan. Museum ini cocok jadi salah satu tempat tujuan pertama di Pulau Jeju karena menghadirkan bagaimana alam dan kehidupan manusia telah saling terkait selama berabad-abad, melalui cerita dan exhibition yang menarik. Sesuatu yang menurut saya tuh Jeju banget.

Jadi, menjelajah Pulau Jeju sebaiknya dimulai dari sini.

Dibuka pada tahun 1984, museum ini didedikasikan untuk melestarikan dan memamerkan lingkungan alam unik serta gaya hidup tradisional masyarakat di Pulau Jeju. Museum ini lumayan interaktif, jadi cocok buat keluarga yang bawa anak usia SD untuk eksplorasi. Kami menghabiskan waktu sekitar 2 hingga 3 jam untuk keliling tempat ini.

Our date is at
Jeju Folklore & Natural History Museum
40 Samseong-ro, Jeju-si, Jeju-do / 제주특별자치도 제주시 삼성로 40
Jam Buka: 09:00-18:00 (tutup di hari Senin dan hari Libur Nasional)
Tiket: Dewasa 2,000 won / Remaja 1,000 won


Ada apa di Jeju Folklore & Natural History Museum?

Pulau Jeju terbentuk dari aktivitas vulkanik jutaan tahun lalu, dan ini adalah bagian awal museum. Di sini, kita langsung disambut dengan replika gunung berapi. Vibe-nya langsung terasa beda dari museum pada umumnya. Kesan pertama museum ini adalah “playground edukatif”. Ada model lava, batuan, dan penjelasan visual yang cukup mudah dicerna. Konsep “pulau ini lahir dari gunung berapi” jadi terasa nyata, bukan sekadar teori di buku pelajaran atau dongeng belaka.

Saturday, April 11, 2026

Coffee Slow Bar: Pelajaran dari Secangkir Kopi yang Tak Terburu-buru

Kemarin akhirnya saya kembali ke Melawai Plaza. Hah? Melawai Plaza? Ngapain? Di shopping center yang isinya toko emas dan restoran jadul itu, ada satu Coffee Slow Bar yang nyelip. Namanya LBRY. Ketika Gang Viral Pasaraya Blok M, yang literally ada di depannya itu baru mulai ramai, Melawai Plaza sudah tutup. Di tengah hiruk-pikuk kawasan yang selalu bergerak tanpa henti, duduk di sebuah coffee shop, dikelilingi buku dan keheningan adalah sebuah kemewahan.

Kenapa saya merasa harus mengunjunginya?



Cerita saya dengan LBRY Slow Coffee Bar bermula dari Google Nearby haha. Ya seperti biasalah, lagi di daerah Blok M lalu browsing kanan kiri, mencari ada apa lagi di sekitar sini. Karena saya selalu penasaran dengan coffee shop, dan ingin punya list seperti idol kesayangan saya, jadi LBRY Slow Coffee Bar masuk bookmark sejak beberapa waktu lalu. Intinya, setelah dua dekade, saya kemarin masuk ke Melawai Plaza lagi. Rasanya seperti kembali ke masa lalu.

LBRY Slow Coffee Bar adalah cafe hidden gem yang nyaman dan intimate di lantai Ground Floor Melawai Plaza. Terletak di antara deretan toko emas dan perhiasan yang gemerlap, kafe ini menghadirkan suasana yang kontras. Warnanya gelap dan cenderung muram. Meja panjang di bawah rak buku, kursi-kursi di depan kasir dan meja untuk mereka yang datang berdua. Cafe ini kecil. Konsepnya menggabungkan library dan slow coffee bar, cocok untuk work from cafe, membaca buku, atau sekadar bengong sendirian tanpa gangguan keramaian.




Ada house rules yang harus diperhatikan, salah satunya adalah suara yang tidak boleh keras-keras. Jadi, kalau mau WFC di sini ya tidak bisa meeting. Karena mampirnya di menjelang malam minggu, jadinya saya hanya stay satu jam. LBRY Slow Coffee Bar ini tutup jam 7 malam, karena Melawai Plaza-nya juga tutup jam segitu.

Our date is at

LBRY Slow Coffee Bar
Jl. Melawai Raya No.13 Ground Floor, Melawai, Kec. Kby. Baru, Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12160 Indonesia
(Tutup setiap Senin)


Bagaimana dengan kota lainnya?

Sunday, April 5, 2026

3 Coffee Shop Pilihan WFC Daerah Pondok Indah

Apa syaratnya tempat yang enak buat duduk dan kerja? Tempat yang bikin mood jadi bagus dan menulis jadi lancar? Well, sejak jadi freelancer, saya jadi suka mencoba beberapa tempat untuk bekerja seharian. Setidaknya, saya akan stay 4-5 jam di satu lokasi. Karena akhir-akhir ini jalanan macet, jadi ya saya WFC-nya tidak jauh-jauh dari TB Simatupang. Salah satu area yang bisa saya kunjungi tanpa memusingkan ganjil genap adalah Pondok Indah.

Pondok Indah Mall (PIM) memiliki banyak cafe dan coffee shop yang sangat WFC-friendly. Mulai dari Tous Les Jours dan Paris Baguette hingga Starbucks dan Joe & Dough, semuanya lengkap di sini. Bahkan sebenarnya di foodcourt PIM 3 pun bisa WFC karena wi-fi gratis yang ada di mallnya. Ada kalanya ke mall bukan solusi, jadi saya mencari cafe rumahan, atau yang setidaknya bukan bagian dari mall, tapi tetap WFC-friendly. Di daerah Pondok Indah, Jakarta Selatan, ada tiga coffee shop yang sering saya kunjungi, yaitu Common Grounds - Pondok Indah Plaza, Little Contrast Pondok Indah, dan Kopi Ketjil - Pondok Indah.

Common Grounds - Pondok Indah Plaza

Pondok Indah Plaza 2 No. 23, Duta Niaga Sektor II, Blok BA, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12310
Harga: Americano/Long Black: Rp45,000; Latte Rp 50,000

Cafe chain yang modern-cozy. Ada 2 lantai. Di bawah lebih casual dengan meja persegi & display pastry. Banyakan orang ngumpul, ngobrol, hangout di sini. Di atas lebih luas buat kelompok atau kerja. Spesialis kopi roasted fresh. Coffee shop ini punya all-day breakfast & Western food (pizza, pasta, burger, eggs benedict). Karena lokasinya di dalam komplek Pondok Indah Plaza, cafe ini mudah diakses baik dengan kendaraan pribadi maupun ojek online. Tempat parkir juga banyak dan busway stop pun relatif dekat.

Dari sudut pandang WFC, Common Grounds punya keunggulan besar di ambience yang inviting dan clean. Yah sama sih, seperti cafe-cafe di mall atau yang sudah punya nama besar. Makanan berat yang tersedia menjadi nilai plus karena saya bisa stay lama tanpa kelaparan, atau bisa bekerja melewati jam makan siang. Tapi, siap-siap mengeluarkan biaya lebih ya.

Kelemahan cafe ini ada di kursinya yang kalau sudah beberapa jam duduk, terasa tidak nyaman. Lalu, potensi keramaian yang ada. Cafe ini cukup populer, jadi kadang banyak ibu-ibu pulang antar anak sekolah, bapak-bapak financial freedom yang terlihat ngomongin business. Common Grounds cocok untuk sesi WFC 2-4 jam di mana saya butuh kombinasi kopi enak dan makanan lengkap, tapi kurang ideal untuk full day work yang butuh ketenangan total dan koneksi super stabil.

Friday, April 3, 2026

Universal Studio Singapore Halloween Horror Night: Seram Tapi Bikin Penasaran

Satu dekade yang lalu, saya dan Dudu nekat adu nyali di Halloween Horror Night, Universal Studios Singapura. Event tahunan ini dikenal sebagai salah satu perayaan Halloween paling seram di Asia Tenggara. Begitu matahari terbenam, taman hiburan yang biasanya ceria berubah menjadi dunia penuh kabut, suara jeritan, dan kejutan di setiap sudutnya.



Saya sebenarnya bukan penggemar jumpscare dan tidak suka film gory yang banyak darah muncrat. Lalu, ngapain saya di sana? Waktu itu sih karena diajakin sepupu, sekaligus kepo. Apa serunya sih ke theme park malam-malam? Apa bedanya sih dengan suasana siang hari? Akhirnya ajakan itu nekat kami berdua iyakan, walau endingnya adalah tidak naik wahana apa-apa karena ketakutan duluan.

Yang membuat Halloween Horror Nights begitu menarik adalah transformasi Universal Studios Singapore menjadi taman hiburan bernuansa horor. Bukan hanya suasananya yang berubah drastis, tapi juga pengalaman yang terasa jauh berbeda dari kunjungan siang hari. Jujur saja, yang bikin horror bukan cuma hantunya, tapi juga harga tiket masuk theme park dan panjang antrian masuk rumah hantunya. Hahaha.

Konsep Halloween Horror Nights di Universal Studios Singapore




Secara umum, konsep Halloween Horror Nights biasanya menggabungkan cerita original dengan inspirasi budaya Asia maupun franchise populer. Theme park dibagi menjadi beberapa area utama, yaitu:
  • Haunted House (rumah hantu)
  • Scare Zone
  • Live Show
Pertama kali diadakan pada tahun 2011, Halloween Horror Nights di USS awalnya hanya memiliki satu haunted house dan berlangsung selama tujuh malam. Ketika saya datang di 2016, sudah ada lima rumah hantu, dua scare zone, dan suasana Sentosa malam hari yang langsung berubah jadi dunia lain. Saat itu, Halloween Horror Nights sudah berlangsung hampir satu bulan penuh. Ada pertunjukkan live dan pengalaman interaktif yang membuat setiap tahun jadi layak buat dikunjungi kembali. Kalau nggak trauma haha. Saya sih belum balik lagi ke sana meskipun ingin.

Pada tahun 2016, rumah hantunya ada:
  • Bodies of Work
  • Old Changi Hospital
  • Hu Li’s Inn
  • Salem Witch House
  • Hawker Center Massacre
Di setiap rumah hantu ada bosnya. Mereka semua muncul di area utama ketika theme park dibuka, memberikan kesempatan bagi pengunjung untuk foto (atau lari). Di antara para hantu yang muncul, ada satu yang terlihat sangat familiar, namanya Pontianak. Habis itu saya protes, karena ternyata itu Mbak Kunti yang imigrasi ke Malaysia. Ya ampun, di Singapura Mbak Kunti naik pangkat jadi bos rumah hantu. Saya tidak ingat, Mbak Kunti ada di rumah hantu yang mana.

Yang jelas, saya dan Dudu hanya masuk ke Hawker Center Massacre karena antriannya paling pendek. Setelah itu? Kapok. Kami akhirnya lebih banyak menghabiskan waktu di scare zone, yaitu area terbuka dengan aktor berkostum menyeramkan yang siap mengejutkan pengunjung kapan saja.

Pada 2025 misalnya, Halloween Horror Nights edisi 13 menghadirkan kolaborasi dengan serial Stranger Things yang membawa pengunjung masuk ke dunia Upside Down lengkap dengan monster dan suasana mencekam. Tahun lalu, Halloween Horror Nights diadakan mulai jam 7 malam, setiap Kamis, Jumat, Sabtu dan Minggu malam, mulai 26 September hingga 1 November 2025.

Harga tiket mulai dari:
  • SGD 68 untuk non-peak days
  • SGD 78 untuk peak days
Sebagai pembanding, harga tiket reguler Universal Studio Singapura untuk dewasa adalah antara SGD 76 dan SGD 83.




Halloween Horror Nights memang seru, tapi bukan buat semua orang.

Sunday, March 15, 2026

Dharma Boutique Roastery: Jejak Kopi Nusantara di Kota Semarang



“Tempat ini, pintu masuknya di mana sih?”

Menemukan pintu masuk Dharma Boutique Roastery menjadi petualangan tersendiri, karena lokasinya yang seolah "bersembunyi" di balik keriuhan Jalan Wotgandul Barat. Roastery sekaligus cafe ini menempati bangunan tua bergaya kolonial yang terlihat tenang di balik pagar besi yang bersahaja.

Iya, tapi, pintu masuknya mana?



Ada sebuah pintu besi dengan tulisan “Dharma Boutique Roastery” di sekitar 50 meter dari WM Kelengan. Jadi, jalan kaki pelan-pelan baru kelihatan. Begitu masuk ke dalam, suasana jadi lebih tenang. Serasa masuk ke dunia lain.

Oleh-oleh yang paling sering saya bawa pulang dari satu lokasi tujuan wisata akhir-akhir ini adalah kopi. Jadi mengunjungi local roastery atau cafe sudah jadi agenda wajib dalam itinerary.

Dharma Boutique Roastery bukan sekadar kedai kopi biasa, melainkan rumah kopi berusia lebih dari satu abad yang masih bertahan hingga sekarang. Masuk ke dalam lewat “pintu rahasia” tadi, memang terasa seperti menjelajah waktu. Haha.

Setelah mengumpulkan cerita dari kanan kiri, ternyata cerita sejarahnya dimulai pada tahun 1915, ketika seorang pengusaha keturunan Tionghoa bernama Tan Tiong Ie mendirikan usaha kopi bernama Margo Redjo. Awalnya usaha ini berdiri di Cimahi, Jawa Barat, sebelum akhirnya dipindahkan ke Semarang, yang adalah kampung halaman Tan Tiong Ie. Kini usaha tersebut dikelola oleh generasi ketiga keluarga pendiri, yaitu Widayat Basuki Dharmowiyono.

Kenapa usaha penyangraian kopi ini terletak di rumah? Karena ijin pendirian pabriknya tidak kunjung muncul. Tapi, setelah ijin usaha keluar di tahun 1928, usaha ini jadi berkembang lebih pesat, termasuk export kopi ke Nama Margo Redjo sendiri diubah menjadi Dharma Boutique Roastery pada tahun 2016-2017.

Berkunjung ke Dharma Boutique Roastery


Salah satu daya tarik utama Dharma Boutique Roastery adalah perpaduan antara tradisi lama dan konsep kopi modern. Bangunannya masih mempertahankan nuansa vintage dengan mesin sangrai kopi tua yang usianya puluhan tahun. Sebenarnya untung juga tempat ini tidak berubah jadi bangunan pabrik, karena ngopi di sini memberikan pengalaman unik.




Begitu masuk ke dalam, kita masuk ke ruangan depan untuk memilih kopi. Ada puluhan varian kopi yang berasal dari berbagai daerah seperti Aceh Gayo, Flores, Bajawa, hingga Papua. Semua bisa diseduh dan dinikmati langsung, atau dibeli untuk dibawa pulang. Setiap kopi diletakkan di dalam toples kaca dengan tutup warna-warni. Harganya sudah tertulis di setiap toples untuk yang ingin membeli biji kopi atau versi sudah digiling. Kalau kita bilang mau bawa ke Jakarta, nanti akan dimasukkan ke kantong yang kedap udara agar kopi lebih tahan lama.

Enaknya lagi, di sini bisa ngobrol sama karyawan dan dapat rekomendasi kopi. Favorite saya Robusta Temanggung, lalu biasanya saya beli satu antara Nusantara Honey atau Nusantara Wine. Soalnya saya tim Robusta. Robusta Temanggung punya dominan rasa cokelat pahit (dark chocolate) dan kacang-kacangan (nutty).

Friday, March 13, 2026

Contekan Itinerary New York di Musim Dingin

Ada dua jenis orang yang liburan ke New York City. Yang pertama: santai, satu hari cuma ke satu museum, sisanya ngopi dan people watching. Yang kedua: membuat itinerary seolah-olah New York itu kota kecil yang bisa dijelajahi dalam empat hari. Trip saya ini masuk kategori kedua karena teman seperjalanan saya bilang: “Pokoknya selama di New York kita harus lihat sebanyak mungkin.”

Sementara dia sendiri pake ke Washington DC dulu…

Taksi khas NYC Yang warnanya Kuning.

Buat yang sedang merencanakan trip ke NYC, ini dia itinerary versi saya.

Trip ini dilakukan di musim dingin, jadi selain jalan kaki banyak, juga harus tahan udara dingin Manhattan.


Hari 1: Tiba di NYC - New York Transit Museum - Check In Hotel


Mendarat di Newark Liberty International Airport jam 9 pagi, lalu naik bus ke Port Authority Bus Terminal dan jalan kaki sekitar 10 menit ke hotel. Saya menginap di DoubleTree by Hilton New York Times Square West dan bisa titip koper sebelum check-in.

Destinasi pertama hari itu adalah New York Transit Museum.

Museum ini sedikit unik karena lokasinya berada di stasiun subway lama yang sudah tidak dipakai. Begitu masuk, rasanya seperti masuk ke kapsul waktu sistem transportasi New York .Di dalamnya ada koleksi gerbong subway dari berbagai era. Beberapa bahkan bisa dimasuki langsung, jadi pengunjung bisa melihat bagaimana desain kereta berubah dari tahun ke tahun. Lucunya, beberapa gerbong lama terasa seperti set film New York klasik.

Warning: Museum ini dingin. Bukan karena AC yang terlalu kuat, tapi karena museum ini memang berada di stasiun subway bawah tanah yang sudah tidak dipakai. Jadi temperatur di dalamnya terasa seperti berada di platform subway lama. Saya berkunjung di musim dingin jadi kebayang deh kayak apa suhunya. Di dalam museum pun kita tidak copot coat.


Balik ke hotel sekitar jam 2:30, langsung check-in. Kamarnya cozy, lokasi dekat Times Square tapi nggak terlalu ribut. Istirahat bentar, terus saya lanjut adventure. Dudu tidur karena kita naik pesawat dengan jam red-eye. Sementara saya eksplor sekeliling, dan akhirnya duduk manis di sebuah coffee shop sambil people watching. Ketika hari gelap, saya jalan kaki sendirian ke Times Square. Melihat billboard raksasa di mana-mana, rasanya seperti masuk ke dunia yang penuh lampu LED. Ada berbagai orang kumpul di sini. Ada turis dari berbagai negara, orang lokal New York yang berjalan super cepat, hingga karakter kostum yang mencoba mengajak foto.

New York, bahkan di basian Perayaan Tahun Baru, sebenarnya relatif aman untuk jalan sendirian malam-malam. Tapi saya tetap berusaha nggak lewat jalan gelap sendirian atau keluar exit Subway yang ada homeless duduk-duduk. Karena musim dingin, banyak homeless yang menghangatkan badan di dalam stasiun.

Hari 2: Harry Potter, Broadway, dan Times Square (lagi)

Sunday, March 8, 2026

All Things You Need To Know About Taking Red-Eye Flight

Red-Eye Flight adalah penyelamat budget, tapi (menurut saya) ini bukan penerbangan yang cocok untuk semua orang. Memangnya apa itu Red-Eye Flight? Istilah “red-eye” dipake buat jadwal penerbangan yang berangkat malam hari dan baru sampai di destinasi tujuan besok paginya. Kenapa disebut red-eye? Karena pas mendarat, mata penumpang biasanya bakal merah dan puffy gara-gara kurang tidur di pesawat. Jadi ini bukan penerbangan patah hati yang isinya orang habis nangis haha.

Contoh: Musim dingin kemarin saya terbang dari Los Angeles ke Newark, New Jersey, pakai red-eye flight. Berangkat sekitar jam 8 malam dari Los Angeles International Airport, transit di Atlanta, Georgia jam 4 pagi, lalu terbang lagi jam 6 pagi. Mendarat di Newark jam 9 pagi. Kurang tidur, sudah pasti. Selain jam transit yang subuh-subuh begitu, pesawatnya juga bukan yang nyaman untuk tidur.


Kenapa mau bela-belain naik red-eye flight? 

Ada beberapa alasan:
  • Biasanya, tiket red-eye itu jauh lebih murah dibanding jam-jam normal. Menurut beberapa online travel agent, tiket penerbangan di jam red-eye bisa lebih murah hingga 30% dari harga di jam-jam sibuk.
  • Kalau kamu ada kegiatan lain atau kerja, penerbangan jenis ini memaksimalkan waktu libur, sekaligus hemat penginapan. Soalnya semalam pertama kan dihabiskan di pesawat.
  • Perbedaan zona waktu yang besar (seperti rute Los Angeles - New York) juga sering menjadi alasan orang mengambil red-eye, agar tidak habis waktu di jalan. Waktu yang dihabiskan di jalan, ditambah perbedaan zona waktu adalah sama dengan total waktu tidur normal kita.
Namun, kalau dilihat-lihat, harga lebih murah ini tidak terlalu berlaku di penerbangan Jakarta-Singapura, kecuali kita mengambil pesawat yang tidak budget. Berdasarkan pengalaman berburu penerbangan red-eye di Asia Tenggara, harga tiket jam red-eye pesawat reguler tetap lebih mahal dari harga tiket jam biasa pesawat budget.

Masalahnya datang ketika kita ngantuk, dan pesawat kita ada transitnya.

Wednesday, March 4, 2026

Museum Mile New York: Worth It?

Terbentang di sepanjang 5th Avenue dari 82nd sampai 110th Street, jalanan ini kiri-kanannya museum semua. Museum MIle is about experiencing budaya, sejarah dan seni bergabung jadi satu di kota New York yang super sibuk itu.

Buat saya yang senang keluar masuk museum, rasanya seperti menemukan harta karun. Masalahnya, masuk museum ini rata-rata bayar, dan harganya lumayan. Harga tiket masuk museum mulai dari $9 (El Museo del Barrio) hingga $30 (Solomon R. Guggenheim Museum dan The Metropolitan Museum of Art / The Met).


Sebelum lanjut cerita, kita cek dulu ada museum apa saja sih di Museum Mile?


1. The Africa Center (110th St / 1280 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke seni, politik, dan budaya kontemporer Afrika. Tutup hari Senin dan Selasa. Baru-baru ini buka coffee shop yang namanya CUP @ The Africa Center. Masuk ke dalamnya gratis, yang bayar cuma kalau ikutan program dan mau lihat exhibition yang memang ada tiketnya. Kadang ada pementasan, event komunitas dan pemutaran film.


2. El Museo del Barrio (104th St / 1230 5th Ave, New York, NY 10029)
Museum ini fokusnya ke budaya dan seni warga Puerto Rico dan Amerika Latin, cocok buat yang suka dengan Caribbean dan Latin American art. Buka Kamis hingga Minggu. Tiket masuk dewasa $9, anak-anak di bawah 12 tahun bisa masuk gratis. Tiket masuk ke museum ini bisa juga digunakan untuk masuk ke Museum of the City of New York.

3. Museum of the City of New York (103rd St / 1220 5th Ave, New York, NY 10029)
Dari namanya sudah ketahuan bahwa museum ini bertujuan untuk mengenalkan masa lalu dan masa kini kota New York kepada pengunjung. Buka setiap hari. Tiket masuknya $23 untuk orang dewasa, anak di bawah 18 tahun masuk gratis. Setiap hari Rabu, bisa masuk gratis ke museum ini

4. Jewish Museum (92nd St / 1109 5th Ave &, E 92nd St, New York, 10128)
Isi museum ini adalah koleksi seni dan budaya Yahudi selama ribuan tahun. Tutup di hari Selasa dan Rabu. Tiketnya $24 untuk orang dewasa, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Hari Sabtu juga gratis.



5. Cooper Hewitt, Smithsonian Design Museum (91st St / 2 E 91st St, New York, NY 10128)
Museum ini khusus membahas desain. Lokasinya di bekas mansion Andrew Carnegie dan pintu masuknya ada di samping, jadi jangan tertukar sama rumah penduduk. Ada cafe di bagian depannya. Tiket masuk dewasa adalah $22, anak-anak usia 18 tahun ke bawah gratis. Pay What You Wish ticket bisa didapatkan satu jam sebelum museum tutup

6. Solomon R. Guggenheim Museum (89th St / 1071 5th Ave, New York, NY 10128)
Gedung spiral putih yang legendaris ini adalah ‘rumah’ bagi banyak koleksi seni, mulai dari Picasso sampai Kandinsky. Namun, yang paling ikonik adalah arsitekturnya. Museum buka setiap hari. Tiket masuknya $30 untuk orang dewasa dan gratis untuk anak di bawah 12 tahun. Ada Pay What You Wish setiap Selasa dan Kamis sore, satu jam menjelang museum tutup.

7. Neue Galerie New York (86th St / 1048 5th Ave, New York, NY 10028)
Khusus buat pecinta seni Jerman dan Austria awal abad ke-20. Buka setiap hari kecuali Selasa. Tiket masuk dewasa $28, anak-anak di bawah 12 tahun tidak boleh masuk. Di hari Jumat pertama, masuk gratis mulai jam 5 sore. Di sini ada Café Sabarsky, restoran Austro-Hungarian yang Apple Strudel-nya konon enak banget.

8. The Metropolitan Museum of Art (82nd St / 1000 5th Ave, New York, NY 10028)
Sebuah museum yang megah untuk koleksi seni terbesar di dunia, dari zaman kuno hingga kontemporer. Buka setiap hari selain Rabu. Tiket dewasa $30, anak anak di bawah 12 tahun gratis.


Selain 8 museum di atas, sebenarnya ada beberapa museum lain yang letaknya tidak jauh dari 5th Avenue, tapi secara resmi, museum atau art gallery ini tidak masuk ke Museum Mile.

Sunday, March 1, 2026

Menjelajah Museum Tanpa Keluar Rumah (Part 2): Channel Youtube Favorit

Kalau di part 1 kita bicara soal Virtual Reality Tour atau VR Exhibition, di postingan yang ini kita ngobrolin traveling virtual lewat video YouTube.

Jujur saya, saya bukan tipe penonton video. Namun, di tahun 2023, penyanyi kesukaan saya launching Youtube channel berisi jalan-jalan keliling museum dengan dia sebagai guide yang memberi narasi. Eh, kok seru!

Narasi Personal Melalui YouTube Influencer

Nonton Youtube keliling sebuah kota atau objek wisata memberikan pengalaman berbeda, mainly karena ada teman jalannya. Ada dua jenis channel yang biasanya saya tonton. Yang pertama adalah channel milik orang pribadi. Seperti Yessay dari Super Junior Yesung (https://www.youtube.com/@yessay_). Channel Youtube ini berbeda karena memiliki vibes yang tenang, jalan santai, serta temanya seputar sejarah dan budaya. Yessay bukan vlog perjalanan yang terburu-buru atau yang merangkum tempat-tempat viral seperti video pendek di media sosial pada umumnya. Menontonnya terasa seperti sedang diajak melakukan perjalanan kontemplatif, bersama si pemilik channel.


Yessay mengajak saya blusukan ke museum-museum seni anti-mainstream yang jarang terjamah turis, hingga menelusuri sudut-sudut situs warisan budaya di Korea dengan perspektif yang berbeda. Kadang-kadang, kita berhenti sejenak untuk "mengobrol" dengan Yesung, tentang art, tenang hidup atau tentang hal-hal random yang membuat nonton video seperti jalan-jalan bareng seorang teman. This is the kind of travel I wish I was doing. Saking senangnya sama channel ini, saya bahkan membuat itinerary untuk suatu hari ke Korea dan mengunjungi tempat-tempat yang jadi tujuan di channel ini.

Ada banyak kreator konten yang mengkhususkan diri pada vlog perjalanan atau sejarah budaya. Menonton mereka memberikan perspektif yang berbeda pada sebuah tujuan. Selain Yessay, ada beberapa channel yang bisa jadi alternatif tontonan kalau kita sedang stuck di rumah, merencanakan itinerary trip berikutnya:

  • Allan Su (https://www.youtube.com/@allansu) adalah seorang traveller yang vlognya berbentuk diary. Meskipun menurut saya, pace-nya agak terlalu cepat dan konsepnya lebih ke itinerary, tapi isi vlognya berguna buat yang planning mau jalan-jalan karena isinya lumayan detail.
  • Art Insider (www.youtube.com/@theartinsidershow) mengajak kita keliling museum yang ada di UK dan Perancis. Ada beberapa yang di New York juga. Gaya ceritanya terlalu gen-z buat saya, tapi insightful dan bahasanya mudah dimengerti. Videonya belum banyak, jadi saya berharap dia bisa konsisten update.
  • Mary Lynn Buchanan (https://www.youtube.com/@MaryLynn_Buchanan) adalah pilihan yang sangat tepat bagi yang menyukai konten eksplorasi contemporary art dengan penyajian yang tenang dan mendalam. Art Gallery yang dikunjungi ada di berbagai belahan dunia, dengan fokus di New York, Jepang, U.K. dan Perancis.

Di Instagram, saya follow The Urbanist Singapore, yang sering punya Reels tentang urban planning dan heritage. Sedikit berbeda dengan Youtube karena media sosial yang digunakan kebanyakan video pendek, tapi cerita-cerita yang ada tidak kalah menarik karena menghadirkan sisi lain kota Singapura dan biasanya fokus pada satu titik. Bisa tentang eskalator, tentang kucing, tentang sebuah bangunan lama, atau hal-hal unik yang akan terlewatkan mata jika kita jalan begitu saja di negara tetangga.

Kelebihan utama mengikuti tur adalah terselipnya fakta-fakta unik atau opini pribadi yang membuat sejarah tidak terasa kaku. Bagi saya yang lebih menyukai gaya storytelling, channel seperti ini adalah tempat yang pas untuk memahami konteks budaya sebuah koleksi museum.

Bagaimana dengan Channel YouTube Resmi Dari Museumnya?


Berbeda dengan influencer, kanal YouTube resmi museum biasanya menyajikan konten yang lebih artistik dan sinematik. Channel Yessay kerap bekerja sama dengan Korean Heritage Channel (https://www.youtube.com/@koreanheritage) yang menghadirkan konten sejarah, budaya dan traveling di Korea. Sebenarnya, nonton Youtube channel ini lebih cocok buat cari hidden gem daripada tempat yang viral atau instagrammable. Videonya juga cenderung pendek, jadi kita bisa “berkunjung” ke beberapa tempat sekaligus. Seri “Heritage Walk with SUPER JUNIOR's Yesung” yang ada di sini mengajak kita berkeliling dengan sang artis sebagai guide-nya.


Banyak museum punya Youtube Channel sendiri. Selain menghadirkan virtual tur, channel Youtube resmi museum atau art gallery seringkali mendokumentasikan pameran temporer yang mungkin sudah berakhir secara fisik namun tetap "hidup" secara digital.
  • National Museum of Korea (https://www.youtube.com/@nationalmuseumofkorea) punya channel Youtube yang lumayan aktif. Selain update mengenai koleksi yang sedang tayang, channel ini juga punya NMK Immersive Digital Gallery, NMK lectures, NMK Kids, NMK Masterpieces dan sebagainya. Bagian “What’s on” adalah yang paling pas kalau ingin jalan-jalan keliling museum dengan laptop. Untungnya mereka punya closed caption bahasa Inggris, jadi saya bisa nonton dengan aman.
  • The Met di New York (https://www.youtube.com/@metmuseum) memiliki lebih dari 2000 video buat kita tonton. Sebagian besar adalah exhibition tour yang mengajak kita menyusuri koleksi-koleksi yang ada, baik yang masih dipajang maupun yang sudah lampau
  • ArtScience Museum Singapore (https://www.youtube.com/@ArtScienceMuseumSG) punya koleksi ArtScience Museum Virtual Tours yang dipandu oleh Museum Ambassadors. Durasinya pendek-pendek (sekitar 6-7 menit) jadi kalau punya waktu 30 menit di pagi hari bisa nonton 2-3 video.


Eksplorasi museum melalui layar YouTube membuktikan bahwa jarak dan waktu bukan lagi penghalang untuk jalan-jalan, menikmati sejarah dan budaya di negara lain. Setiap video menawarkan jendela unik untuk memahami dunia dari perspektif yang berbeda. Namun, perjalanan virtual ini bukan pengganti wisata fisik bagi saya. Soalnya tetap berbeda vibesnya, mendengarkan apa yang orang ceritakan tentang sebuah tempat versus kita sendiri yang ada di sana.



Saturday, February 28, 2026

Menjelajah Museum Tanpa Keluar Rumah (Part 1): VR Exhibition

Kebiasaan ini dimulai dari jaman Covid, ketika tiba-tiba banyak tur guide menawarkan wisata virtual. Ternyata ada banyak museum yang menyediakan fitur 360-degree virtual tour di situs resmi mereka. Lalu, di tahun 2023, member grup idol favorit saya me-launching Youtube channel tentang jalan-jalan ke museum, situs bersejarah, art gallery dan sebagainya. Beberapa acara di Korean Culture Center yang saya datangi juga merupakan virtual tur ke museum-museum yang ada di Seoul. Saya jadi berpikir, mungkin jalan-jalan virtual ini, ada serunya juga.

Eh, tapi ini termasuk travelling nggak ya?

Berkat kemajuan teknologi digital, jalan-jalan mengunjungi suatu tempat tidak lagi berarti terbang ke sana, Bisa dari fitur 360-degree virtual tour atau dari Youtube. Saya bahkan kadang “jalan-jalan” sendiri pakai Google Maps. Meskipun hanya di depan layar, dan tidak secara fisik berada di sana, saya tetap menentukan dua peraturan untuk jalan-jalan virtual ini.
  • Mendedikasikan waktu. Sama seperti kalau kita physically present di museum, jalan-jalan virtual juga tidak bisa disambi. Bangun pagi, sempatkan 30 menit untuk browsing, jalan-jalan dan nonton.
  • Riset dulu. Ada tur apa yang ditawarkan. Kalau nonton di Youtube, koleksi apa yang ditampilkan? Jalan-jalannya ke mana? Tetap punya plan “jalan-jalan” yang sesuai. Misal punya itinerary seminggu di Seoul, ya beneran tiap pagi kita keliling museum di Seoul.
Dan kalau biasanya saya traveling sambil bawa kopi di tangan, ya ini juga sama. Siapkan kopi di samping meja. Bedanya cuma kadang-kadang saya browsing sambil dasteran aja.


Cara paling “mudah” untuk memulai tur virtual adalah melalui situs resmi museum. Museum-museum besar di Korea, seperti National Museum of Korea atau The National Folk Museum of Korea, telah mengintegrasikan teknologi High-Resolution 360 View. Kita tinggal masuk ke websitenya lalu memilih bagian digital museum atau virtual tour. Salah satu museum yang lumayan update dengan koleksi virtualnya adalah National Museum of Modern and Contemporary Art, Korea (MMCA). Museum ini memiliki empat cabang dengan empat fokus berbeda. Cabang Seoul yang berfokus pada seni kontemporer global, sementara cabang Gwacheon menonjolkan arsitektur dan alam. Lalu cabang Deoksugung yang terletak di dalam istana bersejarah untuk seni modern klasik, serta cabang Cheongju sebagai pusat penyimpanan dan restorasi. Kalau perginya virtual, ya kita cukup masuk ke websitenya saja.

Mengunjungi Evolusi Kereta Bawah Tanah Seoul dari Laptop

Sunday, February 22, 2026

Mencoba Jelajah Jakarta Tanpa Mobil: Keluar dari Zona Nyaman Demi Tempat Tujuan

Saya mampir tempat-tempat ini hanya ketika saya tidak naik mobil.

Selama ini, saya lebih sering melihat Jakarta dari dalam mobil. Udara selalu dingin karena AC, suara musik dari radio, dan bau wangi dari gantungan di bawah kaca. Saya lebih sibuk menghindari kendaraan lawan arah, pejalan kaki yang menyebrang sembarangan, dan hal-hal lain yang membuat perjalanan di Jakarta jadi lebih seru.


Karena ini jugalah, ada beberapa tempat yang biasanya hanya saya datangi saat tidak membawa mobil. Biasanya tempat-tempat ini adalah yang lokasinya mudah dijangkau transportasi umum dan tidak punya tempat parkir.

Buat saya, tempat-tempat ini spesial. Soalnya jumlah saya pergi tanpa mobil pribadi tuh bisa dihitung jari.

Kota Tua Jakarta

Sesuai namanya, tempat ini adalah tempat nostalgia sekaligus wisata sejarah. Biasanya populer di akhir pekan atau musim liburan sekolah. Selain museum, dan gedung bersejarah yang ada di sekitar Lapangan di depan Museum Fatahillah, ada seniman jalanan, sepeda ontel warna-warni, dan aroma kopi yang ikut meramaikan suasana. Kalau ke sini, saya lebih suka naik transport umum lalu jalan kaki berkeliling. Soalnya, parkirannya lumayan sulit ditemukan dan banyak parkir liar yang bikin insecure.


Stasiun KRL terdekat adalah Stasiun Jakarta Kota. Keluar stasiun tinggal nyebrang lalu berjalan lurus sekitar 300 meter sampai ke Lapangan di depan Museum Fatahillah. Dulu, sebelum pembangunan MRT, Halte Kota adalah tempat transit yang paling sering dikunjungi karena rute busway saya adalah koridor 1 ke koridor 12. Sekarang, haltenya tinggal kenangan. Tapi, Halte Busway Kota Tua jadi ada 2, yaitu:
  • Kota (Koridor 1 dan 12) yang letaknya persis di depan Stasiun Jakarta Kota
  • Kali Besar Barat yang letaknya di depan Toko Merah

Wednesday, February 18, 2026

Istirahat Sejenak di Chinatown Singapore

Chinatown Singapura memberikan suasana berbeda ketika kita menjelajah di dalamnya. Soalnya masih banyak bangunan bersejarah yang bukan cuma punya cerita bagi turis, tapi bagi saya yang suka bolak-balik ke negara tetangga karena alasan keluarga. Seperti People’s Park Complex dan area sekitarnya, di mana saya sering ke sana bersama keluarga ketika daerah itu belum ada MRTnya. Pusat perbelanjaan lama, dengan barang-barang yang konon lebih murah dari daerah lainnya.

Sekarang ini, Chinatown Singapura lebih meriah. MRT yang langsung exit di tengah hiruk pikuk orang jualan, plus ruko-ruko meriah, thrift stores di lantai dua, dan cafe-cafe instagramable. Karena letaknya yang ada di daerah heritage, maka toko dan cafe yang bermunculan pun masih selaras dengan desain khas Chinatown. Dua cafe yang saya kunjungi di dua kesempatan berbeda ini memberikan satu hal yang sama: ketenangan. Kabur sejenak dari orang-orang yang berlalu lalang dengan cepat serta hebohnya orang jualan dan turis yang belanja.



Cafe Monochrome Chinatown


Membuka pintu masuk ke cafe yang satu ini rasanya seperti melangkah ke dunia lain. Interior hitam putihnya kontras dengan suasana Chinatown yang meriah.


 

Seluruh ruangan dirancang agar terlihat seperti sketsa komik. Garis-garis hitam di atas latar belakang putih, memberikan ilusi bahwa ruangan tersebut adalah gambar dua dimensi. Bukan hanya interior dan dekornya, meja dan kursi juga dibungkus garis-garis hitam di tepinya. Namun, karena lokasinya di Chinatown, dinding cafe ini dihiasi dengan gambar nuansa oriental, termasuk gambar bangunan tradisional Tionghoa, pohon, dan bunga teratai. Ada banyak sudut instagramable di cafe ini.